Membawa Anak Kecil Tersebut ke rumah sakit

1006 Kata
"Sudahlah nak, kamu jangan nangis sayang. Om akan membawa kamu ke rumah sakit,' ucapku dengan tersenyum. "Terima kasih banyak Om, kaki aku sangat sakit sekali. Saya merasakan sakit sekali Om di sekujur tubuh saya,' ucap anak malang tersebut. Ya Tuhan malang dan menderita sekali, anak kecil ini. Saya sangat nggak tega, sangat khawatir sekali. Seluruh Tubuh di penuhi luka lebam, bekas penganiayaan. Orang tua seharusnya menyayangi anak-anaknya. "Sayang kamu jangan khawatir iya, Bapak akan menjaga kamu. Jika kamu mau kamu bisa ke rumah Bapak ada kakak-kakak dan Ibu,' ucapku dengan sangat ramah sekali. Setibanya aku di rumah sakit, anak tersebut di berikan obat dabn salep, sedangkan kedua orang tua anak kecil tersebut saya bawa ke kantor polisi. Aku rasanya sangat geram sekali, serta inghin memaki perbuatan kedua orang tua anak kecil tersebut. Aku meminta dua anak buahku, untuk menjaga anak kecil yang sangat malng ini. "Santoso dan Budi tolong saya,' titahlku dengan penuh ketegasan. "Siap Jenderal, apa yang bisa saya bantu Jenderal?' tanya keduanya dengan memberikan hormat. "Tolong kalian berdua jaga anak ini, kalian rawat dan obati. Jangan lupa suapin jika anak ini mau makan,' titahlku dengan penuh ketegasan. "Siap Jenderal," jawab keduanuya dengan memberikan penghormatan kepadaku. Aku berpamitan lanfgsung kepada anak kecil tersebut, aku memberikannya permen dan cokelat supaya dia tersenyum. "Nak bapak pergi dulu iya, kamu di jaga dengan kedua om ini. Permisi nak,' ucapku dengan sangat ramahnya. Aku langsung bergegas ke rumah sakit, setibanya aku di rumah sakit. Aku langsung menghampiri kedua orang tua anak kecil tersebut. Aku sangking kesal dan marahnya, aku sontak reflek menampar Ayah dari anak kecil tersebut. "Bapak pikir pakai otak, kenapa anak kecil seperti putra Bapak Bapak jadikan pengemis?' tanya aku dengan penuh amarah dan emosi. "Anak-anak saya, suka-suka saya jika saya ingin menjadikan anak saya pengemis atau gembel. Saya ini orang miskin, sedangkan Bapak itu adalah Tentara punya pekerjaan yang enak, jadi nggak pantas memarahi dan mengomentari saya,' ucap Bapak tersebut dengan nada yang meninggi sekali. "Saya jadi seperti ini juga nggak gampang Pak, saya dengan usaha dan kerja keras saya. Dulu saya sangat miskin, Ayah saya hany kurir sedangkan Ibu saya hanya tukang cuci, mereka berdua tidak pernah serendah itu menyuruh saya mengemis. Saya berpikir bagaimana saya harus hidup, semasa Sma saya saya bekerja di sebuah restoran Chinese Food. Saya hanya beruntung saja di pertemukan Papi Felix dan Mami Anggel, mereka menyekolahkan saya di All. Sehingga saya menjadi prajurit seperti ini,' ucapku dengan bercerita panjang lebar. Tetapi memang dasarnya, bapak tersebut dablek. Dia tetap saja nggak paham dan mengerti dengan apa yang aku katakan. Sementara istrinya hanya dapat menagis, aku lihat istrinuya di dahinya penuh dengan luka. Aku sangat yakin sekali jika Ibu tersebut dianiaya oleh suaminya. "Ibu kenapa dahi Ibu?' tanya aku dengan menunjuk dahi Ibu tersebut. "Saya tidak apa-apa Pak, saya hanya jatuh Pak. Terjatuh dari kamar mandi," jawab Ibu tersebut dengan terbata-bata. Aku sangat khawatir, aku sangat bingung sekali. Kenapa Ibu itu tidak jujur saja? Jika dia dicelakai oleh suaminya. "Ibu sepertinya bohong, Ibu dianiaya oleh suami Ibu kan? Karena Ibu nggak tahan Ibu juga lampiaskan ke anak Ibu,' tanyaku dengan tersenyum sinis. Bapak tersebut sangat terkejut dan terbatuk-batuk, bahkan dia langsung menyanggahnya. Setelah puas mengunjungi mereka, aku langsung ke kantor. Setelah urusan kantor aku selesai. Aku langsung menuju ke rumah sakit. Aku membawakan kue dan buah-buahan, aku lihat keluarga anak ini juga sudah datang. Semoga saja anak kecil ini, di rawat dengan baik. Aku akhirnya pulang ke rumahku, setibnaya di rumah aku angsung menceritakan semuanya kepada anak-anak dan istriku. Setelah bercerita, aku akhoirnya makan bersama mereka. Aku berharap-harap, apa pun yang terjadi kelak anak-anakku tidak akan bertingkah seperti itu. Karena sesusah atau pun sesulit apa pun kita. Kita harus tetap berusaha dan berjuang demi kebahagian anak-anak kita. Kita tidak boleh menjadi orang jahat, kita harus menjadi orang baik. Kita harus menyayangi anak-anak kita. Aku nggak mau, anak-anak aku sampai salah langkah, salah jalan. Aku ingin anak-anakku dapat memberikan kebahagian demi anak-anak mereka. Walau pun nyawa mereka menjadi taruhannya, jangan sampai mereka menjadi oprang tua yang jahat seperti kedua orang tua tersebut. Aku yang sangat mengantuk, akhirnya ke kamar terlebih dahulu. Aku langsung meminum obatku sebelum aku tidur. Aku terbangun di jam empat pagi, aku langsung mandi. Setelah mandi aku mengenakan Seragam PDH. Aku mednghampiri Tiara, istriku terlihat sangat cantik sekali. Dengan busana Jalasenatri dan rambutnya yang di sempol. Terlihat sangat cantik dan anggun sekali, aku langsung memeluknya dari belakang. "Sayang kamu cantik sekali, semakin harii saya semakin cinta saja. Kamu sunnguh cantik,' pujiku dengan sedikit menggoda istri cantikku. "Hentikan sayang, kamu jangan menggoda aku. Aku kan malu,' ucap Tiara dengan memprotes tindakan aku. Setelah kami berdua rapih, kami turun ke bawah. Kami sarapan bersama. Setelah selesai aku dan istriku segera menuju di Mabesal, aku dan Tiara memasuki Mabesal. Aku dan Tiara sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku dengan prajurit aku sedang sibuk menangkap penyelundupan senjata melalui jalur laut. Sedangkan istriku sedang sibuk menjahit dan menyulam dengan Ibu-ibu, ketika jam istirahat makan siang. Aku mengajak istriku untuk makan bersama di Kantin. Aku dan Tiara memakan Soto Tangkar, rasanya sangat enak dan lezat sekali. Sangat pedas dan segar sekali. Kami sangat menikmatinya. Setelah makan Soto Tangkar, aku langsung memesan rujak. Aku sangat ingin memakan Rujak Buah dan Rujak Cingur. Setelah aku memesan, aku langsung menyantapnya dengan sangat lahap sekali. Tiara sangat heran dan terkejut sekali, Tiara rasa aku sangat b*******h untuk makan banyak sekali. "Tiara kamu mau makan lagi nggak/' tanayaku dengan tersenyum menatao wajah cantik istriku. "Aku sudah kenyang sayang,' jawab Tiara dengan sangat singkat sekali. "Aku pesan Rujak Buah dan Rujak Cingur,' ucapku dengan tersenyum. "Kamu mau makan lagi sayang, apakah kamu menghabiskannya sayang?' tanya Tira dengan menatap aku penuh heran. "Aku masih sanga lapar sayang, aku pesan satu porsi besar. Mungkin dengan kamu jika aku tak sanggup untuk menghabiskan semuanya,' ucapku dengan tersenyum. Aku akhirnya memasak damn membuat masakan yang sangat enak dan lezat sekali, aku mewmakn dengan sangat lahapnya. Aku juga meminta Tiara untuk ikut makan juga. Makan bersama aku dengan sangat lahapnya. Krena sangking bersemangatnya kami hingga tersendak. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN