Sebuah Misteri

1180 Kata
Awan mendung yang bergelayut manja sejak tadi, mulai menjadi gerimis dan semakin lebat. Angin yang bertiup cukup kencang, seolah ikut mengaminkan duka di hati anak manusia. Di antara sekian banyak manusia yang memilih untuk berteduh dan mencari tempat berlindung ketika hujan turun, beberapa pedagang kaki lima masih berusaha mengais rezeki. Penjual mantel di kanan dan kiri jalan, bahkan penjual bakso keliling seperti Mang Jalu juga tidak menyerah. Berbekal gerobak dorong dan payung yang tidak bisa melindungi seluruh tubuhnya dari hujan, Mang Jalu tetap berjualan dengan berjalan kaki. Aku tersenyum ketika melihat pria itu di pinggir jalan. Meski tidak bisa menyapa karena Gibran melajukan mobil dengan sangat cepat, tapi di dalam hati aku merapalkan doa untuk keberkahan rezeki mereka yang ada di luar sana. Gibran membelokkan mobilnya dan memasuki sebuah gerbang putih yang tinggi. Gerbang itu sudah terbuka, tepat saat Gibran masuk, beberapa orang berbadan tegap yang kuyakin adalah pengawal, berlari keluar sambil mengamati sekitar. Sepertinya mereka sedang mencari sesuatu. Rumah keluarga Ellin benar-benar besar dan mewah, bahkan jarak antara gerbang dan rumah utama juga masih cukup jauh. Ini mengingatkanku pada rumah-rumah megah di drama Korea yang sering kutonton. Sekarang, aku jadi mulai memikirkan tentang seberapa kaya sebenarnya keluarga mereka. Gibran menghentikan mobil dan turun dengan sangat tergesa-gesa ketika melihat kerumunan di depan rumah. Betapa mengejutkan, ketika aku turun dan melihat tubuh Ellin tergeletak di halaman. Di tengah hujan yang semakin deras, darah yang mengalir dari tubuh gadis itu menyebar ke segala sisi, bersatu dengan air hujan yang mulai menggenang. Seorang penjaga yang berlutut di dekat Ellin berdiri setelah mengusap wajah gadis itu, lalu menggeleng. Aku berusaha menolak pikiran buruk yang melintas, bahwa pria itu baru saja memberitahukan pada rekan-rekannya, kalau Ellin sudah tiada. Namun tetap saja, kenyataan itu tidak bisa dipungkiri. Langkah Gibran mulai gontai, pria itu jatuh berlutut tepat di dekat tubuh Ellin. Bahunya bergetar dengan kepala menunduk. Aku yakin, saat ini dia pasti tengah menangis dalam diam. Hatiku ikut sakit, entah karena air mata Gibran, atau karena keadaan Ellin yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Tanpa kusadari, aku juga ikut menangis. "Ellin!" Nyonya Diana yang baru sampai, segera berlari dan menghambur memeluk tubuh Ellin yang dipenuhi darah. "Jauhkan tangan Anda dari tubuh Nona." Itu suara Marvel. Pria itu mengepalkan tangan, matanya menatap tajam ke atah Nyonya Diana. Bahkan perempuan itu seperti sempat terkena sihir, yang membuatnya berhenti berteriak histeris untuk sesaat. "Apa maksudmu!" Marvel malah berdecih, ada kebencian dan kemarahan yang terselip sempurna di wajah itu. Pria bertubuh tegap itu melangkah dengan kaki jenjangnya, lalu segera merengkuh tubuh Ellin. Dia membawanya masuk. "Amankan perempuan itu." Marvel berhenti di depan pintu dan berbicara tanpa menoleh, membuat para pengawal yang ada di sana saling melempar pandangan. "Marvel! Kamu jangan keterlaluan!" teriak Nyonya Diana seakan tidak terima. Aku sendiri tidak mengerti dengan sikap pria itu. Apa maksudnya? Kenapa dia malah menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Nyonya Diana, bukankah sebelumnya dia sendiri yang mengawal perempuan itu sampai ke kafe Gibran? "Bawa dia ke ruang introgasi khusus, atau kalian akan dipecat!" teriak Marvel sekali lagi, membuat anak buahnya otomatis menuruti perintahnya. "Apa-apaan ini? Kalian akan dipecat karena berani melakukan ini padaku!" Nyonya–" Aku hendak menolong Nyonya Diana, tapi Gibran menahanku. Dia memegang pergelangan tanganku, masih dalam keadaan bersimpuh dan menunduk. "Tapi–" "Tidak apa-apa. Biarkan saja, Marvel harus menemukan sendiri bukti yang dia cari, atau dia tidak akan berhenti mencurigai mama." "Benar-benar manusia tidak punya perasaan. Atas alasan apa dia mencurigai ibumu? Dia sendiri ada bersama kita saat semua ini terjadi, 'kan?" Gibran berdiri dan menepuk pundakku seolah meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. "Siapa pun itu yang melakukan ini pada Ellin, aku pasti akan menemukannya." *** Aku tidak pernah menyangka tentang apa yang akan terjadi pada Ellin. Meski beberapa kali aku mendapat penglihatan tentang seorang gadis yang terluka, aku tidak pernah menduga kalau itu adalah Ellin. Selama ini, yang muncul dalam kepalaku selalu tokoh utama. Itulah mengapa aku sedikit heran, ketika hal buruk itu justru terjadi pada adik dari tokoh utama dalam kisah yang kutulis. Dua hari sejak kepergian Ellin, aku sama sekali belum mendapat kabar apa pun dari Gibran. Berkali-kali aku melihat ke arah ponsel, berharap pria itu mengabariku sesuatu, tapi tidak. Satu pun pesannya tidak ada yang muncul. Pria itu tidak seberisik biasanya. "Kenapa tidak kamu saja yang meneleponnya?" Airin ikut duduk di sampingku. Sejak Ellin meninggal, aku belum sedikit pun melanjutkan tulisan. Aku tidak tahu harus menulis apa dan tentang siapa saat aku sendiri tahu kalau Gibran pasti sedang sangat kacau.  "Aku tidak ingin mengganggunya." "Tapi aku penasaran, apa mereka sudah menemukan penjahat yang membunuh Ellin atau belum. Aku curiga, kalau sebenarnya ini adalah ulah Daniel." "Daniel?" Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Bahkan dari caranya menyusup ke rumah ini waktu itu hanya untuk menemui Ellin, aku yakin kalau dia sangat mencintai pacarnya. "Aku yakin tidak. Mereka saling mencintai, mana mungkin Daniel tega membunuh pacar dan calon anaknya sendiri." Aku tidak bisa setuju dengan praduga tanpa dasar yang dikatakan Airin. "Ya mungkin saja, dia tertekan dan tidak punya pilihan lain. Menurutku lebih tidak masuk akal kecurigaan si manusia papan itu." Entah ada dendam apa sebenarnya Airin pada pengawal keluarga Ellin yang satu itu. Dia terus saja menyebut Marvel dengan sebutan manusia papan. "Mana mungkin seorang ibu tega membunuh anaknya sendiri, coba?" "Entahlah," jawabku sekenanya. Jujur, aku sendiri juga tidak yakin kalau Nyonya Diana atau Daniel yang berada di balik semua ini. Aku tidak bisa memercayai keduanya. Jika memang Nyonya Diana sangat menyayangi anak tirinya, kenapa Ellin selalu terlihat ketakutan dan tertekan seolah tidak memiliki pilihan saat berbicara? Lagi pula, Gibran juga pernah menyindir perempuan itu, kalau dia hanya khawatir dengan uang papanya Ellin, dan bukan gadis itu. Akan tetapi, aku tidak bisa memercayai juga kalau perempuan itu sanggup membunuh seseorang hanya demi uang. Dia sendiri memberiku banyak uang untuk menuliskan kisah Gibran, apa iya dia sekejam itu? Pikiranku masih belum menemukan titik terang tentang semua ini. Kemungkinan tentang siapa pembunuh Ellin, masih menjadi misteri, sampai sebuah ketukan terdengar dari arah pintu. "Siapa manusia tidak punya adab yang bertamu selarut ini?" Airin terlihat kesal. Ini sudah hampir jam sebelas malam, dan di luar sedang hujan deras. Aku setuju kalau siapa pun yang sedang mengetuk pintu tidak sabaran di luar sana, dia adalah orang yang minim adab. "Biar kulihat." Tetap saja, aku tidak bisa membiarkan orang itu terus mengetuk pintu seperti orang gila. Sebelum membukanya, aku melihat lewat jendela terlebih dahulu, tapi karena orang itu berdiri tepat di depan pintu, aku tidak bisa melihat wajahnya. Hanya saja, aku tahu kalau tamu itu seorang pria. Takut kalau ternyata itu adalah pencuri atau sejenisnya, aku mengambil payung di dekat pintu untuk berjaga-jaga. Betapa terkejut, saat pintu terbuka, tiba-tiba Gibran memelukku dengan sangat erat. "Yak! Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di sini!" Aku berusaha mendorongnya agar menjauh, tapi tetap saja dia memelukku. "Tolong, sebentar saja. Biarkan aku tetap memelukmu," pintanya dengan suara lemah. Entah apa yang dilakukan oleh tanganku, bukannya mendorong pria itu sesuai perintah otak, tangan kurang ajar ini malah balas memeluknya dan menepuk punggungnya dua kali, seakan berusaha memberinya kekuatan. Ya, Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN