Dua...

1159 Kata
Sambil menikmati sepinya malam, Risha duduk di teras depan, ditemani secangkir teh hangat yang sengaja dia buat, serta sepiring roti bakar yang tadi dibelikan oleh kekasih dari sahabatnya itu, yang sengaja dibelinya saat ingin berkunjung ke kontrakan, dan diberikan ke pada Risha, sebagai peneman kesendirian Risha, karna Vania diajak pergi mencari makan oleh Andre—kekasih sahabatnya itu. Dan tak lupa ejekan yang dia beri, karna Risha harus menjadi penjaga rumah, lantaran dia seorang Jomblowati. "Nih, gue beliin roti bakar kesukaan lu, sebagai teman kesendirian lu," Ucapan lelaki tersebut. Diikuti dengan tawa ejekan has lelaki itu. Mereka sudah saling mengenal, sejak Andre mulai mendekati Vania, karna apapun yang Vania ataupun Risha rasakan, mereka saling berbagi cerita. "Iri, bilang Bosss..!!!" Hanya itu jawaban yang Risha berikan, dan membuat kedua insan yang sedang jatuh cinta, tertawa se'enaknya, tanpa memperdulikan bibir yang mengerucut, sebagai kesempurnaan kekesalan Risha. Di tengah kesendiriannya, Risha teringat percakapannya dengan Vania tadi sore. "Memangnya, lu lagi kenapa sih Rish, sampe-sampe motor gue jadi korban?" Tanya Vania sambil menghela nafas pelan. Dia sangat tau, Risha enggak mungkin se'ceroboh itu, bila tidak ada yang mengganggu fikirannya. Risha menarik nafas dalam, dan membuang secara perlahan, berharap fikirannya lebih tenang, memejamkan mata, dan berfikir 'jujur enggak ya, kalau jujur pasti dia ngamuk' batin Risha bermonolog. Hanya helaan nafas yang keluar dari mulutnya, dia paling tidak bisa berbohong, karna sekalipun dia berbohong, Vania selalu tau kalau Risha tidak berkata jujur. "Ehmm..." Berdehem meredamkan rasa gugup, dan takut yang mendera. "Gue... Gue keingetan Abang.." Lirih nya, sambil menunduk, takut-takut sahabatnya akan marah ke padanya. "Astagaa Rish... Please deh yaa," "Gue bukan enggak ngebolehin lu untuk inget sama Almarhum, tapi lu harus inget situasi dan kondisi lu kaya apa, lu lagi ngendarain motor, lu harus fokus!" "Untung cuma motor yang kenapa-napa, coba kalau terjadi sesuatu sama lu, gue enggak mau lu kenapa-kenapa!" Vania begitu marah dengan jawaban yang diberikan Risha. Bukan... Bukan lantaran dia tidak suka dengan fikiran Risha, yang selalu ingat dengan Almarhum suaminya, tapi, lantaran Risha yang tidak bisa melihat sikonnya seperti apa. "Tuh kan... Lu marah-marah sama gue..." Sambil mencebikkan bibirnya serta menyilangkan tangan di d**a. Seperti bocah yang lagi ngambek karna tidak diberikan jajan sama ibunya. Seperti itu lah mereka, Risha yang manja ke pada Vania, seolah-olah kalau dia itu adiknya Vania, dan Vania yang selalu menghawatirkan keadaan Risha, panik bila ada sesuatu yang terjadi pada Risha, dan marah-marah seperti seorang Kakak pada adiknya, ketika Risha melakukan kesalahan. "Serah looo!! Gue udah capek ngomong sama lu!! Lu perempuan paling tambeng yang gue kenal!!" Marahnya Vania. Marah karena—kecerobohan Risha, bukan karna fikiran Risha. Dia sangat tau bagaimana keadaan Risha, karena dialah salah satu orang yang ikut andil, dalam membangkitkan Risha dari keterpurukannya, dikarnakan suami yang meninggalkannya untuk selama-lamanya. Yaaa... Risha adalah seorang janda, di usia yang masih muda, 22 tahun saat dia menikah dengan Immanuel Belfier —almarhum suami Risha. Dan menjadi janda, di saat dia dan suami sedang merasakan indahnya rumah tangga yang hanya sesaat. Di usia pernikahan yang terbilang sangat singkat, hanya 1 bulan lamanya. Sekarang di usia 23 tahun, dia telah menjadi janda muda. Tanpa sadar air mata Risha kembali luluh, mengingat almarhum adalah hal paling menyakitkan baginya. Sakit... Karna dia sangat mencintai almarhum, dan begitupun sebaliknya. Pernikahan, yang dilandasi dengan rasa cinta, adalah hal yang sangat ia impikan. Dan dia merasakannya walau hanya sebentar. Tak kuat terlalu lama mengingat itu semua, Risha mencoba berdamai dengan perasaannya, menarik nafas dalam, sambil memejamkan mata, berharap hati dan fikirannya dapat berdamai. Menghela nafas pelan, menghapus jejak air mata yang sudah mengalir deras. Dia berusaha menguatkan dirinya sendiri. "Udah Rish, Abang udah tenang di sana, dia sudah bahagia di pangkuan Tuhan." "Tinggal lu yang harus kuat, dan bahagia menjalani hidup lu yang sekarang." Ucapan yang dia ucapkan untuk dirinya sendiri, untuk menguatkan hatinya, dan untuk meredamkan emosionalnya. Menarik nafas—dalam, dan mengelurkan secara perlahan, adalah salah satu cara agar dia bisa lebih tenang. Berbalik merapihkan meja yang terdapat satu gelas teh yang sudah dingin, dan sepiring roti bakar, yang sudah tidak menarik lagi untuk disentuh. Membawanya masuk, dan menaruhnya di dapur, untuk sarapan besok pagi, hanya tinggal dipanaskan di magicom saja menurutnya. Masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan muka dan menggosok giginya, adalah ritual yang selalu dia lakukan sebelum beranjak tidur. Selesai dengan ritualnya, dia masuk ke dalam kamar, kamar yang ditempatinya berdua dengan sahabatnya itu. Kamar yang isinya hanya kasur yang begitu sederhana, yang hanya cukup untuk dua orang, serta dua buah lemari yang terbuat dari pelastik, serta meja kecil untuk tempat alat make up mereka, dan cermin yang menempel di tembok. Kontrakan kecil yang hanya terdapat tiga ruangan, namun itu sudah cukup untuk mereka tinggali berdua. Sebelum Risha tidur, dia selalu memandangi foto pernikahannya dengan almarhum, yang disimpan di dalam memory ponselnya. Ponsel yang dibelikan Noel, saat Risha berulang tahun, tepat di usia 22 tahun. Memandangi foto itu, lalu mengelus wajah yang terdapat di dalam foto itu, sambil mengucapkan do'a. "Tuhan... Jaga dia di sisi-Mu, dekap dia dalam kasih-Mu, tempatkan dia di Syurga-Mu. Aamiin..." Do'a tulus yang selalu di panjatkannya ke pada Tuhan. "Adek kangen sama abang, bantu adek ya bang, agar adek kuat menjalani hidup ini." Mengecup layar phonselnya, lalu menaruhnya di samping bantal. Matanya mulai memejam, berharap dapat tidur dengan nyenyak, dan menyambut esok hari dengan semangat. *** "Pagi, Rish," sapa Nia yang ada di dapur sedang membuat teh hangat, sambil—cengengesan. Menghentikan aktifitasnya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk di tangannya. Menatap horor sahabatnya, serta mengerutkan kening. Merasa heran, tumben banget sabatnya sudah bangun jam segini. Menurutnya, ini masih terlalu pagi untuk bangun, bagi seorang Vania. Baru jam 06:00, dan itu adalah moment yang sangat langka, karna Vania biasanya bangun jam setengah delapan, mepet dengan waktu untuk berangkat kerja bila ia dapat shift pagi. "Tumben banget nyonyah udah bangun?" Terkekeh—geli sendiri, karna tidak biasa-biasanya sahabatnya sudah bangun jam segini. "Sial emang lu..!!" Kesal Vania, sambil menimpukkan sendok yang dia pegang ke arah Risha. "Haa...Haa.... Haa..." Risha tertawa dengan cukup kencang, karna kekesalan sahabatnya itu "Lagian lu, kesambet apaan coba, enggak biasa-biasanya, jam segini udah melek, biasanya juga masih molor." Terkekeh, sambil mengambil sepiring roti bakar yang sudah dia panaskan di dalam megicom, sebelum dia mandi. "Lah! Itu bukannya roti yang semalem dibawa Andre?" Bukan memberi jawaban, Vania malah bertanya, karna heran melihat roti bakar yang berubah menjadi roti kukus, yang dibawa Risha menuju ruang depan, dan dia mengekor di belakang Risha dengan membawa dua gelas teh hangat. "Ia, semalem gue masih kenyang, jadi gue simpan aja buat sarapan kita pagi ini," jawab Risha memberikan alasan yang masuk akal. Sambil memicingkan mata, Vania merasa curiga atas jawaban Risha. "Loh, kok... bisaa? Kaya nya enggak mungkin banget deh." Pertanyaan sekaligus kecurigaan yang Vania berikan Dan Risha hanya mngangkat bahu cuek. Vania menatap penuh curiga, namun yang ditatap hanya memberikan cengiran. Cuek, dengan tatapan intimidasi sahabatnya, Risha mulai melahap roti bakar yang sudah dingin, mengunyahnya pelan, seakan-akan menikmati makanan yang berada di dalam mulutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN