Overthinking

2625 Kata
Hari hari sebelum menghadapi ujian zya berubah sikap jangan untuk pergi ke kantin, zya pun terlihat lebih pendiam dan jarang sekali mengobrol apalagi bersenda gurau dengan teman temannya. Perasaan yang menyalahkan diri sendiri karena merasa jadi orang ketiga di antar milen dan aga. " mungkin lebih baik seperti ini, kembali menjadi introvert" itu yang selalu di ucap kan zya terhadap diri nya sendiri. sheren dan tiara pun terlihat heran atas perubahan sikap sahabat nya itu, yang sebelum nya ceria suka bercanda . bahkan untuk berbincang pun tidak hanya sekedar bertanya mengenai pelajaran. bakalan ketika di ajak ke kantin pun enggan zya turuti dengan alasan zya sudah membawa bekal dan ingin fokus belajar menghadapi ujian. " udah beberapa hari gw engga liat zya" tanya milen sambil menghampiri bangku kantin yang terdapat shereh ,tiara, nina dan tan lainnya. " tau tuh, mungkin lagi dateng bulan kali" ujar tiara ber celoteh " kaya ga tau aja dia kan anak nya moody an apalagi kalo dateng bulan, si biarin aja" jelas sheren pada mereka meskipun sheren curiga pasti ada sesuatu. karena paham sekali jika sahabatnya itu berubah sikap pasti karena aga namun urung dia jelaskan pada teman lainnya. Mungkin nanti jika ada kesempatan sheren akan mencoba deep talk dengan zya. Atau mungkin menanyakan nya sendiri pada aga. pertanyaan yang selalu di pikirkan sheren bagaimana hubungan mereka. bel istirahat usai pun berbunyi dan siswa siswi yang di kantin hendak beranjak kembali ke kelas masing masing. saat hendak beranjak sheren melihat aga masih asyik menikmati makanan yang di beli nya di kantin bersama siswa lainnya. Sheren pun mencoba menghampirinya mumpung teman lainnya sudah berlalu kembali ke kelas. " Aga , kalo udah selesai gw mau ngomong bentar bisa?" tanya sheren pada aga. sebelumnya sheren meminta tiara mengizinkan kannya sebentar dengan alasan perut nya sakit hendak ke toilet dahulu agar tak di marahi oleh guru yang akan mengajar. Aga pun men iyakan, " ada apa ren?" tanya aga tanpa beranjak. " bisa ga kalo ga di sini? " sheren mencoba mengajak nya ke tempat duduk di sisi lain kantin agar tak terdengar siswa yang masih berada di situ. deni yang berada di situ ber celetuk, " sheren ngapain lo ajak aga diem diem ? entar gw adu in lo ama bobi hahah..." goda deni. Namun hanya di balas oleh sheren dengan menjulurkan lidah nya seraya mengejek deni. Sheren paham sekali bahwa cowo nya bobi, bukan cowo yang mudah salah paham. tanpa basa basi sheren langsung menembak aga dengan pertanyaan, " ada apa sih lo ama zya? sebetulnya lo sudah nembak zya belom? terus sebetulnya nya hubungan lo seperti ama sih ama zya??" sebelum sheren berlanjut ke pertanyaan selanjutnya di sela oleh aga " whowww.... wait pelan pelan atuh neng, gw kaya buronan haha..." " bisa ya lo sesantai itu, atau memang sebetulnya lo itu PLAYBOY" ucap sheren sedikit sewot. " kok bisa bisa nya lo cap gw seperti itu?" tanya aga dengan santai sambil tersenyum. " hubungan gw ama zya ya privasi gw ama dia, lagian apa iy perasaan itu harus selalu di ungkapin kalu gw bisa langsung menunjukannya dengan sikap gw" jelas aga. " lagian kaya nya temen lo deh yang seperti nya main main ama gw, kaya sekarang. zya kaya nya menghindari gw, sudah 3 hari gw engga liat zya." lanjut aga . padahal ingin sekali aga melanjutkan dengan berkata bahwa diri nya kangen sekali pada zya, namun dia urungkan karena ego dan gengsi nya yang tinggi. " bener bener ya , lo sebagai cowo ga peka, pantes zya selalu bilang lo ga peka!!!" seru sheren pada aga. " zya bukan hanya menghindar dari lo tapi dari gw dan yang lainnya juga, di kelas pun dia ga pernah ngobrol kalo bukan nanya pelajaran, kalo pulang sekolah dia pun seperti terburu buru." pertegas sheren pada aga. Aga pun terdiam bukannya cuek, dia pun memperhatikan perubahan sikap zya beberapa hari ini, sheren bilang alasan zya karena ingin bekosentrasi untuk menghadapi ujian minggu depan, tapi seperti mustahil bahkan sifat ceria nya seperti hilang di telan bumi. Aga pun berniat sepulang sekolah nanti menemui zya. Bel sekolah pertanda bahwa jam sekolah telah usai. aga bergegas menuju ke lantai 1 agar bisa menemui zya, namun ternyata zya sudah meninggalkan kelas. Dan sheren menyarankan untuk aga menghampiri rumah nya, aga pun mencoba mengikuti saran dari sheren untuk menghampiri ke rumah zya . Tiba di rumah zya aga memencet bel yang berada di pagar, keluar lah mba mirna. " cari siapa? eh bukannya temen nya ka zya ya?" mba seakan sudah mengenal aga karena aga memang beberapa kali pernah main kerumah zya bersama teman yang lainnya. " eh iy, mba mirna masih inget ama aku" jawab aga. " iy lah,... kan di antara temen ka zya yang pernah main ke sini cuma kaka nya aja yang paling keren ,cute n cool" goda mba mirna. " bisa aja mba" sahut aga. " zya ada mba? " lanjut aga menanyakan zya " ada , bentar ya aku panggil, masuk atuh" mba mirna menyuruh aga untuk masuk menunggu nya di halaman rumah ,zya yang ada bangku santai . Zya memang harus menghadapi aga , bahkan beberapa hari ini zya sudah memikirkan matang matang apa yang harus dia katakan pada aga. Jadi dia tak perlu lagi seperti losser yang lari dari masalah, bahkan zya berfikir aga menghampirinya hanya karna simpatik pada nya bukan karena perasaan yang selama ini zya fikirkan. " hai" sapa aga ketika zya terlihat keluar dan menghampirinya dengan suara lembut nya. fikir zya mungkin memang ini sifat aga sebenarnya , yang selalu ramah terhadap semua dan bersikap lembut di balik sifat cool nya. zya berfikir memang selama ini dirinya hanya ke geer an saja atas sikap nya. " hai" saut zya pun dengan singkat. " lo ga papa kan?" tanya aga coba menanyakan kabar zya. " fine, " kembali zya menjawab hanya dengan sepatah kata saja. " hmm" aga tidak tahu lagi apa yang harus di katakan dengan sikap zya yang terlihat dingin terhadap nya. " kayanya gw ganggu lo ya?" tanya aga dengan nada datar. " hmmm gw cuma lagi mau bersiap aja untuk ujian nanti" jawab zya kali ini di tambah beberapa kata. " owh, gw kira lo sengaja menghindar dari gw. atau lo merasa terganggu sama gw?" akhirnya aga menanyakan nya secara gamblang. zya terdiam , mungkin ini saat nya zya harus bersikap pada aga. " gw rasa kita memang harus jaga jarak, bagi gw lo tuh kaya racun tau ga sih" sontak perkataan zya begitu tajam masuk ke telinga aga. " racun?" tanya aga dengan terheran... mencoba mencari penjelasan dengan pernyataan zya. " opss, sorry gw salah. maksud gw , gw yang toxic buat lo" jelas zya dengan nada sinis. " makin ga paham gw ama lo, ada apa sih?" aga tegas coba mencari penjelasan. " sepertinya gw sia sia ke sini menghadapi lo yang childest dan moddy an. itu yang ga gw suka dari lo" ujar aga dengan tegas . " hmm, bagus lah ... udah tau kan gw kaya gini. kan gw bilang tadi kalo gw ini toxic jadi lo mending jauh jauh dari gw, ok" zya mengatakan yang bahkan berat bagi nya. " owh ok... kalo gitu gw balik" aga beranjak dengan rasa kecewa yangvteramat sangat, dan tanpa dia mengerti kenapa zya seperti itu. aga berfikir mungkin memang zya seperti milen cewe yang suka tebar pesona, ketika cowo sudah terpikat dia akan bosan. padahal sudah sedalam itu aga pada zya, tapi kenapa?? namun sebagai laki aga menjaga gengsi nya untuk tidak menangis meskipun itu menyakitkan untuk nya. Namun berbeda dengan zya, ketika sosok aga menghilang dari pagar rumah nya, sesak di d**a melanda di iringi air mata yang mengalir... hingga zya mengurung di dalam kamarnya mengingat sikap manis yang aga lakukan terhadap nya, senyumnya aga,... membuat nya makin sesak. karena di fikir zya , dia hanya sebagai orang ketiga untuk aga dan milen. " aga masih suka milen" hanya kata kata itu yang terngiang di fikiran nya. Hari berikutnya zya masuk sekolah dengan mata sembab, ingin sekali tidak menangis namun hal ini terlalu menyakitkan untuk nya. kedua temannya yang melihat mata sembab nya hanya melihat saling melihat sambil melirik , ingin bertanya namun mereka urungkan. " mungkin nanti kita cari waktu yang tepat" ujar sheren pada tiara. lagi lagi zya menolak ajakan sheren untuk pergi ke kantin. Bahkan ketika milen dan nina menghampiri nya ke kelas zya pun menolak, bahkan ketika melihat milen d**a nya makin terasa sesak. " kenapa dia seperti merasa tidak ada apa apa" ujar zya dalam hati. di kantin milen dan nina coba mencari tahu pada sheren dan tiara karena mereka pikir l zya lebih dekat dengan tiara dan sheren. " serius lo ga tau zya kenapa?" tanya milen namun sepertinya nya sheren coba menutupi nya, " ga usah di tanggepin, zya emang gitu moody an, kan dia bilang mau konsentrasi menghadapi ujian minggu depan" jelas sheren. " owh" seru dengan kompak milen dan nina. kembali ke kelas sheren menghampiri zya, " gw ama tiara nanti boleh ga main ke rumah lo?" tanya sheren pada zya. " mau ngapain?" tanya balik zya dengan ada lemas. " owh jadi gitu ? kalo temen mau main ke rumah temennya itu harus punya alesan dulu ,gitu ya?" tanya shren dengan nada menyindir. " mmm, bukan gitu " zya coba membalas dengan senyum terpaksa. " tapi lo berdua aja yah, gw lagi males kumpul banyak orang" ujar zya. " ok" jawab kompak sheren dan tiara. kali ini tiara pun tidak berceloteh seperti biasanya karena tahu temannya sedang sensitif. Tiba di rumah zya , zya mengajak kedua temannya itu untuk bersantai di dalam kamar nya untuk lebih santai. Zya pun meminta mba mirna untuk menyajikan minuman dingin dan camilan untuk kedua temannya. sheren dan tiara mulai membuka obrolan tipis tipis dan mengajak zya sesekali becanda. finnaly setelah lebih dari seminggu zya lebih pendiam mulai mau mengobrol dan tertawa lepas lagi karena celotehan tiara . Tiba tiba sheren membuka obrolan yang ingin dia tanyakan kepada zya selama ini. " bolehkah gw nanya?" tanya sheren pada zya "semenjak kapan lo ngomong izin dulu ama gw" coba zya untuk bercanda. " hehe.." saut tawa tiara tipis " are u okay zy?" tanya sheren " sure, ok banget" jawab tiara dengan senyum yang terpaksa " plizz deh apa sih yang lo sembunyiin? cerita donk zy " sheren coba merayu nya . dan mereka terdiam menunggu respon zya, selang beberapa saat akhirnya tangis zya pecah " hiks....hiks...hiks..." tanpa ragu kedua temannya itu memeluk nya bersamaan... tanpa berburu bertanya untuk membiarkan zya melepaskan semuanya dahulu. setelah lebih tenang zya terdiam dengan mata nya yang kembali sembab. " lo mau cerita kan ama kita?" tanya sheren. " ga enak lo zy, kalo ada problem di pendam sendiri. minimal lo bisa cerita ama temen yang lo percaya, atau lo ga percaya ama gw dan sheren" tiara terlihat lebih bijak dari biasa nya. Namun zya tertawa kecil mendengar apa yang temannya katakan , karena tak seperti biasa nya. " ye dia malah ketawa, gula Jawa, abis nangis dia ketawa " seru tiara di sambut gelak tawa zya dan sheren. zya coba menjelaskan pada kedua temannya, " lo berdua tau kan kalau disini keluarga gw yang broken, pusing tau ga sih" jelas zya coba menutupi hal lain yang begitu membuat nya sakit. " engga bener,... lo coba nutupin sesuatu ya kan?" curiga sheren ternyata temannya ini lebih peka. " kemarin itu gw kasih saran ke aga buat nyamperin lo ke rumah lo, dan gw yakin aga ke sini. iy kan? " tanya sheren coba memastikan. zya kembali terdiam sambil mengusap matanya agar air mata nya tak jatuh kembali. tangis zya kembali pecah.. " gw ini tuh ga berharga buat siapa pun,... bahkan gw itu cuma perusak baik buat keluarga gw atau pun buat milen dan aga" zya menjelaskan sambil sesegukan. " hei...hei.... tenang zy" tiara coba menenangkan kan di sambut sheren yg membantunya mengambil segelas air u tuk di minum zya agar tenang. lanjut zya menjelaskan dengan lebih tenang dan menceritakan kejadian yang dia lihat dan dengar beberapa hari lalu. " gila ya , tapi tadi kaya orang ga ada apa apa si milen, nanyain lo kaya biasa nya" ketus tiara. " udah lah dia ga salah, gw yang salah persepsi terlalu ke geer an atas sikap aga" zya coba menerangkan pada kedua sahabatnya itu. " lo jangan salahin diri sendiri, yuk ah move on, lo harus bahagia. kan niat lo sendiri,bahagia itu ga harus punya pasangan ya kan" sheren coba membangkitkan semangat zya kembali. "Agree,... semangat semangat " sorak tiara. sontak mereka tertawa bersama. zya tersadar bahwa sesuatu memang lebih lega jika di ceritakan pada seseorang yg di percaya. Ujian pun telah tiba, seluruh siswa siswi berantusias dengan harapan mendapat kan hasil yang terbaik. Di hari terakhir ujian berakhir, para siswa kelas 3 melepaskan penat dengan bersorak saat ujian berakhir seperti terbebas dari penat nya soal soal. "eh kita pada mau kumpul yuk di basecamp lantai 3" ajak tiara pada teman lainnya. sheren meng iya kan ,namun berbeda dengan zya. Dalam pikiran nya pasti di sana ada aga, melihat teman nya itu terdiam sheren paham sekali ada seseorang yang ingin dia hindari. " ya udah lo balik aja, kaya nya lo capek banget ya" ujar sheren pada tiara seolah paham sambil menyenggol bahu tiara seakan memberi kode jangan memaksa nya. " ehh..iy kaya nya ga moody nih gw, gw langsung balik aja ya" jawab zya pada kedua temannya itu. zya pun langsung berlalu untuk kembali ke rumah. Namun beberapa kelas 3 yang akrab akrab saja yang berkumpul, memang ada aga di sana yang terlihat memang aga tidak terlalu banyak bicara, sebenarnya aga ikut kumpul pun aga berat namun dia berharap bisa bertemu zya, dan bisa tersambung lagi komunikasi yang baik karena aga berharap kemarin hanya moody zya saja yang sedang tidak enak.Namun yang di tunggu memang tidak terlihat.Tiara said pada sheren sambil berbisik " ren, aga dari tadi lirik lirik ke arah kita. apa dia nyari si zya lagi?" sheren menoleh ke kanan dan kiri dan belakang di lihat nya milen yang sedang bersenda gurau dengan nina dan teman lainnya. " noh... " sambil memutar kepala tiara ke arah milen. " dia kali yang di cari aga" jelas sheren " hmmm, bener donk ya.. emang b******k, mungkin kalo cogan gitu kali ya ngegampangin perasaan cewe" ujar tiara dengan kesal. Hendi dan bobi yang berada dekat dengan kedua bidadari nya itu menyuruh mereka untuk tidak terlalu mencampuri nya. Hanya tiara yang menceritakan pada hendi apa yang terjadi pada aga dan zya, karena memang tiara sedikit ember. satu persatu mereka beranjak untuk pulang ke rumah masing masing, namun ada sesuatu yang di ganjalkan aga, dia memberanikan diri untuk menghampiri sheren dan tiara yang sepertinya akan beranjak pulang juga. " hei, " sapa aga basa basi " balik yuk bro" ajak hendi se akan paham agar aga terhindar dari serangan kedua cewe ini. Namun sheren dan tiara cuek atas sapaannya. hendi mengajak aga untuk berjalan duluan , aga terheran padahal dia ingin menanyakan bagaimana zya. mereka berjalan di depan menuruni anak tangga sambil di teriaki tiara karena di tinggal oleh cowo nya itu. sambil berjalan hendi memahami sekali perasaan aga, " kelihatan banget ga" seru hendi. " kelihatan apa nya?" tanya aga. " gw tau ini cuma salah paham" hendi said " salah paham ? maksud lo? " tanya aga dengan heran. Mereka berbisik sambil berjalan agar tak di dengar oleh tiara dan sheren yg berjalan tak jauh di belakang mereka. karena khawatir tiara akan marah jika hendi menjelaskan nya pada aga. Namun hendi memberitahu aga apa yang terjadi sebenarnya pada aga. langkah aga di akhir anak tangga terhenti, seakan kaki nya tidak bisa di gerakan ternyata zya melihat nya bersama milen saat itu. " ini salah, ini semua salah paham" dalam hati aga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN