Muti tidak pernah membayangkan jika bolosnya kali ini akan berakhir bersama perempuan cantik yang duduk di sampingnya. Bahkan bermimpi bisa satu mobil pun dengan bu Violet, ia tidak berani!
Violet dan Erlangga Widjaya selalu menjadi raja dan ratu Bakti Bangsa. Kemesraan mereka sudah terkenal ke seantero penjuru sekolah dan beberapa sekolah lain. Semua orang mengenal mereka berdua, juga keluarga mereka yang sangat bahagia dan harmonis.
“Lagi ada masalah di sekolah?” Violet bertanya dengan lembut.
Muti menoleh dan mengangguk ragu. “Bukan masalah sih, Bu. Cuma lagi males aja di sekolah.”
“Bisa panggil Tante aja nggak? Aku merasa terlalu tua dipanggil ‘bu’.”
Muti terkekeh pelan. “Maaf, Bu, tapi ibu kan pemilik sekolah.”
“Bukan aku yang punya sekolah. Erlangga yang punya.”
“Iya, tapi ...”
“Tante,” potong Violet tegas. “Atau mau panggil Mama kayak Damar juga boleh,” lanjutnya sambil tersenyum manis.
Muti tersenyum kikuk. Sebenarnya, ia penasaran kenapa Damar memanggil mereka dengan sebutan itu. Namun untuk bertanya, ia tidak berani. Meskipun ia dan Damar berteman, Muti cukup tahu jika level keluarga mereka berada jauh di atas keluarganya. Karena itu, ia tidak pernah berusaha untuk mengenal Damar lebih jauh. Akan lebih baik jika mereka tetap seperti ini.
“Ini rumah siapa, Bu?” Tanya Muti saat mobil berhenti di sebuah rumah sederhana, tetapi tampak asri dan tertata rapi.
“Neneknya anak-anak. Kita nggak mungkin jalan-jalan dengan kamu pakai seragam sekolah. Aku yang dilaporin nanti.”
Seorang wanita tua keluar dari rumah dan menyambut mereka. Violet mencium tangan wanita itu kemudian memeluknya sekilas.
“Muti, ini Bu Ratna, neneknya anak-anak. Bu, ini Muti, teman sekolah Damar.”
Muti meraih tangan wanita itu dan menciumnya.
“Ayo, ayo, masuk. Ibu baru aja selesai masak,” ajaknya dengan ramah.
“Vio nggak lama, Bu. Cuma mau ambil baju Ola buat Muti. Mba Mutia ke mana, Bu?”
“Lagi jemput Nadia. Kalian makanlah dulu. Ibu masak sayur asem tuh.”
Violet menoleh dan menatap Bu Ratna dengan pura-pura kesal. “Ibu curang! Ibu tahu kalau sayur asem ibu selalu bikin Vio nggak bisa nolak.”
Bu Ratna tertawa dan mereka bertiga berakhir di ruang makan menyantap sayur asem yang tidak pernah bisa ditolak Violet itu.
“Muti, kamu ganti baju dulu. Aku rasa tinggi kamu sama Ola hampir sama.” Violet menyerahkan sepotong pakaian padanya setelah mereka selesai makan.
Muti menerimanya dengan ragu. Itu rok terusan pendek motif bunga-bunga, dan seumur hidupnya, Muti benci memakai rok selain rok sekolah. Rok membuatnya tidak bebas bergerak.
“Maaf, Tante, ada celana sama kaus aja nggak?”
“Oh, ney, ney, ney!” Violet menggeleng tegas. “Kamu nggak boleh pakai celana.”
“Tapi, Tan, Muti nggak pernah pakai rok selain ini.” Ia menunjuk rok abu-abunya yang lebar.
Violet mendorongnya pelan ke kamar untuk berganti pakaian. Muti cemberut menatap baju yang digenggamnya itu. Baju itu sangat cantik. Gadis berwajah biasa seperti dirinya tidak akan pantas memakai baju secantik ini. Sambil menghela napas, Muti melepas seragamnya dan berganti pakaian tanpa menoleh ke kaca stelah itu langsung keluar dari kamar.
“Nah kan, ukurannya pas!” Seru Violet saat ia keluar kamar.
Rok itu memang sangat pas di badannya. Bahannya juga sangat nyaman dikenakan hingga membuat Muti berharap memiliki satu saja rok seperti ini. Namun tentu saja ia tahu jika harga rok ini sangat mahal.
“Kita mau ke mana, Bu?” tanya Muti setelah mereka pamit kepada Bu Ratna.
“Jalan-jalan. Rasanya tante kesepian sekarang, nggak punya teman main.”
Kening Muti berkerut menatapnya. “Memang Kak Ola ke mana, Tan?”
“Ola kuliah di luar. Tante nggak punya teman main lagi. Kamu tahu kan Widjaya selalu didominasi para laki-laki. Anak Mbak Hannah, anak Mbak Hanum, adik-adik Ola, semua laki-laki.”
Ya, Muti pernah mendengar itu bahwa semua keturunan Widjaya memiliki penerus laki-laki kecuali satu. Viola Widjaya. Viola adalah cucu perempuan satu-satunya keluarga Widjaya.
“Tante perlu merilekskan diri sebelum menghadapi lima lelaki di rumah.”
“Lima?”
Violet mengangguk. “Erlangga, Zane, Zephyr, Ezra, sama Damar.”
“Damar?”
“Iya. Dia tinggal di rumah sekarang. Mbak Hannah kan ke Jepang seminggu lalu. Damar nggak mau ikut mereka pindah. Makanya dia tinggal lagi di rumah. Emang dia nggak cerita sama kamu?”
Muti menggeleng dan kemudian terdiam. Damar tidak pernah bercerita tentang itu. Dan itu menimbulkan sebersit rasa kecewa di hati Muti. Bahwa sebenarnya memang ia tidak mengenal Damar sebaik Damar mengenal dirinya. Atau apakah Damar menganggap bahwa ia bukanlah orang terdekatnya?
“Damar nggak pernah cerita.”
Violet tersenyum. “Dia memang lebih sering tinggal dengan kami. Kamu tahu sendiri pekerjaan ayah Damar yang selalu pindah-pindah.”
Ya, ia tahu ayah Damar bekerja di kantor kementerian. Namun, ia tidak tahu jika pejabat seperti itu selalu berpindah-pindah. Ia pikir, Damar selama ini selalu tinggal dengan orangtuanya. Sungguh Muti merasa ia bukan teman yang baik untuk Damar karena ia benar-benar tidak mengenal cowok itu dengan baik.
“Ayo, Muti, turun!” Suara Violet memutus lamunannya.
Muti melongok ke bangunan yang ada di depannya dan membelalak. Itu tempat yang ia benci. Salon!!
******
“Mama lama banget sih, Pa,” gerutu Damar sambil melirik jam tangannya. Sudah berkali-kali ia melihat jam dan rasanya seolah jarum itu tidak bergerak.
Erlangga terkekeh dan kembali menekuni pekerjaannya tanpa membalas perkataan Damar.
“Ini kan udah jam pulang sekolah. Nanti mamanya Muti nungguin. Dia kan anak cewek satu-satunya di rumah. Harus bantuin mamanya di rumah.”
“Jadi dari tadi kamu nungguin Muti? Bukan mama kamu?”
Damar menoleh pada Erlangga dan cemberut. “Damar laper, Pa. Mama lamaaaa,” katanya beralasan.
“Biasanya juga kalau laper, kamu turun ke kantin.”
“Damar pengen makan di rumah.”
Erlangga tertawa dan meraih ponselnya yang berbunyi. “Ya, Sayang?”
Telinga Damar menegak. Itu pasti Mama!
“Oh, jadi kamu langsung antar Muti pulang? Ya udah nanti aku sama Damar aja naik motornya Damar.”
Apa? Muti langsung pulang?
“Iya. Dia juga udah rewel dari tadi minta pulang. Laper katanya.”
Damar bangkit dan merebut ponsel Erlangga dengan tidak sopan.
“Mama di mana?”
“Di jalan mau antar Muti pulang.”
“Katanya tadi Damar disuruh nunggu Mama sama Marmut di sini.”
“Iya, tapi kata Muti rumahnya deket sini. Ya udah, daripada dia bolak balik kan kasihan.”
Damar berdecak. “Marmut mana, Ma?”
“Apa siih??” Tanya suara cempreng itu.
“Lo nggak balik ke sini dulu? Buku gambar lo masih di sini.” Damar menatap buku gambar dan spidol Muti yang tergeletak di meja.
“Aduh iyaa gue lupa belum dimasukkin tas. Bawain ya, Dam. Pleasee??”
“Ogah. Males. Gue mau buang.”
“Awas aja lo berani buang! Gue gundulin lo.”
Damar terkekeh mendengar ancaman Muti. “Ya udah besok gue bawain. Udah ya, Mut. Hati-hati pulangnya.”
Ia menyerahkan ponsel Erlangga dan berbalik untuk membereskan buku gambar Muti.
“Kita pulang sekarang?” Tanya Erlangga kemudian.
Damar mengangguk dan mengeluarkan kunci motornya.
“Mau makan dulu nggak? Mama kamu udah makan katanya di rumah Nenek Ratna.”
Kembali Damar cemberut. “Mama emang curang.”
Erlangga tertawa dan membereskan meja kerjanya. “Siapa bilang mama kamu itu adil?”
“Tapi Papa cinta banget kan sama Mama?”
Kembali Erlangga tertawa. “Jangan pernah tanyakan pertanyaan yang kamu sudah tahu jawabannya, Nak.”
Yah semua orang juga tahu bagaimana cintanya seorang Erlangga pada istrinya. Mereka adalah couple goals di sekolah ini. Semua orang selalu memandang iri pada kemesraan mereka berdua.
“Dulu Papa ketemu Mama langsung jatuh cinta gitu?”
Erlangga berhenti dari kesibukannya membereskan meja dan tersenyum. “Kayaknya ada banyak hal yang mau kamu tanyain ke Papa. Kita makan di sini aja? Delivery makanan sampah mumpung nggak ada Mama?”
Damar menyeringai dan mengangguk. Violet selalu melarang makan 'makanan sampah' terlalu sering. Karena itulah, kadang ia diam-diam pergi ke gerai fast food untuk berbuat curang.
“Jadi Papa dulu langsung jatuh cinta sama Mama?” tanya Damar lagi.
Erlangga duduk di hadapannya di sofa dan menggulung lengan kemejanya. “Dia itu galak dan pendiam sampai cowok-cowok di kampus takut deketin.”
“Sampai sekarang juga masih galak kan.”
Erlangga terkekeh. “Itu salah satu pesona dan dimiliki Mamamu, Nak. Papa tidak pernah bisa berpaling begitu melihat dia melotot.”
“Konyol.”
Erlangga mengangkat alis menatapnya. “Mamamu itu berbeda dari gadis lain. Dia tidak pernah berusaha menarik perhatian orang. Tidak pernah berusaha merayu laki-laki. Dan yang paling penting, dia tidak pernah merasa dirinya cantik.”
Persis seperti Muti.
“Saat itu Papa berpikir bahwa Papa tidak akan berarti apa-apa di dunia ini kalau nggak bisa memiliki Mama kamu.”
Damar menghela napas dan bersandar di sofa. Matanya menatap buku gambar Muti yang belum sempat ia masukkan ke dalam tas.
“Kamu berubah kan?”
Ia berpaling menatap Erlangga. Tahu dengan jelas apa maksud pertanyaan itu.
“Damar nggak pernah berubah, Pa.”
“Oke berarti pertanyaan Papa keliru. Kamu akhirnya yakin kan?”
Damar mengembuskan napas. “Ada anak baru yang naksir Muti dan tadi dia nembak Muti.”
“Dan itu alasan Muti membolos?”
Damar mengangguk. “Muti juga suka sama cowok itu. Dia cuma kaget. Makanya kabur.”
Damar tahu jika selama ini Muti suka memperhatikan Nero secara diam-diam. Dan tanpa gadis itu bicara padanya pun, Damar tahu jika Muti memiliki perasaan kepada Nero.
“Kamu takut kalah saing?”
“Damar takut Muti pergi kalau Damar nggak bisa nutupin ini lagi, Pa.”
Sudah sejak lama, lama sekali, Damar menyukai Muti. Bahkan mungkin sejak dirinya belum tahu apa itu 'suka' yang ia rasakan. Yang Damar tahu, ia hanya ingin selalu berada di dekat Muti, melindungi gadis itu, dan selalu membuat Muti tersenyum.
“Jangan ungkapkan kalau kamu belum siap kehilangannya.”
Damar cemberut. “Nanti dia pacaran sama Nero.”
Erlangga tertawa. “Semua pilihan yang kamu ambil ada risikonya, Nak. Tinggal kamu yang memilih mau mengambil risiko yang mana.”