Puzzle

1620 Kata
"Jadi, anak ini adiknya Gibran?" Airin berbicara sinis sambil melihat Ellin yang duduk di hadapan kami sambil menunduk. "Yups!" Aku membuka kaleng s**u sapi gambar beruang, menyederkan b****g ke meja  makan, lalu meminum beberapa teguk sambil melirik Ellin. "Terus?" "Terus apa?" "Ya, apa? Kenapa dia ada di sini?" "Begini," Aku membimbing Airin untuk duduk, dan berusaha menjelaskan kenapa gadis manja bernama Ellin itu ada di rumahku. "dia itu, lagi ada sedikit–" "Ellin hamil, Kak. Ellin tidak mungkin pulang ke rumah, karena papa pasti akan marah besar kalau tau ini." Sebenarnya aku tidak berniat memberitahukan hal itu pada orang lain, sekalipun itu Airin. Bagiku, aib seseorang tidak seharusnya diumbar, tapi Ellin malah memberitahukannya sendiri. "What?! Kamu masih piyik, dan ...." Airin terlihat sangat kesal. Gadis itu meski pergaulannya terbilang bebas, tapi selalu menjunjung tinggi moralitas. "Apa hubungannya denganmu? Kenapa kamu harus menampungnya kalo dia hamil?" "Percayalah, bukan aku pelakunya," candaku santai, lalu kembali meneguk s**u krisis identitas yang ada di tangan. "Sialan kamu, Ayy! Ini bukan masalah sepele, mana bisa kamu sesantai ini." "Maafkan Ellin, Kak. Sekarang ini kakak dan mama sedang berusaha memberitahukan papa pelan-pelan, nanti pasti aku pulang, Kak." Ellin masih berbicara sambil menunduk. Gadis delapan belas tahun itu terlihat tidak enak hati karena perkataan Airin. "Ya, begini ... keluargamu kan tajir melintir, kenapa banget harus tinggal di rumah Ayya? Kalian bahkan bisa menyewa apartemen mewah untuk tempat tinggalmu sementara, 'kan?" "Saat ini, tidak ada satu pun tempat aman untuk Ellin, Kak." "Maksud kamu?" "Dia pacaran dengan anak dari saingan bisnis ayahnya. Sekarang, Daniel sedang dikurung karena keluarganya sudah tahu kalau Ellin hamil. Kalau sampai mereka menemukan Ellin, mereka pasti akan melakukan apa saja untuk menutupi masalah ini." "Ya, Tuhan. Memangnya ini drama Korea, apa? Bagaimana bisa–" Aku menyodorkan kaleng s**u tepat di depan mulut Airin. Anak itu kalau sudah bicara susah sekali dihentikan. "Lin, lebih baik kamu istirahat dulu di kamar. Aku harus bicara sebentar dengan Kakak Mak Lampir ini," ucapku pada Ellin sambil tersenyum paksa di akhir kalimat. Seperginya Ellin, Airin malah menggigit   jariku yang masih memegangi kaleng di depan mulutnya. "Maksud kamu apa si, Ayy!" bentak gadis itu membuatku sekali lagi membungkam mulut merconnya. "Aku tahu kamu sedang ada proyek dengan mamanya, tapi bukan berarti kamu harus melibatkan diri dengan masalah keluarga mereka, 'kan?" Aku menaikkan b****g ke atas meja, duduk dengan posisi setengah berdiri di depan Airin. "Hanya ada satu alasan." "Apa? Uang?" "Apa lagi? Aku butuh uang untuk anak-anak, dan mamanya memberikan banyak uang asal membiarkan anaknya tinggal di sini sementara waktu." "Ayy! Apa kamu tidak sadar kalau hal ini bisa saja membuatmu dalam bahaya? Kamu sendiri yang bilang tadi, hubungan mereka ditentang oleh kedua pihak, persaingan orang-orang besar seperti mereka, korbannya bisa apa saja. Bahkan nyawa, Ayy." "Terima kasih, Airinku tersayang, tapi ketimbang memikirkan itu semua, aku lebih penasaran dengan masa lalu dan juga masa depan Gibran." "Masa lalu Gibran? Memangnya kenapa dengan pria tampan itu?" Yess! Berhasil. Memang cara paling ampuh untuk mengalihkan pikiran Airin adalah dengan membicarakan tentang Gibran. Gadis itu selalu antusias ketika membicarakan apa pun tentang Gibran. Aku berpindah duduk ke kursi di depan Airin dan menyentuh pelipis sambil mengingat-ingat tentang apa yang kulihat saat memegang pena itu. "Aku melihat bayangan anak laki-laki di bawah naungan langit yang penuh bintang," jawabku mulai menjelaskan. Airin mengambil posisi duduk tepat di depanku, dia bahkan menyeret kursi agar lebih dekat denganku. "Bintang itu melambangkan harapan. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Karena yang kulihat adalah anak laki-laki, menurutku ini ada hubungannya dengan masa lalu pria itu. Mungkin cinta lama yang belum kelar." "Jadi maksudmu, Gibran bukan tidak ingin menikah seperti yang dikatakan mamanya, tapi dia sedang menunggu seseorang?" Airin terlihat sangat bahagia ketika mengucapkan kalimat itu, tapi detik berikutnya wajah cantik gadis bermata sipit itu terlihat muram. "Tapi, kalau begitu, artinya jodoh Gibran bukan aku, meski kami bertemu tepat di jam Cinderella, dong?" Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban, kalau aku sendiri juga tidak tahu. "Ya, siapa tahu ternyata kalian pernah bertemu di masa lalu? Setelah aku memahami kalau Gibran sedang menunggu seseorang, aku membuat keduanya bertemu di tulisanku. Bisa jadi sekarang mereka sudah bertemu, tapi belum saling menyadari." Gadis di hadapanku mengembuskan napas kasar, lalu meletakkan kepala di atas meja. "Bahkan jika sudah bertemu, itu tidak mungkin aku. Aku sama sekali tidak mengenalnya sebelum ibunya datang padamu." Aku menepuk pundak Airin dua kali, berusaha memberinya kekuatan agar bisa menerima kenyataan. Gibran memang tampan, tapi Airin juga memiliki wajah cantik yang aku yakin bisa membuat pria mana pun jatuh cinta dengan mudah pada gadis itu. Meski memiliki mulut wasabi, tapi Airin gadis yang baik. Hatinya sangat lembut, berbanding terbalik dengan kata-kata yang sering keluar dari mulutnya.  *** Aku sedang berada di ruang kerja khusus saat terdengar keributan dari arah dapur. Sesuatu seperti terjatuh membentur lantai dan menciptakan suara berisik yang mengusik telinga. Baru sekitar lima belas menit mulai menulis, gangguan itu sudah datang. Entah mengapa menulis kisah Gibran begitu merepotkan dan ada saja yang mengganggu. Aku yakin, entah dia atau jodohnya, pasti merupakan orang yang sulit diatur, makanya kisah mereka pun susah diselesaikan. "Ada ap–" "Maaf." Di dapur, Ellin sedang berdiri di depan kompor dengan panci dan mi yang berserakan di dekat kakinya. Aku mengembuskan napas kasar, tapi tidak mungkin menunjukkan kemarahan pada gadis itu. [Bagaimana keadaan Ellin? Apa dia sudah lebih tenang?] Pesan masuk dari anak Nenek Sihir. Hampir setiap sepuluh menit sekali Gibran mengirimkan pesan dan menanyakan keadaan adiknya. Aku mengambil foto dapur yang berantakan dan mengirimkannya pada Gibran. [Kamu harus membayar lebih untuk ini.] Baru selangkah maju, ponsel kembali bergetar, tanda ada pesan masuk. [Wow! Apa dia masak sendiri? Sepertinya dia harus lebih lama tinggal bersamamu agar belajar mandiri.] Kali ini aku hanya menggeleng pelan tanpa membalas pesannya. Tinggal lebih lama? Yang benar saja. "Maaf, Kak, aku lapar. Kupikir Kakak sudah tidur, jadi aku masak sendiri, tapi–" "Sudahlah, tidak perlu dipikirkan," jawabku sambil membereskan makanan yang tumpah dan memasukkannya ke tempat sampah. "Loh, ini?" Aku menunjuk mi yang sudah ada di tempat sampah. "Aku-itu-tadi aku sudah masak, tapi terlalu matang. Aku tidak suka, jadi masak ulang. Yang kedua kurang matang, aku tidak bisa memakannya, jadi aku mengambil satu lagi, dan–" "Sudahlah, tidak apa." Aku memamerkan senyum tanpa niat. Sepertinya selain jago membuat anak, gadis itu punya bakat membuang-buang makanan. Tiga bungkus mi dan berakhir di tempat sampah? Amazing! Sepuluh ribuku melayang beserta gas dan juga air yang dia gunakan untuk memasak. "Maaf, Kak." "Tak masalah. Kamu mau bakso? Aku punya langganan yang sangat enak di dekat mini market