Dialog Penuh Duri

1618 Kata
Sejak kejadian p*********n Ellin hari itu, aku sama sekali tidak pernah berkomunikasi dengan Nyonya Diana. Gibran bilang, mamanya terus mengurung diri di kamar setelah diintrogasi oleh Marvel dan anak buahnya. Meski polisi masih menyelidiki kasus itu, dan tidak ada sedikit pun bukti yang mengarah pada nyonya Diana, tapi Marvel tetap belum menyerah dan terus berusaha mencari bukti untuk kecurigaannya. "Terima kasih sudah menampungku tadi malam," ucap Gibran saat dirinya melangkah keluar dari pintu rumahku. "Dan juga, terima kasih untuk ini." Dia mencubit kaus pemberian Airin sambil tersenyum ke arah gadis yang berdiri di sampingku. Airin mengangguk sambil tersenyum. "Apa pun untuk Kakak Ipar," jawabnya yang membuatku menginjak kaki gadis itu sambil melotot. Selain bermulut wasabi, ternyata Airin juga ember bocor. Seharusnya dia tidak boleh mengatakan apa pun tentang yang kubicarakan padanya semalam. "Aw! Ayya!" "Apa!" Aku tidak mau kalah. Siapa yang peduli kalau Airin jago karate, aku bisa mengancamnya untuk menulis takdir buruk tentang anak itu. Meski tidak benar-benar bisa kulakukan, karena pena ajaib hanya bisa digunakan untuk menulis takdir baik, tapi Airin selalu percaya dengan ancaman yang satu itu. "Kakak Ipar?" "Jangan dengarkan dia. Anak ini kalau lapar omongannya selalu melantur. Dia pasti lapar karena belum sarapan," jawabku cepat sebelum Airin kembali membuka mulut dan mengatakan hal-hal yang tidak perlu dikatakan. "Jangan terlalu senang, semua itu tidak gratis, asal kamu tahu." Gibran tertawa kecil. Saat kedua ujung bibirnya tertarik ke atas, pria itu terlihat tidak manusiawi. Maksudku dalam hal ketampanan. Banyak manusia yang terlihat tampan saat tersenyum, tapi Gibran berbeda. Senyumannya yang bahkan hanya sekilas, mampu membuat jantungku berdetak ganjil. Ini aneh, aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, tapi debaran itu membuatku ikut tersenyum. Tuhan, ada apa denganku? "Kamu hanya perlu mengatakan iya, dan setelah semua ini selesai aku akan menikahimu. Ini bukan janji, ini adalah tekadku." Airin melongo tidak elegan ketika mendengar perkataan Gibran yang menurutku tidak ada hubungannya dengan apa yang kukatakan. Aku bilang dia harus membayar untuk memginap di rumah ini tadi malam, tapi sepertinya otak pria itu sudah geser separo, jadi bukannya menjawab malah bicara melantur. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Ketimbang bualanmu, aku lebih menyukai uang." "Sepertinya aku harus pergi sekarang, aku hampir terlambat," pamit Airin yang segera berlalu tepat saat taksi online yang dipesannya datang. "Gibran!" Gadis itu tidak segera masuk setelah membuka pintu mobil. Dia berdiri di sana sejenak sambil melihat ke arah Gibran. "Semangat! Kamu pasti bisa." "Semangat!" Gibran mengepalkan tangan ke udara dan menirukan kekonyolan Airin. Aku berdecih sambil menyedekapkan tangan. Menyilangkan kaki dan bersandar di gawang pintu sambil mengamati Gibran dari ujung kaki ke ujung kepala. "Aku jadi ragu kalau kamu menyayangi adikmu. Dia baru saja pergi dan kamu malah sibuk membual bukannya mencari tahu dalang di balik kematiannya." Lagi-lagi Gibran tertawa kecil. Dia ikut bersedekap sambil menatapku, masih dengan senyumannya yang membuatku mulai berpikir kalau aku baru saja salah makan magic mushroom. "Percaya padaku, aku pasti akan menemukan pelakunya dan memberinya hukuman yang setimpal. Aku hanya perlu kamu untuk tetap di sisiku."                                                          "Apa kamu baru saja merayu seorang gadis? Kalau iya, itu adalah rayuan paling konyol yang pernah kudengar." "Aku bisa apa? Gadis itu melamarku sejak masih kecil, aku tidak mungkin tega menolak. Iya, kan?" "Hentikan. Aku harus bertemu dengan mama kamu sekarang." Aku masuk, mengambil jaket dan tas rajut, lalu segera mengunci pintu. Aku harus segera mengabarkan tentang cara menemukan pembunuh Ellin. Biar bagaimana pun, dia adalah klienku sampai hari ini. Aku perlu melihat keadaannya. *** Terkadang aku merasa heran dengan tingkah manusia. Seringkali menghakimi orang lain atas kesalahannya, seolah dirinya adalah manusia suci yang diutus Tuhan untuk membasmi kejahatan. Ya, seperti yang dilakukan Marvel saat ini. Dia bertingkah seolah Nyonya Diana adalah penjahat yang layak dihukum, padahal bukti itu masih belum ada. Namun lihatlah, pria itu bahkan masih tega menginterogasinya. "Saya sudah memastikan, kasus ini tidak ada kaitannya dengan Daniel ataupun keluarganya," ucap Marvel tegas. Dia berdiri di hadapan Nyonya Diana yang duduk di lantai seperti orang gila. Penampilan Nyonya Diana hari ini benar-benar sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya, di mana perempuan itu selalu menggunakan make up tebal. Hari ini bahkan aku tidak yakin apakah perempuan itu sudah menyisir rambut. Dia sangat berantakan, ditambah keadaan kamar yang juga kacau. Tisu berserakan di mana-mana. Makanan di meja dekat tempat tidurnya hampir penuh, tapi sepertinya tidak tersentuh sedikit pun. Aku yakin, hatinya pasti sangat hancur karena kepergian Ellin, sampai dirinya bahkan lupa mengurus diri sendiri. "Satu minggu sebelum kejadian, Anda bertengkar dengannya, dan sempat mengancam akan membunuh Nona Ellin kalau dia tetap berhubungan dengan Daniel. Setelah itu, dia kabur dari rumah. Empat hari setelahnya, saya menemukan Nona berada di rumah orang asing yang saya lihat sudah beberapa kali bertemu dengan Anda. Ini menguatkan dugaan, bahwa Anda ingin menyingkirkan Nona untuk tujuan Anda sendiri." Aku yakin, Marvel pasti sudah gila sampai bisa menuduh majikannya sendiri seperti itu. Biar bagaimana pun, Nyonya Diana adalah istri tuannya. Bukankah itu artinya, sama saja Marvel juga anak buah Nyonya Diana? Dunia ini semakin aneh. Terlalu banyak manusia-manusia tidak tahu diri yang bertingkah semau sendiri. "Marvel, aku rasa kamu terlalu berlebihan menuduh Nyonya Diana. Apa kamu tidak bisa melihat keadaannya sekarang?" Aku sudah tidak tahan lagi melihat apa yang dilakukan Marvel. Hanya berdiri di ambang pintu sambil menyaksikan semua itu, membuat dadaku sesak. Ibu mana yang akan tega membunuh anaknya sendiri? Bahkan meski mama sangat membenciku, dia lebih memilih untuk membuangku di panti asuhan dari pada membunuh. Meski mama selalu mengatakan ingin melenyapkanku, tapi tangan itu tak pernah sampai melukai lebih dari pukulan di b****g. Aku menganggap itu sebagai cara mama menyayangiku. Begitu juga Nyonya Diana, aku yakin, dia terus bertengkar dengan Ellin dan melarangnya bertemu Daniel, itu karena dia menyayangi putrinya. Dia tidak ingin berpisah dengan Ellin, kalau sampai papanya mengirim gadis itu ke luar negeri seperti yang dikatakan Gibran. "Tsurayya." Nyonya Diana menoleh ke arahku. Perempuan itu segera bangkit dan menghambur memelukku sambil lalu menangis. "Apa yang harus kulakukan? Aku menyesal sudah meninggalkannya. Harusnya hari itu aku menemaninya di sini." Suara Nyonya Diana bahkan nyaris tidak terdengar. Aku yakin, perempuan itu pasti sudah menangis berhari-hari. "Aku melihat darah di sini." Nyonya Diana melepaskan pelukan, berjalan ke arah meja dekat jendela dan menunjukkan bekas darah di sana. "Tubuhnya terlempar dari sini, dia pasti sangat kesakitan." Aku tidak bisa untuk tidak menangis melihat betapa hancur perempuan itu. Aku baru sadar setelah melihat ke arah jendela yang hancur, bahwa ini adalah kamar Ellin. "Aku tidak bisa memeluknya di saat terakhir. Aku harus bagaimana? Aku bahkan belum sempat mengatakan padanya, kalau aku sangat mencintainya. Tsurayya ...." Nyonya Diana menarik tanganku dan membawaku ke dekat jendela. "Dia jatuh dari sini. Dari tempat setinggi ini, dia pasti sangat kesakitan." Perempuan itu kembali luruh ke lantai. Aku memeluknya dan mencoba memberikan sedikit kekuatan. Andai Nyonya Diana adalah ibuku, aku pasti akan sangat bahagia dengan kasih sayangnya. Aku percaya, perempuan ini tidak akan pernah sanggup menyakiti putrinya, meski Ellin bukanlah anak kandung. "Apa kamu buta? Sebagai seorang ibu, hatinya pasti hancur karena kepergian Ellin, dan kamu masih tega menuduhnya sebagai dalang dari semua ini? Kamu benar-benar bukan manusia!" Aku sudah tidak bisa diam lagi. Marvel harus sadar, kalau yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. "Sudah cukup, Marvel." Kali ini Gibran ikut bicara. "Mama tidak mungkin tega melakukan itu semua. Aku diam karena aku ingin kamu menemukan sendiri, bukti bahwa Mama tidak bersalah. Tapi kamu terlalu sibuk berasumsi dan bukannya mencari bukti. Aku tahu Papa memberimu wewenang, tapi kuharap kamu sadar akan batasanmu. Mamaku, perempuan yang terus-terusan kamu tuduh, adalah orang yang menyayangi Ellin lebih dari siapa pun." Saat Gibran berbicara, Marvel hanya diam tanpa menjawab sedikit pun. Aku melihatnya mengepalkan tangan, sepertinya dia berusaha menahan diri untuk tidak menyerang Gibran. Dari sini aku tahu, Marvel memiliki rasa hormat dan percaya yang lebih tinggi pada Gibran ketimbang pada Nyonya Diana. "Lagipula, apa kamu tidak sadar, kecurigaanmu itu telah membuat Ellin mengalami semua ini. Tugasmu adalah menjaganya, tapi kamu terlalu sibuk mencurigai mama, dan malah mengikutinya ketimbang menjaga Ellin. Seharusnya kamu juga sadar akan hal itu." Gibran mengakhiri pembicaraannya dan menghampiriku yang masih memeluk Nyonya Diana. "Ma, kita pergi dari sini." "Tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini tanpa seizinku." Suara berat itu berasal dari depan pintu. Di sana, ada seorang laki-laki degan penampilan sangat rapi dan berwibawa. "Tapi, Pa." "Aku mengatakannya bukan untuk dibantah," ucap laki-laki itu tegas sebelum berlalu. "Satu hal lagi," Dia kembali berhenti dan membalikkan badan. "Aku tidak mau ada satu orang pun yang membahas tentang Ellin lagi di rumah ini. Termasuk kamu, Marvel." "Baik." Ajaib, Marvel langsung menyahut begitu namanya disebut oleh laki-laki yang kuyakin itu adalah Tuan Nuragha. Entah mengapa, aku merasa sedikit aneh dengan sikap mereka. Marvel yang berlebihan, dan juga papanya Ellin yang terlalu acuh pada kasus Ellin. Jelas-jelas putrinya dibunuh oleh seseorang. Apa mungkin, tersangka utama dari kasus ini sebenarnya adalah orang dalam? *** Perempuan itu berdiri di atas sebuah jembatan. Merentangkan tangan, lalu menengadah. Dia menoleh ke arah belakang, tersenyum pada orang-orang yang berusaha menghentikannya, lalu melambai seolah mengucapkan kata selamat tinggal. Wajahnya terlihat begitu damai meski penuh luka. Pada akhirnya, kaki itu melangkah dan tubuhnya terjun bebas ke sungai yang tengah mengalir deras. 'Hidup adalah pilihan, dan orang lain tidak berhak menentukan pilihan untuk hidup seseorang. Inilah pilihanku. Selamat tinggal.' Narasi yang diucapkan oleh seorang gadis, terus berputar di kepala saat aku mencoba menulis kisah tentang Ellin. Aku bisa merasakan kesedihan dan rasa sakit gadis dalam bayangan itu saat memegang pena, tapi tetap saja, semua ini terasa asing. Gadis itu jelas-jelas bukan Ellin. Lalu, siapa sebenarnya dia? Dan apa hubungannya dengan kasus kematian Ellin? Aku meletakkan pena itu di atas kertas. Kali ini, titik-titik yang berhamburan membentuk sebuah sketsa seorang wanita yang memeluk sebuah boneka. Apa sebenarnya semua ini? Kenapa semakin berusaha memecahkan kasus ini, semua jadi semakin rumit?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN