1. Fitnah
Kinarsih berjalan kearah barang yang sudah berjajar rapi dimeja dekat papan tulis.
" Bu Aning tolong yang saya sebut dipindahkan ya kemeja sebelah sana" pintanya pada salah seorang dewan guru.
Dari tempat duduknya Mitha memperhatikan mereka mengecek dan memindahkan barang.
" Yang terakhir..buku tulis 10 pak...coba dihitung Bu Aning" pinta Kinarsih.
" Pas Bu...ini 10 pak..." kata Aning sambil memindahkan tumpukan buku tersebut.
" Bagaimana....jadi berapa uang yang sudah saya korupsi...."
Semua melihat kearah Mitha yang duduk santai di kursinya sambil berkata dengan tenang. sementara ketua yayasan yang tadinya begitu tegang dan penuh emosi terlihat menarik napas dan mulai melemah.
" Tidak ada Bu...semua pas dan sesuai dengan laporan" sahut Kinarsih.
" Ok ..semua dewan guru silahkan dila dan dihitung lagi..atau dicocokkan sekali lagi..mungkin ada salah hitung, jadi ad yang kurang karena saya korupsi...." Kata Mitha dengan setengah menyindir para dewan gurunya.
Mereka saling pandang dan terdiam. Semua kekesalan Mitha ditumpahkan saat itu juga. Selama ini dia menahan segalanya. Semua fitnah dan kata- kata yang buruk tentang dia. Hari ini dia mencurahkan semua kekesalannya.
" Bagaimana...masih mau diulang..." tanya Mitha sekali lagi dengan menahan rasa kesalnya.
" Sepertinya sudah cukup Bu...kami dari yayasan sudah melakukan pemeriksaan dan disaksikan dengan dewan guru..semua sesuai dengan laporan. maaf atas ketidaknyamanan dan kesalah pahaman ini." jawab Kinarsih.
" Ok...terimakasih. Dan untuk selanjutnya, agar berhati- hati dalam berkata, " Mitha berhenti sejenak.
" Karena sudah selesai, saya permisi" lanjutnya kemudian mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Begitu sampai diparkiran Mitha menghela napasnya. Walau masih ada rasa mengganjal, setidaknya dia sudah menumpahkan sedikit dari kekesalanya.
Kemudian dia menghidupkan dan meninggalkan halaman sekolah tersebut.
Sedangkan didalam ruangan mereka semua masih terdiam.
" Semuanya selesai silahkan dikemasi barangnya dan kita pulang" kata ketua yayasan kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut terlebih dahulu diikuti oleh anaknya Kinarsih.
Tinggalah tiga orang dewan guru yang masih terdiam bermain dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Ria berdiri dan berpamitan.
" Gimana sih Yu..kok jadi kita yang salah. jelas jelas dia yang pakai uang itu." sungut Aning pada Yuyun setelah Ria pergi meninggalkan mereka.
" Tapi kenapa semua jadi pas begitu ya...kmaren kan kita lihat semua kurang banyak barangnya" jawab Yuyun dengan rasa bingungnya.
" Sudahlah kita pulang" Kata Aning dengan penuh kekesalan.
Yuyun hanya mengekor dibelakang punggung Aning, kemudian mengunci pintu ruangan tersebut.
"Huh..kenapa kesanya jadi aku yang salah" Sungut Yuyun sambil meninggalkan perkiraan sekolah.