Memasuki awal kuliah, aku mulai disibukkan dengan aktivitas kampus. Sejak saat itulah hubungan kami mulai ada perubahan. Telepon dan surat sudah jarang kami lakukan. Lebih banyak aku yang sering mengirim surat, namun balasan mulai jarang ada. Begitu juga lewat telpon. Setiap ditelpon ke asrama tempat dia tinggal, selalu dikabarkan Nindy tidak di tempat. Ku tinggalkan pesan agar menelpon ku balikpun tetap tak ada respon. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan berganti bulan, akhirnya datanglah sepucuk surat dari Samarinda. Saat itu matahari siang lagi teriknya menerpa kos ku. Pak pos tiba-tiba hadir didepan kos ku. Dia mengantar sepucuk surat buat aku. Saat itu juga aku menyambut surat itu dengan antusias, langsung ku tutup pintu kamarku. Aku sudah tak sabar ingin membaca surat tersebu

