"Terima kasih sayang," ucapku dengan tersenyum.
Tiba-tiba aku dapat Wa dadakan, aku di suruh ke Aceh selama tiga hari.
Karena ada anak aku yang membunuh dan menabrak, tetapi tidak mau bertanggung jawab. Mereka ada empat orang. Membuang jasad kedua anak itu dengan sangat keji.
"Sayang aku pamit iya," ucapku dengan memeluk Tiara.
"Mau kemana sayang?"tanya Tiara dengan sangat keheranan.
"Maaf sayang ada urusan mendesak," ucapku dengan tersenyum.
"Cerita sayang apa?" tanya Tiara dengan menatap aku dengan sangat tajam.
"Anakku ada yang membunuh, bikin malu nama baik Marinir dan Angkatan Laut saja. Aku harus berangkat," ucapku dengan tergesa-gesa.
"Sabar sayang, jangan emosi. Saya bantu menyiapkan keperluan kamu," ucap Tiara dengan menenangkan aku.
Aku pergi ke Aceh dengan menaiki Helikopter, setibanya saya di Aceh. Saya langsung menuju ke Pusat Polisi Militer.
Aku langsung bertemu dengan Perwira di sana.
"Pak Budi tolong bantu saya iya, tolong kamu usut masalah ini setuntas-tuntasnya. Mereka harus di hukum seadil-adilnya. Saya nggak mau pelaku bebas dan berkeliaran," ucapku dengan raut wajah sedih.
"Siap Jenderal," ucap Pak Budi dengan memberika penghormatan kepadaku.
Tiba-tiba ponselku berdering, rupanya yang menghubungi aku adalah Bapak Panglima.
Bapak Panglima dan Bapak Presiden, bakalan ke sini.
Mereka akhirnya datang pagi hari, Bapak Panglima dan Presiden mengungkapkan jika pelaku di hukum seberat-beratnya. Kalau bisa seumur hidup.
Atau jika perlu hukum mati, semoga saja kita dapat belaku baik apa pun yang terjadi. Jangan sampai seperti ini, saya sangat khawatir dan panik sekali.
Semoga saja anak-anak saya yang lain, jangan sampai bertindak ceroboh dan gegabah. Jika salah kita dapat meminta maaf. Serta bertanggung jawab, karena jadilah prajurit yang sangat di cintai oleh rakyatnya.
Setelah masalah aku kelar, aku langsung mengunjungi penjara mereka. Wajah mereka terdengar sangat memelas sekali, seperti orang yang sedang merana.
Aku pulang dan tiba di Jakarta pagi sekitar jam sepuluh pagi, aku di sambut dengan sangat hangat oleh Tiara.
Tiara sangat cantik sekali, aku langsung memeluk dan membawanya ke kamar.
Aku meminta Tiara untuk memijat kepalaku, kepalaku sangat pusing sekali. Jadi aku memerlukan pelukan dari dan pijitan dari Tiara.
"Sayang aku pegal-pegal, tolong kamu pijit aku. Aku mohon sayang," ucap aku dengan tersenyum.
"Iya sayang, akan aku pijit. Tetapi kamu mandi dulu," ucap Tiara dengan tersenyum.
Aku akhirnya mandi dengan mempergunakan air hangat, setelah selesai mandi Tiara memijit dan mengurut seluruh tubuhku.
"Terima kasih iya sayang," ucapku dengan tersenyum.
"Sama-sama sayang," ucap Tiara dengan tersenyum.
Tiara memintaku untuk minum obat dan segera tidur, karena mungkin aku kecapean dan kelelahan.
"Sayang kamu minum obat dan tidur iya, kamu jangan lupa sayang. Tubuh kamu butuh istirahat," ucap Tiara dengan meminta kepada aku untuk segera meminum obat dan tidur.
Setelah minum obat, aku akhirnya tertidur.
Aku terbangun pagi sekitar jam empat pagi, aku segera mandi dan sarapan. Aku tak berani membangunkan Tiara. Sepertinya Tiara sangat capek dan lelah sekali. Jadinya Tiara sangat butuh istirahat, aku nggak mungkin membuat Tiara mengantuk aku bangunkan.
Setelah selesai sarapan, aku langsung beramgkat kerja. Aku kini sedang memeriksa Awak kapal yang kami temukan.
Seperti Kapal asing milik Tentara Malaysia, tetapi tidak ada penumpangnya. Aneh sangat mencurigakan, aku akhirnya bekerja sama dengan Polisi Air Indonesia.
Aku juga sudah berkoordinasi dengan Tentara Malaysia, tetapi mereka sama sekali tidak sedang berada di Indonesia.
Aku jadi sangat bingung sekali, akan kondisi seperti ini.
Rupanya kapal itu milik orang jahat, yang menyulam kapal biasa menjadi Kapal Angkatan Laut Malaysia.
Aku pulang sekitar jam tiga sore, ketika ke rumah rupanya Diki sedang Apel dengan putriku Debora.
Aku ikut bergabung, Aku mengajak Diki makan singkong bakar dan bermain catur.
"Sayang kamu jangan ganggu tau, mereka sedang Apel. Kamu jangan seperti itu," titah Tiara dengan tersenyum.
"Nggak apa-apa aku sedang bermain catur dengan nak Diki nggak apa-apa sayang," ucapku dengan tersenyum.
"Oia kalian sudah siapkan gedung? Karena dua minggu lagi kalian akan menikah," tanyaku dengan sangat antusias sekali.
"Sudah Papa," jawab Debora dengan tersenyum.
"Sudah Pak," jawab Diki dengan tersenyum.
"Ok bagus jika gitu, oia Papa mau kasih hadiah untuk kalian berdua. Kalian berdua pakai jas dan gaun pengantin milik Papa dan Mama," pintaku dengan tersenyum.
"Sayang biar mereka saja yang memilih sendiri, sayang mungkin gaun dan pakaian pengantin kita berdua kuno," ucap Tiara dengan tersenyum.
Mau nggak mau, akhirnya Debora dan Diki setuju dan tak mempermasalahkannya.
"Iya Papa, Debora dan Diki mau kok. Apapun hadiahnya pasti kami terima," jawab putri dan calon menantuku dengan sangat kompak sekali.
"Iya nak, terima kasih iya. Karena kalian mau menerima bantuan dan uluran dari Papa," ucapku dengan tersenyum.
Setelah selesai mereka bermain catur, aku dan Tiara mengajak anak dan calon menantuku. Untuk makan bersama.
Akhirnya kami dapat makan bersama, kami dapat menikmati makan bersama.
"Cobain nak Diki, ini masakan saya yang buat," ucapku dengan tersenyum.
Diki akhirnya mencoba dan menikmati masakan yang sudah susah paya aku masak.
"Rasanya sangat enak dan lezat, banyak sekali rempahnya. Diki sangat menyukainya Pa," ucap Diki dengan teesenyum.
"Makan yang banyak nak Diki, ini puding cokelat dan Strawbery Papa juga yang buat. Silahkan di coba," ucapku dengan sangat ramahnya.
Aku yang sudah sangat lelah, akhirnya ke atas kamarku terlebih dahulu. Kepalaku sangat pusing sekali, aku sangat mengantuk sekali. Aku butuh tidur, aku yang sedang tertidur kini terbangun.
Rupanya istriku Tiara kini sedang memijit dan mengurutku, aku yang pegal kini menjadi segar kembali.
"Thanks dear," ucapku dengan mengecup keningnya.
"Iya sayang, sama-sama sayang. Saya sungguh sangat mencintai kamu," ucap Tiara dengan sangat manisnya.
Aku dan Tiara kini kami berdua tertidur, aku terbangun jam empat pagi. Aku segera mandi dan mengenakan pakaian di bantu oleh Tiara istriku.
"Sayang kamu sudah makan?" tanya Tiara dengan tersenyum manis.
"Aku males sarapan sayang, aku berangkat kerja dulu sayang. Love you sayang," ucap aku dengan tersenyum.
Aku segera berangkat, ketika ingin berangkat aku melihat anak kecil. Kasihan sekali aku dengan anak kecil tersebut, aku sangat tidak tega sekali.
Anak kecil tersebut menangis, dia bersedih. Wajah dan tubuhnya penuh luka. Ternyata anak ini menjadi pengemis karena suruhan orang tuanya.
Aku tanpa sadar menangis dan menitikan air mata, aku nggak tega sekali melihat anak malang ini.
Aku tak habis pikir, kenapa kedua orang tua anak kecil ini tega sekali?
Bersambung.