“Neng... Neng... Neng Rayu... Neng... Ada tamu Neng.” Rayu yang sedang membaca di kamarnya bergegas keluar mendengan suara panik Bi Atikah. Tidak biasanya Bi Atikah teriak-teriak dan panik seperti itu. Batin Rayu. “Iya Bi. Ini Rayu datang. Coba Bibi tenang dulu. Ada siapa sampai Bibi panik begitu?” Rayu membuka pintu kamar lalu memegang bahu Bi Atikah. Mencoba menenangkannya. “Neng Rayu bisa lihat sendiri ke depan. Kaki Bibi lemes Neng.” Bi Atikah malah terduduk di depan kamar Rayu. Rayu segera menuju pintu depan. Penasaran dengan tamu yang membuat Bi Atikah luar biasa panik. Rayu membuka pintu. Tubuhnya membeku melihat sosok di depannya. Jika Bi Atikah teriak memanggilnya, kali ini lidah Rayu malah kelu membeku. Tidak bisa bicara. Bagas. Ya, Bagaslah yang berdiri di pintu rumah Rayu.

