2. Lelah

529 Kata
Sesampainya Mitha dirumah dia langsung menghempaskan badannya dikursi ruang tamu rumahnya. Tampak terlihat sesekali memijit keningnya. Terasa begitu lelah pikirannya karena masalahnya belkangan ini. Fitnah dari para gurunya dan juga kata- kata buruknya. Dia beranjak kearah dapur sekedar untuk membuat teh hangat kesukaannya. Sekedar untuk menghilangkan pusing dan penat. " Baru pulang neng" sapa suaminya yang muncul dari pintu belakang. Mitha menoleh lalu menjawab" iya A' si dedek kemana kok sepi" " lagi tidur" jawab suaminya. " Ya sudah, neng juga mau istirahat A' " pamitnya sambil jalan kekamar dengan membawa segelas teh hangat yang baru dibuatnya. Sesampainya dikamar dia tersenyum melihat putri kecilnya tertidur pulas. Dia meletakan tehnya dimeja kecil kemudian menghampiri putrinya dan mencium keningnya. Kemudian melepas sepatu dan mengganti bajunya. Setelah itu duduk dibibir ranjang sambil sesekali mengusap tehnya. Pikirannya sudah mulai tenang tidak selalu tadi. Tapi tetap saja masih ada rasa yang mengganjal dihatinya. ' Aku tak habis pikir dengan mereka..apa kurangnya aku pada mereka' batinya bertanya- KEmudian dia merebahkan badannya disamping Annisa Putri kecilnya. Pikirannya melayang pada kejadian tadi. Saking lelahnya saai dia tertidur. Mitha terbangun saat handphonenya berdering. Dengan malas dia meraih benda tersebut kemudian menswipe ikon berwarna hijau. " Hallo....Bu..." Belum sempet Mitha menjawab panggilan telepon tersebut. Rupna sang pemanggil dari seberang sudah tidak sabar" " Ya halo..ada apa Bu Ria" jawabnya... " Maaf Bu...maaf banget..bukanya tadi aku tidak mau membela Ibu..tapi aku takut" " Tidak apa-apa Bu Ria, aku paham kok...biarkan saja, yang terpenting apa yang mereka katakan apa yang mereka tuduhkan tidak terbukti bukan" kata Mitha. "Iya ...sih..tapi tetap aku tidak Bu..." Ria berusaha untuk memperlihatkan rasa tidak enaknya pada Mitha. " Sudahlah biarkan saja, gak usah merasa tidak enak. Santuy gues..aku toh tidak apa- apa" sahut Mitha sambil tertawa kecil. " Beneran Bu.. " tanya Ria meyakinkan. " Ya benarlah...sudahlah aku mau makan...lapar..dari tadi Dateng aq belum makan..malah ketiduran".. " Ok..ya sudah kalau begitu.." kata Ria kemudian mengakhiri teleponnya. **** "Kinar apa kamu yakin semua itu benar?" Tanya ketua yayasan si Edi. " Sepertinya semua benar, semua laporan itu benar adanya. Semuanya sesuai barang dan jumlahnya " jawab Kinarsih sambil menikmati pisang goreng. " Tapi kenapa Aning dan Yuyun mengatakan bahwa laporan dan barang yang dibeli tidak sesuai, serta uangnya tidak tau kemana, masalahnya mereka juga tidak dikasih hak mereka." Kata Edi penuh dengan curiga. " Tapi pak, kita tidak boleh percaya gitu aja sa mereka. Nyatanya apa yang tadi dibicarakan dan diperiksa sudah membuktikan" sahut Kinarsih memberikan pengertian pada ayahnya. Orang tua itu menghela nafas panjang. Kemudian meninggalkan ruangan tamu tersebut dan beranjak keluar dari rumah. Dia duduk menyendiri deras dengan muka yang ditekuk. Kinarsih hanya diam saja memperhatikan ayahnya. Di memang tak pernah sependapat dengan ayahnya. Ayahnya dia anggap terlalu naif dan terlalu gampang percaya dengan omongan orang, tanpa menyelidiki atau mencari kebenaran dari informasi tersebut. " Kenapa Nar" tanya Ibunya kemudian duduk disamping Kinarsih. " Itu Bu..si Bapak biasalah pemikirannya itu Lo, kadang tidak aku mengerti". " Sudahlah namanya orang tua maklumin saja ya..." Sang Ibu berusaha menenangkan Kinarsih. " Ya sudah Bu...aku mau istirahat dulu ya..titip anak-anak." Pamit Kinarsih kemudian beranjak kekamarnya. Ibunya hanya mengangguk lantas berlalu menuju ke warung untuk mengawasi Cucu -cucunya bermain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN