Keanehan Airin

1643 Kata
*** *** Sebenarnya, otak dan hatiku masih terus menolak untuk membiasakan diri dengan kehadiran sesorang. Perasaan takut akan dibuang lagi membuatku kesulitan mempercayai setiap kata cinta yang keluar dari mulut Gibran, atau siapa pun. Masih terlalu segar aroma kenangan yang menyakitkan itu. Tentang bagaimana seorang ibu melepaskan tangan kecil anak gadisnya dan pergi tanpa menoleh. Jika orang tua yang melahirkanku saja bisa membuangku dengan cara seperti itu, apalagi Gibran yang hanya orang lain? Selain Airin, rasanya aku sangat sulit untuk mempercayai siapa pun. Gadis itu memiliki luka yang sama denganku. Bahkan bagiku hidupnya lebih menyedihkan, karena meski memiliki keluarga tapi dia masih selalu kesepian. Melihatnya membuatku tersadar, bahwa harta dan kemewahan tidak pernah bisa digunakan untuk menukar kebahagiaan. Orang tuanya terlalu sibuk menimbun harta dengan alasan agar kehidupan putrinya terjamin, tapi sepertinya mereka lupa, bahwa seorang anak juga membutuhkan sebuah pelukan. Bukan hanya kemewahan. Hari ini aku kembali berkunjung ke rumah Airin. Sudah seminggu aku disibukkan dengan mengurus Nyonya Diana yang terus berusaha bunuh diri, dan juga membantu Gibran untuk mengungkap misteri kematian Ellin meski masih belum membuahkan hasil yang nyata. Aku rasa orang itu adalah psikopat yang sangat jenius, sampai-sampai polisi tidak bisa mengendus keberadaannya. Bahkan detektif yang disewa oleh Gibran juga tidak menemukan sesuatu yang berarti dari penyelidikan mereka. Sementara Marvel? Manusia arogan yang satu itu menghilang entah ke mana sejak menyatakan mundur dari pekerjaannya sebagai pengawal keluarga Gibran. “Kalau kalian sudah bosan bekerja di sini, kenapa tidak bilang saja, dan malah berusaha meracuniku dengan bawang!” Suara Airin terdengar gaduh di ruang makan, saat aku baru saja masuk. Sepertinya dia sedang melampiaskan kekesalan pada para pelayannya seperti biasa. “Bibi juga! Sudah kubilang berapa kali, jangan gunakan bawang putih, kenapa masih menggunakannya? Itu membuatku … huek!” Gadis itu berlari ke arah wastafel dan muntah di sana. Tangannya mengacung ke belakang ketika seorang pelayan berusaha mendekat, sementara satu tangan yang lain memegangi rambut yang terus berjatuhan ke depan. “Jangan mendekat! Buang saja semua itu, kalau kalian tidak ingin dipecat.” “Jangan dibuang, Bi. Biar saya saja yang makan,” ucapku seraya mendekat, menarik salah satu kursi dan memindahkan nasi beserta lauknya untuk hijrah ke piring di hadapanku. “Tapi, Non—“ “Tidak apa, Bi. Masalah Airin biar saya yang urus.” “Baik, Non.” Airin memang begitu, dia selalu menumpahkan kekesalan pada siapa pun yang ada di sekitarnya kalau sedang punya masalah. Tentang masakan, anak itu sebenarnya sering masak sendiri kalau merasa tidak cocok dengan masakan pekerjanya. Itu sudah hal biasa, hanya saja, biasanya dia tidak semarah saat ini hanya karena bawang. “Nyonya Gibran masih ingat punya teman rupanya, kupikir kalian sedang sibuk memproduksi keturunan.” “Sialan!” Aku melempar potongan brokoli yang bekas kugigit ke arahnya. “Ada apa pagi-pagi sudah kemari?” Airin ikut menarik kursi di sebelahku dan duduk meski tidak ikut makan. “Kamu yang kenapa. Ada apa sebenarnya? Tidak biasanya kamu semarah itu pada bibi.” Aku menyendok sekali lagi masakan bibi yang menurutku rasanya cukup enak. Seperti masakan Airin saat tinggal di rumahku. Setidaknya ini cukup ramah ketika masuk perut. “Tidak ada apa-apa, belakangan ini aku memang sedikit sensitif dengan bawang dan … huek!” Aku mendekat, berusaha menepuk punggung Airin dan memberinya minum, tapi dia malah mendorongku. “Kamu belum mandi, ya?” Aku tertawa konyol dengan tangan memegang gelas dan mengambang di udara. “Aku sudah mandi, kemarin pagi,” jawabku jujur. Sebenarnya di rumah besar Gibran bisa dengan mudah mendapatkan air hangat kalau mau mandi, cukup memutar kran sesuai tombol yang disediakan, air yang mengucur akan berubah hangat. Namun bukan itu masalah utamanya. Sampai detik ini aku masih percaya kalau cantik itu tidak harus mandi, jadi kurasa tidak masalah kalau tidak mandi. Kecantikanku tidak akan hilang satu persen pun. “Ya, Tuhan, apa suamimu tidak keberatan?” “Apa kamu pikir aku akan peduli kalau dia keberatan?” “Dasar! Biar bagaiamanapun, kamu ini perempuan. Setidaknya kamu harus tampil cantik di hadapan suamimu.” “Sudah berapa kali kubilang, kalau cantik dan mandi itu dua hal yang berbeda? Aku tidak harus mandi hanya untuk menjadi cantik.” Aku menyuapkan nasi terakhir dan meletakkan sendok ke piring kosong dalam posisi terbalik. Sekarang aku mulai paham kenapa Airin lebih suka tinggal di rumahku saat orang tuanya pergi ke luar kota, meski rumahnya jauh lebih megah. Ruang makan ini saja mampu membuatku merasakan kelengangan dan kesendirian saat makan, meski Airin ada di sebelahku. Ini terlalu besar untuk dua orang, apalagi saat dia harus makan sendirian. “Tidak, pokoknya jangan pernah mendekatiku sebelum kamu mandi.” Gadis itu berlari ke lantai dua sambil menutupi hidung dengan tangan kiri. “Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia aneh sekali?” “Maaf, Non, tapi sejak hari itu, Nona Airin memang selalu bertingkah aneh.” Bibi yang sudah mengasuh Airin sejak kecil sedang membereskan meja makan. Perempuan itu terlihat takut takut saat berbicara, dan seolah menghindari kontak mata denganku. Dia hanya menunduk sambil terus berbenah. “Maksud Bibi?” “Maaf, Non, tapi—“ Tangannya berhenti bergerak, dia masih menunduk dan terlihat sedikit ragu. “Saat pulang waktu itu, Nona bersama seorang laki-laki asing, sepertinya mereka mabuk. Nona tidak pernah menyentuh minuman keras sebelumnya, tapi hari itu sudah lewat tengah malam dan mereka bersama semalaman. Paginya mereka bertengkar hebat di kamar, pria itu pergi tepat sebelum Nona datang.” “What? Airin … mabuk?” Aku sangat mengenal gadis itu, sebebas apa pun kehidupannya selama ini, dia sama sekali tidak pernah menyentuh minuman keras, apalagi bersama seorang pria semalaman. Apa yang sebenarnya terjadi, dan … siapa manusia biadab itu? “Maaf, Non, sebenarnya Bibi tidak ingin ikut campur, tapi Nona Airin selalu mengurung diri di kamar sejak hari itu. Pria yang datang bersamanya beberapa kali kemari, tapi Nona tidak pernah mau menemuinya. Saya takut, Non.” “Takut? Takut kenapa, Bi?” “Saya sudah merawat Nona Airin sejak kecil, dia tidak pernah bertingkah seaneh sekarang walau sering marah-marah. Kemarin, tengah malam dia membangunkan saya dan meminta saya untuk membuat sup seperti makanan kesukaannya saat kecil. Sudah bertahun-tahun Nona tidak pernah mau makan sup itu lagi, tapi tiba-tiba dia memintanya tengah malam. Nona juga sangat membenci bawang, padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Saya pikir perilakunyaseperti….” Bibi menggantung kalimatnya, menunduk semakin dalam setelah sebelumnya sempat mengangkat wajah saat berbicara. Entah apa yang hendak dia katakan, tapi itu seolah terlihat sangat berat untuk diucapkan. “Seperti apa, Bi?” “Maaf, Non, saya tidak bermaksud lancang, tapi prilaku Nona Airin benar-benar aneh, dia juga minum s**u strawberry yang sebelumnya sangat dibencinya.” “Bi, maaf, tapi otakku terlalu sederhana untuk bisa memahami kalimat Bibi. Katakan saja yang ingin Bibi katakan, dia sudah seperti adikku sendiri, aku harus tahu apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku.” Aku sudah penasaran setengah hidup, karena menurutku Airin memang berubah sejak hari itu. Dia juga masih belum menceritakan apa pun tentang alasannya menangis saat aku datang kemari bersama Gibran, tapi bibi malah berbelit-belit. “Sekali lagi maaf, Non, tapi sepertinya ada yang terjadi malam itu karena mereka bersama semalaman di kamar, dan … maaf, Nona Airin seperti orang yang sedang angkat-angkatan.” “Angkatan, maksudnya?” Otakku berusaha keras mencerna setiap cerita Bibi, dan sialnya dari sekian banyak kemungkinan aku hanya menemukan satu kesimpulan yang paling ingin kupungkiri. “Tidak, tidak mungkin, Bi.” Aku segera berlari ke lantai dua dan menuju kamar Airin. Gadis itu sedang berada di depan meja rias. "Rin….” Mataku terasa panas ketika otak kembali memutar semua cerita bibi. Aku menggigit bibir bawah, sesak yang luar biasa tiba-tiba menyergap saat pandangan tertuju pada perut rata gadis itu. “Jangan mendekat! Pergi ke kamar mandi atau kamu akan kuusir.” Gadis itu mengacungkan tangan ke depan, satu hal yang membuat jantungku mencelos adalah apa yang ada di tangan gadis itu. Sebuah testpack. “Rin, ini tidak mungkin, kan? Kamu tidak mungkin….” Sepertinya dia baru menyadari kalau aku melihat benda di tangannya. Dia terlihat kikuk dan berusaha menyembunyikan benda itu, tapi jelas semuanya sia-sia. Aku sudah melihatnya. “Ayy, kumohon jangan mendekat. Aku sangat mual dengan aroma tubuhmu.” Gadis itu memohon dengan wajah nelangsa, membuatku tidak tega. Pada akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya. *** Setelah memaksaku untuk mandi, sekarang Airin memaksaku untuk memakai pakaian yang sudah dia sediakan. Ini menggelikan, sependek ingatanku, aku hampir tidak pernah memakai yang namanya dress. Pakaian seperti itu sangat tidak cocok denganku, tapi demi Airin, aku memakainya. Untuk saat ini aku harus menurut agar anak itu juga mau membagikan ceritanya. Ini pertaruhan yang cukup adil menurutku. “Aku tidak tahu kalau kamu bisa secantik ini.” Pandangan kami bertemu lewat cermin. Selain memberiku sebuah dress putih yang menurut penilaianku sedikit terlalu pendek karena hanya menutupi sampai sebatas lutut, Airin juga menata rambutku dengan sangat telaten seperti seorang ibu yang mengurus anak gadisnya. “Aku sudah cantik dan juga wangi seperti yang kamu inginkan. Sekarang giliranmu, ceritakan padaku tentang semuanya.” Aku berbalik menghadapnya dan melihat gadis itu masih dengan posisi duduk. Airin mendongak, berkedip beberapa kali, seakan berusaha untuk menghalangi air matanya jatuh di hadapanku. “Siapa manusia b******k itu?” “Ayy, boleh aku meminta sesuatu padamu sebagai seorang sahabat?” “Apa?” “Kumohon, jangan bahas ini dulu sekarang. Rasanya terlalu menyakitkan, mengingatnya membuatku ingin mati. Nanti saat aku merasa baik-baik saja, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu.” “Tapi, Rin?” “Ayy, tolong.” Airin benar-benar mengucapkannya dengan mata memohon, kalau sudah begini, aku bisa apa? Hatiku sakit melihatnya selemah ini, tapi aku juga tidak bisa memaksa anak itu untuk bicara. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk berpikir untuk membuat hatinya merasa baik-baik saja. “Baiklah, tapi ingat satu hal, bahwa aku ada di sini bersamamu.” Airin mengangguk lalu memelukku. “Terima kasih, kamu memang yang terbaik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN