BAB 4 PERSIMPANGAN RASA

1047 Kata
Bagas memegang lengan Rayu. Mengajaknya masuk ke salah satu rumah makan dekat rumah sakit. Keheningan masih menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Rayu hanya menatap enggan menu yang ada didepannya. Tak ada sedikitpun keinginan untuk makan. “Pilihlah makanan yang bisa mengisi perutmu.” Bagas meminta. “Aku tidak lapar.” Rayu menjawab pelan. “Perutmu harus tetap diisi. Apapun kondisimu saat ini, kamu harus tetap memperhatikan kesehatanmu. Aku ngga mau repot ngurusin kamu yang malah memikirkan lelaki lain.” Bagas mengerling nakal. “Ngga lucu.” Rayu merajuk. “Ray, aku minta maaf ya. Hari ini aku bohong sama kamu.” “Aku mau penjelasan. Bukan hanya permintaan maaf.” “Bisakah kita bicara setelah kita makan?” Pinta Bagas. Rayu hanya diam. Tapi tidak memberikan penolakan. Benaknya masih berkecamuk. Semua kejadian terasa seperti mimpi. Kabar tentang keberadaan Bintang tentu saja membuat Rayu bahagia. Namun mengapa harus dalam kondisi seperti ini? Rayu mulai protes pada keadaan. Makanan yang mereka pesan akhirnya tiba.” “Makanlah. Atau perlu aku yang menyuapi kamu?” Bagas masih berusaha meminta Rayu untuk makan. Perlahan Rayu memasukkan makanan kemulutnya. Meski enggan, Rayu tahu bahwa tubuhnya pun butuh makan. Hampir setengah jam hening menjadi pembatas antara Rayu dan Bagas. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tiba-tiba saja jeda berdiri dengan angkuhnya di hadapan mereka. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk sekedar memahami dan mengurai kecamuk yang sedang melanda. Bagas di Utara dan Rayu di Selatan. Helaan nafas Bagas mengusir pergi canggung dengan paksa. “Mas Ferdian menghubungi aku tiga hari yang lalu. Dia melihat nomor HP ku di HP Bintang. Jangan kau pikir aku tidak cemas. Aku butuh waktu hampir tiga hari untuk bisa memberikan nomor ponselmu ke Ferdian.” “Kenapa kamu ngga pernah sekalipun mengatakannya padaku?” Rayu mulai menuntut jawaban. “Aku salah. Aku masih harus menenangkan badai di hatiku. Aku tahu, sejak dulu hatimu hanya untuk Bintang. Bahkan setelah kita sepakat untuk melangkah berdua pun, kamu masih mengingat Bintang. Aku tidak pernah meminta kamu untuk melupakan Bintang. Aku cukup tahu diri. Tapi ketika Ferdian menghubungi, aku benar-benar takut kehilangan kamu. Kemarin aku memberanikan diri melihat Bintang. Kondisinya menyadarkanku, mungkin hanya kamu yang bisa menentukan perjuangannya.” “Sebenarnya dia kenapa?” Bahkan Rayu lupa untuk menanyakan kenapa Bintang bisa sampai begitu. “Leukimia. Bintang baru tahu kondisinya dua tahun lalu. Setelah itu, dia memutuskan untuk meninggalkan kamu. Sebulan lalu, dia selalu mengeluhkan sakit kepala. Tapi dia tidak mau diajak berobat. Seminggu lalu, dia pingsan. Mungkin sudah terlambat waktu Ferdian membawanya ke rumah sakit. Sekarang, seperti yang kamu lihat. Bintang koma.” Rayu lunglai. Tubuhnya gemetar. Betapa selama ini dia sudah sangat bersalah pada Bintang. Berpikir Bintang kejam karena meninggalkannya sendiri. Sementara di sisi lain, Bintang sedang berjuang untuk melanjutkan hidupnya. Air mata sudah tak terbendung lagi. Mengalir perlahan menjalari pipi Rayu. Bagas mendekati Rayu dan duduk disampingnya. Kini Bagas berdiri di persimpangan rasa. Bagas tahu, saat ini hubungannya dengan Rayu sedang dipertaruhkan. Sejak awal, Bagas hanya ingin melihat Rayu bahagia. “Aku sudah memikirkan semuanya selama tiga hari ini.” Bagas menggenggam jemari Rayu. “Pergilah. Temani Bintang. Tebuslah waktu yang telah memisahkan kalian.” “Gas...” Rayu menatap nanar. “Jangan pikirkan aku. Sungguh, aku tidak apa-apa. Aku bisa memulihkan hatiku.” “Gas, kita sudah bertunangan.” “Lupakan. Aku bisa melepasmu pergi. Ingat, dalam kondisi apapun, aku selalu ada untuk kamu. Hubungi aku jika ada yang kamu butuhkan.” “Tapi...” “Tidak ada tapi.” Bagas menyela. “Sudah sana. Pergilah temani Bintang. Tapi, sebelum kamu pergi, bolehkah aku memelukmu?” Anggukan Rayu tidak disia-siakan Bagas. Dipeluknya Rayu dengan sepenuh hati. Seakan Bagas ingin menelan semua tentang Rayu.       *** Bagas bergegas meninggalkan Rayu yang masih tak mau beranjak dari duduknya. Bibir Bagas terkatup. Berjuang menguatkan hatinya sendiri. Ini keputusan yang teramat berat. Bagas memilih memberikan kesempatan pada Rayu. Tak ada satupun yang luput dari penglihatan Bagas. Termasuk pertemuan kembali Rayu dengan Bintang dua tahun lalu. Tepat ketika dia dan Rayu baru saja bertunangan. Bintang datang. Menemukan Rayu. Bagas tidak bodoh. Terlihat jelas sikap Rayu mulai berubah. Selama ini nyaris tak ada yang disembunyikan Rayu dari Bagas. Terutama masalah naskah novel yang sedang ditulis Rayu. Bagaslah orang pertama yang akan dimintai pendapat. Namun, dua tahun lalu jelas terjadi sesuatu. Sejak Rayu bertemu dengan editornya. Tulisannya menjadi sangat lama terselesaikan. Rayu lebih banyak menghindari Bagas. Pikirannya jelas tak pernah hadir bersamaan dengan tubuhnya. Perlahan Bagas mencari tahu. Beberapa kali Bagas mencuri lihat ponsel Rayu. Terbaca nyata semua chat Rayu dengan Bintang. Meski rayu mengatakan pada Bintang kalau saat ini dia sudah bertunangan, Bagas bisa merasakan bahwa sebenarnya Rayu masih sangat mencintai lelaki itu. Rayu tak pernah tahu jika Bagas menemui Bintang. Menuntaskan ganjalan yang akan menjadi batu sandungan. Namun, takdir sepertinya memang telah mengatur bahwa Rayu dan Bintang harus bertemu kembali, meski dalam situasi berbeda. Jika sebemunya Bagas mencoba berjuang untuk memutus pertemuan keduanya, kali ini Bagas memilih menghadapinya. Membiarkan Rayu dan Bintang bertemu dan mengisi tahun-tahun yang telah memisahkan mereka. Bagas hanya berharap kelak dialah lelaki terakhir yang akan menemani Rayu. Menua bersamanya menghabiskan sisa hidup. *** Rayu masih terisak. Tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Melihat kondisi Bintang saja, sudah cukup membuatnya terguncang. Kini dia harus kehilangan Bagas. Ada luka yang menganga. Namun, Rayu pun tak bisa membohongi perasaannya. Cintanya memang hanya untuk Bintang. Entah harus bersyukur atau bersedih. Rayu tak tahu bagaimana mendefinisikan rasanya saat ini. Rayu melihat dengan jelas luka di mata Bagas. Lelaki yang tak pernah sekalipun mengecewakan dan membuatnya menangis itu kini telah pergi. Perlahan Rayu bangkit. Pergi menuju Ruang ICU tempat Bintang berada. Ferdian masih di sana. Menjaga adiknya dengan sabar. “Terima kasih sudah mau kembali.” Ferdian berdiri menyalami Rayu. “Semoga Bintang baik-baik saja.” Rayu menatap Bintang dari balik kaca. Mengapa dia masih mengharapkan lelaki ini? Padahal waktu sudah memisahkan mereka begitu lama. Bukan hanya sekali. Sudah dua kali dia dan Bintang harus menghadapi kenyataan kalau mereka memang harus terpisah. Namun jalan untuk bertemu pun selalu ada. Meski berliku, pada akhirnya mereka bertemu. Harus serumit itukah? Rayu berpikir, akan lebih sederhana dan mudah jika saat ini atau dua tahun lalu Bintang tidak pernah muncul kembali. Membiarkan dia memilih Bagas dan menjalani lembaran yang baru bersama Bagas. Tidak berkutat dalam lembar demi lembar bersama Bagas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN