Aku Di Rawat Di Rumah Sakit

1006 Kata
Aku akhirnya terjatuh, Tiara yang sangat panik langsung membawa aku ke rumah sakit. Aku sangat sakit sekali, aku merasakan kepalaku seperti di tusuk-tusuk. Setelah aku minum obat dari dr. Akhirnya kepalaku sudah tidak sakit lagi. "Gimana sayang kondisi kamu?" tanya Tiara dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Kepala aku masih sakit sekali sayang, rasanya kepalaku seperti di tusuk-tusuk. Aku nggak tau harus bagaimana lagi," keluhku dengan memanyunkamn bibirku. "Ya ampun sayang jika kepala kamu sakit, caranya sangat mudah dan gampang sekali. Kamu cukup istirahat dan minum obatnya secara teratur. Jangan banyak pikiran dan stres sayang," ucap Tiara dengan menasehatiku. Aku akhirnya meminum obat dan makan secara teratur, aku di rawat selama tiga hari. Aku sangat beruntung sekali, memiliki istri yang sangat perhatian dan sayang kepadaku seperti Tiara. "Sayang kapan aku bisa pulang?" tanyaku dengan sangat antusias. "Besok sayang, kau besok sudah bisa pulang. Memangnya kenapa sayang?" jawab dan tanya Tiara kepadaku. "Aku sudah nggak betah sayang," jawabku dengan sangat santai. Setelah saya dan Tiara, kami akhirnya pulang dari rumah sakit. Aku langsung istirahat di rumah, job desk aku sangat banyak. Jadi aku nggak boleh sakit dan lemah lagi. Aku harus selalu sehat dan kuat, jangan sampai sakit kembali. "Sayang kamu istirahat tiga hari, jangan main ponsel dulu. Main ponsel pagi dan siang saja dulu. Sore hingga Malam ponsel kamu aku yang pegang," ucap Tiara menasehatiku. "Siap Ibu Negara," jawabku dengan mengecup kening Tiara. Aku yang sudah mengantuk, akhirnya tertidur dengan sangat pulas sekali. Aku terbangun jam empat pagi, aku segera mamdi dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Setelah selesai aku melaksanakan ibadah sholat subuh, aku segera berolahraga pagi dan minum obat. Aku akhirnya berangkat kerja, setelah aku selesai berolahraga. Aku segera berangkat ke Bandung di temani dengan anak buahku, kami segera makan Soto Lamongan setelah kami tiba di Bandung. Aku memgunjungi Marinir dan Batalion Polisi Militer, aku kini sedang memeriksa anak-anakku. Aku sudah siap sedia, untuk mengirim Prajurit untuk di kirim ke Lebanon dan negara lainnya. Aku tidak mau anak-anakku kenapa-kenapa, aku tidak mau mereka menjadi prajurit yang lemah dan cengeng. Aku yang kini sangat sibuk, menyempatkan diri untuk mampir ke semua anak-anakku secara merata. Walaupun hanya sebentar, mereka semua kebanyakan tingal di desa. Di desa terpencil. Walau pun mereka tinggal di desa terpencil, semangan dan patriotrisme mereka semakin kuat dan membara. Membuat aku semakin bangfa saja, setelah dari Bandung aku mengunjungi Papua dan Ambon, Aku sangat senang dan bahagia sekali. Karena dapat mengunjungi anak buahku. Di Ambon dan Papua aku menginap selama dua minggu, aku nggak nginep lama. Setiap hari Tiara selalu menghubungiku, mungkin istriku Tiara sangat khawatir sekali akan kondisi dan keadaan aku. "Halo sayang!" sapaku tatkala Tiara menghubungiku. "Halo sayang!" sapa balik Tiara dengan tersenyum. "Ada apa sayang?" tanyaku dengan sangat ramahnya. "Aku sangat merindukan kamu sayang, oia kamu langsung tidur sayang. Kamu jangan kecapean jangan telat minum obat dan vitamin, istirahatlah dan tidur yang sangat cukup sayang. Jangan sampai kamu kelelahan," ucap Tiara dengan menasehatiku. Aku akhirnya hanya tersenyum, dan memuji Tiara istriku hingga dia sangat malu sekali. "Terima Tiaraku sayang, kamu sangat perhatian sekali. Aku jadi semakin sayang dan cinta," godaku dengan tersenyum. "Ikh sayang, hentikan gombalan kamu sayang. Aku sangat malu sayang," ucap Tiara dengan tersenyum. "Nggak apa sayang, aku gombal dengan istriku sendiri. Memangnya kenapa? Masa gombal sama istri sendiri nggak boleh, dari pada aku gombal sama istri orang. Lebih baik gombal sama istri sendiri," ucapku dengan tersenyum. "Baiklah sayang. Jika kamu maunya seperti itu. Aku nggak masalah jika jafi gombalan suamiku sendiri," ucap Tiara dengan tersenyum. Aku kini sedang memasak masakan Korea, aku memasak Ramyoen dan Taekpoki di banrtu oleh Ajudanku serta Komandan Batalion Marinir. "Kita mau masak apa Pak?" tanya Komandan Batalion kepadaku. "Hadi kita mau masak Ramyoen dan Taekpoki," jawabku dengan singkat. "Terus apa yang bisa saya bantu Pak?" tanya Komandan Batalion dengan sangat khawatir. "Kamu tolong bantu saya, bantu saya memasak dan membuat bahan-bahan untuk saya membuat Ramyoen dan Taekpoki. Ini tolong ikuti resep saya," ucapku dengan tersenyum. "Baik Pak," jawab Hadi dengan tersenyum. Setelah Ramyoen dan Taekpoki matang, kami akhirnya makan bersama. Kami sangat menikmati, makanan dan masakannya. Bahkan anak-anakku memuji masakanku. Mereka bertanya aku belajar dari mana? Yang mengajariku masak dan membuatnya adalah Kim Soek Jin. Kim Soek Jin, sangat pandai sekali dalam memasak masakan khas Korea dulu. Dati dialah aku belajar memasaknya. Aku pulang dari Ambon ke Jakarta, sekitar jam empat pagi. Aku pulang menggunakan helikopter aku tiba sekitar jam delapan pagi. Aku yang sangat merindukan istriku Tiara, setibanya di rumah aku langsung memeluk Tiara. Tetapi Tuara malahan memarahiku karena main pelyk saja, karena menurutnya aky jorok dan bau keringat. "Ikh sayang, kamu main peluk-peluk saja . Seharusnya kamu mandi dulu sayang," protes Tiara. "Baiklah sayang, maaf iya sayang. Ini semua saya lakukan karena saya sangat merindukan kamu," ucapku dengan tersenyum. Dari pada Tiara tambah marah dan kesal. Aku mengalah saja, aku melepaskan seluruh pakaianku. Aku langsung berendam dengan air hangat. Aku mandi dan berendam hingga sangat bersih sekali, setelah selesai aku berendam dan mandi. Aku segera menyemprot seluruh tubuhku dengan minyak wangi. Setelah wangi, aku turun ke bawah. Aku lihat Tiara sedang memasak. Tiara memasak hidangan yang sangat enak dan lezat sekali, aku langsung memeluknya dari belakang. "Nah kalau peluk aku dalam keadaan wangi, barulah bagus sayang. Wangi sekali kamu sayang," ucap Tiara dengan tersenyum. "Iya sayang, aku akan selalu meneluk kamu dalam keadaan wangi dan harum. Masa iya aku tega seperti itu kepada kamu," ucapku dengan tersenyum. Perutku berbunyi, karena perutku sudah sangat lapar sekali. "Sayang kamu tunggu di meja makan saja, aku sedang masak. Jika terus di peluk bisa nggak konsen," ucap Tiara dengan tersenyum. Aku langsung duduk di meja makan, hingfa Tiara menywdiakan makanan yang telah dia masakan khusus untukku. "Terima kasih sayang, aku makan iya. Sepertinya enak," ucapku dengan tersenyum. "Sama-sama sayang, terima kasih iya. Sekarang kamu makan yang banyak," ucap Tiara dengan tersenyum. Setelah Tiara makan, aku pun makan. Kami sangat menikmati hidangan yang sangat lezat sekali di meja makan kami. Aku sangking menikmatinya, aku tersendak dengan makanan yang aku makan. Tiara langsung memberikan aku air putih. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN