Sebuah ruangan yang terlihat kurang terawat. Coretan di mana-mana, dan mengotori tembok dengan berbagai gambar, juga tulisan.
Seorang perempuan duduk di sudut kamar itu, memegangi boneka dan berbicara sendiri.
"Anakku tidak bersalah. Anakku tidak bersalah."
Dia terus merapalkan kalimat itu berulang-ulang.
***
Sampai dua hari yang lalu, aku mengenal sosok Gibran sebagai manusia usil yang menyebalkan. Namun hari ini, pria itu terlihat seperti mayat hidup yang kehilangan arah dan tujuan. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada keluarganya, tapi aku juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Saat itu Ellin masih belum genap dua tahun."
Pria dalam balutan handuk kimono milik Airin itu mulai berbicara. Kalau saja keadaannya tidak sedang seperti ini, aku pasti sudah menertawakan Gibran habis-habisan.
Bayangkan saja, seorang pria berbadan kekar, memakai sesuatu berwarna pink, dan juga sedikit kekecilan untuk ukuran tubuhnya, sehingga Gibran harus selalu memegangi handuk itu agar tidak terlepas.
"Pernikahan mama dengan Papa Nuragha adalah pernikahannya yang ke empat. Aku juga sempat marah dan berpikir kalau mama hanya menginginkan harta laki-laki itu, tapi seiring berjalannya waktu, aku melihat ketulusan di mata mama. Dia sangat mencintai Ellin, meski saat di hadapan papa, mama tetap tidak bisa membantah dan membela gadis itu," tuturnya panjang lebar.
"Dengan kata lain, kamu mau bilang kalau mama kamu tidak mungkin tega membunuh Ellin seperti tuduhan Marvel."
Gibran mengangguk, pandangannya kini beralih padaku, setelah sebelumnya hanya seperti robot dengan tatapan kosong.
"Lalu, kenapa Marvel bisa mencurigai mama kamu? Dan juga, bagaimana tanggapan papa tirimu setelah kepergian Ellin? Apa dia juga berpikir kalau itu karena Tante Diana?"
Kali ini Airin yang bersuara. Gadis itu sejak tadi hanya bertopang dagu dan memandangi wajah Gibran. Aku sudah membuat minuman hangat untuk pria itu, tapi Airin hanya memainkan ponsel dan entah apa yang dia pikirkan dengan memandangi wajah di hadapannya.
"Marvel adalah pengawal terbaik keluarga itu. Dia sudah bekerja di sana sejak dirinya masih remaja. Papa bahkan menyekolahkan Marvel sampai perguruan tinggi. Baginya, Ellin sudah seperti adik kecil yang tumbuh dan besar bersama sejak Ellin masih balita. Dia adalah yang terbaik dari yang terbaik."
Aku berdecih. "Pengawal terbaik apa yang bisa salah menuduh orang? Kalau dia memang menyayangi Ellin sedalam itu, harusnya dia juga tahu bagaimana hubungannya dengan mama kamu, 'kan?"
Gibran malah terkekeh kecil mendengar ucapanku yang sedikit sewot. Tawa yang sangat kecil dan singkat, sampai membuatku hampir tidak percaya kalau Gibran baru saja tertawa.
"Marvel juga manusia, dan belakangan ini mama sering bertengkar dengan Ellin karena hubungannya dengan Daniel. Mama tidak mau Ellin diasingkan ke luar negeri dan membuatnya harus berpisah dengan keluarga hanya karena hal itu. Mama tidak peduli dengan siapa pun Ellin berhubungan, tapi ketika pacarnya adalah Daniel, mama jadi sering melarang Ellin pergi. Mungkin karena pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, Marvel jadi berpikir kalau mama benar-benar membenci Ellin."
"Manusia papan itu memang keterlaluan!" Airin bersedekap dengan mulut manyun. "Aku heran, kalau dia memang peduli dengan Ellin, untuk apa dia malah mengikuti mamamu dan bukannya menjaga adikmu di rumah. Penjaga di rumahmu juga, apa mereka itu bodoh sampai bisa ada penyusup yang masuk ke kamar Ellin begitu?"
"Orang itu menyusup sebagai petugas PLN. Dia berdalih sedang melakukan pengecekan karena terjadi konsleting listrik saat hujan. Beberapa hari lalu memang ada tiang listrik yang roboh di daerah sana, jadi tidak ada satu pun yang menaruh curiga pada orang itu. Terlebih, dia juga memakai seragam resmi perusahaan di balik mantel hitam yang dikenakan."
Hujan di luar sana masih sangat deras dan ruangan ini semakin dingin. Sudah hampir tengah malam, seharusnya aku sudah mulai menulis, tapi sampai detik ini aku masih belum bisa memikirkan apa pun untuk ditulis.
"Lalu, apa di rumahmu tidak ada cctv? Rumah semegah itu, pasti dilengkapi pengamanan semacam itu, 'kan?" tanyaku gemas sendiri.
Bagaimana bisa, rumah mewah yang dijaga puluhan pengawal, kecolongan oleh satu penyusup sampai membuat penghuninya kehilangan nyawa?
"Ada, tapi orang itu melindungi wajahnya dengan menggunakan topi dan selalu menunduk. Dia memasuki kamar Ellin di lantai tiga, tidak ada orang yang mencurigainya sampai terdengar keributan dari kamar itu, dan Ellin terlempar dari jendela kamarnya."
"Bagaimana dengan Daniel, apa mungkin ada hubungannya dengan anak itu?" Airin masih saja kekeuh sejak kemarin, kalau pelaku pembunuhan adalah dari pihak Daniel. Entah itu orang suruhan papanya, atau Daniel sendiri, karena menurut Airin, Daniel masih terlalu muda untuk bertanggung jawab atas kehamilan Ellin.
"Aku bahkan tidak yakin apakah anak itu masih waras setelah mendengar kabar kematian Ellin."
"Bagaimana dengan papa kamu? Kamu belum menjawab pertanyaan Airin tadi. Apa dia juga menuduh mama kamu?"
Gibran tersenyum separo. Dia seperti sedang mengejek pertanyaanku, atau entah, mungkin dia sedang memikirkan hal lain. Yang pasti, senyum itu mengingatkanku pada Gibran tengil yang sebelumnya kukenal.
"Papa tidak pernah benar-benar peduli pada Ellin. Dia hanya peduli dengan bisnis dan uang. Dia menentang hubungan Ellin dengan Daniel, karena itu akan berimbas pada bisnisnya."
Aku mengerutkan kening. Tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh Gibran. Dari sekian banyak drama korea yang kutonton, orang-orang kaya akan menjodohkan anak mereka untuk kepentingan bisnis. Ini aneh, jika memang perusahaan keduanya adalah perusahaan raksasa yang memiliki pengaruh besar, lalu kenapa mereka tidak bersatu saja lewat pernikahan Daniel dan Ellin. Bukankah itu akan menguntungkan bagi keduanya?
"Kalau pelakunya bukan orang suruhan mama kamu atau keluarga Daniel, lalu siapa sebenarnya yang tega menghabisi gadis semanis Ellin?"
Tepat saat aku selesai mengucapkan pertanyaan itu, jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, dan ketukan kembali terdengar dari arah pintu.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Aku turun dari meja, meletakkan cangkir teh dan hendak menuju pintu.
"Mungkin bajunya. Biar aku saja yang buka," jawab Airin girang lalu segera melompat dari sofa.
"Bajunya?"
"Iya, aku memesan baju lewat ojek online untuk Gibran."
Benar saja, Airin kembali dengan menenteng tas belanjaan yang kutebak isinya adalah pakaian Gibran.
"Aku tidak tahu ukuran bajumu, dan merek apa yang biasa kamu pakai, jadi aku hanya meminta dibelikan sekenanya saja pada tukang ojek tadi."
Airin menyerahkan tas belanjanya itu pada Gibran.
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum lecil. Mak Lampir malam ini sedang menjadi gadis imut yang pengertian. Rupanya sejak tadi dia memainkan ponsel karena sedang mencari pakaian untuk Gibran. Aku saja tidak berpikir sampai sana. Kalau terpaksanya Gibran tidur dengan kimono mandi milik Airin, aku mungkin hanya akan membrrinya selimut yang sedikit tebal untuk menghangatkan tubuh.
"Ayy, kenapa kamu tidak mencoba mencari jawaban dengan 'itu' saja?" bisik Airin setelah Gibran pergi ke kamar untuk berganti.
"Kamu, kan, tahu, aku tidak bisa menulis dua kisah sekaligus, Rin. Lagipula, apa yang kutulis tentang Gibran selalu seperti bumerang yang balik menyerangku."
"Maksudmu?"
"Kamu ingat saat aku bilang akan membuat Gibran menemukan cinta masa kecilnya?"
"Ya." Airin mengangguk seolah sambil mengingat apa yang kukatakan." Lalu, apa dia sudah bertemu dengan gadis itu?"
"Dia mendatangiku dengan kaus kaki bau, yang kuberikan pada seorang remaja tujuh belas tahun lalu."
"What! Jadi, cinta masa kecilnya Gibran itu ... kamu?"
"Pelankan suaramu," peringatku sambil melihat ke arah kamar. Gibran tidak boleh tahu tentang pena itu dan apa yang kulakukan pada takdirnya, atau semua akan menjadi kacau.
"Iya, tapi, apa aku benar? Gadis yang dia tunggu itu ... kamu? Tsurayya?"
"Entahlah, aku tidak yakin. Dia terlalu konyol kalau menganggap ucapanku itu serius. Dulu aku masih sembilan tahun, bagaimana bisa dia menganggap serius omonganku waktu itu."
"Wuaaah, Ayya, akhirnya kamu bisa menulis takdirmu sendiri."
Airin memelukku dengan ekspresi wajah yang sedikit berlebihan menurutku.
"Aku tidak masalah patah hati, asal temanku yang satu ini akhirnya tidak akan menjadi kaum fakir asmara seumur hidup."
"Sialan!"
Aku menoyor kepalanya yang sedang bersandar di bahuku dengan tangan yang melingkar di pinggang. Airin terkadang bersikap seperti seorang ibu, tapi dia juga adalah adik yang manja di saat-saat tertentu.
"Tunggu, Ayy, itu artinya kamu bisa menulis apa pun tengang Ellin, asalkan tokoh utamanya adalah Gibran. Benar, 'kan?"
Gadis itu menjauhkan kepalanya dan kembali bersikap seperti orang normal.
"Maksud kamu?" tanyaku masih belum mengerti maksud perkataannya.
"Ya, seperti yang kamu bilang. Kamu menuliskan takdir Gibran, yang ternyata terhubung denganmu, jadi secara tidak langsung itu mengubah takdirmu sendiri."
"Lalu?"
"Ya apa lagi? Kamu juga bisa menggunakan pena itu untuk menemukan dalang di balik kematian Ellin, dengan tokoh utama Gibran, kan?"
Ah, ya, benar juga yang dikatakan Airin. Kenapa aku tidak pernah berpikir ke arah sana? Selama ini kupikir pena itu sudah tidak ajaib lagi.
"Tapi, Rin, sepertinya aku butuh bantuanmu kali ini."
"Apa? Katakan saja. Aku siap melaksanakan." Airin berdiri tegap sambil meluruskan dua tangan di samping tubuh seperti seorang pengawal yang siap menerima perintah.
"Aku lapar, tolong masak mi untukku, ya. Aku butuh banyak energi sebelum mulai menulis."
"Yak! Memangnya perutmu itu kos-kosan cacing? Baru tadi kita makan nasi goreng dan juga kebab, sekarang kamu sudah lapar lagi?"
Airin mencubit perutku, membuatku berlari untuk mengindar. Ini sudah lewat tengah malam, tapi kami masih bermain seperti anak kecil. Kejar-kejaran dan tidak ada satu pun yang mau menyerah di antara kami, sampai Gibran tiba-tiba keluar dari kamar dan aku tidak sengaja menabraknya.
"Ah, sepertinya aku harus segera memasak mi," ucap Airin yang berhenti di belakangku.
Mendadak aku jadi kikuk sendiri saat berhadapan dengan Gibran. Benarkah yang dikatakan oleh Airin tadi? Apakah takdirku dan takdirnya benar-benar terhubung?