depan sana." "Boleh, Kak." Sudah jam delapan malam, aku yakin pasti Mang Jalu sudah ada di pangkalan. Benar saja, langkahku kali ini tidak sia-sia. "Mang, baksonya dua, ya." "Eh, Neng Ayya. Makan di sini atau dibungkus, Neng?" Aku melihat ke arah Ellin untuk mencari tahu apa yang dia inginkan. "Di sini saja, Kak." "Di sini, Mang." "Okke, siaap. Laksanakan!" Aku mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari gerobak Mang Jalu. Meski hanya bakso pinggir jalan, tapi tempat ini selalu ramai setiap malam. "Mang, yang satu tidak usah dikasih sayur, ya," pinta Ellin dengan suaranya yang khas dan terdengar seperti anak-anak. "Siap, Neng!" "Kakak sering makan di sini?" Ellin terlihat mengamati sekitar. Mungkin sebagai orang kaya, ini adalah pertama kalinya dia makan di tempat seperti ini. "Daniel kadang juga mengajakku makan di pinggir jalan sesekali," ucapnya sambil mengelus perut yang masih rata. "Kami hanya ingin bahagia, tapi keluargaku dan keluarganya selalu menentang." Wajahnya terlihat sedih saat berbicara. Kupikir sebagai orang kaya, mereka bisa mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Ternyata tidak, untuk  bersama dengan orang yang dicintai saja, Ellin harus menghadapi banyak sekali masalah. "Ellin sadar kok, Kak. Apa yang Ellin dan Daniel lakukan memang salah, tapi mungkin ini yang terbaik. Ellin harap papa dan papanya Daniel akan luluh dengan kehadiran seorang cucu." Kali ini dia sedikit tersenyum walau di mataku masih terlihat hambar. Ada ketidakyakinan yang terpancar dari kedua bola mata itu. "Aku harap mereka bisa memahami cinta kalian, walau jujur saja, menurutku kalian masih terlalu muda untuk memiliki anak." Lagi-lagi Ellin menunduk, tidak ada sedikit pun keberanian di matanya. Hanya ada ketakutan dan beban yang terlihat begitu besar. "Neng yang sabar, ya." Mang Jalu datang dengan dua mangkok pesanan kami. "Orang-orang memang selalu begitu, menganggap benar apa yang menurut mereka benar. Setelah ini, Mamang yakin, tidak akan ada lagi yang membicarakan keburukan Eneng." Aku tersenyum menanggapi perkataan Mang Jalu. Beliau memang selalu memiliki petuah bijak dalam segala keadaan. "Maaf, Neng, Mamang tidak bermaksud menguping." "Tidak apa-apa, Mang. Terima kasih, ya. Saat orang-orang terdekat menentang, orang asing justru memberikan dukungan." "Kita memang harus saling bantu meringankan beban sesama, Neng." Setelahnya, Ellin hanya diam sambil menyantap baksonya. Aku juga sama sekali tidak ingin membuka obrolan karena tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan kehidupan orang lain. *** Seorang pria berada di dalam ruangan yang terlihat gelap. Dia berjalan mendekat ke arah jendela, membuka tirainya, lalu perlahan ruangan itu menjadi semakin terang. Sangat terang, sampai aku tidak bisa melihat bagaimana wajah pria itu. Hanya siluet yang terlihat berlari mendekat. "Aku menemukanmu," ucap pria itu sambil tersenyum saat berada tepat di hadapanku. "Gibran?" Penaku terjatuh dari genggaman. Lagi-lagi aku tertidur saat sedang menulis. "Apa itu tadi? Kenapa yang muncul tentang Gibran selalu aneh?" gumamku sambil memungut pena. Aku melihat ke arah lembaran kertas tempatku menulis kisah Gibran. Di bagian atas halaman, ada sebuah gambar seorang lelaki yang sedang berlutut di depan seorang gadis dan memegang tali sepatu si gadis. Itu pasti ulah si pena ajaib. "Beruntung sekali gadis itu. Saat semua orang menginginkan sosok seperti Yoo Shi Jin, dia mendapatkannya dalam sosok Gibran." Aku menutup buku itu dan menyimpannya di dalam sebuah kotak bersama pena ajaib, lalu menguncinya. Aku harus tidur sekarang, hari ini benar-benar melelahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN