Peyusup

1829 Kata
Hawa dingin tidak pernah gagal membuat otakku semakin membeku. Sejak semalam, aku masih belum bisa menentukan cerita selanjutnya untuk kisah Gibran. Seperti kaset rusak, otakku hanya memutar ulang visual yang sama lagi dan lagi. Wajah Gibran terus saja muncul, tapi hanya tersenyum dan mengatakan kalimat yang sama. "Aku menemukanmu? Sebenarnya apa maksud dari semua ini? Kenapa aku merasa seolah kalimat itu tertuju padaku?" Aku bergulingan di kasur dengan selimut tebal menggulung tubuh. Karena Ellin menempati kamarku, jadi aku menggunakan kasur lantai untuk tidur, sementara Airin tidur si sofa ruang tamu. "Tidak, tidak, tidak mungkin." Aku membenturkan kepala sekali lagi ke kasur, berharap pikiran tidak masuk akal itu segera lenyap. "Aaa, ada apa ini? Kenapa sulit sekali menuliskan kisahnya?" Pagi masih baru menetas, tapi mimpi itu membuatku terbangun. Saat melihat ponsel, ada sepuluh pesan masuk dari nomor Gibran. Entah karena tidak punya kerjaan lain selain merecoki hidup orang, atau karena dia sangat peduli pada adik tirinya. Yang jelas, pesan-pesan itu membuatku risi. Dia bersikap seolah Ellin bukan adik tirinya, tapi pacar. [Berhenti menggangguku. Kalau kamu sangat khawatir dengan adikmu, datang saja kemari untuk melihat keadaannya.] Aku melempar ponsel ke sembarang arah, lalu kembali meringkuk, berharap ada sedikit ide yang muncul setelah tidur nanti. Baru saja menemukan posisi yang nyaman, tiba-tiba seperti ada bayangan seseorang yang mengendap-endap di luar jendela. Aku berdiri dengan gerakan yang sangat perlahan, menghampiri Airin yang tidak jauh dariku, lalu membangunkan gadis itu. "Apaan, si?" gumamnya sambil mengibaskan tangan ke udara, dengan mata masih terpejam ketika aku menarik selimutnya. "Rin, sepertinya ada pencuri," bisikku tepat di depan telinganya. Dalam sekejap, gadis itu membuka mata dan menoleh ke arahku yang masih membungkuk di sampingnya sambil membopong selimut. "Pencuri? Orang bodoh mana yang mau mencuri di rumah ini?" Untuk ukuran otak orang yang baru saja bangun tidur, aku benar-benar mengacungi jempol pada Airin. Isi kepala dan mulutnya sangat sinkron, aku akui itu. Karena bahkan, dia sudah bisa menemukan susunan kata yang menyebalkan untuk mengejekku. Ya, di rumah ini memang tidak banyak benda berharga, hanya televisi kecil dan laptop yang biasa kugunakan untuk streaming drama Korea. Kalau ada pencuri yang masuk ke daerah ini, aku yakin, mereka pasti lebih tertarik untuk menjarah tetangga depan rumah yang jelas kaya raya. Maksudku, mereka punya mobil, motor berderet di garasi dan pastinya banyak barang mewah di dalam sana. Kontras dengan tempat tinggalku ini. Aku tersenyum miring, mencibir Airin yang sedang mengucek mata. "Kamu memang Mak Lampir sejati." Belum sempat Airin menjawab, tiba-tiba tersengar kegaduhan dari arah kamar yang ditempati Ellin. "Ayy, jangan-jangan ...." Aku dan Airin segera berlari ke arah kamar, takut kalau orang itu berusaha mencelakai si gadis manja. Dengan cepat, Airin membuka pintu yang memang tidak dikunci. "Yak! Dasar piyik akhlak eopso!" Airin membalik tubuh dengan cepat ketika melihat apa yang ada di dalam sana. Ellin sedang bersama pemuda yang kuyakin itu adalah Daniel. Mereka sedang berciuman di dekat jendela kamar yang terbuka. Aku yakin, Airin sudah sering melihat adegan semacam itu di drama, dia sendiri pernah, tapi melihat orang lain yang melakukannya di depan mata, rasanya sedikit ... sulit dijelaskan. Aku menyedekapkan tangan dan berjalan santai ke arah mereka yang terlihat kikuk.  "Jadi kamu yang namanya Daniel?" Aku bertanya sambil meneliti pemuda itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau dilihat-lihat, Daniel memang cukup tampan. Sekilas mirip Jaehyun NCT. Serasi dengan Ellin yang cantik dan berkulit putih. "Dasar anak-anak kelebihan hormon, tapi kekurangan volume otak!" Airin menjewer telinga Daniel kasar. "Tidak heran kalau sampai Ellin hamil, bahkan di rumah orang lain saja, pacarnya berani menyusup kemari. Apa kalian tidak pernah diajari tentang sopan santun oleh orang tua kalian!" Airin sudah mirip petasan yang dinyalakan pada malam pergantian tahun oleh anak-anak depan gang. Jiwa Mak Lampirnya pasti sudah membara melihat kelakuan sejoli ini. "Rin, pelankan suaramu. Aku tidak mau tetangga depan rumah menagih denda padaku karena perabotannya pecah oleh suaramu itu," candaku dengan suara sedikit berbisik. "Oke-oke," jawabnya ikut berbisik. "aku akan memelankan suara, tapi bagaimana dengan dua bocah ini? Mereka benar-benar akhlak eopso!" Airin adalah orang yang meracuniku dengan berbagai hal berbau Korea. Dia pecinta kpop garis keras. Dalam keadaan tertentu, kadang bahkan dia bisa mengumpat menggunakan bahasa Korea dengan super cepat.  Aku saja sampai heran. "Kakak benar," Ellin mulai berbicara dengan suara manja dan pelan, sementara Daniel masih sibuk mengusap telinga yang merah bekas jeweran Airin. "orang tua kami terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sampai tidak ada waktu untuk mengajarkan kami mana yang benar dan mana yang salah, tapi terus menuntut agar kami menjadi sempurna dengan takaran mereka." Air matanya mulai menetes satu-satu saat mengucapkan kalimat itu. "Sayang, kenapa kamu menangis? Aku di sini. Kita akan melewatinya sama-sama. Aku sudah berhasil kabur dan tidak akan pernah mau kembali ke rumah itu lagi. Kita akan menjalani hidup kita dengan aturan kita sendiri." "Yakin?" tanyaku sedikit meremehkan. Dari penampilan dan cara bicaranya saja, aku bisa melihat kalau Daniel tidak kalah manja dari Ellin. Tipe manusia yang lahir dengan sendok emas di mulutnya seperti mereka, sangat sedikit yang benar-benar bisa diandalkan. "Yakin, Kak. Aku akan bekerja di perusahaan dan mencari uang untuk biaya hidup kami dan anak kami nanti." "Perusahaan mana yang dipimpin oleh orang bodoh sehingga mau menerima anak sepertimu sebagai karyawan?" Oh, Tuhan, Airin benar-benar tidak punya filter saat berbicara. Meski aku juga tidak yakin dengan kemampuan Daniel, tapi langsung men-judge orang hanya dari penampilan menurutku tidak adil. Ya, meski sedetik lalu aku juga memikirkan hal yang sama. "Papa punya banyak perusahaan, dan ...." "Dan kamu pikir papamu akan membiarkan anak durhaka yang sudah kabur dari rumah untuk menjadi bagian dari perusahaannya?" Lagi-lagi Airin melemparkan anak itu kembali pada kenyataan dengan sangat kasar. Tepat sekali bidikannya. Sekarang, Daniel hanya bisa menggaruk kepala seperti orang bodoh yang sedang pura-pura berpikir. "Benar juga, ya. Lalu kita harus bagaimana? Aku sangat merindukannya, jadi saat aku bisa kabur dari para penjaga papa, aku langsung kemari setelah Ellin memberitahukan alamat rumah ini." Lagi-lagi Ellin hanya menunduk seperti ketakutan. Aku jadi kasihan, sepertinya dia sering berada dalam keadaan seperti ini, di mana dia tidak punya pilihan kecuali diam dan menunduk. Aku bisa melihat beban itu dengan sangat jelas. "Biar bagaimana pun, kalian harus menghadapi semuanya bersama. Kesalahan yang kalian lakukan ...." "Itu bukan kesalahan, Kak." Daniel memotong kalimatku dengan suaranya yang lantang. "Kami sengaja melakukannya, agar mereka berhenti sejenak dari kesibukan dan melihat ke arah kami." "Tapi bukan berarti kamu boleh seenak jidat meletakkan benih di rahim anak orang, Dodol! Dasar emang kalian tidak ada akhlak!" "Maafkan Ellin, Kak. Ellin sangat merindukan Daniel, jadi saat dia bilang sudah bisa keluar rumah, Ellin langsung memintanya datang kemari." "Dan berciuman di kamar orang yang bahkan tidak tahu fungsinya bibir selain untuk berbicara?" Tetap saja, aku lagi yang jadi sasaran. Memang apa salahnya kalau aku belum pernah berciuman? Dasar, Mak Lampir! "Setidaknya aku tidak pernah diputuskan oleh seseorang setelah dicium seperti 'tetangga sebelah'." Aku sengaja menekankan kata tetangga sebelah sambil melirik Airin. Semoga dia tidak lupa saat dirinya merengek semalaman karena diputuskan oleh pacarnya setelah saling berbagi rasa lewat bibir. "Ayya!" Aku hanya tertawa karena kemarahannya sambil mengetik pesan untuk Gibran. Setidaknya aku bisa menganggap diriku menang dari Airin kali ini. [Kamu harus segera mengurus adikmu, aku tidak bisa menampungnya lebih lama.] *** Kaki masih terasa nyeri saat berjalan. Akan tetapi, berdiam diri di rumah tanpa mengawali hari dengan olah raga, artinya harus siap duduk seharian dengan minim gerakan karena menulis. Seperti itulah aku. Saat mulai menulis, jiwaku seolah  berpetualang bersama para tokoh dan merasakan kehidupan mereka, sampai Airin sering mengomel karena aku lupa makan. Belakangan ini punggung sering sakit, jadi kupikir setidaknya harus olah raga agar peredaran darah lebih lancar. Aku mengikat rambut dicepol ke atas, memakai hodie kebesaran ala Baekhyun, lalu bersiap untuk pergi lari. "Yakin mau lari tanpa sepatu?" Airin sudah rapi dan bersiap untuk pergi kuliah. "Anggap saja ini terapi peredaran darah." Gadis laknat itu malah tertawa mendengar jawaban yang menurutku sudah paling masuk akal. "Hei, Gadis, harusnya kamu juga sesekali memikirkan diri sendiri. Hanya membeli sepatu satu pasang, memangnya akan membuat anak-anak itu terlantar?" "Siapa bilang aku tidak membeli sepatu karena itu. Aku tidak sebaik itu, Kawan. Aku hanya sedang sedikit berhemat agar bisa menabung untuk menonton konser EXO." Aku melakukan pemanasan sebentar sebelum berlari, pikiranku masih tertuju pada kisah cinta Daniel dan Ellin. Dua anak itu memang bersalah, tapi menurutku orang tua mereka juga turut andil dalam hal ini. Harta tidak bisa membeli kebahagiaan, aku bisa memahami hal itu dari mereka. Setelah Daniel pergi, Ellin kembali mengurung diri di kamar seperti kemarin. Sekarang aku mulai memikirkan bagaimana cara agar kisah cinta mereka tidak berakhir menyedihkan. Haruskah aku menulis kisah Ellin dan Daniel dengan pena itu? "Aku pergi, hati-hati dengan kakimu yang tanpa sepatu itu." [Aku akan ke rumah. Ada sesuatu yang harus kupastikan.] Tepat saat Airin pergi, ponsel di saku bergetar tanda pesan masuk. Dari Anak Nenek Sihir. [Aku sedang lari pagi.] [Di mana?] [Taman kompleks.] [Aku ke sana sekarang.] Kupikir Gibran tidak serius saat mengatakan akan menyusul. Sampai detik ini, aku tidak berpikir ada hal lain yang perlu dibicarakan selain tentang Ellin sampai dia harus menyusulku begini. Aku berlari-lari kecil mengelilingi lapangan basket yang ada di taman depan kompleks. Udara di sini masih terasa segar karena banyak pohon yang mengelilinginya. Di dekat gapura bahkan ada dua pohon beringin kembar yang cukup rindang. Dari kejauahan, aku melihat sosok Gibran memasuki area taman dengan menenteng sepatu putih di tangan kiri. Dia melambai, dan ikut berlari kecil bersama. "Bagaimana kakimu?" "Masih tanpa sepatu," jawabku ketus. Gibran malah tertawa, kemudian berutut di depanku, membuat langkah kaki mau tak mau berhenti. Aku mengembuskan napas kasar, tidak suka dengan apa yang dia lakukan. "Aku kemari untuk bertanggung jawab atas sepatumu waktu itu." Pria itu meletakkan sepatu putih yang persis dengan sepatu mahalku waktu itu, tepat di depan kaki. Tanpa permisi, Gibran mengangkat kaki kiriku dan hampir membuatku terjatuh karena kehilangan keseimbangan. "Aku bisa sendiri." "Tapi aku ingin memastikan sesuatu." "Memastikan apa lagi? Adikmu di rumah, seharusnya kamu ke rumahku saja bukan ke sini." Sekali lagi, dia mengangkat kaki kananku setelah mengikatkan tali sepatu kiri. "Apa namamu benar-benar Tsurayya?" Aku masih sibuk mencari pegangan agar bisa menyeimbangkan tubuh dan tidak terjatuh karena apa yang dilakukan Gibran. Dia melihat kaki kananku sekali lagi. Sikapnya benar-benar aneh. "Kalau bukan Tsurayya, apa kamu pikir aku akan memperkenalkan diri dengan nama itu?" "Barang kali ada yang memanggilmu dengan sebutan ... Bocah Sialan," pungkasnya setelah sempat terjeda beberapa saat. Pria itu mendongak setelah mengikatkan tali sepatu. "Tunggu, bagaimana bisa kamu tahu ...." "Aku menemukanmu." Dia mengatakan kalimat yang sejak kemarin terus terngiang di telinga. Bukan hanya itu, pria berbadan atletis dengan bola mata memancarkan kesejukan itu juga tersenyum. Kalau begini, aku jadi merasa seolah Gibran yang ada di hadapanku dan Gibran yang menolongku kemarin adalah orang yang berbeda. Caranya tersenyum benar-benar menakjubkan, sangat berbeda dengan sosok Gibran tengil yang menghitung harga sebelah sepatuku. "Apa maksudmu? Siapa sebenarnya kamu?" Bukan langsung menjawab, Gibran merogoh sesuatu dari saku celananya. Masih dalam posisi berlutut, dia menyodorkan kaus kaki ke arahku. "Aku di sini untuk memenuhi janji." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN