7

1039 Kata
"Akang nggak capek?" "Akang kuat selama ada neng disini sama anak-anak." Rangga mencium kening Aya lembut "Akang butuh neng dimanapun." "Akang bisa aja." Aya memukul lengan Rangga pelan dan membuat Rangga tersenyum tipis "Singapore gimana, kang?" "Sama kayak pertemuan biasa." Rangga menjawab sambil menggenggam tangan Aya "Membosankan, nggak ada kamu." Rangga mencuri ciuman di pipi Aya yang langsung mendapatkan pukulan kembali di lengan "Akang serius, Neng." "Akang turun sana! Aku ada kegiatan sama ibu-ibu." Rangga memegang d**a dengan ekspresi sedih "Sakit...dibuang begitu saja." "Lebay!" Rangga tertawa "Akang turun. Neng hati-hati di jalan. Doakan akang." Aya mencium punggung tangan Rangga sebelum keluar dari mobil, pengawal sudah menunggu diluar. Rangga menatap sang asisten yang mengikuti langkahnya disamping, asisten yang selalu ikut kemanapun dirinya pergi, sedangkan pengawal hanya bekerja saat dibutuhkan. "Den, pengawal sudah dikasih tahu kalau harus tutup mulut?" tanya Rangga dengan suara pelan. "Sudah, Pak. Mereka tahu yang harus dilakukan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan." Deni menjawab dengan tidak kalah pelannya. "Kamu carikan apartemen untuk Viona, tempat yang aksesnya ketat dan untuk masuk kesana butuh ijin, jaraknya nggak jauh dari tol tapi dekat dengan kantor. Paham?" "Paham, pak." "Kita kerja dulu." Rangga menepuk bahu Deni sebelum masuk kedalam ruangannya. Mengambil ponselnya yang lain, memberi kabar pada Viona jika dirinya sudah berada di tempat kerja. Balasan datang tidak lama kemudian, senyum lebar tampak di bibir Rangga dan seketika semangat kembali hadir. Bayangan bibir Viona hadir begitu saja, membuatnya ingin bertemu cepat. Rangga sebenarnya ingin memaki Deni yang memberikan banyak pekerjaan, bukan hanya rapat tapi juga bertemu dengan warga sekitar. Rangga tahu jika Deni sebenarnya mengikuti instruksi dari partai, tapi setidaknya semua ini akan menghasilkan sesuati di kemudian hari. Image yang sudah dibuat harus berjalan lancar, semua demi tujuan yang sudah dipersiapkan partai. "Ada lagi, Den? Ibu dan anak-anak gimana?" Rangga membuka ponsel sambil mengirim pesan untuk istrinya. "Ibu masih sama ibu-ibu, acaranya belum selesai dan kabarnya banyak yang datang termasuk artis ibukota. Anak-anak lagi les, bapak tenang saja semua baik-baik saja." Deni menjawab sambil memeriksa pekerjaannya "Saya sudah menemukan apartemen, pak." Deni memberikan tabletnya pada Rangga yang langsung mengambil dan memeriksa. "Saya sudah memilih beberapa, kamu cek lagi gimana disana." Rangga memberikan tablet kembali pada Deni "Kalau sudah ada sekalian isi juga furniture disana, kamu buat senyaman mungkin untuk Viona." "Pak, maaf kalau saya lancang. Apa bapak yakin dengan Mbak Viona? Bagaimana jika ibu tahu?" Deni menatap Rangga yang menyandarkan tubuh dan memejamkan matanya. "Saya punya rencana dengan dia. Kamu hanya menjaga rahasia dan ikut apa yang saya katakan." Rangga menjawab masih dengan memejamkan matanya. Melangkahkan kaki menuju ruangan, langkahnya sedikit lebih cepat karena tidak sabar menghubungi Viona. Ponsel yang dipakai adalah ponsel untuk bekerja, memberikan nama yang tidak membuat sang istri curiga, pastinya berpikir mereka yang menghubungi di ponsel ini berhubungan dengan pekerjaan. "Berani juga kamu," ucap Rangga menghela napas panjang tanpa melepaskan tatapan dari ponselnya "Astaga! Aku nggak sabar bertemu kamu, Vi." Ketukan di pintu membuat Rangga meletakkan ponsel setelah menutup pesan dari Viona, pintu terbuka menatap seketarisnya yang membawa berkas dan tampaknya akan menghabiskan waktu banyak untuk menyelesaikan. "Deni dimana?" Rangga bertanya tanpa menatap Elisa. "Pak Deni sedang mempersiapkan materi untuk rapat besok, Pak." Rangga menganggukkan kepalanya "Kegiatan saya setelah ini? Deni kasih tahu?" "Kegiatan bapak setelah ini makan malam santai dengan menteri BUMN." Elisa membaca jadwal Rangga selanjutnya di tablet "Bu Aya akan menyusul nanti disini, masalah pakaian sudah disiapkan kemarin sama Bu Aya dan ada disini. Bapak tinggal membersihkan diri saja, selebihnya sudah tersedia." "Terima kasih banyak." Rangga menyerahkan salah satu berkas ke Elisa "Kamu minta bagian keuangan merinci jelas pengeluaran untuk bagi-bagi dengan warga, jangan terlalu pelit sama warga." "Bukannya sudah disepakati, Pak?" Elisa menatap bingung. "Ya, tapi itu masih kurang dari kesepakatan. Kamu bilang ke keuangan pasti paham." "Baik, Pak." Elisa menerima berkas yang dimaksud Rangga. "Saya mau istirahat sebentar. Berkasnya kamu tinggal disini, kalau sudah selesai saya akan berikan. Satu lagi kalau ada yang cari bilang saya sedang keluar." "Ibu Aya atau anak-anak?" tanya Elisa. Rangga mengangkat kepala menatap Elisa yang sedang menunggu jawaban "Kamu serius tanya hal ini? Kalau mereka yang datang langsung kamu kasih tahu saya terlebih dahulu baru suruh masuk." "Saya hanya memastikan, siapa tahu bapak memang butuh istirahat. Saya permisi kalau begitu." Memijat kening perlahan setelah pintu ditutup Elisa, menatap jam di tangannya dan tampaknya menghubungi Viona adalah yang terbaik. Melangkahkan kaki menuju sofa panjang, melepaskan kancing lengan baju dan juga kancing kemeja bagian atasnya, menggulung lengan baju sampai siku, menekan tombol hijau untuk memulai pembicaraan dengan Viona. "Lagi apa? Packing?" Rangga membuka suara saat Viona menyetujui panggilan video yang dilakukannya. [Ya, aku mau kesana besok atau lusa. Rumah orang tua dulu, baru nanti cari apartemen atau kos. Kamu lagi apa?] Viona menatap sekilas Rangga yang membaringkan badannya [Enak banget bisa istirahat. Udah nggak ada agenda?] "Udah selesai. Nanti malam makan malam santai sama menteri. Kabarin kalau besok datang." [Memang bisa ketemu? Jangan ambil resiko] Viona menggelengkan kepalanya. "Kamu buat aku nggak fokus." Rangga berkata dengan nada rendahnya. Viona tersenyum tipis [Kamu bisa minta ke istri, sayang] Viona mengedipkan mata yang membuat Rangga berdecih pelan [Aku nggak salah bilang, jangan celap celup kasihan nanti istri kamu.] Rangga memilih diam, pandangannya tidak lepas dari Viona yang sedang menata pakaiannya. Gairah muda kembali hadir, usianya masih sangat produktif. Istrinya sangat cantik, tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Mengenal Viona membuat sesuatu yang terpendam hadir, selama ini hanya Aya yang menemani dalam keadaan sulit sekalipun. Pengalaman terhadap wanita tidak banyak, mengenal Viona sesaat membuat Rangga ingin berhubungan lebih jauh. [Mas mau dibawain apa darisini?] Viona menatap Rangga dalam [Melamun apaan sih, mas?] "Kamu. Nggak usah bawa apa-apa. Nggak sabar kita ketemu nantinya." [Mau apa memang kalau ketemu, mas? Bicara? Nggak bosen? Kemarin kita sudah bicara banyak, mas. Kalau aku nggak berhentikan bisa kebablasan, apalagi nggak bawa pengaman] Viona mengedipkan matanya, tangannya menurunkan tali pakaian. Melihat apa yang dilakukan Viona seketika Rangga memalingkan wajahnya, pakaian yang sangat menggoda iman. Selama ini sudah sangat yakin jika Aya saja yang berhasil membuatnya b*******h, tapi nyatanya gerakan Viona melalui panggilan video sudah membuatnya panas. Pertemuan mereka semalam membuat jantung Rangga berdetak kencang lagi, tujuannya awalnya mendekati Viona dengan tujuan H&D Group tapi hatinya menginginkan hal yang sama. "Kamu nggak akan selamat kalau kita ketemu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN