Pertama
"Dek, kamu baik-baik ya... Jadi wanita tangguh, bila diterpa angin kencang, kamu tetap berdiri,"
"Abang yakin Kamu mampu, Abang tau kamu hebat, kamu wanita tegar, makanya Abang sayang sama kamu, dan Abang akan selalu menjaga kamu, dari jauh."
Bruaaakkk...!!!
"Aaaaa...!"
Sebuah motor matic yang dikendarai oleh seorang perempuan cantik, dengan memakai kemeja putih polos, celana panjang bahan berwarna hitam, dengan riasan tipis, dan rambut yang dikuncir kuda. Membuat penampilan wanita itu semakin cantik, namun, sekarang keadaannya tidak baik-baik saja.
Motor matic berwarna putih dobe, yang menubruk mobil angkutan umum di depannya, kini tak sesempurna sebelumnya. Tapi jangan salahkan angkotnya ya, salahkan fikiran wanita itu yang melanglang buana entah kemana rimbanya.
Gadis itu dibantu warga sekitar, untuk berdiri, dan membangunkan motornya. Dengan tertatih dan suara ringisan yang keluar dari mulutnya, wanita itu berjalan, dan ditepikan ke subuah warung yang ada di dekat TKP tersebut.
"Minum dulu, Neng, biar lebih tenang," ucap seorang ibu paruh baya, sambil menyodorkan segelas air mineral.
Tanpa ragu, ia menerima segelas air mineral itu, dan meminumnya perlahan.
"Makasih ya Bu, maaf merepotkan Ibu." Seulas senyum manis—dengan dua lesung pipit di pipinya, dan dengan rasa tak enak hati, ia berikan kepada ibu sang pemilik warung tersebut.
"Gimana keadaannya Neng? Apa ada luka yang serius?" tanya si Ibu. Dengan perasaan khawatir, takut-takut jika ada sesuatu hal yang lebih serius, yang dirasakan wanita itu.
"Makasih Bu, Saya tidak apa-apa kok, cuma kaget aja, dan sekarang sudah lebih baik." Lagi, wanita itu menunjukan—senyuman manisnya, memberi keyakinan pada si ibu, bahwa dirinya baik-baik saja.
Setelah ia tenang, sambil meringis ia berjalan melihat motor yang tadi ia kendarai. "Astagaaa... Motor Nia.." Lirihnya, dengan perasaan nelangsa, serta syok, ia menutup wajahnya.
Bingung harus bilang apa, pada gadis yang kebawelannya tingkat Dewa tersebut, yang menjadi sahabatnya sejak dulu.
Dengan tampang melas—semelas mungkin—ia kembali duduk, sambil memegangi kepalanya, yang terasa pusing mendadak.
Sadar dengan gerak-gerik yang wanita itu tunjukan, si ibu pun menenangkan wanita itu. "Motor masih bisa diperbaiki Neng, yang penting si Neng-nya ga kenapa-kenapa."
Memang benar adanya, motor masih bisa dibeli, kalau nyawa, apa bisa dibeli lagi kalau sudah melayang. Tetapi, permasalahannya, dia harus berhadapan dengan sahabat bawelnya tersebut, namun, sangat ia sayangi.
"Ia sih bu, tapi itu motor punya temen Aku... Aku harus bilang apa ke dia, soalnya dia itu bawel banget orangnya." Mengungkapkan kegundahannya pada si ibu, sambil mencebik serta memberikan muka nelangsanya, dan muka orang ingin menangis. Seolah-olah dia orang yang paling terzolimi. Padahal kan ya, motornya yang terzolimi, karena fikiran dia yang berkeliaran, sehingga tidak fokus melihat keadaan di depannya. Sungguh terlalu si Risha...
Dan si ibu hanya tersenyum—menahan tawa. Melihat betapa lucunya muka gadis cantik yang ada di depannya itu. (Gadiiiss?? Kau masih Gadis atau sudah Janda... Tariiik maang... Hehehe)
"Ya udah, Neng bilang aja apa yang sebenarnya terjadi," saran si ibu agar gadis itu sedikit lebih baik.
Baginya, itu bukan saran yang baik. Dan, lagi-lagi dia mencebik, serta memanyunkan bibirnya. "Justru kalau dia tau yang sebenarnya, makin murka lah perempuan itu." Sambil sedikit terkekeh—megingat bagaimana temannya akan marah dengan alasan yang ia beri.
"Ada-ada ajah si Neng yaa." Menggelengkan kepala, si ibu menjawab sambil terkekeh kecil.
"Ya udah Bu, Saya mau permisi pulang," pamitnya kepada si ibu. "Makasih banyak ya Bu, sudah mau menolong Saya, dan mau ditumpangin sama Saya," lanjutnya—sambil terkekeh.
"Sama-sama Neng, sesama mahluk hidupkan harus saling tolong-menolong, jadi enggak perlu sungkan gitu," jawab si ibu dengan diiringi—senyuman yang begitu hangat.
Sambil merapihkan pakaiannya, dan memakai tas selempangnya, serta helm hitam khas pemberian dari showroom. Ia beranjak dari warung dan menaiki motornya.
Ia kembali berpamitan pada ibu tersebut. "Sekali lagi, terimakasih ya Bu... Maaf merepotkan."
"Iya Neng, hati-hati ya, jangan ngelamun lagi bawa motornya." Sedikit meledek dengan—kekehan si ibu menjawab.
"Aihh Ibu, tau aja... Yaudah saya pulang ya bu. Mari Bu..." Sedikit—menundukkan kepala, lalu dia pergi dari warung itu.
~~~
"Rishaaaa....!!!" Teriak seorang gadis dari halaman depan rumahnya.
Sambil menutup telinga, gadis yang merasa dipanggil namanya mendekat.
"Apaan si lu Ni, teriak-teriak kayak di hutan lu," jawab wanita yang merasa dipanggil namanya.
"Ini, motor gue. Kenapa jadi begini? Emang lu apain?!" Kesal Nia, sambil menunjuk spakbor depan motor yang patah, serta sebagian lampu motor yang pecah.
"Ya ellah Ni... nanti kalau gue sudah gajian, gue benerin motor lu, ok ok.." Memberikan tampang—sok imutnya, Risha berusha merayu Nia, agar tidak murka kepadanya.
Arisha Bethany dan Vania Calysta. Mereka adalah dua orang sahabat yang saling melengkapi. Yang satu agak bar-bar, dan yang satunya agak pemalu. Sering ribut, tapi tidak pernah saling menyakit, saling mengerti satu sama lain. Karna persahabatan mereka dimulai, sejak mereka kecil, hingga sekarang.
"Nunggu lu gajian? Lu masuk kerja ajah baru 3 hari ini." Sambil mendengus lalu berjalan meninggalkan Risha dan masuk ke dalam rumahnya, sambil—menghentak-hentakkan kakinya.
Risha tergelak melihat kelakuan sahabatnya itu, dan ikut masuk ke dalam rumah yang telah mereka tempati sekarang.
Mereka tinggal bersama di sebuah rumah petakan yang mereka sewa. Awalnya hanya Nia yang mengontrak di rumah itu, karna dia bekerja di daerah yang tidak jauh dari kontrakan tersebut. Dia memilih mengontrak, agar pulang-pergi kerja jadi lebih cepat, karna kalau pulang serta pergi dari rumah orangtuanya, cukup jauh jarak yang dia tempuh, memakan waktu 1 jam perjalanan. Belum lagi saat macet, bisa-bisa satu setengah jam perjalanan. Maka dari itu, dia lebih memilih mengontrak rumah, walaupun kecil, tapi dia tidak kecapek'an di jalan, baik waktu pulang ataupun pergi. Dan pastinya dia jadi tidak terburu-buru saat berangkat bekerja, karna sering bangun kesiangan.
Sedangkan Risha, dia baru satu minggu di sini, dia juga bekerja di daerah tersebut, namun tidak satu tempat dengan Vania.
Risha baru bekerja selama tiga hari ini, dan dia masih magang/traning di toko tersebut. Sedangkan Vania, dia tinggal di sana sudah hampir satu tahun, bekerja sebagai pramuniaga, di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu.
"Maaf ya Ni.. Gue ceroboh," lirih Risha, sambil—menundukkan kepala, berpura-pura sedih—tapi dia memang sedih sih—agar mendapat simpatik Vania, karna dia tau, biarpun sahabatnya itu bar-bar, tapi dia orangnya enggak tegaan, apalagi sama Risha, dia selalu saja merasa iba.
"Ok!! Gue maafin, dan nanti pakai uang gue dulu buat benerin itu motor." Menghela nafas panjang. Dan benar saja, ahirnya Vania luluh juga, karna dia paling tidak tegaan, kalau melihat Risha sudah dalam mode seperti itu, dia
sangat tau bagaimana kehidupan Risha dari dulu. Susah senang mereka jalani bersama, saat sedih ataupun bahagia, mereka saling berbagi, saling mensupport, saling merangkul, dan saling percaya satu sama lain. Itu lah persahabatan yang mereka jalin selama ini.