Sekolah kembali heboh. Dan tentu saja, kali ini penyebabnya adalah karena Muti datang ke sekolah dibonceng oleh Nero. Hal itu seolah mengukuhkan kehebohan di kantin kemarin ketika Nero meminta Muti jadi ceweknya.
Tentu saja, sebenarnya Muti tidak ingin hal seperti ini terjadi. Ia sudah memakai jaket hitam dari rumah. Meminjam kacamata hitam dan topi milik Kak Bintang hanya agar ia tidak dikenali. Namun, itu semua gagal total. Tidak ada cewek lain yang pernah dekat dengan Nero selain dirinya.
Seolah berangkat bersama belum cukup, Nero malah dengan sengaja menggandeng tangannya saat mereka keluar dari tempat parkir dan menolak untuk melepaskannya meskipun Muti berusaha sekuat tenaga menarik tangannya. Cowok-cowok berteriak-teriak menggoda sementara cewek-cewek memandang Muti dengan penuh kebencian. Bisa dipastikan, setelah ini ia akan menjadi sasaran perundungan cewek-cewek pemuja Nero.
“Nggak usah pake gandengan juga sih!” Muti kembali menarik tangannya dari genggaman Nero dan lagi-lagi gagal. “Nero, lepasin nggak!”
Nero menoleh padanya kemudian tersenyum. Senyum yang selama ini tidak pernah diperlihatkan pada cewek selain dirinya. “Nggak mau, Mutiara.”
Muti cemberut. Sejak tadi di rumah, Nero selalu memanggilnya Mutiara. Ia tidak suka dipanggil Mutiara. Cukup Muti, atau Marmut, atau ...World ...
Muti celingak-celinguk mencari Damar. Biasanya cowok itu suka nongkrong di pos satpam atau di kantin saat pagi begini. Namun, hari ini Damar tidak kelihatan di manapun.
“Nyari siapa?” Tanya Nero saat melihatnya celingak-celinguk.
“Nggak nyari siapa-siapa. Lagi siap-siap aja jadi bahan bully-an anggota cewek-cewek pemuja Nero.”
Nero terkekeh. “Sejak kapan ada grup kayak gitu?”
“Lo nanya? Seriously? Sejak lo pindah ke sinilah!”
“Oh, ya?” Nero menaikkan alisnya.
Geloooo, ini cowok emang kereeen!! Muti menjerit dalam hati ketika cowok itu menaikkan alis tebalnya. Sadar, Muti!! Lo nggak boleh suka banget sama cowok ini. Nanti kalau dia cuma mainin elo, lo bakal patah hati. Ia menggelengkan kepalanya setelah pemikiran itu datang di kepalanya.
“Kamu kenapa? Kok geleng-geleng? Pusing?”
Sekarang tangan Nero malah terangkat untuk memegang kepala Muti. Muti mundur dengan sigap sebelum cewek-cewek bermata ganas itu mendekat dan menarik rambutnya.
“Gue nggak apa-apa. Mau ke toilet dulu ya.” Muti menyentak tangannya dari genggaman Nero dan lari terbirit-b***t.
Bukan ke toilet karena pasti sudah ada gerombolan yang siap menyiksanya di sana. Muti berbelok sebelum lorong ke toilet dan terus berlari menuju lab fisika. Di belakang lab, ada bangku yang biasa digunakan anak-anak cowok untuk diam-diam merokok atau pacaran. Cewek-cewek jarang ke sana sendirian karena konon tempat itu angker akibat pohon beringin besar yang ada di belakang gedung sekolah.
Ia duduk di bangku kayu itu dan bernapas dengan terengah-engah. Ia butuh Damar tetapi tahu jika tidak akan bisa menemui cowok itu tanpa diperhatikan orang lain. Kenapa hidupnya mendadak berubah dalam semalam seperti ini? Kenapa ia tidak menolak Nero saja dan tetap bersekolah dengan tenang?
Tangan kurus terulur padanya menyerahkan botol minum. Tanpa mendongak pun, Muti tahu siapa pemilik tangan itu dan bersyukur Damar tahu jika dirinya ada di sini. Mereka selalu memiliki ikatan batin yang kuat sejak dulu.
“Baru sehari aja lo udah kabur.”
Muti menghabiskan air yang diberikan Damar dan kembali terengah-engah. Damar benar, baru satu hari dan ia sudah harus kabur. Bagaimana genap satu minggu? Satu bulan?
“Gue nggak kabur. Gue mau pipis.”
“Lo mau pipis di sini? Gih pipis, gue liatin.”
Muti melotot dan memukulkan botol kosong yang dipegangnya ke bahu Damar. “Dasar p***o!”
Damar terkekeh. “Kan lo bilang mau pipis. Ya udah, gue kan cuma nyuruh lo pipis.”
Tangan Muti kini terulur menarik rambut Damar hingga cowok itu mengaduh kesakitan.
“Marmut!! Sakit, k*****t!!” Damar menarik tangan Muti menjauh dari kepalanya dan balas melotot pada cewek itu. “Lo lagi latihan berantem sama penggemar-penggemar cowok lo nanti ya?”
“Nah itu lo tahu!” jawab Muti enteng sambil cekikikan.
“Udah sana masuk. Nanti pacar lo nyariin.”
“Lo di sini? Mau bolos?”
“Kepo. Udah sana masuk, sebelum ...”
“Marmuuutttt!!!” Sandy muncul dan berteriak dengan dramatis. “Dicari cowok lo tuuh!! Udah ke sana kemari kayak orang gila nyariin lo.”
“Lebay!” sungut Muti sambil bangkit dari duduknya. “Ayo, Dam, temenin gue.”
“Lo mau cowok lo sama Damar berantem?” tanya Sandy sambil meraih tangan Muti dan cowok itu berdecak saat Muti menatapnya tak mengerti. “Lo bilang mau ke toilet tahunya malah berduaan di sini sama Damar. Dia udah muter nyariin toilet cewek dari kelas satu sampe kelas tiga tahu!”
“Hah?? Lebay amat sih tu cowok??”
“Udah sana lo ke kelas sebelum dia bikin pengumuman bocah ilang.”
Muti menoleh pada Damar yang duduk santai sambil mengeluarkan ponselnya. “Lo beneran mau bolos?”
“Nanti gue masuk.”
Muti hendak membuka mulutnya lagi, tetapi Sandy sudah lebih dulu menyeretnya menjauh dari tempat itu. Bahkan tidak semua anak lama tahu tempat itu, apalagi anak baru seperti Nero. Jadi Nero pasti tidak akan menemukannya.
“Beneran dia nyari-nyari gue?” tanya Muti saat mereka berjalan ke kelas.
Sandy mengangguk. “Begitu lima menit lo nggak balik, dia langsung blingsatan. Kata cewek-cewek, dia bukain semua pintu toilet cewek. Yang ada orangnya di dalem, dia tungguin sampe keluar buat mastiin orang itu elo apa bukan.”
“Lo yakin cowok itu Nero? Masak sih Nero kayak gitu.”
“Lo liat aja ntar gimana reaksi dia pas liat lo balik.”
Nero tidak pernah terlihat sangat menyukainya hingga memiliki alasan untuk melakukan hal itu. Lagipula, ia tidak seberharga itu hingga Nero harus kebingungan mencarinya. Dan, please deh, ini di sekolah. Memangnya Muti bisa hilang ke mana sih??
“Mutiara!”
Muti menoleh dan mendapati Nero berlari ke arahnya dengan secepat kilat. Ketika sampai di hadapannya, cowok itu langsung memeluknya hingga menimbulkan koor tak beraturan dari anak-anak. Oh, Muti tidak suka ini. Lagi-lagi dia harus menjadi pusat perhatian gara-gara cowok ini.
“Nero, apaan sih!” Ia melepas paksa pelukan Nero padanya. “Ini di sekolah tahu nggak??”
“Kamu ke mana aja? Aku bingung nyariin kamu.”
“Gue kan udah bilang ke toilet!”
“Aku cari semua toilet kamu nggak ada!!!”
Muti menjauh dari cowok itu. Ini tidak seperti apa yang dia harapkan ketika akhirnya ia punya pacar. Nero pasti menderita penyakit kejiwaan. Muti yakin itu.
“Mutiara ...”
“Gue nggak mau bahas apa-apa. Ini di sekolah,” jawab Muti dengan dingin. Beberapa anak di kelas sudah kasak-kusuk tidak jelas.
Nero duduk di sebelahnya tanpa suara. Berulang kali tangannya terulur ingin meraih tangan Muti, tetapi cowok itu mengurungkannya. Dan itu bagus karena Muti tidak ingin lagi menjadi bahan pembicaraan.
Pengen ikut bolos bareng lo... ;(
Jika tahu akan begini, lebih baik ia ikut membolos bersama Damar. Tidak peduli ia akan dicap sebagai anak bandel karena membolos dua kali berturut-turut. Keinginannya untuk menjalani masa-masa SMA dengan tenang dan damai terancam gagal karena drama tidak bermutu pagi ini.
Gue nggak bolos kok. Ada di kelas.
Muti mendesah dan kembali mengetikkan balasan untuk Damar. Tidak peduli meskipun Nero menatapnya dengan ingin tahu.
Gue pulang bareng lo nanti ya? Please ...
Muti tahu ia jahat karena sudah membuat Damar terseret dalam hubungannya dengan Nero. Akan tetapi, tidak ada yang bisa ia mintai tolong selain Damar. Oke, dirinya dekat dengan Sandy dan Agam, tetapi tidak ada yang seperti Damar. Damar baginya lebih dari seorang teman. Damar adalah ...
Apa arti Damar baginya?
Muti nyaman berteman dengan siapa saja. Namun, dengan Damar ada kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari temannya yang lain. Muti bisa menceritakan apa saja pada cowok itu. Ia rela membantu mengirimkan salam atau coklat yang penggemar Damar titipkan. Ia bisa makan dengan rakus dan tidak takut Damar akan jijik melihatnya. Intinya, Muti nyaman dengan cowok itu. Sangat nyaman.
Tidak ada balasan dari Damar hingga bel masuk berbunyi. Muti kembali mendesah dan memasukkan ponselnya.
Seharian itu, ia mencari Damar tetapi tidak menemukan batang hidung cowok itu di manapun. Oke, Muti belum mencari ke tempat persembunyian tadi pagi, tetapi tidak mungkin ia ke sana. Tidak dengan Nero yang terus membuntutinya.
“Gue mau pipis. Lo mau ikut juga?” tanya Muti saat hendak masuk ke toilet cewek.
“Aku tunggu di sini.”
Muti memutar bola mata dan segera masuk ke toilet meskipun ia tidak ingin pipis. Nero benar-benar jatuh cinta padanya atau memang ada kelainan sih? Ini aneh mengingat sebelum ini Nero tidak pernah terlihat menyukainya.
“Mut, kok lo tega sih??” Acha keluar dari salah satu bilik toilet dan menyusul dua bilik lainnya terbuka.
“Cha, gue ...”
“Dulu gue minta lo buat deketin gue sama Damar, lo sendiri yang deketin dia. Sekarang lo tahu kita semua naksir Nero dan dia malah milih lo jadi ceweknya?? Gue udah sering ngajak lo main, beliin lo makan. Ini balesan lo sama gue?” Acha memandangnya dengan sinis. “Lo pake ajian apa buat bikin mereka lirik lo?”
“Apaan sih, Cha! Gue nggak pakai apa-apa!”
“Nggak usah alasan lo!” Acha mendorong bahu Muti hingga punggungnya membentur cermin. “Lo mau pansos di sekolah terus lo deketin cowok-cowok keren macam Damar sama Nero? Lo punya kaca nggak sih di rumah?”
Ini seperti bukan Acha yang biasanya baik padanya. Atau memang seperti inilah aslinya Acha?
“Cha, gue ...”
“Apa-apaan ini?” Nero membuka pintu dan melotot pada Acha dan teman-temannya.
“Nggak kok, Ner, kita cuma lagi ngobrol,” Acha menjawabnya sambil meraih bahu Muti. “Ya kan, Mut?”
Muti mengangguk dan menyingkirkan tangan Acha dari bahunya lalu merangsek keluar dari toilet. Mimpi buruknya baru saja dimulai. Acha, sang Ratu Cheerleaders sekolah sudah memulai genderang perangnya pada Muti dan itu berarti semua murid perempuan akan memusuhinya.
Sampai sekolah berakhir, Muti tidak mengajak Nero bicara. Ia benar-benar kesal dengan cowok itu. Ini baru hari pertama mereka pacaran dan semua sudah seburuk ini.
“Aku mau pulang sendiri,” ucap Muti saat mereka hampir sampai di tempat parkir..
“Mutiara ...”
“Muti!”
Mereka berdua menoleh mendengar panggilan itu. Muti menatap kaget saat menyadari wanita itu adalah Violet. Kenapa Tante Vio datang kemari?
“Tante ...”
“Yuk, berangkat sekarang. Kamu kan janji mau anterin Tante ke Dokter.”
“Ke Dok... Ah iya!” Muti menoleh ke arah Nero dengan berseri-seri. “Gue mau anterin Tante Vio ke dokter. Lo pulang sendiri ya?”
“Ini siapa?”
Violet mengulurkan tangannya. “Kenalkan, saya Violet, tantenya Muti. Tante mau ke dokter gigi tapi nggak ada temennya. Boleh kan Tante pergi sama Muti?”
Violet tersenyum. Senyumnya tampak manis, tetapi Muti tahu senyum mengandung perintah yang tidak bisa dibantah. Dan Muti hampir melonjak kegirangan saat akhirnya Nero mengangguk tanpa daya. Ia melambaikan tangan dengan bahagia dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum lebar pada Nero.
“Aduh, makasih banyak ya, Tan. Kalau Tante nggak dateng ...”
“Damar WA Tante, katanya kamu harus diselamatkan dari angkara murka.”
Muti terbahak mendengarnya. Ia sungguh tidak menyangka jika Damar benar-benar membantunya untuk pulang tanpa Nero. Ia pikir cowok itu tidak peduli lagi padanya. Muti mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Damar dengan semua huruf besar dan tebal.
GUE SAYANG ELO!! THANK YOU, DAM! I OWE YOU!