Rumah sakit malem-malem emang serem. Lorong putih kosong. Bau antiseptik nyengat. Lampu berkedip. Kayak film horor murah. Alex ngikutin Irfan, jaga jarak dua langkah. Siaga. Dia masih nggak percaya sama polisi b******n ini.
"Orang-orang Krisna nggak bodoh," Irfan bisik sambil jalan. "Mereka bakal curiga kalo ngeliat kita bareng."
"Terus ngapain lo masih di sini?"
"Biar sekalian gue kasih tau situasinya," Irfan ngelirik ke kanan-kiri. "Tara ditembak di paha. Nggak parah. Tapi dia kehilangan banyak darah."
Alex ngepal tinjunya. Bayangin Tara berdarah bikin darahnya sendiri mendidih.
"Siapa yang nembak dia?"
"Cecep. Anak buah baru Krisna." Irfan belok ke lorong sempit. "Orangnya gede. Bekas marinir. Psikopat."
"Gue bakal inget nama itu."
Mereka berhenti di depan lift. Irfan mencet tombol turun.
"Nggak. Kita ke tangga," Alex narik lengan Irfan.
"Kamera di tangga lebih sedikit," Irfan ngangguk. "Pinter juga lo."
Mereka buru-buru ke tangga darurat. Langkah kaki Alex hampir nggak bersuara. Kebiasaan lama. Bergerak tanpa jejak.
"Gue penasaran," Alex nyuarakan pikirannya sambil turun. "Kenapa lo bantuin gue? Bukannya lo sama Tara sekarang...?"
Irfan ketawa pelan. "Gue sama Tara nggak pernah serius."
"Tapi lo deket sama anak gue."
"Ironis ya?" Irfan berhenti sebentar, natap Alex. "Gue yang cerita ke Karim soal bapaknya yang petarung hebat. Padahal gue benci setengah mati sama lo."
"Kenapa?"
"Karena Tara nggak pernah bisa lupain lo." Irfan lanjut turun. "Empat tahun gue sama dia. Tapi matanya selalu nyari lo setiap ngeliat petarung di ring."
Alex diem. Ada rasa aneh di dadanya. Campuran antara puas dan bersalah.
"Itu." Irfan nunjuk pintu besi di ujung tangga. "Ruang rontgen. Tara di dalam."
Alex maju, tapi Irfan nahan tangannya. "Tunggu."
"Apa lagi?"
"Gue nggak tau motif lo balik." Irfan natap tajam. "Tapi kalo lo cuma mau ambil duit itu dan kabur lagi, mending lo pergi sekarang."
Alex ngedorong Irfan ke tembok. Keras. Leher Irfan dicengkeram.
"Lo nggak tau apa-apa tentang gue."
"Gue tau lo ninggalin cewek hamil," Irfan nggak melawan. "Gue tau lo khianatin Krisna. Dan gue tau lo sekarang jadi pemburu bayaran."
"Berisik!" Alex neken leher Irfan lebih kuat.
"Bunuh gue kalo mau," Irfan tersenyum tipis. "Tapi lo nggak bakal bisa ketemu Tara."
Alex ngelepas cengkeramannya. Mundur selangkah. "Cepet buka pintunya."
Irfan ngeluarin kartu akses, ngegosoknya ke sensor pintu. Lampu merah jadi hijau. Klik.
"Masuk sendiri," Irfan mundur. "Gue tunggu di sini. Lima menit. Nggak lebih."
Alex dorong pintu, masuk ke ruangan gelap. Cuma ada satu lampu kecil di sudut. Di tengah ruangan ada ranjang. Sesosok tubuh terbaring di sana.
"Tara?"
"Jangan nyalain lampu," suara lemah menjawab.
Alex ngedeketin ranjang itu pelan-pelan. Matanya mulai terbiasa sama kegelapan. Tara terbaring dengan selang infus. Wajahnya pucat. Bagian pahanya diperban tebal.
"Lo beneran dateng." Tara berusaha bangun, meringis kesakitan.
"Jangan gerak," Alex duduk di pinggir ranjang. "Gimana kaki lo?"
"Pernah lebih parah," Tara senyum tipis. "Masih inget waktu lo pulang dari melawan Taufik? Rusuk patah tiga."
"Dan lo yang jahit luka di dahi gue," Alex nyentuh bekas jahitan di pelipisnya. "Masih ada bekasnya."
Mereka diem. Lima tahun berlalu tapi kenangan masih segar.
"Jadi lo udah tau tentang Karim?" Tara tiba-tiba nanya.
Alex ngangguk. "Kenapa lo nggak pernah bilang?"
"Mau bilang kemana?" Tara ketawa getir. "Lo ngilang. Nggak ada jejak."
"Gue bisa dijelasin—"
"Nggak perlu," Tara motong. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang penting, lo harus denger ini: Krisna sekarat, tapi dia nggak sendiri. Ada orang di belakang dia."
"Dewan?"
"Lebih besar dari itu." Tara megang tangan Alex. Dingin. "Mereka nggak cuma nyari duit yang lo bawa kabur. Mereka nyari sesuatu yang lebih berharga."
Alex ngerutin dahi. "Dokumen?"
"Hardisk." Tara bisik. "Berisi data semua backing penyelenggara pertarungan ilegal. Politisi. Jenderal. Pengusaha."
Alex terdiam. Hardisk? Dia nggak inget soal hardisk. Ingatannya soal malam itu masih buram.
"Gue nggak—"
"Lo nggak inget karena mereka bikin lo lupa," Tara motong lagi. "Pertarungan terakhir lo. Minuman yang dikasih Krisna sebelum tanding. Itu obat."
Kepala Alex berdenyut. Potongan ingatan mulai nyambung. Minuman aneh. Rasa pahit. Pandangan kabur. Lalu... kekosongan.
"Lo mau bilang..."
"Mereka manipulasi ingatan lo," Tara ngomong pelan. "Itu teknik lama intelijen. Buat lo lupa detail penting tapi tetep bisa fungsi normal."
"Gila." Alex berdiri, mondar-mandir. "Itu nggak masuk akal."
"Masuk akal kalo lo bawa sesuatu yang bisa ngehancurin mereka." Tara duduk pelan-pelan. "Hardisk itu milik Menteri Dalam Negeri yang jadi backing utama Dewan. Dia nitip ke Krisna. Dan entah gimana, lo nyuri pas kabur."
Alex ngerasain kepalanya mau pecah. Ada ingatan samar. USB. Hardisk kecil. Dimasukin ke saku. Tapi kenapa? Apa motifnya dulu?
"Kenapa lo baru cerita sekarang?"
"Karena gue baru tau sebulan lalu," Tara ngeluarin amplop dari bawah bantal. "Dari ini."
Alex nerima amplop itu. Isinya foto. Foto Alex lima tahun lalu, lagi masukin sesuatu ke saku di ruang ganti. Hardisk kecil.
"Siapa yang ngambil foto ini?"
"Gito." Tara ngejawab. "Sahabat lo yang mereka bunuh."
Alex megang kepalanya. Pusing. "Ini terlalu banyak."
"Dan masih ada lebih banyak lagi." Tara narik tangan Alex. "Tapi kita kehabisan waktu. Lo harus pergi. Bawa ini." Dia nyodorin flashdisk kecil.
"Apa ini?"
"Pesan dari Gito. Dia ngirim ke gue sebelum mati."
Tiba-tiba pintu didobrak keras. Alex refleks narik pisau dari saku.
Irfan masuk terengah-engah. "Mereka tau! Kita harus keluar sekarang!"
"Siapa?"
"Orang-orang Krisna! Mereka—"
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan menembus pintu. Irfan roboh ke lantai. Darah muncrat dari punggungnya.
"Fan!" Alex berlutut, nyoba nahan darah.
"Pe...rgi!" Irfan ngomong susah payah. "Lindungi... Tara..."
Alex ngeliat ke Tara yang udah turun dari ranjang, megangin pahanya yang berdarah.
"Lo bisa jalan?"
Tara ngangguk lemah.
"Irfan..." Alex bisik.
"Pergi... bodoh!" Irfan ngedorong Alex. "Gue... nggak bakalan... mati... gara-gara... tiga peluru... kecil..."
Alex narik Tara, ngebuka pintu darurat di belakang. Suara derap langkah makin deket.
"Raja Gelap!" Suara berat teriak dari lorong. "Keluar lo! Nggak ada jalan lain!"
Alex bisik ke telinga Tara: "Percaya sama gue?"
Tara ngangguk.
Alex ngegendong Tara di punggung, lari ke tangga darurat. Di belakang, suara tembakan bertubi-tubi. Irfan berteriak kesakitan.
Darah Tara merembes ke jaket Alex. Hangat. Lengket. Pengingat bahwa waktu mereka semakin sedikit.
"Kita harus ke tempat Karim," Tara bisik lemah di telinga Alex. "Mereka juga nyari dia."
"Kenapa?"
"Karena dia... kunci..." Tara pingsan di punggung Alex.