BAB 5 SELALU BERAKHIR PADAMU

1211 Kata
Setelah obrolan bersama Bagas yang berakhir dengan kata perpisahan, disinilah Rayu berdiri. Rumah Sakit Mitra tempat Bintang dirawat. Perlahan Rayu membuka pintu kamar Bintang. Sebuah keajaiban Bintang bisa melewati masa kritisnya sehingga sekarang sudah dipindah ke ruang rawat inap. Bukan di ICU lagi. Tak ada lagi tubuh tegap yang dulu Rayu kagumi. Tubuh Bintang semakin kurus. Meski tidak mengurangi ketampanannya. Rayu duduk di kursi yang terletak di sisi ranjang Bintang. Perlahan matanya menelusuri wajah Bintang yang sedang tertidur pulas. Rayu kembali merasakan getaran di hatinya. Getar yang tidak pernah dia rasakan ketika bersama Bagas ataupun lelaki lain yang mencoba mendekatinya. Bayangan dua tahun lalu saat mereka bertemu tiba-tiba saja melintas di benak Rayu. *** Sejak pertemuan mereka di Kafe Kata dua tahun lalu, hari-hari Rayu tak lagi sama. Rayu mulai sering menunggu w******p dari Bintang. Berharap lelaki itu akan memberi kabar tentang dirinya ataupun kegiatan yang dia lakukan. Benar kata Bagas, perhatian Rayu sudah teralihkan oleh Bintang. Proses editing buku bukan lagi menjadi menu utama pembicaraan mereka. Rayu bersikap seolah menghindar, namun tiap kali Bintang hilang kabar akan membuat Rayu uring-uringan. Rayu tak pernah menolak ajakan Bintang untuk bertemu. Bahkan dia menikmatinya. Seperti ketika Bintang meminta Rayu ke Bandung dan tanpa berpikir panjang Rayu menyanggupi. Sosok Bagas lenyap tanpa jejak. Rayu lupa jika ada hati yang harus dia jaga. Bahkan Rayu tidak memberi kabar pada Bagas kalau dia akan ke Bandung. Dunia hitam putih di hati Rayu kini bertambah dengan warna-warna baru. Semakin indah untuk dilhat. Meski salah ketika dilakukan. Ya, Rayu melakukan kesalahan penuh kesadaran.   ***   Temaram lampu mulai menerangi tiap sisi Jalan Braga. Rayu duduk di sebelah Bintang sambil menikmati secangkir kopi pahit. Kebiasaan yang selalu dilakukannya untuk menutupi perasaan gugup. Dulu saat tak ada Bintang, Rayu selalu menatap bintang di langit dengan berani dan sepenuh hati. Namun keberanian itu menguap entah kemana tatkala Rayu ingin menatap Bintang disisinya. Padahal banyak cerita yang ingin Rayu katakan. “Tuhan menciptakan Bandung saat sedang tersenyum.” Bintang berkata sambil menatap Rayu yang sedang mencibir mendengar ucapannya. “Sok tau ah. Mana bisa begitu.” Rayu menanggapi ketus. Bertolak belakang dengan hatinya yang sangat senang bisa berada di depan Bintang. Sejenak Rayu lupa kalau di jari manisnya sudah tersemat cincin tunangan yang bertuliskan nama Bagas didalamnya. “Tulisanmu semakin rapi. Aku suka membacanya.” Bintang berkata sambil tetap menatap Rayu lekat. “Ngga usah ngeledek deh. Pasti sebetulnya mau bilang kalau tulisanku tidak sebagus yang kamu bayangkan.” Rayu kembali menutupi perasaan berbunga-bunga yang sedang bersemi dihatinya. “Ngga. Ini beneran. Sebagai penulis, kamu sangat memanjakan editor. Aku senang kamu terus mengasah kemampuanmu. Semuanya sesuai dengan mimpimu kan?” “Siapa bilang kalau mimpiku ini menjadi seorang penulis?” Rayu balik bertanya. “Hmmm jangan-jangan aku yang sudah mulai pikun. Dulu ada seorang gadis kecil yang berkata padaku bahwa dia ingin menjadi seorang penulis. Tiap hari dia berkhayal sambil menceritakan kisah-kisah random padaku.” Bintang mengerling nakal. Rayu kembali memberengut. Bintang sungguh mengusik semua kenangannya bersama lelaki itu. Tanpa mempedulikan Bintang, Rayu kembali menekuri laptop dihadapannya. Masih ada beberapa bagian yang harus dia perbaiki sesuai arahan Bintang. Untuk beberapa saat, keheningan hadir diantara mereka. “Rayu, boleh aku bertanya tentang hal pribadi?” Bintang memecah kebisuan dengan mimik serius. “Hmmm...” Guman Rayu. “Aku artikan boleh ya?” Kejar Bintang “Memangnya apa yang mau kamu tanyakan?” Bintang menarik napas panjang. Perasaan gugup mulai menghampirinya. Dia sadar, jika dia bertanya, maka semuanya akan menjadi berbeda. Tapi dia tak mungkin terus memendam pertanyaan itu. “Apa sih yang mau kamu tanyakan?” Rayu mulai terlihat penasaran. “Tapi kamu harus janji, pertanyaanku ini tidak akan merubah sikapmu kepadaku.” “Udah ah cepetan ngomong. Kayak sama siapa aja sih.” Rayu mulai tak sabar. “Kamu sudah lama bertunangan?” “Memangnya kenapa? Lagian tau darimana kalau aku sudah bertunangan?” Rayu terperanjat. Tidak menduga Bintang akan bertanya tentang pertunangannya. Padahal dalam beberapa kejap Rayu benar-benar telah melupakan Bagas. Tak terlintas sedikitpun di hati dan otaknya kalau ada Bagas yang telah mengikat Rayu dengan status tunangan.    “Cincin yang kamu pakai. Itu cincin tunangan kan?” Rayu menunduk. Tak bisa berkelit lagi. Sebenarnya dia sendiri bingung kenapa harus gugup dengan pertanyaan Bintang. Mengapa hatinya seakan tidak rela jika Bintang mengetahui dia sudah bertunangan. “Tak mau menjawab?” Tanya Bintang. “Apa pentingnya untuk kamu?” Rayu tetap menghindar memberikan jawaban. “Kalau aku bilang, aku mau merebutmu dari tunanganmu itu, apa kamu percaya?” “Ngga usah aneh-aneh deh.” Jantung Rayu semakin bertalu tak menentu. Meski Rayu sudah menduga kalau Bintang masih mencintainya, namun tetap saja Rayu terkejut dengan ucapan Bintang. Benarkah lelaki ini ingin menyingkirkan Bagas dari sisinya? Rayu seakan kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan Bintang. “Kenapa jadi diam begitu?” Tiba-tiba saja sebelah tangan Bintang telah menangkup jemari Rayu. Menggenggamnya erat seolah takut Rayu akan pergi. Rayu semakin membeku. Jemari mereka yang kini saling terpaut mengalirkan berbagai rasa. Hangat dan sangat nyaman. Rayu lupa jika seharusnya dia menarik jemarinya dari genggaman Bintang. Sebaliknya, Rayu malah menikmati sentuhan Bintang. Ini salah. berkali-kali Rayu menyadarkan dirinya kalau semua yang terjadi saat ini jelas-jelas salah. Namun, hati dan otak Rayu tidak bisa bekerja sama. Hatinya bertentangan dengan otaknya. Sedangkan tubuhnya malah merespon apa yang disuarakan hati. “Rayu, bisakah kamu menjawab pertanyaanku?” Bagas kembali menyentuhnya dengan tangan lain yang bebas. Bukan di tangan. Melainkan di pipi Rayu. Rayu seketika terhempas kembali ke dunia nyata. Mukanya semerah tomat karena menahan malu. Mulutnya gelagapan menyadari tatapan Bintang yang semakin lekat. “Eh, apa tadi? Kamu bertanya apa?” Tanya Rayu tak mampu menutupi kegugupannya. “Aku bilang kalau aku ingin merebutmu dari tunanganmu itu. Kamu mau kan jadi pacarku. Oh tidak, aku meminta kamu untuk menjadi istriku. Mau ya?” Rayu segera manarik jemarinya dari genggaman Bintang. Pura-pura kembali sibuk dengan laptop tanpa menghiraukan ucapan Bintang. “Kalau kamu diam, aku bisa saja berpikir kamu setuju lo.” Suara Bintang kembali terdengar. “Aku keberatan.” Akhirnya Rayu mampu bersuara dengan tenang. “Kamu dulu menghilang tiba-tiba. Selama itu, aku hanya bisa menunggu. Sampai Bagas datang. Menemaniku melewati semua hari yang terasa sepi. Bagas mencintaiku, rasanya tak salah jika aku memberikan kesempatan pada Bagas untuk bisa membuka hatiku.” Rayu menunduk gelisah.  “Kamu mencintainya?” Cecar Bintang.  “Masih perlukah cinta?” Rayu menatap sayu pada Bintang.  “Jawab saja pertanyaanku. Kamu mencintainya?”  “Aku yakin cinta akan datang seiring berjalannya waktu.”  “Oke. Fix kamu tidak mencintainya. Aku janji, aku akan mengembalikan semua yang seharusnya menjadi milik hati kita.” Bintang tersenyum penuh janji.  “Tolong jangan ganggu aku dan Bagas. Aku dan dia sudah bertunangan. Cukup kita kembali bersahabat saja.” Rayu memohon.  “Aku tidak bisa janji Yu. Katakan aku egois. Aku akan mundur jika memang aku melihat kamu mencintainya dan bahagia bersamanya. Tapi jika itu tidak terjadi, aku yang akan membuatmu bahagia.” Rayu semakin terpekur. Dia sangat tahu tentang hatinya. Jelas tertulis nama Bintang. Hanya saja Rayu tak ingin mengecewakan Bagas yang selalu ada untuknya. Malam semakin bergulir. Rayu pamit. Dia tak mampu lagi mengontrol hatinya jika terus berdekatan dengan Bintang. Malam itu juga Rayu nekat membelah jalan tol Cipularang untuk pulang ke Jakarta. Ingin menjauh dari Bintang sesegera mungkin. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN