Kisah Sepasang Merpati

1512 Kata
Dua ekor merpati terbang di atas hamparan mawar putih yang indah. Keduanya terus berputar bersama seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa cinta mereka adalah yang paling sejati. Dari balik semak, seorang pemburu melesatkan pelurunya hingga mengenai merpati betina. Burung itu terjun bebas dengan darah yang mengucur deras, tapi merpati jantan tidak begitu saja membiarkan pasangannya terjatuh. Dia terus mengepakkan sayap, berusaha mengejar si betina, tanpa peduli jika sayap-sayapnya mulai terluka oleh duri mawar. Darah mereka menciptakan keajaiban, mengubah hamparan mawar putih menjadi merah, dan menjadikan kisah cinta mereka sebagai sebuah legenda. *** Aku menatap kaus kaki di tangan Gibran dengan perasaan geli. Pria itu masih berlutut, membuatku sedikit kesulitan menahan tawa. Maksudku begini, seorang pria biasanya akan berlutut di depan gadis dengan kotak cincin, atau minimal setangkai bunga saat membuat pengakuan. Pria ini benar-benar limited edition, dia justru memberiku kaus kaki yang menguarkan bau tak sedap. Apa yang dia lakukan benar-benar tak selaras dengan wajah tampannya. Memenuhi janji? Satu kali pun, aku tidak pernah merasa mendengar Gibran membuat janji untukku. Sependek ingatanku, kaus kaki itu adalah milikku belasan tahun lalu. "Oh, jadi kamu si pengecut itu? Pantas malam itu bukannya melawan para preman, kamu justru mengajakku lari dengan kaki pincang," ucapku sambil memungut kaus kaki di tangannya. Gibran berdiri dengan tatapan heran, entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu sekarang. Isi kepalanya terlalu sulit ditebak. "Bukan itu yang seharusnya kamu ingat," jawabnya sambil berdiri. "Kalau kamu ingat dengan kaus kaki itu, apa kamu lupa dengan apa yang kamu katakan saat menyerahkannya padaku?" "Apa? Jadi kamu menganggap serius ucapan anak kecil yang bahkan tidak punya nama?" Aku tertawa lalu melemparkan kaus kaki di tangan ke sembarang arah. Namun dengan gerakan sangat cepat, Gibran malah mencondongkan tubuh dan menangkap kaus kaki itu lagi. "Aku sudah menyimpannya selama tujuh belas tahun, kamu tidak bisa begitu saja membuang ini." "Ya sudah, simpan saja. Aku tidak akan melarang." Aku mulai melanjutkan lari dengan sepatu baru pemberian Gibran. "Ah, ya, omong-omong, terima kasih sepatunya. Aku pasti akan membayar rotimu nanti. Sekarang aku tidak membawa uang," lanjutku setengah berteriak karena Gibran masih berdiri di tempat semula, lalu mempercepat langkah dan berlari sambil mengulum senyum. Aku sudah melihat jutaan pria romantis di drama Korea, tapi apa yang dilakukan Gibran adalah nyata. Menyimpan kaus kaki selama tujuh belas tahun dan menunggu pertemuan yang tidak pasti, itu adalah hal paling konyol sekaligus romantis menurutku. "Bagaimana kabar jantungmu? Apa sedang meneriakkan namaku sekarang?" Tiba-tiba saja Gibran sudah menyusul dan berlari di sampingku. Sebelumnya jantungku biasa saja, tapi sekarang, ketika melihat wajahnya, aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Ada yang berdetak ganjil seiring napas yang semakin terengah karena berlari. "Hampir copot. Aku tidak habis pikir ada pria sebodoh dirimu di dunia ini." "Ini bukan bodoh, tapi cinta. Kamu harus bisa membedakan dua hal itu." Aku berhenti sejenak demi melihat wajah Gibran saat mengatakannya. Matahari di langit timur mulai merangkak naik. Saat ini, Gibran seperti siluet dengan sayap cahaya, karena berdiri membelakangi matahari terbit. "Cinta katamu?" Aku meletakkan kedua tangan di pinggang, menengadah, dan menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. "Kalau cinta sebodoh itu, aku akan menolak untuk jatuh cinta. Aku tidak berniat menjadi bodoh seperti dirimu." Gibran malah tertawa sekarang. "Bagaimana lagi? Seorang gadis memintaku menikahinya saat dewasa. Aku tidak mungkin membiarkannya menjadi jomblo seumur hidup jika aku menikahi perempuan lain. Seharusnya kamu bersyukur karena aku datang." Sekarang ganti aku yang tertawa meledek. "Lupakan. Aku tidak berniat menjadi menantu Nenek Sihir seperti ibumu." "Tapi kalau Tuhan maunya kamu menikah denganku, memangnya kamu bisa apa?" Aku hendak mengeluh tentang kelakuannya yang terlalu keras kepala. Namun dering telepon menginterupsi. Ada panggilan masuk dari Nenek Sihir. "Ya, Nyonya? Ada apa?" 'Kamu di mana? Papanya Ellin mulai bergerak dan mengerahkan anak buahnya untuk mencari Ellin. Tolong pastikan dia baik-baik saja. Kumohon.' Suara perempuan itu terdengar serak. Kalau Nyonya Diana sepeduli ini dengan anak tirinya, kenapa Ellin selalu mengatakan kalau orang tuanya tidak peduli padanya? "Nyonya tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja." Aku segera mengakhiri panggilan. Merasa tidak perlu berbicara lebih banyak, atau tahu lebih banyak tentang mereka dengan segudang masalah keluarga yang mereka miliki. "Mama?" "Nenek Sihir." "Entah kenapa aku merasa kalau kalian sangat cocok." "Aku selalu cocok dengan siapa saja yang memberiku banyak uang," jawabku asal, lalu mengambil langkah lebih cepat. Aku harus segera pulang untuk memastikan keadaan Ellin. Biar bagaimana pun, dia tanggung jawabku sekarang. "Aku sudah datang, jadi kamu jangan pernah menghindar atau lari lagi. Penantian kita sudah usai." Si pria keras kepala bernama Gibran masih saja membuntutiku. Dia ikut berlari ke arah rumah. "Kamu terlalu percaya diri. Aku tidak pernah merasa sedang menunggu siapa pun." Tidak mau terlibat obrolan yang semakin tidak jelas, aku mempercepat lari dan meninggalkan Gibran jauh di belakang. Sampai di halaman, aku terkejut dengan apa yang ada di sana. Dua orang pria bertubuh kekar sedang berusaha menyeret Ellin keluar dari rumah. "Tidak, Kak,  Ellin tidak mau pulang," rengek gadis itu sambil memegangi pintu. Dari arah yang berlawanan denganku, Airin datang dengan langkah kilat. Wajahnya penuh dengan amarah, sampai membuatku membatalkan niat untuk berlari. Aku tidak tahu apa yang membuatnya pulang secepat itu, tapi dia ada di sini sekarang. "Kenapa tidak jadi lari? Kita harus menolong Ellin. Mereka tidak boleh membawanya pergi, atau papa akan membuatnya semakin kehilangan banyak hal." Gibran hendak berlari, tapi aku menahannya dengan mengacungkan tangan di depan pria itu. "Kita lihat saja, bagaimana nasib para pria kekar itu di tangan Airin." Aku menyedekapkan tangan, sambil memperhatikan pertunjukan di depan sana. "Hey, mana bisa kita membiarkan Ellin diseret-seret begitu?" Tepat saat Gibran selesai mengucapkan kalimatnya, tangan Airin mendarat di wajah salah satu pria yang menyeret Ellin. Aku bisa melihat Gibran memegangi pipinya, mungkin dia membayangkan rasa sakit dari tamparan itu. Tidak berhenti di situ, Airin menendang benda paling berharga dari si pria yang satunya lagi, sampai pria itu berteriak kesakitan. "Apa kalian ini laki-laki? Bagaimana bisa berbuat sekasar itu pada perempuan? Dasar banci!" umpatnya membuat kedua pria itu diam. Pria yang ditendang selangkangannya oleh Airin masih sibuk memegangi aset berharga miliknya yang kuyakin pasti sakit sekali. Airin adalah atlet karate dengan sabuk hitam yang sudah diraih sejak awal masuk universitas. Penampilannya memang feminin, tapi kalau orang yang benar-benar mengenalnya pasti tidak akan mau cari perkara dengan anak itu. "Sebaiknya Anda tidak ikut campur dengan urusan kami. Kami hanya perlu membawa Nona Ellin ke hadapan Tuan." Pria yang ditampar tadi berbicara dengan suara berat dan dingin. "Marvel adalah ajudan terbaik papanya Ellin. Airin harus berhati-hati." Gibran hendak melangkah, tapi lagi-lagi aku menahannya. "Aku tidak mengizinkan!" "Saya tidak membutuhkan izin Anda untuk membawanya pergi." Marvel berbicara tanpa ekspresi. Wajahnya benar-benar datar mirip papan, dan suara yang barusan mengudara, seolah berasal dari kutub selatan. Sepertinya ini akan menarik. "Manusia salju, apa otakmu ketinggalan di rumah saat berjalan kemari?" Airin menyembunyikan Ellin di balik punggungnya saat Marvel kembali berusaha menarik tangan gadis itu. "Apa kamu tidak berpikir tentang apa yang akan dilakukan ayahnya pada gadis ini? Kalau kamu adalah pacarnya, apa kamu akan membiarkan–" Marvel memasukkan sapu tangan ke mulut Airin sambil mengorek kuping, tapi gadis bermulut mercon itu masih terus mengomel tidak jelas. Marvel berhasil menarik Ellin, tapi Airin tidak tinggal diam. Dia berusaha menghalangi langkah Marvel dengan kakinya setelah meludahkan sapu tangan dari mulut. Namun sepertinya Marvel sudah sangat terlatih, sehingga kaki Airin tidak bisa menghalangi, dan malah membuat gadis itu hampir terjatuh sendiri. Selanjutnya yang kulihat mirip adegan drama Korea, di mana pemeran utama pria menolong pemeran utama perempuan yang hendak terjatuh, dan keduanya saling berpandangan dengan posisi tangan Marvel melingkar di pinggang ramping Airin. "Oho! Sepertinya pria es itu akan terkana ledakan petasan sebentar lagi." Aku mendekati mereka sambil menyanyikan reff lagu My Destiny, soundtrack Descendant of The Sun yang belakangan ini sering kudengar. Marvel melepaskan tangannya, dan sekali lagi Airin hampir terjatuh, tapi lagi-lagi refleks tangan Marvel sangat bagus untuk meraih pinggang gadis itu sebelum bokongnya menyentuh paving block. "Marvel, aku tahu ini tugasmu, tapi Ellin juga sudah seperti adikmu. Apa kamu yakin akan membawanya ke hadapan papa?" Gibran berbicara setelah Airin menjauh dari Marvel dengan kikuk. Pria itu menunduk hormat ke arah Gibran, tapi wajahnya memang sangat mirip papan. Benar-benar datar tanpa ekspresi, bahkan setelah aku sempat meledeknya dengan lagu  My Destiny tadi. "Maaf, Saya hanya menjalankan tugas." "Meski tugas itu akan menyakiti adik kecilmu?" "Kak, maaf kalau Ellin terus membuat Kak Marvel berada dalam kesulitan, tapi Ellin mohon, kali ini saja, biarkan Ellin memilih jalan Ellin sendiri." Gadis itu maju beberapa langkah dan meraih kedua tangan Marvel. Matanya menatap penuh harap pada pria yang tingginya jauh di atasnya. "Terima kasih untuk penjagaan Kak Marvel selama ini, tapi Ellin minta maaf, kali ini Ellin tidak bisa ikut dengan Kakak." Sepertinya mereka memiliki ikatan yang cukup dekat. Seperti yang tadi Gibran katakan, Ellin sudah seperti adik bagi Marvel. Terlihat dari caranya menanggapi permintaan gadis itu. Marvel memejamkan mata sesaat, aku melihat kebimbangan di wajah itu, tapi detik berikutnya ekspresi Marvel kembali datar dan dingin. Dia membalik keadaan dan membuat pergelangan tangan Ellin berada dalam genggamannya. "Maaf, saya juga tidak bisa menyerahkan Nona pada anak kurang ajar dan tidak bertanggung jawab seperti Daniel."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN