Rencana Kencan Pertama

2242 Kata
Aku baik-baik saja saat hidup hanya untuk mencintai diri sendiri. Namun semuanya mendadak terasa sulit, saat hatiku mulai merasakan kehadiran seseorang. *** Aku tidak tahu, sebenarnya ikatan macam apa yang terjalin antara diriku dengan Airin. Usianya yang lebih muda empat tahun, membuatku berpikir kalau anak itu sudah seperti adikku. Namun, kata-katanya sering kali seperti sihir yang dicerna sebagai perintah oleh otak cerdasku. Aku selalu berpikir bahwa diriku adalah manusia merdeka yang cerdas, tapi di hadapan Airin, seluruh diriku sering kali berkhianat. Seperti sekarang, seharusnya aku tidak mengikuti ide konyolnya untuk mengajak Gibran pergi kencan. Namun tanganku sudah mendial nomor pria itu, dan meneleponnya, ketika Airin menyuruhku melakukan itu dengan dalih menjebak si pelaku pembunuhan Ellin. Oke, aku setuju dengan ide cemerlang yang dia katakan. Bahwa aku bisa memanfaatkan keajaiban pena itu untuk menemukan pelaku sebenarnya, tapi berkencan denga  Gibran? Apa itu masuk akal? 'Ada apa, Ayy? Apa setelah aku menginap di rumahmu, sekarang kamu jadi merindukanku?' Suara Gibran terdengar penuh percaya diri. Aku bisa membayangkan, saat ini pasti dia sedang tersenyum bangga dan merasa menang karena aku meneleponnya duluan. "Ayo, cepat katakan," bisik Airin tanpa suara. Gadis itu menjauhkan telinga sebentar dari ponselku, lalu kembali menempelkannya setelah mengucapkan kalimat barusan. "Ak-aku ... aku ...." 'Aku? Aku apa?' Airin kembali menjauhkan telinga dan mengembuskan napas kasar. Dia terlihat geram. Aku sendiri heran, kenapa mendadak jadi gagu begini, padahal aku bukan tipe manusia yang akan peduli dengan penilaian orang lain. Masa bodoh jika orang menganggapku gila atau apa pun, tapi sekarang, aku bahkan kesulitan mengatakan pada Gibran, kalau aku ingin mengajaknya pergi bersama. "Aku sudah menemukan cara untuk menemukan dalang sebenarnya dari kasus Ellin." Pada akhirnya, kalimat itulah yang meluncur bebas dari mulutku setelah berhasil mengendalikan diri. Aku bisa melihat dari ekor mata, kalau Airin sangat kesal atas ucapanku barusan. 'Benarkah? Bagaimana?' "Kita ketemu sore ini, ajak Marvel juga agar dia bisa melihat sendiri kalau ibumu tidak bersalah." 'Baiklah, aku akan mengajaknya nanti.' Aku segera mengakhiri panggilan, setah mendengar jawaban Gibran. Suara apa itu tadi? Kenapa seperti ada ledakan kecil yang terjadi berulang-ulang di dalam dadaku? Tidak mungkin, kan, aku benar-benar menyukai Gibran? Sampai detik ini, aku bahkan belum menemukan satu pun alasan untuk bisa menyukai pria itu. Tidak ada. "Ayya, kamu ini kenapa? Jelas-jelas kita tahu, kamu dan Gibran adalah tokoh utama dalam proyek Nyonya Diana. Biar bagaimanapun, kalian akan terus terhubung, kenapa kamu sekaku itu pada pria yang menjadi takdirmu sendiri?" Aku tersenyum sinis, bukan sedang mengejek Airin atau apa. Aku hanya sedang menertawakan diri sendiri yang sempat kacau karena pemikiran itu. "Rin, kamu bukan orang yang baru mengenalku hari ini, jadi kurasa kamu tau persis bagaimana diriku. Aku bukan seseorang yang percaya kalau cinta itu ada. Aku bahkan tidak percaya pada laki-laki mana pun." Sakit, seumur hidup aku berusaha menyangkal semua ini. Berpura-pura tidak tahu bahwa aku dibenci dan dibuang oleh mama, karena seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Berpura-pura buta dan tuli saat orang-orang mengejekku tidak punya ayah. Bagaimana bisa, sekarang aku mempercayai kata-kata dari seorang pria yang bahkan tidak mengenali siapa diriku. "Tapi dia adalah Gibran. Orang yang mau menunggu untuk bertemu denganmu selama tujuh belas tahun. Apa itu tidak cukup untuk membuatmu membuka hati?" Aku tersenyum miring sekali lagi. Mendadak gadis bernama Airin terlihat bodoh di hadapanku. "Dan kamu percaya?" "Aku percaya karena perkataanmu." Jawabannya membuatku menghentikan niat untuk pergi ke ruang kerja. "Bukankah kamu bilang, orang yang datang kemari adalah mereka yang langkahnya dituntun oleh takdir. Aku yakin, takdir itu juga yang telah menuntun Nyonya Diana ke tempat ini. Takdirmu dan Gibran." Gadis itu menyusul dan berdiri di hadapanku dengan tatapan asing. Airin yang seolah selalu berkata tanpa berpikir jika bersamaku, saat ini menitikan air mata. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Ini bukan kali pertama Airin menangis di hadapanku, dia bahkan pernah menjadikanku sasaran kemarahan karena diputuskan oleh pacarnya yang ke sembilan waktu itu. Meski dia menangis dan membuatku menjadi lawan karatenya yang jelas tidak seimbang, tapi aku lega. Kali ini berbeda, air mata itu membuatku merasa sakit. "Ayy, justru karena aku bukan baru mengenalmu, aku paham bagaimana kehidupan yang kamu jalani selama ini. Sebagai orang yang hidupnya pernah kamu selamatkan, sebagai sahabat yang telah mengenalmu bertahun-tahun, dan sebagai Airin yang selalu kamu sebut Mak Lampir, aku ingin melihatmu bahagia." Aku tertawa kecil ketika mendengar Airin menyebut kata Mak Lampir. “Satu lagi, gadis bermulut wasabi. Kamu melupakan itu.” “Aku serius, Ayya!” “Aku juga serius, mulutmu sangat pedas seperti wasabi saat berbicara denganku.” “Tsurayya!” Tangannya terangkat, hendak memukulku, tapi hanya berhenti di udara karena aku beranjak menjauh. “Iya, iya, aku serius. Aku sudah cukup bahagia saat menonton drama korea, dan yang pasti, aku bahagia melihat EXO-ku baik-baik saja.” Ketimbang menanggapi perkataannya dengan serius, aku lebih memilih mengalihkan pepbicaraan. Obrolan tentang cinta dan pernikahan bagiku terlalu membosankan. Bukan karena aku tidak ingin menikah, hanya saja, aku masih belum bisa memercayai pria mana pun. Termasuk Gibran. “Yak!” “Sudahlah, aku tidak suka dengan dramamu kali ini. Kamu boleh menagis karena pacar-pacarmu, tapi jangan  pernah menangis karena memikirkan kehidupanku. Kamu hanya perlu  menjadi Airin, si Mak Lampir bermulut wasabi seperti biasanya.” “Aku tidak mau. Kalau kamu terus menolak untuk mencoba membuka hati, aku tidak akan menjadi Airin sahabatmu lagi. Aku tidak mau memiliki teman yang fakir asmara. Itu terlalu menyedihkan.” Gadis itu bersedekap dan membuang wajah dengan ketus. Ngambek, itu adalah senjata andalannya setiap memintaku melakukan sesuatu, dan aku menolak. Di saat seperti ini, aku merasa kalau dia benar-benar seperti seorang adik yang manja. “Apa kamu benar-benar percaya, kalau Gibran menungguku selama ini?” Pertanyaan itu bukan hanya untuk Airin, tapi juga untuk hatiku. Aku tidak ingin menjadi gadis bodoh yang percaya begitu saja pada ucapannya, hanya karena kaus kaki bau yang dia simpan selama tujuh belas tahun. Bagiku itu tidak membuktikan apa-apa. “Kenapa tidak kita cari tau saja?” “Maksudmu?” “Ya, kita selidiki saja. Apa selama tujuh belas tahun ini dia benar-benar tidak pernah pacaran dengan gadis mana pun, atau kata-katanya tentang menunggumu itu hanya bualan.” *** Keanehan itu terus terjadi saat aku berusaha menulis kisah Gibran. Kupikir Airin ada benarnya, kalau aku bisa membuat Gibran menemukan pembunuh Ellin dengan menuliskan hal itu seperti biasa. Namun, yang terjadi lagi-lagi adalah keanehan. Nama Gibran seakan menolak setiap takdir yang mencoba untuk kutuliskan. “Kenapa selalu seperti ini?” Tulisanku tiba-tiba memudar, seperti asap hitam yang tertiup angin, lalu membentuk sebuah gambar yang terlihat semakin nyata. Di sana, ada sebuah gambar membentuk sebatang pohon, tidak … itu jelas berbeda, gambar itu seperti dua pohon yang menjadi satu dengan akar yang melilit batang. “Ini ….” Aku berdiri dengan gerakan sangat cepat, ketika ingatan memutar ulang sebuah kenangan lama. Kilasan tentang malam di mana lelaki tua itu memberiku pena ajaib, tepat di bawah pohon yang sangat mirip dengan yang ada di gambar. Apa maksudnya semua ini? “Ada apa?” Airin masuk dengan menenteng baju di tangan. Dia sendiri sudah rapi, dengan denim overall dress yang dipadukan dengan kaus putih yang lengannya sampai hampir menyembunyikan seluruh jemari. “Rin, aku … lagi-lagi aku gagal menuliskan takdir Gibran.” “Maksudmu?” Gadis itu mendekat dan melongokkan kepala, melihat ke arah buku yang masih terbuka. Betapa mengejutkan, saat ini gambar itu telang menghilang dan berganti  seperti ada percikan api yang melambung ke udara. “Apa itu?” tanya Airin sekali lagi setelah mendapati apa yang ada di sana. “Seperti yang kamu lihat, aku tidak bisa menulis apa pun tentang Gibran. Selalu seperti itu.” Aku nyaris putus asa, tapi Airin malah tertawa sambil melemparkan baju di tangannya ke arahku. “Itu namanya kamu kena tulah. Selama ini, kamu selalu menyihir takdir orang sesukamu, sekarang satnya kamu yang terkena sihir dari pena itu.” “Semprul!” “Memangnya apa yang kamu tulis di sana sebelumnya?” “Tidak banyak, aku hanya menulis agar Gibran bertemu dengan pembunuh Ellin hari ini, tapi tulisan itu berubah menjadi sebuah gambar dan seperti yang kamu lihat … itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus Ellin. Dia malah bernostalgia, menggambar pohon yang ada di dekat panti, tempat di mana mendapatkan pena ini pertama kali.” “Sebentar.” Airin terlihat berpikir. Dia meletakkan jari telunjuk di dagu sambil melihat ke arah pena itu. “Kamu bilang, kamu menulis agar Gibran bertemu dengan pembunuh Ellin, bukan?” “Ya, aku menulis agar … kamu benar, sepertinya itu bukan hanya gambar, tapi ….” “Petunjuk,” ucap kami bersamaan. “Benar, kudengar malam ini ada festifal kembang api di dekat panti. Mungkin kita bisa mengajak Gibran ke sana.” Mendengar perkataan Airin yang diucarkan dengan sangat antusias, aku refleks memukulkan baju di tangan. Saat itu aku baru menyadari kalau yang ada di tanganku ini bukanlah bajuku, tapi milik Airin. “Ini apa? Untuk apa kamu memberiku ini?” “Ya untuk dipakailah, memangnya apa lagi?” Aku melebarkan mata saat melihar baju itu lebih teliti. Sebuah dress cokelat lembut, yang kuyakin panjangnya tidak akan bisa menutupi lutut. “Big no! Aku tidak mau memakai ini. Tidak akan pernah.” “Ayolah, Ayy, ini kan kencan pertamamu dengan Gibran. Kamu harus tampil beda, harus terlihat cantik.” “Aku percaya, Tsurayya Parawansa itu cantik dengan pakaian apa pun, jadi aku tidak  mau memakai baju itu. Dan juga, aku tidak mau seseorang melihatku hanya dari penampilan sesaat. Inilah Tsurayya, kalau memang dia serius ingin menjalani hidup bersamaku, maka dia harus bisa menerimaku sebagai Tsurayya. Bukan orang lain.” Aku melemparkan baju yang dibawakan Airin ke sembarang arah, lalu bergegas menyimpan buku dan pena itu sebelum pergi. *** Tidak ada yang lebih menarik untuk dilakukan sepanjang perjalanan menuju tempat festifal kembang api itu selain tidur. Moodku sudah terjun bebas sampai ke dasar samudra, mendengar ocehan Airin yang terus-terusan membahas tentang Gibran. Aku merapatkan jaket dan memilih memejamkan mata, mencoba membunuh kantuk yang bergelayut di pelupuk. Jalanan cukup padat, bahkan sampai terjadi kemacetan di beberapa titik. Bagiku, tidur adalah pilihan paling tepat saat ini. Sesampainya di tempat yang kujanjikan, Gibran sudah berada di salah satu kedai makanan pinggir jalan bersama Marvel. “Kenapa manusia papan itu juga ada di sini,” tanya Airin saat matanya tertuju pada dua orang di depan sana.  Gibran melambai ke arah kami, sementara Marvel hanya menoleh sesaat. “Untuk menjadikannya abu.” “Maksudmu?” Airin menghentikan langkah, menarik lenganku dan membuatku terpaksa ikut berhenti. “Kamu bilang dia itu manusia papan, ‘kan?” Airin mengangguk. “Lalu?” “Manusia papan dan gadis mercon, sepertinya kalian bisa melebur jadi abu saat bersama.” Aku tertawa di ujung kalimat, membuat bibir Airin manyun sampai bisa diikat dengan karet gelang. “Aku suka karakter cowok cool di drama korea, tapi tidak dengan manusia kulkas seperti Marvel itu.” “Hati-hati dengan ucapanmu, benci dan cinta itu bedanya lebih tipis dari kertas HVS 70 gram, asal kamu tahu.” “Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu.” Airin mempercepat langkah setelah mengucapkan kalimat barusan. Saat ini, Gibran dan Marvel tengah berada di sebuah kedai yang letaknya berseberangan dengan panti asuhan. Tepat di samping panti, ada sebuah lepangan yang sedang menjadi tempat diadakannya festifal kembang api, dan juga ramainya pasar malam. “Apa rencanamu sebenarnya?” tanya Marvel tepat saat aku mendaratkan b****g di kursi dekat Gibran. “Tidak ada. Aku hanya akan menemukannya dan menangkap orang itu.” “Kata-katamu membuatku semakin menyukaimu.” Gibran bertopang dagu, menatapku dengan senyum yang membuatku berpikir kalau pria itu mulai tidak waras. “Balok Es, sepertinya kita perlu bicara.” Tanpa ba bi bu, Airin menyeret Marvel sampai pria itu hampir terjatuh dari tempat duduknya. “Aku tidak merasa perlu bicara denganmu.” Marvel melepaskan tangan Airin dengan kasar dan hendak kembali ke tempat duduk, tapi lagi-lagi Airin menghalanginya. “Tapi aku perlu.” “Vel, kalau boleh aku memberi saran, lebih baik kamu ikuti saja dia.” Gibran yang sejak tadi hanya melihat kedua anak manusia itu, angkat bicara. Anehnya, Marvel langsung menunduk hormat dan mengikuti kemauan Airin setelah mendengar perkataan Gibran. “Mereka itu lucu,” ucap Gibran tanpa mengalihkan pandangan dari Airin dan Gibran yang berjalan menjauh. “Sepertinya mereka akan cocok.” Sedetik lalu aku berpikir seperti itu, tapi melihat bagaimana Airin menarik tangan Marvel dengan paksa, dan bagaimana dia menginjak kaki pria itu ketika Marvel berusaha menolak, aku rasa dia akan menjadi pria paling nelangsa di dunia kalau sampai takdirnya benar-benar terikat dengan Airin. “Katamu, kamu memintaku datang kemari karena ingin menyampaikan sesuatu tentang pembunuh Ellin. Bagaimana?” Aku belum sempat berpikir tentang bagaimana menyampaikan hal itu padanya. Maksudku, cara yang kumaksud, mungkin akan sedikit sulit dipahami olehnya jika aku menyebutkan tentang proyekku dengan ibunya. “Itu … ak-aku, sebenarnya aku ini ….” “Sebenarnya apa? Jangan bilang, sebenarnya itu hanya alasan untuk bertemu denganku?” Aku mengembuskan napas berat, berharap apa yang akan kukatakan bisa diterima oleh akal sehatnya. Sebelum bicara, aku mencoba membasahi kerongkongan dengan menenggak segelas air putih di hadapan Gibran. Berharap air itu akan mampu memberiku kekuatan lebih untuk berkata jujur. “Aku mengantuk.” Aku sudah siap untuk mengatakan semuanya, tanpa peduli dengan tanggapan Gibran setelah ini. Entah mengapa, dua kata itu yang terucap. Selanjutnya, mataku benar-benar terasa berat dan sangat mengantuk. Kepalaku berat dan aku tidak bisa menolak untuk tidak meletakkannya di atas meja. Aroma masakan dari dapur kedai, dan senyuman Gibran menjadi satu-satunya hal yang bisa kuingat sebelum terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN