Panggilan dari Nenek Sihir

1465 Kata
Bocah laki-laki duduk di sebuah bangku taman sambil menatap langit. Kunang-kunang berkelompok di dedaunan, membentuk cahaya yang menakjubkan. Bintang di atas sana berpindah, membentuk kilat cahaya seolah jatuh ke bumi. Satu-satu harapan melangit, menjadi pelita di antara temaram yang sunyi. *** Aku membuka mata saat mencium aroma yang begitu menggiurkan. Di rumahku, aroma makanan selain mi instan dan bakso adalah kejadian langka. Pagi ini, sepertinya sesuatu yang langka itu sedang terjadi. Aku menegakkan kepala dengan leher yang terasa pegal. Seperti biasa, tidur sambil duduk dan meletakkan kepala di atas meja saat menulis juga sudah merupakan hal yang nyaris setiap hari terjadi. "Masak apa, Rin?" tanyaku sambil mengucek mata ketika melihat Airin sedang berdiri di depan meja kompor. Sepertinya Tuhan benar-benar sedang berbahagia saat menciptakan Airin. Selain memiliki kesempurnaan fisik, dia juga bisa melakukan banyak hal. Hanya satu yang sepertinya tidak bisa dilakukan Airin. Bersikap lembut padaku. "Tadi ada tukang sayur lewat, aku beli udang sama kentang." Aku hendak mengambil udang yang baru saja dipindahkan dari teflon ke piring, tapi dengan kasarnya Airin malah memukul tanganku. "Jorok!" bentaknya seperti ibu panti waktu itu. "Setidaknya sikat gigimu dulu sebelum makan." "Aw! Kakiku masih sakit, aku tidak bisa pergi ke kamar mandi," ucapku berpura-pura memegangi kaki yang terkilir. "Oh, ya? Benarkah?" Kupikir saat Airin mendekat, gadis itu hendak memastikan keadaanku karena khawatir. Salah, dia justru menendang sebelah kakiku. "Biar adil, kasihan kaki kirimu tidak bisa dijadikan alasan." "Mak Lampir!" "Tidak usah berteriak begitu, napasmu bau jigong. Pergi ke kamar mandi sekarang atau aku akan membuatmu kehilangan satu kaki." Aku yakin, lidahnya itu pasti lebih beracun dari ular paling beracun sekalipun. Sayangnya, Airin tidak pernah main-main saat mengancamku. Mau tidak mau aku pergi ke kamar mandi, walau sebenarnya aku sangat yakin, air pagi ini pasti dingin sekali. "Dasar Mak Lampir! Memang apa bedanya kalau aku makan sekarang atau nanti? Sama saja, 'kan? Udang akan tetap rasa udang, tidak mungkin berubah menjadi daging sapi hanya karena aku sudah mencuci wajah," gerutuku panjang pendek sambil menyikat gigi. Selesai mencuci wajah dan menyikat gigi, aku kembali ke meja makan dan Airin sudah bersiap-siap untuk pergi. "Hari ini aku ada kuliah pagi, dan juga nanti ada pemotretan untuk endorsment dari brand kecantikan, mungkin aku akan pulang malam." "Kamu tidak makan?" Airin melihat jam yang melingkar di tangan kiri, lalu tersenyum ke arahku. "Aku sudah hampir terlambat." Gadis itu benar-benar pergi setelahnya. Aku segera mengambil nasi dan sarapan. Saat menyuapkan sendok pertama, tiba-tiba teringat dengan bayangan yang kulihat semalam. Siapa gadis yang berlumuran darah itu, dan apa hubungannya dengan Gibran? Apa mungkin, di balik tampangnya yang lumayan, ternyata Gibran itu seorang kriminal? Aku harus menyelidikinya lagi. Selesai makan, aku pergi ke apotek untuk membeli obat penahan rasa sakit dan juga minyak urut. Nyeri di kaki semakin terasa dan aku harus berjalan sangat perlahan dengan kaki pincang untuk sampai ke apotek. Sialnya lagi, ternyata harus mengantre cukup panjang di depan kasir. Ini merupakan apotek dua puluh empat jam yang terbesar di daerah tempat tinggalku, sebenarnya wajar saja kalau sudah ramai di pagi hari. Hanya saja, hari ini benar-benar padat. "Silakan, Kakaaak." Apoteker itu tersenyum ramah pada pengunjung di depanku. Seorang gadis yang terlihat kikuk dan cemas. Dia melihat ke kanan dan kiri seperti ketakutan. "Kak, ap-apa aku bisa meminta tespack?" tanyanya terbata. Aku bisa melihat adanya ketakutan di wajah itu. "Tentu, Kakak. Mau yang seperti apa?" "Apa saja yang penting cepat." Setelah apoteker berjilbab mengambilkan benda yang dia minta, gadis di depanku membayar dan tampak terkejut saat melihatku, padahal aku tidak melakukan apa-apa. "In-ini untuk kakakku." Dia menjelaskan tanpa diminta. Aku sangat yakin, sebelumnya kami tidak pernah bertemu, dan aku juga bukan tipe orang yang akan peduli dengan orang asing. Maksudku, dia tidak perlu menjelaskan apa-apa, aku tidak akan peduli dengan dirinya. Seperti itulah sikap orang-orang yang sedang panik, aku tebak gadis itu melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, makanya bersikap seperti itu. Aku hanya tersenyum sekilas sebagai jawaban, lalu segera membayar minyak urut dan meminta obat penghilang rasa sakit. Baru saja melangkah keluar dari apotek, ponselku berdering. Panggilan masuk dari nenek sihir. "Hallo." 'Nona, bisa kita bertemu sekarang? Ada sesuatu yang harus kita bicarakan tentang anak-anakku.' Anak-anaknya? Memang apa hubungannya denganku? "Tidak bisa, kakiku sakit jadi tidak bisa keluar sekarang." 'Kamu tidak perlu berjalan untuk sampai ke sini. Aku sudah mengirimkan orang untuk menjemputmu di apotek.' Seorang pria berdiri di dekat mobil yang terparkir di halaman apotek. Dia mengangguk dan tersenyum ke arahku, menunjuk pintu mobil seolah memberitahukan bahwa aku harus masuk ke sana. "Nyonya, Anda tidak berhak–" 'Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu hanya untuk menunggu.' Nyonya Diana mematikan panggilan. Pria yang berdiri di dekat mobil, membukakan pintu penumpang dan mempersilakanku masuk. Aku hanya bisa menuruti orang itu, kalau sampai Nyonya Diana membatalkan kerjasama dan memintaku mengembalikan uangnya, hidupku akan semakin kacau. Mobil berbelok dan berhenti di depan kafe milik Gibran. Sepertinya nenek sihir itu sudah gila. Mana bisa begini? Kalau sampai Gibran tahu tentang proyek Reparasi Takdir semua bisa berantakan. "Nyonya." Aku mengangguk sebelum mengambil posisi duduk di dekat perempuan itu. Awalnya aku hendak duduk di kursi yang berseberangan dengannya, tapi dia memberiku kode agar duduk di dekatnya sambil melirik ke arah Gibran. Pria itu tengah sibuk meracik pesanan kopi, bahkan sepagi ini kafe sudah lumayan rame pengunjung. Kupikir apa yang ingin dibicarakan oleh Nyonya Diana, tapi tiba-tiba dia malah memelukku sambil menangis. "Tsurayya, apa yang harus kulakukan sebagai seorang ibu? Putraku selalu menolak untuk menikah, sedangkan adiknya hidup semau sendiri. Dia selalu pergi dengan pacarnya berhari-hari sampai membuatku khawatir," rengek Nyonya Diana yang terdengar sangat putus asa. "Apa salahku? Kenapa Tuhan memberikan takdir seburuk ini? Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ellin, aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Aku masih tidak mengerti kenapa Nyonya Diana menceritakan hal ini padaku. Sepertinya dia seseorang yang kesepian dan tidak memiliki teman untuk membagi keluh kesah. Mendadak, aku jadi sedikit bersimpati. Aku tahu persis rasanya tidak memiliki teman. "Mama yakin? Atau hanya takut kalau ayahnya Ellin yang kaya raya itu akan membuang Mama?" Itu suara Gibran, pria itu tiba-tiba sudah berdiri di dekatku sambil menatap ibunya sinis. "Ma, kenapa Mama membicarakan hal seperti ini dengan orang asing?" Aku berdecih kesal menanggapi ucapannya. "Gadis ini sangat perhitungan, dia mungkin akan memasang tarif permenit untuk mendengar keluhan Mama." Aku berdiri dan berbicara sambil menantangnya. Sepertinya bermain-main sedikit dengan orang ini akan menyenangkan. "Bagaimana kalau orang yang kamu sebut asing ini adalah calon istrimu? Ibumu hanya sedang berbagi beban hidup dengan calon menantunya asal kamu tahu." "Dalam mimpimu saja!" "Mimpiku terlalu sederhana kalau hanya untuk bersamamu." "Benarkah?" Gibran maju selangkah, menipiskan jarak di antara kami dan membuatku mundur perlahan. "Apakah  ini sebuah kebetulan? Dua hari lalu kamu datang kemari dengan temanmu. Semalam, tiba-tiba muncul dan membuatku membawamu kemari, lalu sekarang kamu ada di sini dan bahkan berbicara dengan ibuku. Sepertinya itu tidak bisa dibilang sederhana. Dari usahamu, kamu seperti orang yang sangat terobsesi denganku." Dia malah membalikkan permainan dan membuatku hampir lupa bernapas karena wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku saat berbicara. "Ah, bagaimana ini, sepertinya aku memang terobsesi denganmu," ucapku setelah berhasil mengendalikan diri. "apa aku harus menciummu untuk memastikan perasaanku?" Sekarang Gibran yang mundur dengan gerakan sangat cepat dan memalingkan wajah. Mungkin dia tidak menyangka kalau aku akan berani mengatakan hal seperti itu pada seorang pria. Apa bedanya jika aku mengatakannya atau tidak, aku tidak pernah peduli dengan penilaian orang lain. Kalau setelah ini dia menganggapku gadis tidak tahu malu, itu urusannya. "Yak! Apa yang kalian lakukan? Aku sedang khawatir dengan putriku, tapi kalian malah membicarakan hal tidak penting." Suara Nyonya Diana terdengar lantang sampai membuat para pengunjung melihat ke arah kami. "dan kamu, Ayya." Perempuan itu menunjuk ke arahku. "aku tidak akan sudi memiliki menantu sepertimu. Jangan pernah bermimpi." "Bagaimana kalau aku yang memutuskan? Anda tidak lupa dengan apa yang bisa kulakukan, bukan?" Aku paling tidak suka direndahkan. Orang harus memahami, uang mereka bisa membayar jasa, tapi bukan berarti bisa mengendalikanku, apalagi menghina. Aku adalah orang yang memiliki prinsip, jika uang dan jasa bisa ditukar dan keduanya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Seorang pekerja membutuhkan uang, dan orang yang memiliki uang membutuhkan jasa. Keduanya saling membutuhkan, jadi manusia tidak seharusnya merasa berkuasa hanya karena sudah membayar. "Bagaimana ini, mendadak aku merasa tidak bisa melanjutkan kerjasama. Apa aku harus berhenti sekarang?" "Apa yang kalian bicarakan?" Sekarang Gibran yang terlihat bingung dengan pembicaraanku dengan Nyonya Diana. "Tanyakan saja pada ibumu." Aku berniat pergi, tapi seorang gadis yang baru saja masuk ke kafe menubruk dan membuatku terjatuh karena kaki yang masih sakit. "Apa kamu tidak bisa melihat!" bentakku kesal karena gadis itu sama sekali tidak meminta maaf apalagi membantuku untuk berdiri. "Kakaaak, apa yang harus Ellin lakukan? Ellin takut." Gadis itu memeluk Gibran dan merengek seperti anak kecil. Sebentar, wajahnya terasa tidak asing. Gadis itu, kan ... ya ampun! Jadi, dia adiknya Gibran? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN