bc

Politik Ranjang

book_age18+
23
IKUTI
1K
BACA
mystery
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Dunia politik memang kejam, segala macam cara dilakukan untuk berada disana atau menjatuhkan lawan. Rangga mengambil resiko masuk dalam dunia politik, kecintaannya pada negara dan keinginannya membantu orang membuatnya mengambil jalan ini. Pasangan hidupnya sangat mendukung semua yang dilakukan, mengenal dari lama dan membangun semuanya bersama.

Viona model yang sudah lama berjalan di catwalk baik nasional maupun internasional, pertemuan awalnya dengan Rangga tidak terencana, walaupun sebenarnya seseorang memberikan pekerjaan untuk mendekati politikus muda itu. Pertemuan demi pertemuan terjadi, hubungan mereka menjadi sepasang kekasih tanpa ada yang tahu. Viona menikah dengan pria dimana mereka saling mencintai, tapi tidak menghentikan romansa dengan Rangga.

Berhasilkah Viona menjatuhkan Rangga? Atau malah terjebak dengan perasaan?

chap-preview
Pratinjau gratis
1
"Tahu apa yang harus dilakukan? Buat dia tergila-gila sama kamu, jika waktunya tiba dia akan jatuh dari perbuatannya ini." "Kamu bisa percayakan semua ini sama aku!" "Seksi banget, cin!" Viona tersenyum menatap di depan cermin besar dalam kamar, pujian Dona membuat rasa percaya dirinya naik. Pakaian yang dipakainya tidak terlalu terbuka, tapi bisa membuat siapa saja menatap penuh gairah. Memutar tubuhnya sekali lagi untuk memastikan semuanya sesuai dengan apa yang dalam gambarannya, senyum lebar kembali terlihat di wajahnya. "Mau godain siapa? Darwin? Dia udah tergoda sama kamu." Dona mendekati Viona yang melakukan sentuhan terakhir di bibir. "Cus berangkat sekarang!" Meletakkan tangannya di lengan Dona agar keluar dari kamar, wanita yang menjadi sahabatnya dari lama. Perbedaan mereka adalah Dona dari keluarga kaya, siapa yang tidak tahu H&D Group, masuk disana membutuhkan keahlian dan kemampuan, jangan berharap orang dalam. Mereka berteman lama tidak membuat Viona bisa masuk di tempat kerja mereka, proses seleksinya tidak main-main. Viona sendiri tidak tertarik menjadi bagian dari H&D Group, cukup menjadi sahabatnya Dona. Sebenarnya mereka bukan hanya berdua, tapi ada Vivi. Sayangnya sahabat mereka yang satu ini dan juga kepercayaan Dona sedang sibuk dengan kekasihnya, Andrew. Otomatis dirinya yang menemani Dona, bukan hanya menemani tapi memang juga termasuk dalam undangan. "Kenapa acara petinggi partai harus jauh-jauh disini?" Menghabiskan anggaran, kasihan banget ya kita. Bayar pajak tapi ternyata duitnya dibuat begitu." Viona bertanya tanpa menatap Dona yang membuka ponselnya. "Kalau disana hati-hati. Jangan asal ngomong." Dona memberi peringatan yang diangguki Viona, paham "Sebenarnya aku malas mewakili ayah dan tanpa ada Vivi, tapi apa mau di kata." "Cari cowok disana nggak sih, Don? Melupakan cowok yang nggak tanggung jawab." Viona menaik turunkan alisnya. Dona berdecih pelan "Aku nggak perlu karena ada Mas Irwan." Viona berdecih mendengar kalimat Dona yang seakan nama itu tameng agar tidak dekat dengan pria "HTS yang akan selalu diagungkan." Mobil yang membawa mereka sudah sampai di hotel bintang lima, tempat dimana biasanya para elite berkumpul. Viona datang bukan hanya menemani Dona, tapi mendapatkan undangan untuk bertemu seseorang. Profesi Viona sendiri adalah model, bukan model Indonesia, tapi sekarang kerjaannya banyak di Singapore. Pertemuannya kali ini membahas sesuatu yang penting bagi para elite politik, berkaitan dengan proyek yang Viona tidak paham. Viona tidak peduli dengan proyek itu berhasil atau tidak, tapi pertemuan ini harus berhasil dan bisa membuat pria ini terpikat padanya. Pria yang akan menjabat sebagai orang penting di salah satu daerah, membiarkan pria ini berhasil terlebih dahulu dengan mendapatkan apa yang diinginkan dan setelahnya akan membuatnya jatuh sejatuhnya. Melangkah bersama Dona yang masih setia disampingnya, matanya melihat sekitar dan mencari keberadaan pria itu. Senyum tipis tampak di wajah Viona ketika melihat pria itu bersama dengan istri cantiknya, image yang dibuat adalah mereka pasangan romantis. Viona ingin membuktikan sejauh mana keromantisan hubungan mereka, pria diberi ikan pasti akan melahapnya. "Darwin disana, Vi." Dona mengarahkan dagunya ke kelompok orang yang serius bicara. "Mereka lagi serius, Don. Jangan diganggu." Viona menolak dan tangannya secara otomatis mengajak Dona menuju pasangan romantis tersebut. "Mbak Dona dan Mbak Viona," sapa wanita yang menjadi tujuan Viona dengan senyum lebarnya, lebih tepat pria disampingnya "Apa kabar? Makin cantik kalian berdua. Minggu lalu kami bertemu Pak Wijaya, beliau sehat di usia yang tidak muda lagi." "Bu Aya, kabar baik. Makin terlihat mesra saja dengan bapak." Dona membalas sapaan Aya dengan sopan setelah berciuman pipi kanan dan kiri. Viona melakukan hal yang sama, tapi tatapannya kearah Rangga yang hanya diam dengan tangannya berada di pinggang Aya. Pembicaraan Dona dengan Aya akhirnya melibatkan Rangga yang tampak penasaran dengan kakeknya Dona, Aya mengalihkan pandangan kearah Viona yang hanya diam dan tidak mengeluarkan suara. Viona mengakui jika mereka adalah pasangan yang selalu menjadi idaman banyak pasangan muda, isi kepalanya bingung memikirkan strategi apa yang harus dilakukan. "Mbak Viona nggak kembali ke Indonesia?" suara Aya membuyarkan lamunan Viona. "Minggu lalu baru saja darisana, bu. Keluarga masih ada yang disana." "Oh ya? Dimana?" Aya menatap penasaran. "Semarang kebanyakan, tapi orang tua udah di Jakarta dari dulu." Aya kembali bertanya tentang kegiatan Viona selama disini, sedikit terkejut karena mereka berdua bukan partner kerja, dimana yang Aya tahu adalah Viona ini asisten pribadi Dona. Mereka berdua hanya tertawa mendengar kalimat Aya, sesekali Viona melirik Rangga yang hanya diam dan seakan tidak tertarik pembicaraan mereka. "Kang, jangan diam aja. Nggak enak sama Mbak Dona dan Mbak Viona." Aya menggoda Rangga yang akhirnya tersenyum tipis. "Saya ke toilet dulu. Permisi!" Rangga melepaskan tangannya di pinggang Aya dan meninggalkan mereka. Viona melirik kearah Rangga sesekali, semua dilakukan secara cepat agar tidak dicurigai Aya dan Dona. Viona menatap sekitar dimana seketika perutnya terasa lapar, memilih berpamitan mengambil makanan yang letaknya jauh dari tempat mereka bicara. Memilih duduk di kursi yang berada di pojok dekat lorong yang mengarah ke toilet, berharap Rangga keluar dan mendekati dirinya. "Sudah tahu yang harus dilakukan? Jangan sampai istrinya curiga." Viona mengangguk pelan sebagai tanda jika dirinya paham, menyibukkan diri dengan menikmati makanan yang sudah diambilnya. Suara dari lorong membuat Viona seketika menoleh disana, dimana Rangga baru saja bertabrakan dengan wanita. Viona mengerutkan kening melihat penampilan wanita itu yang tidak asing di matanya, Rangga terlihat tidak enak pada wanita tersebut dan membantunya berjalan. Viona semakin penasaran atas apa yang dilakukan, tidak melepaskan pandangan dari kedua orang yang baru saja mengalami insiden sengaja atau tidak. Rangga menunggu dibalik pintu setelah wanita itu masuk kedalam, rasa penasaran membuat Viona berdiri dengan melangkah kearah pria itu. "Permisi, pak." Viona mengatakan dengan nada sopan yang membuat Rangga menatap kearahnya. "Viona, kebetulan kamu disini. Saya bisa minta tolong untuk memastikan keadaan Gita didalam sana, saya tidak sengaja menabrak dia." Rangga mengatakan apa yang terjadi sebelumnya dengan sangat lancar. "Baik, pak." Masuk kedalam, dimana wanita bernama Gita tidak ada disana. Suara air terdengar di salah satu bilik, wanita itu keluar dan tatapan mereka bertemu. Viona tersenyum tipis kearah Gita yang masih menatap kearahnya, melihat itu membuat Viona menatap wanita dihadapannya dengan bebas. "Kamu tampaknya baik-baik saja." Viona membuka suaranya. "Ah...apa Pak Rangga yang meminta kamu melihat keadaanku?" Gita mengeluarkan suara sambil menganggukkan kepalanya "Saya baik-baik saja. Beliau saja yang terlalu baik, padahal saya bisa jalan." Viona mengangguk setuju "Kalau begitu saya keluar dan bilang pada beliau kalau anda baik-baik saja." Membuka pintu dimana Rangga masih disana, tidak jauh dari pintu. Tatapan mereka bertemu, pria dihadapannya bukan pria tampan tapi pria yang bisa membuat orang nyaman. Melangkahkan kaki kearah Rangga yang menatap Viona dengan penasaran, langkah Viona semakin dekat sehingga bisa menghidu aroma milik Rangga. "Gita baik-baik saja, pak." Rangga menghembuskan napas lega "Kalau begitu saya kembali. Terima kasih." "Semua nggak gratis, pak." Rangga menghentikan langkahnya yang sudah sedikit jauh, Viona berjalan mendekat "Saya mau kita makan siang bersama besok. Bagaimana? Saya butuh bapak untuk melancarkan karir di Indonesia!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Eat Me, Daddy!

read
25.4K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.3K
bc

Lara, Ketika Cinta Tak Memilih

read
8.3K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
8.2K
bc

Nona-ku Canduku

read
102.8K
bc

BRIANNA [Affair]

read
132.5K
bc

SEXY DEVIL UNCLE

read
19.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook