bc

DON'T LEAVE ME, PLEASE!

book_age18+
59
IKUTI
1K
BACA
sex
family
arranged marriage
drama
sweet
heavy
city
office/work place
small town
like
intro-logo
Uraian

Warning...!!!

Mengandung unsur dewasa 21+. Harap bijak dalam memilih bacaan, karna terdapat juga adegan kekerasan dalam rumah tangga, dan kata-kata kasar.

Bagi yang tidak kuat, harap tinggalkan.

Memiliki keluarga kecil, yang hidup dengan kerukunan dan kebahagiaan, penuh cinta dan kasih sayang, adalah impian setiap wanita, termasuk wanita cantik bernama asli Arisha Bethany.

Tapi, dia tidak merasakan itu semua, di dalam kehidupan rumah tangganya.

Janda muda yang hidupnya penuh dengan kesedihan di masa lalunya, kekecewaan atas perlakuan mantan kekasihnya, dan keterpurukan karna ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh suaminya. Membuat dia harus berjuang untuk bangkit.

Bertemu dengan Bryan Adinata, montir tampan dan begitu mempesona, yang mampu meluluh lantakan hatinya, dan siap menjadi teman hidupnya.

Namun, semua tak seindah ekspektasinya. Konflik-konflik dalam rumah tangganya, membuat Risha meninggalkan Bryan.

Di tengah gonjang-ganjing keretakan rumah tangganya, Risha bertemu kembali dengan mantan kekasihnya.

Mampukah Risha mempertahankan Rumah tangganya dengan Bryan ?

Ataukah dia kembali pada mantannya ?

Ini, adalah sequel dari "My Hero"

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertama
"Dek, kamu baik-baik ya... Jadi wanita tangguh, bila diterpa angin kencang, kamu tetap berdiri," "Abang yakin Kamu mampu, Abang tau kamu hebat, kamu wanita tegar, makanya Abang sayang sama kamu, dan Abang akan selalu menjaga kamu, dari jauh." Bruaaakkk...!!! "Aaaaa...!" Sebuah motor matic yang dikendarai oleh seorang perempuan cantik, dengan memakai kemeja putih polos, celana panjang bahan berwarna hitam, dengan riasan tipis, dan rambut yang dikuncir kuda. Membuat penampilan wanita itu semakin cantik, namun, sekarang keadaannya tidak baik-baik saja. Motor matic berwarna putih dobe, yang menubruk mobil angkutan umum di depannya, kini tak sesempurna sebelumnya. Tapi jangan salahkan angkotnya ya, salahkan fikiran wanita itu yang melanglang buana entah kemana rimbanya. Gadis itu dibantu warga sekitar, untuk berdiri, dan membangunkan motornya. Dengan tertatih dan suara ringisan yang keluar dari mulutnya, wanita itu berjalan, dan ditepikan ke subuah warung yang ada di dekat TKP tersebut. "Minum dulu, Neng, biar lebih tenang," ucap seorang ibu paruh baya, sambil menyodorkan segelas air mineral. Tanpa ragu, ia menerima segelas air mineral itu, dan meminumnya perlahan. "Makasih ya Bu, maaf merepotkan Ibu." Seulas senyum manis—dengan dua lesung pipit di pipinya, dan dengan rasa tak enak hati, ia berikan kepada ibu sang pemilik warung tersebut. "Gimana keadaannya Neng? Apa ada luka yang serius?" tanya si Ibu. Dengan perasaan khawatir, takut-takut jika ada sesuatu hal yang lebih serius, yang dirasakan wanita itu. "Makasih Bu, Saya tidak apa-apa kok, cuma kaget aja, dan sekarang sudah lebih baik." Lagi, wanita itu menunjukan—senyuman manisnya, memberi keyakinan pada si ibu, bahwa dirinya baik-baik saja. Setelah ia tenang, sambil meringis ia berjalan melihat motor yang tadi ia kendarai. "Astagaaa... Motor Nia.." Lirihnya, dengan perasaan nelangsa, serta syok, ia menutup wajahnya. Bingung harus bilang apa, pada gadis yang kebawelannya tingkat Dewa tersebut, yang menjadi sahabatnya sejak dulu. Dengan tampang melas—semelas mungkin—ia kembali duduk, sambil memegangi kepalanya, yang terasa pusing mendadak. Sadar dengan gerak-gerik yang wanita itu tunjukan, si ibu pun menenangkan wanita itu. "Motor masih bisa diperbaiki Neng, yang penting si Neng-nya ga kenapa-kenapa." Memang benar adanya, motor masih bisa dibeli, kalau nyawa, apa bisa dibeli lagi kalau sudah melayang. Tetapi, permasalahannya, dia harus berhadapan dengan sahabat bawelnya tersebut, namun, sangat ia sayangi. "Ia sih bu, tapi itu motor punya temen Aku... Aku harus bilang apa ke dia, soalnya dia itu bawel banget orangnya." Mengungkapkan kegundahannya pada si ibu, sambil mencebik serta memberikan muka nelangsanya, dan muka orang ingin menangis. Seolah-olah dia orang yang paling terzolimi. Padahal kan ya, motornya yang terzolimi, karena fikiran dia yang berkeliaran, sehingga tidak fokus melihat keadaan di depannya. Sungguh terlalu si Risha... Dan si ibu hanya tersenyum—menahan tawa. Melihat betapa lucunya muka gadis cantik yang ada di depannya itu. (Gadiiiss?? Kau masih Gadis atau sudah Janda... Tariiik maang... Hehehe) "Ya udah, Neng bilang aja apa yang sebenarnya terjadi," saran si ibu agar gadis itu sedikit lebih baik. Baginya, itu bukan saran yang baik. Dan, lagi-lagi dia mencebik, serta memanyunkan bibirnya. "Justru kalau dia tau yang sebenarnya, makin murka lah perempuan itu." Sambil sedikit terkekeh—megingat bagaimana temannya akan marah dengan alasan yang ia beri. "Ada-ada ajah si Neng yaa." Menggelengkan kepala, si ibu menjawab sambil terkekeh kecil. "Ya udah Bu, Saya mau permisi pulang," pamitnya kepada si ibu. "Makasih banyak ya Bu, sudah mau menolong Saya, dan mau ditumpangin sama Saya," lanjutnya—sambil terkekeh. "Sama-sama Neng, sesama mahluk hidupkan harus saling tolong-menolong, jadi enggak perlu sungkan gitu," jawab si ibu dengan diiringi—senyuman yang begitu hangat. Sambil merapihkan pakaiannya, dan memakai tas selempangnya, serta helm hitam khas pemberian dari showroom. Ia beranjak dari warung dan menaiki motornya. Ia kembali berpamitan pada ibu tersebut. "Sekali lagi, terimakasih ya Bu... Maaf merepotkan." "Iya Neng, hati-hati ya, jangan ngelamun lagi bawa motornya." Sedikit meledek dengan—kekehan si ibu menjawab. "Aihh Ibu, tau aja... Yaudah saya pulang ya bu. Mari Bu..." Sedikit—menundukkan kepala, lalu dia pergi dari warung itu. ~~~ "Rishaaaa....!!!" Teriak seorang gadis dari halaman depan rumahnya. Sambil menutup telinga, gadis yang merasa dipanggil namanya mendekat. "Apaan si lu Ni, teriak-teriak kayak di hutan lu," jawab wanita yang merasa dipanggil namanya. "Ini, motor gue. Kenapa jadi begini? Emang lu apain?!" Kesal Nia, sambil menunjuk spakbor depan motor yang patah, serta sebagian lampu motor yang pecah. "Ya ellah Ni... nanti kalau gue sudah gajian, gue benerin motor lu, ok ok.." Memberikan tampang—sok imutnya, Risha berusha merayu Nia, agar tidak murka kepadanya. Arisha Bethany dan Vania Calysta. Mereka adalah dua orang sahabat yang saling melengkapi. Yang satu agak bar-bar, dan yang satunya agak pemalu. Sering ribut, tapi tidak pernah saling menyakit, saling mengerti satu sama lain. Karna persahabatan mereka dimulai, sejak mereka kecil, hingga sekarang. "Nunggu lu gajian? Lu masuk kerja ajah baru 3 hari ini." Sambil mendengus lalu berjalan meninggalkan Risha dan masuk ke dalam rumahnya, sambil—menghentak-hentakkan kakinya. Risha tergelak melihat kelakuan sahabatnya itu, dan ikut masuk ke dalam rumah yang telah mereka tempati sekarang. Mereka tinggal bersama di sebuah rumah petakan yang mereka sewa. Awalnya hanya Nia yang mengontrak di rumah itu, karna dia bekerja di daerah yang tidak jauh dari kontrakan tersebut. Dia memilih mengontrak, agar pulang-pergi kerja jadi lebih cepat, karna kalau pulang serta pergi dari rumah orangtuanya, cukup jauh jarak yang dia tempuh, memakan waktu 1 jam perjalanan. Belum lagi saat macet, bisa-bisa satu setengah jam perjalanan. Maka dari itu, dia lebih memilih mengontrak rumah, walaupun kecil, tapi dia tidak kecapek'an di jalan, baik waktu pulang ataupun pergi. Dan pastinya dia jadi tidak terburu-buru saat berangkat bekerja, karna sering bangun kesiangan. Sedangkan Risha, dia baru satu minggu di sini, dia juga bekerja di daerah tersebut, namun tidak satu tempat dengan Vania. Risha baru bekerja selama tiga hari ini, dan dia masih magang/traning di toko tersebut. Sedangkan Vania, dia tinggal di sana sudah hampir satu tahun, bekerja sebagai pramuniaga, di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu. "Maaf ya Ni.. Gue ceroboh," lirih Risha, sambil—menundukkan kepala, berpura-pura sedih—tapi dia memang sedih sih—agar mendapat simpatik Vania, karna dia tau, biarpun sahabatnya itu bar-bar, tapi dia orangnya enggak tegaan, apalagi sama Risha, dia selalu saja merasa iba. "Ok!! Gue maafin, dan nanti pakai uang gue dulu buat benerin itu motor." Menghela nafas panjang. Dan benar saja, ahirnya Vania luluh juga, karna dia paling tidak tegaan, kalau melihat Risha sudah dalam mode seperti itu, dia sangat tau bagaimana kehidupan Risha dari dulu. Susah senang mereka jalani bersama, saat sedih ataupun bahagia, mereka saling berbagi, saling mensupport, saling merangkul, dan saling percaya satu sama lain. Itu lah persahabatan yang mereka jalin selama ini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook