BAB 3 BAGAS: KARENA AKU CINTA

1065 Kata
Rayu menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah lunglai. Entah kenapa, ragu mulai menghampiri. Baru kini terpikir di benak Rayu tentang siapa yang mengirim pesan padanya. Rayu tidak membalas pesan itu. Meski untuk menanyakan kebenaran kabar yang dia terima. Logika menguap begitu saja. Hampir dua tahun Rayu mencari kabar tentang Bintang. Selama itu pula Rayu harus menyembunyikannya dari Bagas. Rayu tak ingin berbohong apalagi mengkhianati Bagas. Namun dia tidak punya pilihan. Hati tak pernah mampu menuntun cinta untuk berpaling. Rayu menemukan bangku panjang. Dia memilih duduk sejenak. Sekedar menenangkan hati dan memanggil kembali logika yang tadi sempat tercecer. Baru kini Rayu benar-benar menyadari, sosok Bintang tak pernah mengijinkan dia untuk mengusirnya. Entah itu dulu ketika bersama menghabiskan masa kecil, kemarin saat Rayu ingin memulainya lagi, ataupun sekarang dikala Rayu hendak melupakan semuanya. Bintang benar-benar tahu kapan harus bersinar dan kapan harus meredup. Tanpa pernah mempedulikan perasaan Rayu. Derit pintu dibelakangnya menyadarkan Rayu dari lamunan. Perlahan Rayu berdiri dan beranjak menuju Ruang ICU. Tiap langkah mengantarkan jejak yang semakin samar. Mungkin inilah saatnya Rayu harus menuntaskan rasa. Beberapa langkah sebelum sampai di Ruang ICU langkah Rayu terhenti. Rayu mengucek mata. Memastikan tidak ada yang salah dengan penglihatannya. Didepannya tampak Bagas tengah berbincang dengan salah seorang kakak kandung Bintang. Mungkinkah Bagas yang memberikan nomor teleponnya? Rayu seakan menemukan puzzle yang sempat hilang.   “Masuklah. Aku menunggu kamu di sini.” Bagas menggenggam tangan Rayu. Matanya seakan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Rayu menatap Bagas. Mencari kemarahan atau kekecewaan. Tapi sia-sia. Mata coklat itu hanya memancarkan ketulusan. “Darimana kamu tahu?” Rayu masih penasaran. “Tidak penting membahas itu sekarang. Lebih baik kamu masuk. Mungkin kamu orang yang sangat dia tunggu.” Bagas mengusap lembut bahu Rayu. “Maafkan saya, Rayu. Tadi saya yang WA kamu.” Ferdian menyela. Rayu berpaling pada Ferdian. Dia kakak Bintang nomor dua. Saat kecil, Rayu hanya mengenalnya secara sekilas. “Tidak apa-apa mas. Tapi kenapa Bintang bisa di sini?” Rayu tetap penasaran. “Ceritanya panjang. Benar kata Bagas. Lebih baik kamu masuk dulu. Selagi masih jadwal besuk. Setelah itu, kamu bisa bertanya semuanya. Saya tidak kemana-mana.” Janji Ferdian. Rayu kembali memandangi Bagas. Seakan mencari kekuatan di sana. Bagas menganggukkan kepala sambil tersenyum. Jauh di dasar hatinya, Bagas hanya berharap Rayu tidak akan pergi meninggalkan dia. Rayu membuka pintu Ruang ICU dengan ragu. Masih merasa kalau ini hanya mimpi. Begitu masuk, Rayu seketika mematung. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Tak mampu bergerak apalagi melangkah. Bintang terbaring di sana. Beragam alat terpasang pada tubuhnya. Perlu waktu lebih dari dua menit untuk Rayu menyelaraskan otak dengan tubuhnya hingga mampu melangkah menghampiri Bintang. Mata itu terpejam rapat. Rayu mulai merapal setiap inchi wajah Bintang. Hampir tidak ada yang berubah. Selain pipinya yang sedikit lebih tirus. Rayu menggenggam jemari Bintang. Jari jemari yang dia rindukan. Menyalurkan kehangatan serta ketenangan. Tak terbilang lagi berapa kali jemari ini membelainya. Memberikan rasa yang tak bisa rayu uraikan. Rayu menelusuri wajah Bintang dengan tangannya yang lain. Rahang yang kokoh itu masih memperlihatkan ketegasannya. Sepasang alis mata tebal selalu saja mampu membuat jantung Rayu berdegup lebih cepat. Jari rayu mulai meraba bibir Bintang. Hangat kecupan Bintang tak pernah bisa pergi dari seluruh indera Rayu. Ciuman Bintang pertama kali dirasakan Rayu ketika ulang tahunnya yang ke enam. Setelah Rayu meniup lilin, Bintang mencium keningnya. Tentu saja Rayu marah. Bukan karena Bintang menciumnya, tapi tindakan Bintang menyebabkan teman-temannya riuh menyoraki Rayu. Tentu saja Rayu sangat malu. Tapi Bintang tak pernah tahu jika ciuman bocah ingusan itu terpatri begitu kuat di benak Rayu. Berpuluh tahun kemudian, saat Bintang kembali menciumnya, Rayu bukan saja menemukan kehangatan yang sama, dia juga masih bisa menjabarkan debar jantung yang tidak pernah berubah. “Kenapa kamu begini?” Rayu mulai tak mampu mengendalikan emosinya. “Kamu benar-benar tega sama aku. Kamu memaksa aku menunggu tanpa kepastian. Apakah kamu begini karena marah melihat aku tak sanggup bersabar? Tolong jawab aku Bin. Kamu hanya perlu mengatakan kalau kamu masih mencintaiku, aku akan meninggalkan semuanya. Kita bisa mulai lagi dari awal Bin.” Rayu tergugu. Air mata mulai beranak pinak. Mengarak berombak siap menjadi genangan. “Bangun Bin. Aku mohon. Kita sudah kehilangan begitu banyak waktu yang harusnya bisa kita lewati berdua.” Rayu terus saja mengguncang tubuh Bintang ditengah isak yang telah pecah menjadi jeritan. Tak lama Rayu merasakan pelukan tangan kokoh dari belakangnya. Bagas membalikkan tubuh Rayu lalu mendekapnya erat. Rayu menurut saja ketika Bagas menuntunnya keluar ruangan. Kesadaran berpikirnya telah pergi tepat ketika Rayu memasuki ruang ICU. “Kamu tenangkan saja dulu Rayu. Aku bisa menunggu Bintang sendiri.” Ferdian menepuk pundak Bagas. Bagaimanapun, sebagai lelaki Ferdian paham apa yang berkecamuk di hati Bagas. Tunangannya menjumpai mantan kekasih yang masih sangat dicintainya. Jelas bukan rasa yang mudah untuk dikendalikan. Ferdian sendiri tidak bermaksud menyeret Bagas sejauh ini. Ferdian tidak memiliki pilihan untuk membuat Bintang sadar selain mencoba mempertemukan Rayu dan Bintang. Nomor kontak Bagas ada dalam HP Bintang. Tertulis jelas dengan nama Tunangan Rayu. Ferdian mengenal Rayu. Namun tidak pernah berpikir Rayu akan bertunangan selain dengan Bintang. Dari situlah Ferdian menghubungi Bagas. Mereka bertemu. Ferdian menceritakan semua yang terjadi pada Bintang. “Aku akan coba bantu mas.” Bagas berjanji pada Ferdian. Janji yang sebetulnya tidak ingin didengar Ferdian. “Maafkan aku Gas. Aku menggangu dan mengusik kebahagiaan kamu dan Rayu. Kalau kamu marah, aku terima. Atau mungkin kamu akan membenci aku, tak masalah.” Ferdian benar-benar menyesal. “Ini sudah takdir mas. Sekuat apapun aku menghalangi, Rayu dan Bintang pasti akan bertemu. Entah dalam kondisi seperti apa. Aku malah berterima kasih. Mas Ferdian mau menghubungiku duluan. Setidaknya aku bisa menyiapkan mental dan hatiku mas.” Bagas berusaha tenang. “Apakah kamu tidak takut Rayu akan meninggalkanmu?” Ferdian memberanikan diri bertanya. “Jelas aku takut sekali mas. Tapi aku tahu, sejak dulu hati Rayu tidak pernah bisa seutuhnya untuk aku. Selalu ada Bintang yang bersinar di sana mas. Aku melakukan ini justru karena aku mencintai Rayu. Aku tak mau menyesal nantinya. Aku jauh lebih tidak siap lagi andai suatu hari nanti Rayu menyalahkan aku karena menyembunyikan kondisi Bintang yang sebenarnya.” Getaran suara Bagas terdengar jelas oleh Ferdian. Ferdian berdiri menghampiri Bagas lalu memeluknya. Dia mengagumi Bagas yang begitu mencintai Rayu. Kini Bagas benar-benar menepati janjinya. Memberikan kesempatan agar Rayu bisa menemui Bintang. Ferdian memandang punggung Bagas dan Rayu yang semakin menjauh. Ferdian hanya berharap, tangan Bagas yang melingkar memeluk Rayu tidak akan pernah terlepas selamanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN