Gibran berjalan cepat dan setengah berlari ketika menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai tiga. Sepanjang perjalanan dari rumah Airin ke rumah keluarganya, dia lebih banyak diam. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan kalimatnya. Mama membuat ulah lagi, itu yang dia katakan saat mengajakku pergi dari rumah Airin, tapi aku tidak menyangka jika ternyata ulah Nyonya Diana itu berkaitan dengan nyawa. Perempuan itu tengah berdiri di dekat jendela tempat di mana Ellin jatuh. Berteriak seperti orang gila dan tidak segan melukai siapa saja yang berusaha menghentikannya, termasuk seorang suster dan pengawal yang sepertinya sudah sejak tadi berusaha menghalangi niatnya. Tangan kanannya menggenggam pecahan botol, yang kuyakin itu adalah bekas botol minuman keras. Aroma alcohol yang membuat kepalaku pusing, memenuhi setiap sudut ruangan ini. Kamar Ellin.
“Ma, hentikan. Jangan seperti ini. Apa pun yang Mama lakukan, tidak akan membuat Ellin kembali pada kita, sadarlah.”
Perempuan itu menggeleng, tangannya masih mengacungkan botol ketika Gibran berusaha mendekat. Aku ikut meringis ketika kaki perempuan itu menginjak pecahan botol dan meninggalkan bercak darah di lantai. Namun sepertinya dia sudah lupa degan rasa sakit karena luka fisik, aku yakin Nyonya Diana pasti sangat kehilangan Ellin.
“Kenapa mama yang harus sadar? Kalian yang harusnya sadar, Ellin dibunuh oleh seseorang di rumahnya sendiri, tapi tidak ada satu pun dari kalian yang peduli. Apa kalian pikir dia bisa pergi dengan tenang kalau pembunuhnya masih berkeliaran di luar sana!” bentak perempuan itu pada putranya.
Melihat luka di mata Nyonya Diana karena Ellin, aku sungguh merasa kalau gadis itu sangat beruntung memilikinya sebagai seorang ibu, meski bukan ibu kandung.
“Mah, Gibran sedang berusaha menemukan orang itu. Kita pasti akan memberikan hukuman yang setimpal padanya, percayalah.”
Nyonya Diana menurunkan tangannya perlahan seiring tubuhnya yang juga luruh ke lantai. Dia bersandar pada dinding kamar, di dekat jendela tempat Ellin jatuh.
“Gibran, dia masih di sini. Mama terus melihat Ellin jatuh berkali-kali, dia menangis dan kesakitan setiap saat. Mama terus melihatnya. Mama … Mama akan menyusulnya.”
Dengan sangat tidak terduga, Nyonya Diana yang sebelumnya sudah terlihat sedikit tenang, tiba-tiba berdiri dan hendak melompat dari jendela.
Aku refleks berlari mendekat dan mencoba menghentikan. Sialnya, pecahan botol yang dia pegang malah mengenai lenganku sebelum terpelanting ke lantai karena aku menarik tangannya sedikit keras agar menjauh dari jendela.
“Nyonya, apa Anda masih mengingat saya?”
Nyonya Diana mengangkat wajah perlahan. Perempuan itu terlihat pucat dan berantakan, rambut yang biasanya tertata rapi, saat ini dibiarkan tergerai. Keringat bercampur dengan air mata, membuat penampilannya semakin tak keruan.
“Kamu … kamu Nona Penyihir itu, kan?”
Sepertinya pendekatanku berhasil, tangannya bergerak menyentuh wajahku dengan perlahan. Air matanya menderas membuatku semakin iba melihatnya. Tanganku masih memegang kedua tangannya yang terdapat beberapa luka. Entahlah, sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu banyak berempati pada orang lain, hatiku jadi mudah sakit ketika melihat air mata orang di sekitar.
“Benar, aku adalah seorang penyihir yang memgubah takdir orang lain, jadi apakah Nyonya bisa mendengarkanku?”
“Mendengarkan apa? Apa sihirmu bisa membuat Ellin kembali hidup?”
Aku menggeleng, mengangkat tangan kanan dan memandangi tangan yang biasa kugunakan untuk menulis, lalu menjawabnya penuh keyakinan, “Aku tidak bisa membuatnya hidup lagi, tapi aku yakin, aku pasti bisa menemukan pembunuh Ellin dan memberinya hukuman yang setimpal.”
Nyonya Diana menunduk, bahunya bergetar karena menangis. Saat itu, Gibran memberikan isyarat pada suster dan gadis dengan pakaian serba putih itu menyuntikkan sesuatu pada Nyonya Diana. Sepertinya obat penenang, karena selanjutnya Nyonya Diana jadi tak sadarkan diri.
Gibran membaringkan mamanya di kamar Ellin. Perempuan itu bahkan masih terlihat meneteskan air mata saat sudah terlelap.
“Nona, Anda terluka, biar saya obati.” Suster yang tadi menyuntik Nyonya Diana menghampiriku dan melihat luka di lengan. Aku hanya memandang ke arah lengan kanan yang sedikit tergores dan merembeskan darah.
“Tidak perlu, Sus. Hanya sedikit tergores, aku tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum, meski ada sedikit rasa perih.
“Tapi—“
“Tak apa, Sus. Suster jaga mama saja, biar saya yang obati luka istri saya.”
Entah benar atau tidak, tapi aku bisa menangkap adanya ekspresi terkejut di wajah gadis itu ketika Gibran menyebut kata istri sambil mendekat ke arahku.
Gadis itu mundur selangkah, membiarkan langkah Gibran membawanya tepat di hadapanku dan menyentuh bekas goresan itu dengan pandangan iba.
“Maaf.” Pada akhirnya kata itulah yang keluar dari bibirnya sebelum memelukku. Gibran yang ada di hadapanku saat ini, sangat berbeda dengan Gibran menyebalkan yang kukenal sejak beberapa hari lalu, dan juga Gibran tukang gombal yang menikahiku pagi tadi. Gibran yang ini terlihat sangat lemah, meski sihirnya masih sangat kuat sampai membuatku tanpa sadar membalas pelukannya dan menepuk punggung lebar pria itu dua kali.
“Gwen—“ Aku menggeleng ketika sadar hampir berbicara dengan bahasa Korea untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja. “Aku tidak apa-apa,” ralatku dengan bahasa yang baik dan benar. Ah, sepertinya aku terlalu banyak menonton drama Korea sampai membuat lidahku keseleo begini.
“Katakan padanya saat bangun nanti, dia tidak perlu melakukan drama seperti ini. Dia tidak perlu khawatir kuceraikan hanya karena Ellin sudah tidak ada.”
Suara dingin itu seolah berasal dari kutub selatan, pria berpakaian rapi yang berdiri di depan pintu adalah Tuan Nuragha. Entah sejak kapan dia berada di sana, tapi bukankah kata-katanya itu terlalu kejam? Apa dia benar-benar seorang ayah?
***
“Maaf untuk semua kekacauan ini.”
Gibran duduk di sebelahku dan mengobati luka di lengan dengan sangat telaten. Saat ini kami berada di sebuah kamar yang tidak kalah besar dari kamar Ellin. Ruangan dengan banyak jendela dan memiliki balkon, menghadap ke halaman samping yang terbentang luas sebuah kolam renang.
“Kamu tidak perlu minta maaf jika itu tentang ibumu yang mabuk.”
“Tapi keluargaku benar-benar sangat kacau.”
Aku menyingkirkan kotak P3K yang berada di dekatnya, menggeser duduk lebih mendekat dan mencoba melihat sisi lain dari pria konyol di hadapanku. Sampai tadi pagi, aku masih menganggapnya sebagai orang paling tidak masuk akal, tapi saat melihatnya meneteskan air mata dan seolah begitu tidak berdaya seperti sekarang, aku yakin kalau Gibran ini juga manusia normal.
“Gibran,” Tanganku bergerak meraih kedua tangan pria itu. “seburuk apa pun keluargamu, itu masih lebih baik dariku. Setidaknya kamu memiliki seorang ibu yang menganggapmu sebagai anak. Kamu juga memiliki seseorang yang bisa kamu panggil papa, itu ratusan kali lebih baik dariku. Gadis yang kamu nikahi ini sama sekali tidak punya keluarga, asal kamu tahu. Aku tidak pernah tahu siapa ayahku, dan sampai saat ini aku juga tidak tahu di mana mamaku.”
Entah mendapat dorongan dari mana, tapi sekarang aku memeluknya. Membiarkan pria itu menangis dalam diam, entah apa yang sebenarnya dia pikirkan.
“Aku mengajakmu kemari karena ingin memperkenalkanmu sebagai istriku di depan mama, tapi semuanya jadi kacau sekarang. Aku pikir, aku cukup pantas menjadi suamimu, tapi sepertinya aku terlalu buruk.”
“Apa sekarang kamu menyesal?”
Gibran menjauhkan diri, menciptakan sedikit jarak di antara kami, lalu meraih tanganku.
“Aku hanya takut kamu akan pergi.”
Aku tertawa kecil, menertawakan diri sendiri lebih tepatnya. Sejak kecil, aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan. Berusaha abai pada kalimat-kalimat negatif yang dilontarkan orang lain padaku. Itu adalah caraku bertahan hidup. Jika orang lain selalu menyusun rencana untuk besok, lusa, bahkan sampai bertahun-tahun yang akan datang, maka aku hanya menjalani hari ini selagi masih bernapas. Aku pernah mendengar sebuah ungkapan, bahwa orang yang ingin hidup esok hari, akan terbunuh oleh dia yang ingin hidup hari ini. Karena itu, aku tidak pernah memikirkan banyak hal. Hanya menjalani apa yang ada. Seperti pernikahanku dengan Gibran, aku sama sekali tidak pernah merencanakan hal ini, tapi aku juga tidak berencana menolak sesuatu yang telah terjadi. Kami sudah menikah, itu faktanya saat ini. Lalu apa lagi yang harus kupikirkan? Meninggalkannya karena memiliki keluarga yang tidak sempurna? Ayolah, aku bahkan tidak punya keluarga selain Airin dan anak-anak panti yang dipertemukan oleh keadaan. Aku teralu malas untuk berpikir, lebih malas dari melakukan kegiatan mandi.
“Aku tidak ingin mengatakan ini sebenarnya, tapi kurasa kamu juga harus tau. Ada tiga hal yang sangat kucintai di dunia ini, selama aku bisa mendapatkannya, aku tidak akan banyak berpikir hal lain.”
“Apa?”
“Aku mencintai uang, itu yang paling utama. Kedua, makan, dan yang ketiga tidur. Selama kau bisa memberikan tiga hal itu, kurasa aku akan bertahan.”
“Dasar matre.”
Aku bisa melihat guratan senyum di wajahnya meski hanya sekilas. Sangat singkat, sampai-sampai harus berpikir dua kali untuk bisa menyimpulkan bahwa Gibran baru saja tersenyum, tapi aku lega.
“Kamu harus mulai belajar membedakan yang mana matre dan mana realistis.”
Gibran mengusap puncak kepalaku.
“Terima kasih. Aku selalu yakin kalau bocah yang melamarku belasan tahun lalu itu tidak waras, tapi sepertinya memang hanya gadis tidak waras itu yang bisa menjadi teman hidupku.”
“Apa menurutmu pria yang menyimpan kaos kaki bau selama belasan tahun itu normal? Kamu juga tidak waras.”
Tidak kusangka kali ini Gibran tertawa mendengar celetukanku. Tawa ringan, tapi membuatku ikut tertawa.
“Aku berjanji pada ibumu dan juga diriku sendiri, kita pasti akan menghukum pembunuh Ellin siapa pun itu.”
Tepat saat aku berhenti bicara, ponsel Gibran berbunyi. Ada panggilan masuk yang entah dari siapa.
Gibran menjauhkan kepalanya dariku, mengambil ponsel dari saku, lalu menggeser tombol hijau. Pria itu terlihat berusaha menetralkan suara sebelum bicara. Entah dengan siapa dan apa yang dia bicarakan, tapi aku melihat perubahan ekspresi yang sangat kentara di wajah itu, seolah tidak mempercayai apa yang dia dengar.
“Jadi benar, gadis itu juga sedang hamil?”
Mendengar pertanyaan yang dia lontarkan, aku yakin kalau telepon itu dari kantor polisi atau minimal detektif yang menangani kasus Ellin.
“Kamu yakin?”
“Baiklah, terima kasih atas informasinya.”
“Ada apa?” tanyaku menghampirinya saat Gibran sudah mengakhiri panggilan.
“Dugaan kita benar tapi juga sedikit meleset tentang mayat itu.”
“Maksudmu?”
“Dia memang sedang hamil, tapi detektif yang kusewa juga tidak menemukan adanya hubungan antara gadis itu dengan Daniel. Bahkan dia itu seorang wanita penghibur.”
“Jadi, maksudmu ada kemungkinan pembunuh Ellin juga tidak berkaitan dengan Daniel?”
Gibran mengangguk meski terlihat ragu. Aku sendiri tidak yakin kalau Daniel sanggup menghabisi kekasihnya sendiri, apalagi Ellin tengah mengandung anaknya. Namun, fakta bahwa mayat gadis di kebun itu juga sedang hamil membuat otakku menarik sebuah kesimpulan. Pembunuhnya mengincar gadis-gadis yang tengah hamil … di luar nikah.