TANGAN Disha gemetar serta tubuhnya menegang kala memegang sebuah bolpoin yang harus ia goreskan tanda tangan di surat penyerahan kekuasaan. Ia tak bisa berkutik, lantaran tepat di sebelahnya sana sang suami memasang kedua matanya lebar-lebar menunggu tinta hitam itu tergores. Disha melepaskan bolpoinnya. Memegang keningnya lantas meremasnya. "Sayang, kau kenapa?" tanya Darrel sedikit panik. "D-darrel, kepalaku pusing sekali. Aku… a…." Brak! Kepala Gadis itu langsung terkulai di atas meja. Sukses menerbitkan rasa kepanikan dalam diri sang suami. "Disha… Disha … bangun, Sayang!" Darrel menepuk-nepuk pelan pipi sang istri. "Sial!" Darrel mengangkat kepala Disha untuk bersandar di kursi. "Disha, bangun, Sayang!" pekiknya. Aditya yang masih mondar-mandir di luar ruangan, seketika

