“Kamu tidur sini aja ya? Kamu boleh tidur di kamar mana aja. Di kamarku juga boleh. Aku akan tidur di kamar lain.” Muti tersenyum dan menggeleng mendengar permintaan Nero itu. “Gue harus pulang, Ner.” “Lalu kamu mau bilang apa sama Mama kamu soal bengkak menyebalkan itu? Mau bilang kamu jatuh terus keantuk meja? Mau bilang ada bola basket nyasar ke wajah kamu?” Tangan Muti terangkat untuk mengusap pipinya yang masih bengkak. Ini sudah beberapa jam berlalu dan pipinya bahkan masih terasa nyeri. Bagaimana mungkin orang sekecil Fuyumi bisa memiliki tenaga sebesar itu untuk menyakitinya? Atau, Fuyumi melakukan itu karena akumulasi sakit hatinya pada Damar? Karena ia merasakan semua perjuangan dan perasaannya pada pria itu sia-sia selama ini? Dan karena Fuyumi tidak mungkin menyakiti Damar s

