“Jadi, kalian mengajak kami kemari hanya karena petunjuk dari pena konyol itu?”
Marvel berdiri cepat dengan wajah yang terlihat sangat frustrasi ketika aku menceritakan semuanya.
“Pena konyol katamu?” Airin bersedekap, menyilangkan kaki dengan meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri. Matanya melirik sinis ke arah pria tinggi di sampingnya. “Mana yang lebih konyol, kamu yang menuduh orang tanpa bukti, atau apa yang kamu temukan malam ini karena pena itu?”
“Aku masih cukup waras untuk bisa mempercayai hal seperti itu?”
Aku hanya melihat perdebatan dua orang itu, sambil memikirkan apa yang barusan kulihat. Saat ini kami sedang duduk di dekat gerobak Mang Jalu sambil menunggu pesanan. Setelah melihat mayat yang ditemukan di kebun, orang-orang mulai membubarkan diri dan hanya sedikit yang tidak terpengaruh, jadi lapangan ini cukup lengang.
“Ada yang lebih penting dari semua itu,” ucap Gibran tiba-tiba. “Setelah kuingat-ingat, ada kesamaan dari mayat yang tadi, mayat Ellin, dan juga—“
“Tetanggaku,” sahutku cepat. “Aku sependapat dengan Gibran, daripada kita memperdebatkan tentang siapa yang lebih waras, lebih baik kita mencoba memecahkan misterinya.”
“Duduklah, Vel.”
Pada akhirnya, pria itu menuruti perintah Gibran agar dirinya kembali duduk di kursi panjang dekat Airin. Gadis itu menggeser duduknya sampai hampir ujung, dan Marvel tidak mau kalah, jadi sekarang mereka duduk di masing-masing ujung kursi yang berlawanan. Benar-benar menggemaskan, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
“Kesamaan apa yang kalian bicarakan?”
“Ngakunya pengawal terbaik, tapi begitu saja tidak tahu. Dasar, Manusia Papan,” cibir Airin sekali lagi.
“Aku juga menyadari hal itu, kalau di leher mereka memiliki luka tusuk yang nyaris serupa.” Airin ikut mengutarakan kecurigaannya.
“Luka tusuk?”
Sepertinya Marvel benar-benar kehilangan fokus dan dikuasai oleh kemarahan, sampai-sampai tanda senyata itu pun dia tidak menyadarinya. Dia masih terlihat sangat bingung.
“Benar, aku sudah melihat tiga korban dengan luka tusuk yang sama seperti mayat tadi,” jawabku mencoba mengurai benang kusut yang berada di kepalanya.
Suara sirine ambulance yang membawa pergi mayat di kebun singkong terdengar semakin menjauh. Orang-orang yang berada di acara festival juga sudah kembali menikmati acara tahunan yang diadakan oleh para donatur panti dan bekerja sama dengan pemerintah setempat.
“Sebentar.” Aku beranjak dari dudukku dan berjalan ke arah Mang Jalu yang tengah meracik pesanan kami.
“Pinjam sebentar ya, Mang.” Aku mengacungkan besi mirip sumpit yang biasa digunakan untuk memukul mangkuk oleh Mang Jalu.
“Buat apa, Neng?” tanya Mang Jalu sambil mengayunkan tangan, seperti hendak mengambil benda itu lagi dariku.
“Tidak apa-apa, Mang. Hanya sebentar, Mamang buatkan untuk mereka dulu saja baksonya.” Aku mengedikkan dagu ke arah pembeli di sebelah kanan gerobak yang masih mengantre, lalu kembali bergabung dengan Gibran dan yang lainnya.
“Lihat ini.” Aku mengangkat benda di tangan dan menunjukkannya pada mereka. “Di leher Ellin, ada luka tusuk yang menurutku itu dilakukan dengan benda seperti ini. Bukan pisau atau benda tajam lainnya, tapi benda seperti ini, yang ditusukkan tepat di titik vital korban dengan sangat kuat dan berkali-kali.”
“Cih! Kenapa aku harus mendengarkanmu? Apa kamu ini seorang detektif?” Marvel masih saja mencibirku. Matanya memancarkan ketidaksukaan padaku sejak pertama bertemu waktu itu.
“Apa kamu tidak bisa diam? Kenapa orang sepertimu bicara saat tidak diperlukan? Diam saja seperti biasanya.” Airin melempar kotak tisu ke arah Marvel, tapi pria itu berhasil menangkapnya dengan mudah.
“Marvel, kurasa saat ini kita harus mendengarkan tukang reparasi takdir yang satu ini.” Lagi-lagi Gibran yang berhasil membuat pengawal itu diam.
Aku tersenyum separo sambil melirik Gibran yang duduk di sampingku. Dia juga tidak ada bedanya dengan Marvel menurutku. Cara dia menyebutku sebagai tukang reparasi takdir, itu terdengar seperti sebuah cibiran.
Pekerjaanku ini memang bukan sesuatu yang harus disembunyikan, jadi aku memilih untuk menceritakan beberapa hal yang menurutku perlu mereka ketahui. Airin bahkan pernah mengiklankan jasa ini di instagramnya, tapi seperti yang pernah kubilang, bahwa orang-orang yang mendatangiku, bukan sekadar mereka yang percaya akan keajaiban sebuah pena, tapi orang yang langkah kakinya dituntun oleh takdir.
“Satu hal lagi.” Aku kembali duduk di dekat Gibran. “Ellin dan gadis tetanggaku, mereka sedang hamil. Kalau sampai mayat tadi itu juga sedang hamil, maka sudah jelas, Daniel itu pasti seorang psikopat. Dia menghabisi gadis-gadis yang telah hamil karena ulahnya. Kalian ingat apa yang dikatakan pengawal tadi saat berbincang dengan Mang Jalu, kan? Tuan muda mereka memiliki gangguan mental. Aku yakin yang mereka maksud adalah Daniel.”
Mang Jalu datang dengan dua mangkuk bakso yang diletakkan di dekatku dan Gibran. Asap yang mengepul dari bakso itu membuat cacing di perut kembali berdemo. Aku sangat lapar sekarang.
“Boleh Mamang ambil ini lagi, Neng?”
Mang Jalu mengambil sumpit yang tadi kupinjam.
“Sebentar….” Marvel menghentikan pergerakan tangan Mang Jalu dan mengambil kambali benda itu. Dia mengamatinya dari ujung ke ujung, lalu mengendusnya seperti seekor kucing. Setelah itu, pandangannya beralih ke Mang Jalu dan gerobak baksonya bergantian. “Kenapa Anda menggunakan benda seperti ini untuk memukul mangkuk, bukankah ini bisa membuat magkuk itu cepat pecah, dan kurasa … suara yang dihasilkan juga tidak akan lebih keras dari benturan mangkuk dan ujung sendok.”
Mang Jalu tertawa kecil sambil memungut kembali benda itu dari tangan Marvel. Pandangannya beralih ke arah gerobak lalu kembali pada Marvel.
"Itu alumunium, jadi lebih ringan dari sendok, dan justru bunyinya lebih nyaring."
“Ah, jadi begitu. Kenapa ujungnya seperti ini?” tanya Marvel dengan senyum tipis, yang di mataku itu seperti mengisyaratkan kalau dirinya sedang tidak memercayai omongan Mang Jalu.
Dia bahkan mempermasalahkan bentuk sumpit yang seperti bekas patah dan membuatnya sedikit lebih runcing.
“Kalau boleh tau, apa hubungan Anda dengan dua orang tadi? Kalian terlihat sangat akrab,” lanjut Marvel masih menginterogasi. Sepertinya otak Marvel memang disetting untuk mencurigai semua orang, bahkan Mang Jalu pun masih dia curigai. Benar-benar payah. Bukannya sebagai pengawal, harusnya dia punya insting yang tinggi untuk bisa menilai mana kawan dan mana lawan, ya?
“Ya? Maksudnya?” Mang Jalu balik bertanya, pria itu jelas tidak mengerti dengan pertanyaan tidak masuk akal dari Marvel. Sebagai pedagang, Mang Jalu memang mudah sekali berbaur dengan obrolan para pelanggannya, karena dia adalah orang yang ramah dan sopan pada siapa saja.
“Yak! Apa otakmu setumpul itu? Bagaimana bisa kamu bertanya hal seperti itu pada Mang Jalu?”
Marvel tidak menanggapi perkataan Airin dan hanya melirik gadis itu sekilas sebelum kembali pada Mang Jalu yang masih berdiri di dekatku.
Mak Lampir bermulut wasabi dan manusia papan sepertinya adalah dua hal yang sangat menarik kalau disatukan. Airin terus saja mengumpat Marvel, dan yang diumpat tetap bersikap tak acuh, membuat jiwa Mak Lampir Airin seakan meronta.
“Saya tidak tau siapa mereka, tadi itu hanya—“
“Sudahlah, Mang, untuk apa dijelaskan. Manusia seperti dia hanya akan mempercayai apa yang ingin dia percayai, dan menganggap dugaannya adalah sebuah kebenaran mutlak. Percuma saja dijelaskan. Aku lapar, Mamang ambilkan saja pesananku dan abaikan orang itu.”
“Baik, Neng.”
Selanjutnya, Marvel hanya bisa mengembuskan napas berat, terlihat semakin kesal dan tidak puas dengan apa yang baru saja terjadi.
“Ayy, bukankah semua korbannya itu sedang hamil?” celetuk Gibran tiba-tiba, membuat fokusku dan Airin beralih sepenuhnya padanya.
“Sepertinya iya. Aku curiga kalau yang dikatakan oleh orang-orang tadi itu benar, bahwa Daniel memiliki masalah kejiwaan. Lalu?”
“Aku punya ide cerdas, kemarilah.” Tangannya mengisyaratkan agar kami mendekat.
“Bagaimana kalau aku menghamilimu untuk memancing pembunuh itu?”
“Yak!” teriakku dan Airin bersamaan.
Airin hampir saja meleparkan mangkuk kecil berisi sambal, dan aku melayangkan pukulan di kepala bagian belakang pria itu. Marvel yang tadinya ikut mencondongkan kepala ke depan, sekarang mundur teratur dengan secuil tawa ringan menghiasi bibirnya. Dia terlihat lebih manusiawi saat tertawa, walau hanya sekilas, aku bisa melihat kalau dia tidak benar-benar hidup dalam kematian setelah kepergian Ellin, seperti yang selama ini kubayangkan.
“Kenapa kalian marah? Aku, kan, hanya bercanda.” Gibra berbicara sambil mengusap kepala yang kupukul. “Kalau korbannya memang sedang hamil dan itu ada hubungannya dengan Daniel, maka bisa dipastikan, anak yang mereka kandung adalah anaknya Daniel. Kamu mana boleh hamil anak bocah ingusan itu. Semua anak yang lahir dari rahimmu, hanya aku yang akan menjadi ayahnya.”
Aku yang sudah mulai menyantap bakso, sampai tersdedak mendengar ocehan tidak masuk akal dari mulut Gibran. Sementara Airin … gadis itu malah menertawakanku. Sial! Telingaku jadi perih gara-gara tersedak.
“Berada di sini bersama kalian memang tidak ada gunanya.”
Marvel meletakkan garpu di tangannya dengan keras, lalu berdiri dan meninggalkan makanannya begitu saja. Penilaianku beberapa detik lalu, tentang senyumnya yang terlihat manusiawi, sekarang terbantahkan kembali oleh sikap dingin dan tak tersentuhnya.
“Mau ke mana?” Gibran berusaha mencegah dengan ikut berdiri.
Marvel melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, tersenyum sinis, dan mengatakan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
“Hari ini aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Mulai sekarang, aku akan mengurus semuanya sendiri,” ucapnya dengan wajah datar, kemudian berlalu begitu saja.
“Kamu boleh ambil cuti, tapi tidak untuk berhenti. Papa tidak akan mengijinkan.”
Ucapan Gibran berhasil membuatnya menghentikan langkah meski tidak menoleh.
“Satu hal lagi … kamu tidak boleh minum. Kita pasti akan segera menemukan pembunuh Ellin, bahkan meski itu adalah Daniel, kita akan membuat perhitungan dengannya. Kamu tidak boleh menyerah.”
Meski sama sekali tidak menoleh, tapi Marvel berhenti cukup lama. Sangat cukup untuk mendengarkan semua yang dikatakan oleh Gibran. Di sini, aku merasa kalau Marvel pasti sangat menyayangi Ellin.
“Apa dia seorang pemabuk?”
Pertanyaan Airin juga menjadi pertanyaanku. Kupikir orang seperti Marvel tidak akan pernah menyentuh minuman keras. Sebagai pengawal, biasanya kebugaran adalah yang paling utama, karena sejak menerima pekerjaan itu, maka dengan kata lain, hidupnya sendiri telah tergadai. Keselamatan orang yang dia jaga adalah yang utama, jadi seorang pengawal tidak boleh kehilangan fokus sedikit pun, tapi sepertinya aku salah.
“Bukan, tapi sejak Ellin pergi. Dia jadi tidak ada bedanya dengan mama. Mereka mencoba melarikan diri dengan mabuk-mabukan.”
“Pengecut.”
“Marvel dan Ellin itu tumbuh bersama. Mereka sama-sama tidak punya ibu. Ayahnya meninggal saat menjadi pengawal mama, dan itu karena kecerobohan dan keegoisan mama. Itulah kenapa, Marvel dan Ellin sangat dekat, dan sejak ayahnya meninggal, dia juga sangat membenci mama.”
Aku tidak ingin peduli dengan kisah panjang tentang Marvel atau siapa pun, hidupku tidak kalah nelangsa dari mereka semua selama ini, tapi rasanya sulit untuk mengabaikan kasus Ellin. Dia harus mendapatkan keadilan, bagaimanapun caranya.
Aku keluar dari mobil Gibran dengan membanting pintu cukup keras. Rasa kantuk dan lelah, membuatku ingin segera bertemu dengan Jongin dan tidur sambil memeluknya. Boneka beruang biru yang besarnya melebihi ukuran tubuhku itu benar-benar teman setia yang akan selalu menemani mimpi-mimpiku.
Pandanganku beralih pada Gibran yang baru saja keluar dari pintu pengendara dan berjalan memutari mobil ke arahku. Airin bilang, dia akan mampir ke rumah orang tuanya untuk mengambil sesuatu, jadi Gibran hanya mengantarkanku saja. Betapa menyebalkan, karena pria itu terus saja berbicara seperti radio rusak. Mengatakan apa saja, dan menanyakan banyak sekali hal yang semakin membuautku malas mendengarnya.
“Aku serius dengan ucapanku,” ucapnya sekali lagi sebelum aku membuka pintu gerbang dan masuk.
“Tentang?”
“Tentang aku yang ingin menikahimu. Aku serius, bahwa selama ini, aku hanya menunggu untuk bertemu denganmu. Seperti yang kamu bilang belasan tahun lalu, aku hanya akan menikah dengan gadis dengan tanda di kakinya. Dan itu kamu.”
Kalau ada yang bertanya seperti apa wajahku saat ini, maka aku akan menjawab dengan memamerkannya langsung. Aku terlalu muak mendengar kata-katanya, jadi aku hanya tersenyum paksa dengan wajah malas dan sedikit mencibir. Jujur saja, mungkin bagi sebagian gadis, apa yang dikatakan Gibran adalah sesuatu yang romantis dan tidak akan membuat mereka ragu untuk menerimanya. Namun, bagiku itu hanya membuat gatal telinga saja. Satu pun, aku belum bertemu dengan seorang pria yang bisa dipercaya kata-katanya di dunia ini. Termasuk pria tua yang memberiku pena itu, aku juga tidak bisa memercayainya. Hanya Mang Jalu, orang yang bisa membuatku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Dia seperti sosok seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya, aku yakin itu.
“Aku sangat tersanjung atas kesetiaanmu, Tuan,” jawabku sinis. Kalau saja kata-kata bisa berubah menjadi racun yang nyata, mungkin saat ini Gibran sudah kejang-kejang karena intonasiku yang kelewat menyakitkan saat menghampiri gendang telinganya.
Pria itu malah tersenyum ramah dan mengacak-acak puncak kepalaku. Aku rasa dia memang memiliki masalah otak. Bagaimana bisa seorang tetap tersenyum seperti itu, setelah semua yang kukatakan? Bisa dibilang, selama ini aku menolakya terang-terangan, tapi dia masih belum menyerah.
“Aku memang tipe pria yang setia. Percayalah, sejak hari itu, hanya kamu yang paling berharga selain mama, dan Ellin tentunya.”
“Benarkah?”
“Aku sama sekali tidak punya bakat untuk berbohong, percayalah.”
Keyakinan dan kepercayaan dirinya membuatku memiliki sedikit ide untuk bermain-main dengan pria yang sedang memamerkan senyum manis dan mata beningnya itu.
Ah, sebentar … sepertinya otakku ikut sedikit geser. Apa aku baru saja memujinya? Astaga! Ini sedikit gila.
“Kalau begitu …” Aku maju selangkah, menipiskan jarak di antara kami yang tidak ada sedepa. “bagaimana kalau kita menikah besok?”
“Ap-apa? Besok? Tapi—“
“Tidak ada kata tapi, hanya iya dan tidak. Kamu punya waktu malam ini untuk berpikir. Besok, atau tidak sama sekali.”
“Ya, Tuhan, Ayya, masalah Ellin masih belum selesai, jadi bagaimana bisa—“
“Baiklah, aku masuk dulu. Mau tidur, jangan lupa, besok kita menikah. Oke? Selamat malam.”
Aku mengusap jaketnya seperti mengusir debu yang menempel, lalu segera masuk dan meninggalkan pria itu dengan segala kebingungannya. Percayalah, wajahnya saat ini benar-benar terlihat sangat konyol, itu membuatku merasa menang karena berhasil mengerjai seorang Gibran.
***
Langkah kaki itu terdengar semakin samar. Bayangan sepasang kaki yang berjalan menjauh, dan sebuah tangan yang terkulai begitu saja di bawah guyuran hujan.
Gadis dengan dress putih sebatas lutut, terlihat memegangi perut dengan tangan kirinya. Bersandar pada sebuah tembok yang sepertinya berada di sebuah gang sepi dan gelap.
Darah yang merembes dari lukanya semakin deras, tanpa diduga kaki yang sebelumnya berjalan menjauh, kembali mendekat dengan langkah cepat, dan melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.
Sosok yang terlihat mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan topi dan masker yang semakin menyamarkan jati dirinya, dia mengangkat tangan tinggi-tinggi dan hendak menusukkan sesuatu ke arah … leher gadis itu.
“Tidaaak! Jangan!”
Aku terbangun dengan menendang Beruang Jongin sampai jatuh ke lantai. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, dan berhenti di ponsel yang tergeletak di dekat kaki.
Malam ini lebih dingin dari biasanya, suara jangkrik juga terdengar sangat nyaring di luar sana. Sudah hampir subuh.
Saat melihat ponsel, ada pemberitahuan panggilan tak terjawab dari nomor Airin berkali-kali, dan satu pesan masuk yang mengatakan kalau dia berencana menginap di rumah orang tuanya, tapi pesan itu masuk lebih dulu sebelum panggilan.
“Ada apa ini?”
Aku segera menelepon nomornya, dan yang kudapat hanya jawaban dari operator yang memberitahukan kalau nomor Airin sedang tidak aktif.
Ya, Tuhan, ada apa sebenarnya ini? Semoga tidak terjadi hal buruk pada anak itu. Tidak biasanya dia mematikan ponsel saat tidur.