Muti baru saja memasuki halaman rumahnya ketika melihat sepeda motor berwarna merah itu. Itu bukan milik Damar, ia yakin itu. Muti hapal motor Damar seperti apa. Dan ia setengah mendesah ketika tahu motor itu milik siapa. Tidak disangkanya, Nero menunggunya di rumah. Jika tahu Nero ada di sini, ia tidak akan pulang.
Yah, Muti memang ingin menghindari Nero untuk sementara. Sekedar meyakinkan bahwa dirinya memang benar-benar menyukai cowok itu. Oke, bilang saja ia plin-plan dengan perasaannya. Namun Muti benar-benar tidak menyangka bahwa ia hampir tidak merasakan apa-apa saat Nero menembaknya. Selain malu tentunya. Lalu apa artinya kemarin-kemarin ketika ia suka sekali menatap Nero?
Membelokkan langkahnya, Muti pergi ke bagian samping rumah dan masuk melewati dapur. Ia bisa menyusup ke kamarnya melewati ruang tengah dan berdiam diri di sana sampai Nero pulang. Kecuali ...
“Dari mana aja sih kamu? Ditungguin dari tadi nggak pulang-pulang. Kasihan kan Nak Nero nunggu kamu sejak tadi.”
Muti kembali mendesah mendengar suara Mama yang terdengar akrab itu. Nak Nero. Mama tidak akan memanggil 'Nak' kecuali beliau sangat menyukai 'anak' itu.
“Muti ...”
“Udah sana temuin Nak Nero dulu.”
“Kan Muti baru pulang, Ma. Muti gerah. Pengen mandi.”
Mama tidak menggubris protes Muti dan langsung mendorongnya ke ruang tamu di mana Nero sedang menunggunya. Nero bangkit begitu melihatnya memasuki ruang tamu.
“Kamu ke mana aja? Aku nyariin kamu ke mana-mana.”
Kenapa suara cowok ini terdengar khawatir?
“Aku nggak apa-apa kok. Ngapain kamu ke sini?”
Nero menatapnya tanpa suara selama beberapa saat sebelum cowok itu meraih tangannya dan berlutut. Berlutut!
Seumur hidup, belum pernah ada cowok yang berlutut untuknya. Ia melotot pada cowok itu.
“Nero! Bangun nggak? Apaan sih begitu!” Bisiknya seraya melirik ke ruang tengah karena takut mamanya mengintip.
“Kok kamu nggak melting sih?”
Pertanyaan itu justru membuat Muti terkekeh. Jangan panggil dirinya Muti kalau sama dengan cewek-cewek lain. Ia melepas tangan Nero yang menggenggam tangannya dan duduk di sofa sambil masih terus tertawa.
“Norak tahu nggak. Emang kita lagi ikut acara tivi.”
Nero tersenyum dan duduk di sampingnya. “Ini lho yang bikin aku tuh gemes sama kamu. Kamu itu bener-bener the one and only. Mau ya, jadi pacar aku?”
“Cewek lain yang ngejar-ngejar kamu kan banyak. Cantik-cantik lagi. Kamu nggak lihat nih aku, dekil begini,” katanya seraya menunjukkan tangannya yang memang tidak seputih cewek-cewek lain.
Tadi, ia dipaksa Violet melakukan perawatan cewek, dan ia juga masih memakai gaun Viola, tetapi tetap saja itu tidak serta merta mengubahnya jadi angsa yang cantik.
“Aku nggak mau yang lain. Maunya kamu.”
“Tapi ...”
“Nggak ada alasan. Aku nggak nerima penolakan. Udah, aku pulang dulu ya, Pacar!” Nero meraih tasnya dan bangkit dari duduk. “Tante?” panggil Nero kemudian.
Mama muncul secepat kilat dari ruang tengah. Bukti bahwa beliau menguping pembicaraan mereka.
“Nero pulang dulu, Tante.”
“Lho kok buru-buru. Tante baru masak lho. Makan aja di sini bareng-bareng.”
Muti mencibir mendengar basa basi mamanya itu. Dina Soraya memang selalu lebay sama cowok cakep!
“Nggak usah, Tan. Udah ketemu Muti juga udah cukup.”
“Aih, manisnya kamu!” Goda Mama genit sambil mencubit pipi Nero. “Besok main lagi ke sini yaa!”
Nero tertawa dan mencium tangan mama sebelum Muti mendorong tubuh cowok itu keluar. Bisa sampai subuh si mama genitin Nero kalau ia tidak membawa cowok ini keluar.
“Besok pagi aku jemput ya.”
“Eh nggak usah! Aku bareng Ayah,” tolak Muti sambil menggelengkan kepalanya.
“Nggak boleh! Besok aku jemput. Tunggu aku. Titik!” Tegas Nero sambil mengenakan helmnya. “Dah, Pacar!”
Muti mengamati kepergian Nero dengan hati kosong. Seharusnya ia bahagia karena cowok idaman itu menembaknya. Namun kenapa ia merasakan sebaliknya??
****
“Mama ajak ke mana Muti tadi??” Sembur Damar saat melihat Violet memasuki ruang tamu.
Ia sudah menunggu kepulangan Violetsejak tadi dengan gelisah. Dan wanita itu malah nggak pulang-pulang! Sekarang ini bahkan sudah hampir jam lima sore.
“Assalamualaikum, anak Mama yang ganteng.”
Bibir Damar tertekuk saat ia menjawab, “Waalaikumsalam,” dan mencium tangan Violet. “Jadi Mama ke mana sama Muti?”
“Mama kan udah bilang urusan cewek. Kamu nggak berhak tahu dong. Kamu kan bukan cewek.”
“Mama!”
Tawa Erlangga terdengar dan itu hanya membuat bibir Damar semakin mengerucut.
“Jangan goda dia, Violet. Kamu nggak pernah kan lihat anak cowok uring-uringan?”
“Oh ya? Gimana? Dia nyebelin ya?” Violet malah semakin gencar menggodanya.
“Ma ...”
Damar cemberut menatap Violet. Semua anggota keluarganya tahu jika ia memiliki perhatian khusus untuk Muti, dan itu malah membuat mereka suka sekali menggodanya. Terutama suami istri yang tengah duduk di hadapannya ini.
“Eh, Kakak harus gerak cepat loh. Tadi mama lihat ada motor cowok di sana.”
Damar memandang Violet dengan cepat. “Warna merah?”
Violet mengangguk. “Sama kayak punya kakak.”
Nero. Sudah jelas motor cowok itu. Tidak ada anak lain di sekolah yang memiliki motor yang sama dengan miliknya selain Nero. Sial. Seharusnya ia tadi mengikuti Muti.
Damar berlari ke kamarnya dan meraih jaket serta kunci motor. Ia harus menemui Muti sekarang.
“Kamu mau ke rumah Muti?”
Damar mengangguk mendengar pertanyaan Erlangga.
“Lalu kamu mau bilang apa? Mau ngaku kalau kamu suka sama dia? Yakin?”
Tangan Damar jatuh dengan lunglai di sisinya. Erlangga sudah tahu semua. Termasuk kebodohannya dengan berbohong pada Muti bahwa ia tidak boleh pacaran oleh bundanya hanya demi agar ia tidak dijodohkan lagi dengan Acha.
“Paling nggak, Damar bisa nanya-nanya.”
Suami istri itu saling berpandangan dan terkekeh.
“Udah sana kamu telepon dulu aja si Mutinya. Nggak usah ke rumahnya.”
“Tapi, Pa, Damar pengen ke sana.”
Erlangga memberi isyarat untuk tidak membantah dan Damar naik ke kamarnya dengan menggerutu. Ia baru mau menelepon Muti saat ponselnya berdering. Panjang umur.
“Ha ...”
“Nero nembak gue!”
Oh! Ternyata apa yang ia takutkan menjadi kenyataan.
“Terus?”
Please jangan bilang kalian jadiaan!! Jerit Damar dalam hati. Ia ingin meneriakkan itu pada Muti, tetapi ia tahu itu hanya akan menunjukkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada cewek itu.
“Ya, kita jadian. Gue nggak bisa nolak.”
Oke, sekarang Damar tahu bagaimana definisi sakit yang tidak berdarah itu. Jantungnya berdenyut-denyut perih dan semakin menusuk, tetapi luka itu tidak terlihat. Sialan! Kenapa rasanya sesakit ini?
Damar berdehem pelan hanya agar suaranya tidak terdengar kecewa. “Ciieee, Marmut punya pacaaar!” Godanya meskipun kata 'cie' tidak menafsirkan sebuah godaan.
“Apaan sih! Kalau cewek-cewek bully gue, lo harus bantuin gue ya!”
Gue akan selalu ada di garda terdepan buat bantuin lo, Mut. ”Ih, ogaaaahh!! Lo kan punya cowok. Ngapain mesti gue yang belain elo. Males banget.”
“Bodo amat! Gue di bully, gue lari ke lo. Titik!”
Damar tersenyum muram menatap ponselnya yang sudah dimatikan oleh Muti secara sepihak. Bukan salah Muti jika memang cewek itu berlari padanya. Salahnya yang sok jadi 'temen doang' untuk Muti. Salahnya yang tidak pernah menunjukkan pada Muti sedikit pun bahwa ia tertarik pada gadis itu. Semua salahnya hingga ia akhirnya terjebak dalam friendzone yang memuakkan ini. Dan Damar berjanji akan bertahan sampai ia tidak mampu lagi untuk bertahan. Demi Muti.