Jalur Kereta

2148 Kata
“Takdir itu seperti laju kereta. Dia selalu berada pada jalurnya. Jika seseorang berusaha mebelokkan, maka kekacauan akan terjadi.” *** Kepalaku terasa pening, hawa dingin di sekitar, membuatku berpikir bahwa saat ini sedang berada di kutub selatan. Tubuhku kaku, sulit bergerak,  bahkan sekadar membuka mata. “Apa kamu sudah bangun?” Suara berat dan serak itu terdengar asing, tapi juga tidak asing. Aku seperti pernah mendengarnya sebelum ini. Mataku mengerjap beberapa kali, berusaha menghalau cahaya yang masuk. Saat ini yang ada di hadapanku hanyalah hamparan putih. Tempat yang kukenal. Aku bangun, di depan sana, tepat di dekat jendela, seseorang berdiri menghalangi cahaya matahari yang masuk. Membentuk siluet, seperti sesosok malaikat yang diliputi cahaya. “Kakek?” Aku membelalak begitu menyadari sosok yang berdiri di depan sana. Pria tua yang pernah kutemui belasan tahun lalu, yang memberiku nama dan kehidupan baru. “Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Tsurayya?” Masih belum yakin dengan apa yang kulihat, tanganku kembali bergerak mengucek mata dua kali. Melihat sekelilng, memastikan di mana diriku berada saat ini, kemudian berhenti pada sosok itu lagi. Pria tua yang kini sedang tertawa kecil sambil menyadarkan tubuh di jendela yang terbuka. “Apa kamu sedang  berpikir kalau ini tidak nyata?” “Jadi ini nyata?” “Seperti yang kamu lihat.” Benar, aku sangat yakin kalau mataku masih normal. Ini nyata, tapi, kenapa tiba-tiba dia muncul lagi setelah sekian lama? Ke mana dia selama ini? Siapa sebenarnya pria tua itu, kenapa wajahnya sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali bertemu denganku waktu itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani otakku tanpa permisi. “Aku kemari hanya untuk mengingatkanmu agar tidak lagi melarikan diri,” ucapnya sambil membalik tubuh, kembali membelakangiku dan melemparkan pandangan ke luar sana. Kamar ini adalah tempat yang kutinggali selama di panti. Berada paling ujung, dekat dengan dapur, dan ketika jenela dibuka, aku bisa dengan mudah melihat pekarangan belakang. Tempat di mana pohon aneh itu berada. Aku menyebutnya aneh, karena memang begitu. Batangnya seperti dililit oleh akar, dan memiliki dua jenis daun yang berbeda. Pengurus panti bilang, itu karena pohon tersebut adalah dua pohon yang tumbuh berdekatan dan saling menopang kehidupan satu sama lain. Aku sendiri masih belum memahami kenapa hal itu bisa terjadi. “Melarikan diri? Maksud Kakek?” Aku mendekat ke jendela, ikut memandang ke arah luar. Ayunan tua itu masih berada di sana seperti belasan taun lalu. Besi yang menopangnya sudah mulai berkarat, angin yang berembus perlahan, membuat papan tempat duduknya bergerak-gerak kecil. “Apa kamu benar-benar percaya bahwa takdir bisa diubah?” Aku mengangguk meski masih belum yakin, akan ke arah mana obrolan kami kali ini. Yang aku tahu, selama ini apa yang kutulis dengan pena pemberiannya benar-benar terjadi, kecuali untuk Gibran. “Yakin?” “Tentu, selama ini apa yang kutulis dengan pena ini selalu terjadi,” jawabku sambil menunjukkan pena, yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba sudah berada di tangan. “Apa yang kamu katakan pada orang-orang, dan juga pada dirimu sendiri saat menulis?” Aku memiringkan kepala, mencoba mengingat tentang kalimat yang selalu kukatakan pada klien yang ingin melakukan proyek Reparasi Takdir. “Seingatku, aku tidak mengatakan apa pun, selain meminta mereka meyakini bahwa takdirnya akan segera berubah.” Pria itu tersenyum sekilas saat melihat ke arahku, lalu kembali ke langit di luar sana. Ajaib, saat ini langit sangat terang, tapi aku bisa denagan jelas melihat keberadaan bintang-bintang yang berdampingan dengan matahari. Aku baru menyadarinya saat mengikuti arah pandang kakek. “Benar, hanya  kalimat itu, dan itulah yang selanjutnya tertanam di hati mereka. Keyakinan tentang takdir baik yang akan segera hadir. Kamu tahu, semesta merespons pikiran manusia, dan berbondong-bondong mengaminkan apa yang mereka pikirkan. Itulah kenapa proyekmu selalu berhasil.” “Jadi … maksud Kakek, pena itu sama sekali tidak ajaib?” “Keajaiban itu bisa diciptakan oleh pikiran ajaib manusia, Tsurayya.” Tangan pria itu terulur ke arah puncak kepalaku, dan mengusapnya lembut. Persis seperti saat pertama bertemu waktu itu. “Seperti namamu yang menjadi doa, entah kamu sadar atau tidak, kamu telah menjadi seorang gadis yang bercahaya seperti kumpulan bintang bersatu dalam dirimu. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi orang-orang bisa melihat itu. Jadi mulai sekarang, jangan pernah melarikan diri lagi dari takdirmu.” Aku masih belum paham, kenapa pria tua itu terus mengatakan kalau aku melarikan diri dari takdirku. Otakku tidak bisa mencerna kalimat sederhana itu. “Melarikan diri? Aku tidak pernah merasa melarikan diri dari ….” Mendadak ingatanku memutar ulang perkataan Airin, tentang diriku yang mencoba menghindar dari Gibran. Mungkinkah yang dimakskud oleh kakek ini adalah …. “Tepat sekali,” ucap pria tua dengan pakaian serba putih yang masih berdiri di hadapanku. “Sejauh apa pun kamu berusaha untuk lari, kamu hanya akan sampai pada satu titik yang sama. Seperti pohon itu, mereka masih berdiri tegak sampai saat ini, karena mereka tetap bersama. Kamu harus bersamanya jika ingin tetap hidup.” Pandanganku kembali tertuju pada pohon aneh di luar sana. Daun keemasan yang berada di ujung ranting, jatuh perlahan dan menyentuh tanah. Aku tersenyum ketika melihatnya mendarat di dekat tiang ayunan. Semacam ada rasa syukur yang menyeruak penuh kelegaan, entah karena apa. Aku  pernah mendengar perumpamaan tentang kesetiaan seseorang yang diibaratkan seperti tanah. Tetap menunggu sambil terus memberikan kehidupan pada pohon di atasnya, tidak pernah memaksa daun kering itu untuk jatuh, sampai akhirnya kerinduannya terpenuhi saat angin bertiup dan menerbangkan daun keemasan. “Tapi, Kek ….” Aku hendak menanyakan lagi tentang maksud perkataannya, apakah itu tentang Gibran, atau ada hal lain, tapi kakek itu sudah menghilang tanpa jejak. “Kakek! Kek!” Aku mencoba mencarinya ke setiap sudut ruangan, tapi nihil, tidak ada yang kutemukan selain hanya kekosongan. Di luar sana, tiba-tiba matahari menjadi sangat terang, dan aku mendengar sesuatu seperti meledak. “Ayy! Ayya!” Dunia seperti diguncangkan oleh tangan raksasa yang membuat seluruh isinya koyak. Lalu samar-samar aku seperti mendengar ada yang memanggilku berulang-ulang. “Ayya! Tsurayya Parawansa, bangun!” Teriakkan Airin seolah mengisi penuh gendang telingaku sampai aku bepikir kalau akan menjadi tuli setelah ini. Aku mengerjap empat kali, mendapati Airin yang berdiri di depanku sambil bersedekap dengan  wajah murka. “Loh, Rin, kenapa kamu ada di sini?” Aku mengangkat kepala dan mengusap sesuatu yang terasa lengket di pipi. “Loh, Rin, kenapa kamu di sini?” Bukannya menjawab, gadis itu malah menirukan kalimatku dengan bibir monyong lima senti. “Menurutmu?” lanjutnya sewot. Betapa konyolnya diriku karena baru menyadari keberadaan dua orang lain di sini. Marvel dan Gibran. Mereka duduk di kursi seberang, hanya terpisahkan oleh meja denganku. Gibran bertopang dagu sambil tersenyum ke arahku, sementara Marvel, entah wajah seperti apa yang dia sembunyikan di balik kacamata hitamnya itu. “Kamu cantik saat tidur, dan kamu tetap cantik walau ileran.” Itu suara Gibran. Dia masih melihatku sambil bertopang dagu, membuatku refleks mengelap wajah sekali lagi. “Ayy, aku tahu kamu tukang molor di mana saja, tapi jangan sampai lupa dengan misi utama kita. Aku sudah berkeliling sejak tadi, kamu malah molor di sini. Keterlaluan!” “Jadi, apa yang sudah kamu dapatkan?” Gadis itu mengambil posisi duduk di dekatku, meletakkan tas yang dibawanya kemudian menyeruput minuman yang entah dia beli di mana. Yang jelas itu terlihat segar, dan cukup menggoda untuk tenggorokkanku yang kering. Tanganku menyerobot minuman cokelat dengan botol berbentuk bohlam yang ada di tangan Airin, tepat sebelum bibirnya menyentuh sedotan. “Terima kasih,” ucapku sebelum menyedot minumannya dan menyisakan kurang dari setengah. “Yak! Ayya!” Aku hanya nyengir dengan tampang wajah tanpa dosa sambil menyerahkan kembali minumannya. “Jadi bagaimana? Apa yang kalian dapatkan setelah berkeliling?” “Tidak ada, selain bakso Mang Jalu yang membuatku lapar.” “Bakso Mang Jalu? Dia ada di sini?” Airin memicingkan bibir, matanya menatap sinis ke arahku yang mendadak lapar setelah mendengar kata bakso. Terutama bakso Mang Jalu yang rasanya selalu nagih. “Giliran makanan saja, semangatmu seperti pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan.” “Ya, aku, kan, juga memperjuangkan kemerdekaan cacing-cacing di perut. Keadilan harus ditegakkan, bukan hanya untuk umat manusia, tapi juga bangsa cacing. Bukan begitu, Marvel?” Aku sengaja melempar candaan pada orang yang dijuluki manusia papan oleh Airin. Sepertinya Marvel memang manusia papan sejati, dia sama sekali tidak tersenyum saat aku mengajaknya bercanda, sampai aku memutuskan untuk melempar pertanyaan itu pada Gibran. “Benar, kan, Gibran.” “Benar sekali. Aku juga lapar menunggu putri tidurku bangun, jadi … mari kita makan,” jawabnya sambil berdiri dan meraih tanganku. “Eh, apa-apaan ini? Aku tidak bilang kamu boleh menyentuhku.” Mau tidak mau aku ikut berdiri dan berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak berhasil. Gibran malah menyematkan jari-jarinya di sela jemariku, dan membuat kami bergandengan. “Aku tidak sedang menyentuhmu, aku sedang menggenggam tanganmu agar kita bisa berjalan bersama.” Aku memutar bola mata malas, dia masih saja keras kepala seperti saat pertama kali bertemu. “Lepaskan atau kamu akan menyesal,” ancamku dengan nada kesal sambil melotot. “Kamu yang akan menyesal kalau aku melepaskannya.” “Tidak akan.” “Yakin? Baiklah.” Gibran benar-benar melepaskan tangan dari jemari, tapi ganti merangkul pinggangku posesif. “Gibran!” “Apa? Kamu yang menyuruhku melepaskan tangan, ‘kan?” Aku menyingkirkan tangannya berkali-kali, tapi tetap saja kembali ke tempat semula, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menggandeng tangan Airin yang berjalan di belakangku bersama Marvel. “Ya, sudah, kalau kamu tidak mau, aku gandeng saja tangan ….” Gibran hendak meraih lengan Marvel, tapi manusia papan itu melihat ke arah tangannya yang sudah hampir menyentuh lengan, sampai akhirnya Gibran hanya bisa menggandeng sembarang orang yang juga sedang berjalan ke arah penjual makanan. Selain festival kembang api dan pasar malam, di sini juga ada banyak penjual makanan, dari martabak, sate, sampai bakso dan mi ayam, berjajar di sisi kanan dan kiri lapangan. “Hoi! Sedang apa kamu pegang-pegang tangan istri saya!” Seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal membentak Gibran dan membuat pria konyol itu beringsut ke dekat Marvel. “Ma-maaf, Pak. Saya pikir tadi istri saya,” kilahnya sambil menyatukan tangan di depan pria itu. Aku dan Airin hanya bisa tertawa melihat kekonyolan Gibran yang bertingkah seperti anak kecil, padahal usianya sudah lebih tiga puluh tahun. Beruntung saja, wajahnya tidak terlalu boros, jadi meski sudah cukup berumur, Gibran masih terlihat seperti seusia kami. “Sebentar ….” Tiba-tiba Marvel mengacungkan tangan, memberikan isyarat agar kami semua berhenti. Pandangannya tertuju ke arah gerobak Mang Jalu dan dua orang yang duduk di sana dengan pakaian serba hitam, persis seperti Marvel saat berugas sebagai pengawal. “Ada apa?” “Dua orang itu, mereka anak buah Gustian, pengawal keluarga Daniel.” “Apa?” Aku melihat ke arah dua pria yang sedang berbincang akrab dengan Mang Jalu, lalu melihat ke atas, ujung pohon aneh di belakang panti yang menyeberangi pagar pembatas, tepat berada di atas kepala mereka. “Rin ….” Aku dan Airin saling melempar pandang, aku yakin, pemikiran kami satu frekuensi. Petunjuk yang ada di buku itu adalah tentang peremuan Gibran dengan mereka, tapi, siapa? Anak buah pengawal keluarga Daniel, atau … Mang Jalu? Tidak, tidak mungkin Mang Jalu. Aku yakin, pelakunya adalah mereka, pengawal itu, persis dugaan Airin. Kematian Ellin ada hubungannya dengan keluarga pacarnya. “Tuan Muda selalu berulah, dan kita yang harus membereskan. Ini menyebalkan! Kenapa orang kaya selalu bertingkah semau sendiri begitu?" ucap salah satu pria yang baru saja meletakkan mangkuk kosong di atas gerobak Mang Jalu. “Orang kecil seperti kita bisa apa selain melakukan perintah orang berkuasa, iya, ‘kan?” sahut Mang Jalu yang mengambil mangkuk kosong dan memasukkannya ke dalam ember di dekat kaki. “Benar, tapi aku kasihan juga dengan Tuan Muda. Sepertinya dia punya gangguan mental.” Samar-samar percakapan mereka terdengar oleh telingaku. Namun, belum sampai kami menghampiri mereka, tiba-tiba orang bertriak dan berlari menghambur dari arah kebun singkong yang ada di dekat lapangan. Saking banyaknya orang yang belarian, aku sampai tidak bisa melihat ke mana perginya dua orang yang berbincang dengan Mang Jalu. Tiba-tiba saja mereka sudah menghilang. “Ada apa?” tanya Gibran saat dia berhasil menghentikan salah satu perempuan yang berlari. “Ada mayat di kebun singkong.” “Apa?” Aku dan Airin segera berlari ke arah orang-orang, mencoba mencari tahu tentang mayat yang mereka bicarakan. Aku menerobos kerumunan, sampai berhasil berdiri tepat di depan mayat seorang gadis dengan luka tusuk di leher yang sebagian tubuhnya ditutup dengan daun pisang. “Ayy, luk-luka itu ….” Gibran  yang tiba-tiba saja sudah menyusul, membuatku melihat ke arahnya dan mayat itu bergantian. Tepatnya pada luka di bagian leher, yang mengingatkanku pada jenazah Ellin. Meski jatuh dari lantai tiga, Ellin juga memiliki luka tusukan di leher. Seperti bekas ditusuk benda tumpul dengan sangat kuat berkali-kali. “Aku tahu,” jawabku ketika menyadari Gibran tengah memikirkan hal yang sama. Dia dibunuh oleh pembunuh Ellin. Lalu apa hubungannya gadis ini dengan keluarga Daniel? Apa mungkin, dia juga pacarnya Daniel, dan … hamil? Aku harus menyelidikinya lebih lanjut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN