Pada Sebuah Pagi

3988 Kata
Angin bertiup kencang, seperti badai yang menerpa setiap lembar kisah dalam buku berwarna cokelat tua dengan ukiran menghiasi sampulnya. Cahaya lilin yang menerangi kegelapan, menari-nari seakan berusaha mempertahankan nyalanya. Saat udara itu perlahan tenang, pergerakan lembar kertas ikut berhenti, dan lilin di sana masih menyala. Sebuah halaman kosong, memancarkan semburat cahaya yang sangat terang. Pena di dalam kotak kayu, turut bersinar, kemudian cahaya keduanya bersatu menjadi sinar putih yang sangat menyilaukan. Seorang perempuan berlari di bawah cahaya itu, hanya menampakkan punggungnya yang tertutup rambut panjang dan bergerak seiring langkahnya. Perempuan itu menoleh sekilas, tersenyum lebar, menyiratkan kebahagiaan yang terpancar sempurna dari wajah, lalu sosoknya menghilang ditelan cahaya yang semakin terang, dan menjadi sebuah titik di atas langit. *** Saat bangun tidur, hal pertama yang kulakukan adalah mencari makanan. Selama ini mungkin manusia hanya berpikir kalau sesuatu yang melelahkan adalah bekerja, tapi bagiku, tidur juga adalah hal yang sangat menguras energi, jadi membutuhkan banyak asupan makanan saat bangun. Apalagi mimpi semalam membuat seluruh tubuhku lelah, seolah akulah yang berusaha melarikan diri dari penjahat, dan berada di ambang kematian. Setelah memastikan kalau di rumah masih ada persediaan makanan, aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi. Hari ini aku berencana menyusul Airin ke rumahnya, untuk memastikan kalau anak itu baik-baik saja. Baru saja meulai menyikat gigi, terdengar bel pintu yang tidak sabaran di luar sana. Aku yakin, siapa pun tamu tidak beradab itu, dia pasti sudah bosan hidup karena berani mengacaukan pagiku yang memang sudah kacau. Kalau sudah begini, aku jadi menyesal sudah memasang bel di pintu gerbang. Ini sama saja memberikan kesempatan pada pengacau untuk datang seenak jidat. Tadinya aku berniat pura-pura tidak mendengar, lagi pula ini masih terlalu pagi untuk seseorang datang bertamu. Azan baru saja berkumandang, aku juga yakin kalau orang itu bukan Airin. Mak Lampir itu tidak akan membuang waktu untuk menungguku membuka pintu, dia pasti akan lebih memilih melompati pagar kalau lupa membawa kunci. Anak itu, penampilannya yang feminin benar-benar berbanding terbalik dengan kelakuannya yang seperti preman. Bel berbunyi sekali lagi, membuatku menghentikan gerakan tangan yang sedang menyikat gigi, mengembuskan napas kasar, dan meniup anak rambut yang berjatuhan ke wajah dengan kesal. Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku melangkah cepat ke arah pintu, masih dengan busa di mulut dan sikat di tangan. Dasar tamu akhlakes! Awas saja, dia pasti akan menyesal membangkitkan kemarahan seorang Tsurayya. “Yak! Dasar manusia tidak—“ Aku tidak berhasil melanjutkan kata-kata begitu keluar pintu, seluruh tubuhku seperti baru saja disihir menjadi benda mati saat orang di depan sana membalik tubuh dengan tersenyum. Kalau ada yang bertanya, bagaimana kacaunya keadaanku saat ini, maka aku sendiri benar-benar malu untuk menjelaskan. Bangun tidur dengan rambut berantakan yang dibiarkan terurai begitu saja, masih memakai baju kemarin yang baunya tidak perlu dijelaskan lagi, dan … mulut berbusa karena sedang menyikat gigi. Ini terlalu kacau, berbanding terbalik dengan Gibran yang sudah rapi dengan stelan jas dan rambut klimis. Pria itu terlihat sangat … menawan, jujur saja. Terlebih dengan tatanan rambut yang dibuat hair up, memperlihatkan jidatnya yang ternyata menambah tingkat ketampanan pria itu sampai level seratus dua puluh. “Aku memutuskan untuk menikahimu hari ini, belum terlambat, kan?” Aku mengedip empat kali, mencoba mengembalikan kesadaran dari pengaruh sihir Gibran. Menggerakkan kepala seperti orang yang menggeleng sangat cepat, karena masih tidak percaya pada kemampuan penglihatan, lalu menepuk wajah pelan dua kali sebelum kembali melihat ke arah Gibran. Pria itu masih tersenyum dengan sangat lebar. “Ayy?” Panggilannya membuatku mengedip cepat sekali lagi, dan menyadari kalau sikat di tanganku sudah menggelepar sia-sia di dekat kaki. “Ya?” jawabku seperti orang linglung sambil memungut sikat gigi. “Aku datang untuk memenuhi keinginanmu menikah hari ini. Aku sudah memikirkan semuanya, dan kurasa kamu memang benar. Lebih baik kita menikah secepatnya.” “Tap-tapi ini ma-sih san-ngat pagi. Bagaimana—“ “Aku sengaja datang sepagi ini, karena setelah kupikirkan, aku ingin kita menikah di masjid depan sana dengan disaksikan oleh jamaah yang hadir.” “Masjid?” Di ujung kompleks, sebelum belokan menuju mini market, memang ada masjid yang cukup besar dan juga setiap pagi jamaah Subuh selalu ramai, tapi, jujur saja aku sangat jarang pergi ke sana kecuali hanya di hari besar. “Benar. Aku mungkin bukan pria yang taat, tapi aku ingin pernikahan kita diawali dengan banyak doa baik dari orang-orang yang dekat dengan-Nya. Kudengar, pagi ini ada kajian dari guru besar yang membuat jamaah di sana membludak. Itu akan baik untuk kita.” “Tapi … aku—“ “Bersiaplah, aku sudah membawakan pakaian untukmu.” Aku masih belum bisa memercayai kalau yang sedang terjadi ini adalah kenyataan, bahkan saat tanganku sudah terulur untuk menerima bingkisan yang diberikan Gibran lewat luar gerbang, aku masih berpikir kalau ini adalah mimpi. *** Saat menuliskan takdir orang lain, aku selalu diminta untuk menulis sebuah acara pernikahan megah layaknya sebuah dongeng. Aku yakin, keinginan mereka akan terpenuhi, dan hampir semua yang kutulis dengan pena itu memang terjadi. Saat melihat matahari berada di ufuk timur, aku tahu kalau perlahan dia akan merangkak naik dan kemudian tenggelam di sebelah barat, menyisakan petang, untuk kembali lagi esok hari. Aku tahu itu, setidaknya, orang bilang saat kiamat datang, matahari akan terbit dari sebelah barat, jadi saat dia masih datang dari timur artinya esok masih akan datang lagi. Semua hal itu bisa ditebak, diprediksi, dan dipelajari. Namun, apa yang sedang terjadi padaku saat ini, satu detik pun, sepertinya otakku belum pernah memikirkan apalagi memprediksinya. Menikah, dengan Gibran, di masjid, subuh-subuh? Apa aku masih waras sekarang? Ini terlalu nyata untuk disebut halusinasi, tapi juga terlalu ajaib untuk disebut sebagai kenyataan. Pernikahanku dengan Gibran benar-benar terjadi. Jauh dari kesan glamor dan mewah, tapi begitu khidmat diiringi doa-doa dari seluruh jamaah yang hadir. Mataku terpejam ketika Gibran mencium kening seusai ijab qobul. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Ada perasaan damai luar biasa, saat Gibran membacakan doa sambil meniup ubunku dengan dibimbing oleh guru besar. Perasaan asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku meraih tangan Gibran dan menciumnya penuh rasa hormat. Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang sedang kulakukan saat ini, tapi ini memamang terjadi. Seperti ada sekumpulan serbuk ajaib yang mengendalikan tubuhku, tapi aku juga tidak menolak untuk melakukannya. “Istriku....” Gibran menyentuh wajahku, melihat tepat pada manik mata, dan membuat otakku lumpuh seketika. Aku tidak bisa berpikir sama sekali saat dia mendekat, memejamkan mata, bersiap menerima apa pun yang akan dia lakukan, sampai sebuah dehaman membuatku tersadar. Ini tempat umum. “Nak, kalian memang sudah sah, tapi sebaiknya yang seperti ini tidak dilakukan di tempat umum,” goda seorang pria dengan sorban melilit kepala, yang tadi sudah menikahkanku dengan Gibran. Wajahku jadi panas seketika. Aku hanya bisa menunduk malu karena sesuatu yang hampir saja terjadi. *** Pandanganku tertuju pada tangan Gibran yang menggenggam tanganku. Sebenarnya mulutku gatal ingin mengejek sikap posesifnya saat ini, tapi rasa nyaman ternyata mampu mebuatku bisu dalam sekejap. Aku mendadak jadi suka dengan apa pun yang dia lakukan. Ini pasti karena pengaruh sihir dari jidatnya yang menawan. Katakanlah otakku sedang geser, tapi aku bahkan ragu apakah organ kebanggaanku yang satu itu tidak tertinggal di kasur saat berangkat ke masjid tadi. Yang jelas, sampai aku merasakan tubuh seperti melayang dan tangan Gibran berada di pinggang, aku baru bisa menyimpulkan kalau Gibran membopongku saat sudah sampai di depan gerbang rumah. “Kunci?” Aku hanya mengedikkan dagu ke arah pinggang dekat tangannya. Kunci rumah kuselipkan di sana. Kupikir Gibran akan menurunkanku, tapi tidak, dia lebih memilih bersusah payah membukanya sendiri. Tanganku entah kenapa seperti ditempelkan dengan lem maha kuat di leher Gibran. Kesadaranku bahkan seolah baru menyatukan diri lagi dengan raga, saat bokongku sudah mendarat di sofa ruang tamu. “Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk menikah hari ini. Setelah ini kita temui mama dan Papa Nuraga. Aku ingin memperkenalkanmu sebagai istriku.” Suara itu masih seperti mimpi, jadi aku memutuskan untuk membaringkan tubuh, bersedekap dan memejamkan mata. Menghirup udara panjang, mengeluarkannya perlahan, kemudian pelan-pelan mencoba membuka mata kembali. Betapa terkejut, karena saat membuka mata, yang kutemukan pertama kali adalah wajah Gibran yang berada begitu dekat di atas wajahku. Aku menggeleng kasar, lalu kembali memejamkan mata. “Tuhan, mimpi ini begitu indah, tapi aku tidak ingin hidup selamanya di dalam keindahan yang semu. Bangunkan aku sekarang. Kumohon.” “Jadi, maksudmu kamu berpikir kalau pernikahan kita itu mimpi?” Suara itu memang milik Gibran, dan itu terdengar sangat sangat nyata. Aku memicingkan mata, mengintip dengan mata kanan, lalu kenyataan membenturkanku pada sebuah kesimpulan akhir. Ini nyata. “Wait, jadi ini bukan mimpi?” Aku duduk dengan gerakan sangat cepat, terlonjak kaget karena Gibran masih ada di depanku. “Menurutmu?” “Ini seperti nyata tapi—“ Aku tidak bisa melanjutkan kata-kata. Untuk tiga detik, aku benar-benar berhenti bergerak, bernapas, dan berkedip, saat Gibran menempelkan bibirnya tepat di atas bibirku. “Mimpi?” tanyanya setelah menjauh dan ikut duduk di sebelahku. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. “Lagi?” “Big no! Aku bukan gadis yang bisa dicium sembarangan.” “Termasuk oleh suami sendiri?” “Ya?” “Sekarang aku suamimu, aku bahkan berhak melakukan lebih dari itu.” “Apa maksudmu?” Tanganku otomatis menyilang di depan d**a dan beringsut menjauh dari Gibran. Matanya tertuju pada kakiku yang baru saja bergeser, lalu pria itu tertawa lebar sampai matanya jadi segaris. “Aku tidak tahu, ternyata wanita yang kunikahi ini benar-benar bodoh.” “Apalagi dirimu. Menikahi seseorang begitu saja hanya karena perkataan konyol yang tidak masuk akal. Sebagai seorang pria, kamu benar-benar bodoh.” “Jadi, pria bodoh menikahi gadis bodoh?” Dia malah tertawa, jenis tawa ringan yang terdengar renyah, tapi tidak seperti ejekan. Tanpa sadar, aku ikut tertawa, semakin kencang dan kami benar-benar tertawa bersama untuk pertama kalinya setelah menjadi sepasang suami istri. *** Sampai detik ini, aku masih belum bisa menghubungi Airin. Anak itu benar-benar membuatku khawatir. Aku menjauhkan ponsel dari telinga dan mengembuskan napas kasar. Nyaris putus asa karena lagi-lagi hanya suara operator yang menyahut dari seberang sana, dan memberitahukan bahwa nomor Airin sedang di luar jangkauan. “Ada apa sebenaranya dengan anak ini?” “Ada apa? Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Gibran tiba-tiba masuk ke kamar dengan kain lap di pundaknya. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu sejak tadi di dapur. Setelah mengganti pakaian, aku hanya fokus dengan ponsel dan terus mencoba menghubungi Airin, tanpa peduli dengan kegaduhan yang diciptakan oleh pria yang baru saja menjadi suamiku. “Mak Lampir tidak bisa dihubungi sejak tadi pagi. Semalam dia menelepon berkali-kali tapi aku sudah tudur, saat bangun dan berusaha menghubunginya, nomornya tidak aktif. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya?” “Namanya juga Mak Lampir, wajar kalau tidak bisa dihubungi. Mungkin dia sedang bertapa di Gunung Merapi untuk menambah kekuatan,” jawabnya santai sambil melenggang ke arahku. Aku hanya menjawab dengan tatapan malas dan kembali pada ponsel, berusaha menghubungi Airin sekali lagi. “Istriku sayang.” Gibran mengambil ponsel dari tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Sekarang lebih baik kita sarapan, setelah itu kita bisa ke rumahnya untuk memastikan keadaan Airin.” “Sarapan? Tapi aku—“ “Tenang, aku sudah memesan makanan dan menyiapkannya di meja.” “Benarkah?” Aku keluar dan menuju meja makan di dekat kompor. Di sana sudah ada beberapa jenis makanan, yang sepertinya dia pesan dari salah satu restoran yang cukup terkenal. “Wuah, jadi ini gunanya punya suami, ya? Baiklah, aku tidak akan menyesal menikahimu kalau kamu bisa memberiku makanan seperti ini setiap hari.” Gibran hanya tertawa kecil dan mengambilkan nasi ke piringku. Dia sendiri ikut duduk dan makan bersama. Ini adalah sarapan pertamaku dengan seseorang yang disebut suami. “Setelah ini kita ke rumah mama dulu, baru ke tempat Airin, ya.” Aku meletakkan sendok dan menatap piring piring kosong yang ada di meja. Tidak banyak makanan yang tersisa. Selama ini aku hampir tidak pernah makan nasi goreng selain yang dijual oleh pedagang di pinggir jalan, jadi nasi goreng seafood kali ini terasa sangat luar biasa. Rasanya perutku sangat penuh sekarang. “Boleh aku meminta sesuatu padamu sebagai seorang istri?” “Tentu. Apa?” Gibran menopang dagu dan menatapku intens dengan senyum yang makin memperindah parasnya. Aku merasa belakangan ini jadi mudah terpesona oleh pria itu. Sepertinya dia memang punya sihir seperti pena ajaib yang kumiliki. “Meski kita sudah menikah, bisakah kita tidak tinggal di rumah orang tuamu?” Gibran berkedip lembut, tangannya terulur menyentuh rambut kusutku yang masih dibiarkan tergerai. “Aku juga tidak tinggal dengan mereka selama ini. Meski Papa Nuragha adalah papaku, tapi aku lebih suka tinggal di kafe daripada di rumah megah itu.” “Benarkah?” Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Senyuman itu masih saja menghiasi bibirnya, seolah dia memang diciptakan untuk tersenyum sedemikian manis dan membuatku terpesona setiap detik. Tidak-tidak, kenapa aku jadi memujinya terus menerus begini? Pasti ada yang salah dengan isi kepalaku? Kenapa sejak tadi seolah hanya kata pujian yang bisa kutemukan ketika melihat Gibran tersenyum? Ke mana perginya jutaan kosa kata yang kupelajari sejak TK? “Ada apa? Kok, kamu melamun?” “Aku? Melamun? Ti-tidak. Aku hanya kembali teringat pada Airin.” “Ya, sudah, bersiaplah. Kita ke sana setelah ini.” *** Sepanjang perjalanan menuju rumah Airin, pikiranku masih saja berteriak kegirangan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Tsurayya, pergi keluar rumah tanpa harus membayar ongkos dan juga … bolehkah aku menganggap kalau baru saja menemukan satu lagi kegunaan seorang suami? Yups! Supir. Hahaaa! “Ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu?” Aku mengalihkan pandangan dari jalanan di luar sana ke arah Gibran. Dia masih mengenakan kemeja putih yang sama, yang juga digunakan untuk akad pagi tadi. Saat dia menggulung lengan sampai bawah siku, otot-otot di tangannya terlihat begitu jelas. Namun tetap saja, yang paling mencuri perhatian adalah bagian dahi. “Aku hanya sedang berpikir.” “Orang lain berpikir bisa menjadi salah satu tanda kalau mereka masih waras, tapi sepertinya kamu sebaliknya. Kamu terlihat seperti orang gila saat berpikir, karena sejak tadi kamu senyum-senyum sendiri begitu.” Percayalah, sejujurnya aku sendiri masih sedikit ragu, apakah kewarasan otak yang tinggal separuh ini masih membersamaiku atau justru sudah ikut membubarkan diri menyusul separuh yang lain. Terutama sejak pagi tadi ada seorang manusia konyol yang menikahiku seperti mimpi. “Aku hanya sedang berpikir, kalau sepertinya Airin dan Marvel akan sangat cocok untuk dipersatukan.” “Kurasa kamu memang sudah gila,” jawabnya sambil menggeleng dengan senyum meremehkan. Mobil yang dikendarainya berhenti di depan gerbang rumah Airin. Seorang satpam yang sudah mengenalku terlihat segera membuka pagar itu ketika aku menyembulkan kepala dan melambai ke arahnya. “Kenapa? Memang apa salahnya? Manusia papan dan gadis bermulut wasabi, bukankah itu sangat menarik?” “Sepertinya kamu harus mulai menulis cerita fiksi ketimbang berusaha mengubah tadir orang lain. Setidaknya imajinasi liarmu itu akan lebih berguna.” Sekarang mobilnya benar-benar sudah berhenti di halaman. Rumah Airin juga terbilang megah dengan tiang-tiang penyangga yang menambah kesan mewah di terasnya, meski tidak semewah rumah keluarga Ellin. “Asal kamu tahu saja, Marvel itu mungkin selalu bilang kalau dia menganggap Ellin sebagai seorang adik, tapi aku tahu dia memiliki perasaan lebih untuk anak itu.” “Jadi begitu, pantas saja dia terlihat sangat hancur karena kepergian Ellin.” Gibran keluar lebih dulu, dia setengah berlari memutari mobil dan membukakan pintu untukku yang sudah sedikit terbuka. “Aku masih punya tangan untuk membuka pintu sendiri, kamu tidak perlu melakukan ini lain kali.” “Tak masalah, tugas seorang suami adalah memastikan semua yang terbaik untuk istrinya.” “Aku tersanjung,” jawabku meledek dan sedikit meremehkan sambil melangkah keluar. Aku menekan bel pintu beberapa kali. Saat orang tua Airin ke luar kota seperti saat ini, maka rumahnya hanya akan ditempati oleh para pekerja yang menjaga dan mengurus rumah ini. Airin itu anak tunggal, itulah kenapa dia lebih memilih tinggal di rumahku ketimbang rumah besarnya, karena dia selalu merasa sendirian di rumah ini. “Nona Tsurayya?” Seorang perempuan bertubuh gempal, yang kurasa usianya sekitar empat puluh tahunan muncul dari balik pintu setelah beberapa waktu. Matanya bergerak-gerak seperti ketakutan, aku melihat kecemasan di sana. “Apa kabar, Bi? Airin ada?” “Ad-ada, Non, tapi—“ Perempuan itu terlihat takut-takut saat melihat ke arah kamar Airin yang ada di lantai dua. “Tapi? Tapi kenapa?” Belum sempat perempuan itu menjawab, suara gaduh terdengar dari lantai dua, tepatnya dari kamar Airin. Aku segera berlari ke atas diikuti Gibran. Langkahku terhenti di depan sebuah pintu yang sedikit menganga. “Aaa! b******k!” Teriakan Airin dari dalam sana terdengar penuh amarah, entah pada siapa sebenarnya u*****n itu ditujukan. “Rin?” Begitu sampai di ambang pintu, aku terkejut dengan keadaan kamar Airin yang sangat berantakan. Bantal dan selimut yang berada di lantai. Buku dan juga berbagai peralatan make up yang berserakan di bawah kakinya. “Ada apa?” tanyaku sambil melangkah masuk. Gadis itu segera menghambur memelukku sambil sesenggukan. Airin menangis. Kenapa? Terakhir kali dia menangis seperti ini ketika putus dengan pacarnya, tapi bukankah saat ini dia tidak punya pacar? Lalu kenapa? “Ayy, kenapa semua ini harus terjadi padaku?” Suaranya nyaris tidak terdengar, sepertinya dia sudah menangis untuk waktu yang lama. Aku melepas pelukannya dan melihat wajah sedih Airin yang hanya menunduk. Ini sangat asing, bahkan ketika diputuskan oleh pacar yang selalu dia banggakan, Airin menangis sambil mengumpat, tapi sekarang dia bahkan tidak melihatku. “Ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu seperti ini?” Tanganku mengangkat wajahnya agar melihatku saat berbicara. Telingaku sudah terlalu terbisa dengan u*****n dan kata-kata pedasnya, sangat menyakitkan ketika harus mendengar isak tangis yang bahkan hanya berupa isakan yang seolah begitu sesak. “Kupikir Mak Lampir masih tinggal di Gunung Merapi, rupanya sudah pindah ke istana.” Itu suara Gibran. Pria itu masuk dan mendekat ke arahku sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Sungguh, rasanya aku ingin memukul kepalanya sekarang juga karena sudah mengeluarkan candaan di waktu yang sangat tidak tepat. “Gibran? Kamu—“ “Dia datang bersamaku,’ ucapku sedikit kikuk. Rasanya sedikit aneh memang, ketika pagi-pagi aku datang kemari dan itu bersama Gibran. Aku sendiri merasa aneh dengan keberadaan pria itu di sekitarku. “Benar, dia memaksaku mengantarkannya kemari karena tidak bisa menghubungimu sejak semalam.” Airin terlihat tidak bisa menyembunyikan keterkejutan saat ini. Raut wajahnya berubah seketika. Meski masih sedikit terisak, tapi ada senyum yang terlihat di wajah itu. “Wuah, apa Tsurayyaku sudah dewasa sekarang? Sepertinya aku hanya meninggalkanmu satu malam, dan kamu membawa pria itu ke rumah?” Airin tersenyum meledek, seolah aku adalah anaknya yang baru saja membawa pacar menginap di rumah. “Yak! Singkirkan pikiran kotormu itu. Dia datang pagi-pagi sekali ke rumah, bukan menginap.” “Oh, ya? Benarkah?” “Memangnya kenapa kalau menginap? Apa suami dan istri tidak boleh tidur bersama?” Lagi-lagi Gibran mencuri start. Aku baru saja berniat untuk menunda memberikan kabar itu pada Airin, setidaknya sampai keadaannya membaik, tapi mulut Gibran seperti tidak punya rem. Sepertinya memang benar, laki-laki adalah makhluk paling tidak peka di atas bumi. Bagaimana bisa dia melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya dalam sekejap? “Suami istri? Apa maksudnya?” Sekarang Airin memegang kedua tanganku dan matanya menagih sebuah penjelasan. “Tidak, aku tidak akan menceritakan apa pun sebelum kamu memberitahuku kenapa kamu menangis?” Airin malah tersenyum dan membimbingku untuk duduk di tempat tidurnya yang super empuk. Dia sendiri berdiri di depanku dan menggaruk sisi belakang telinga. Sesuatu yang hanya dia lakukan ketika hendak berbohong. Aku sudah hafal itu. “Ah, itu, aku mencari lipstick yang kubeli sebelum pindah ke rumahmu. Aku sudah menyiapkannya untuk pemotretan hari ini. Warnanya sesuai dengan konsep bajuku, tapi sepertinya ada pencuri di rumah ini, jadi aku sangat kesal.” Anak itu menjelaskan sesuatu yang menurutku sangat tidak masuk akal. Aku semakin yakin kalau saat ini dia sedang berbohong. “Rin, aku bukan anak kecil. Kamu tahu itu. Jangan berbohong.” Airin belum sempat menjawab, tapi dering telepon terdengar entah berasal dari mana. Kurasa itu berada di kasur, karena bokongku bisa merasakan benda itu bergetar. Aku melihat ke kanan dan kiri, berusaha menemukan benda itu, tapi Airin menyambar dengan cepat ketika tanganku hampir saja mengambilnya. Dia tidak mengangkat telepon dan hanya mematikannya, lalu kembali tersenyum ke arahku. Entah apa yang sebenarnya dia sembunyikan di balik senyum itu, tapi aku merasa kalau Airin memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku. “Kenapa tidak diangkat?” “In-ini tidak penting. Hanya alarm,” jawabnya sedikit terbata, dan lagi-lagi tangannya menggaruk belakang telinga. Gadis itu lalu melempar ponselnya ke kasur, agak jauh dari jangkauanku. Aku mengernyit, melihat case hape yang hanya hitam polos, bukan gambar Doraemon seperti biasa. “Rin?” Aku menagih banyak penjelasan, bukan hanya tentang penyebab air matanya, tapi juga kebohongan yang baru saja dia lakukan. “Ayya, kamu sudah seperti kakak bagiku. Kamu tahu itu. Aku juga selalu membagi keluh kesah denganmu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kalau memang aku punya masalah, aku pasti akan memberitahukannya padamu.” “Lalu kenapa tadi malam kamu menelponku berkali-kali, dan setelah itu nomormu tidak bisa dihubungi?” “Ah, itu. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku akan menginap di sini, lalu hapeku lowbat dan sampai sekarang aku lupa belum mengecasnya, jadi tidak bisa dihubungi.” Pandanganku beralih dari wajahnya, ke arah ponsel yang tadi dia lempar. Jelas-jelas tadi itu berdering, ‘kan? Hampir saja aku mengambilnya, tapi lagi-lagi tangan Airin menyambar lebih cepat. “Ini ponsel khusus untuk endorsement.” Dia menjelaskan tanpa diminta, dan itu membuatku semakin curiga kalau dia memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku. “Ayolah, Ayy, kamu berhutang penjelasan padaku. Kenapa Gibran bilang kalau kalian itu suami istri? Apa kamu sudah mengiyakan lamarannya?” Pertanyaannya membuatku malu kali ini. Entah kenapa, rasanya sedikit canggung ketika kembali mengingat bahwa aku dan Gibran saat ini sudah menikah. “Kami menikah pagi tadi.” “Mwo! Jinjjayo?” Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. “Woaaah, bagaimana bisa?” Aku menceritakan segalanya yang terjadi pagi ini dan berakhir dengan mendapat toyoran di kening dari Airin. “Sudah kubilang, seharusnya kamu lebih meperhatikan penampilan sebagai perempuan. Kalau kamu mau mendengarkanku, kejadian konyol seperti itu pasti tidak akan pernah terjadi.” “Aku juga merasa itu sangat konyol, dan sepertinya aku tidak akan bisa melupakannya seumur hidup.” “Tetap saja, aku bersyukur karena dia mau menikahimu. Setidaknya aku tidak perlu khawatir lagi kalau sahabatku akan menjadi jomblo abadi.” “Yak!” Tanganku melayang dan memukul keningnya, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. “Kenapa kamu memukulku?” “Apa lagi? Sekarang ceritakan semuanya dengan jujur, kenapa kamu menangis?” Gadis itu menghela napas berat, memejamkan mata, lalu mendongak seolah menghalangi agar air matanya tidak kembali jatuh. “Berdirilah,” pintanya sambil menarik kedua tanganku untuk berdiri, lalu dia memelukku erat. Tidak ada kata-kata yang dia ucapkan sedikit pun, hanya isakan yang terdengar. Lagi-lagi air matanya seperti anak panah yang ditancapkan berkali-kali ke ulu hati. Ini benar-benar sangat menyakitkan. “Rin?” Aku hendak melepaskan tangannya, tapi dia menolak dan hanya memelukku sambil terus menangis. “Biarkan seperti ini, Ayy. Sebentar saja.” “Ayy, sepertinya kita harus segera ke rumah mama. Marvel tidak mengangkat telponku, dan aku baru mendapat kabar kalau mama membuat ulah di rumah.” Rasanya ingin sekali aku melemparkan Gibran ke neraka wail sekarang juga. Dia selalu muncul di waktu yang tidak tepat. Aku baru saja berniat mendesak Airin untuk bercerita, tapi pria menyebalkan itu datang dan mengacaukan segalanya. “Pergilah, aku tidak apa-apa.” Airin melepaskan pelukan dan mengusap air matanya, lalu memintaku untuk mengikuti Gibran. “Tapi—“ “Aku baik-baik saja.” Airin terus mendorongku untuk mengikuti Gibran, meski sebenarnya aku lebih tertarik untuk mendengarkan ceritanya ketimbang mengikuti Gibran ke rumah megah itu. Bagiku, Airin tetap yang paling penting. Meski seribu kali dia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, aku tidak akan percaya. Sedikit banyak, aku sudah memahami sifatnya. Ketika sakit, dia akan mengatakan kalau itu sakit, tapi saat dia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, itu artinya yang dia rasakan memang sangat menyakitkan, sampai takut membuatku khawatir. Apa kebanyakan gadis-gadis normal memang seperti itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN