Pemandangan yang ada dihadapannya saat ini adalah patung singa, simbol negara yang akan menjadi tujuan banyak orang. Viona menghela napas panjang mengingat ajakannya semalam yang tidak mendapatkan respon apapun, tampaknya memang harus melakukan usaha lebih untuk semua ini.
"Maaf saya terlambat!"
Viona mengangkat kepala dan hampir saja membelalakkan matanya melihat seseorang yang baru saja dipikirkan, senyum seketika diberikan agar terlihat senang dengan kehadirannya.
"Saya terkejut bapak datang disini!" Viona kembali duduk setelah kode diberikan Rangga.
"Jangan panggil bapak, kamu bisa panggil Kang atau Mas. Saya tidak bisa lama-lama." Rangga duduk tidak jauh dari Viona "Kamu ingin saya melakukan apa untuk karir di Indonesia? Karir kamu baik-baik saja disini, bahkan bagus."
"Saya ingin kembali ke Indonesia, berkumpul bersama keluarga. Karir disini memang bagus, tapi bukankah akan lebih baik jika mengabdi untuk negara sendiri?" Viona menjawab sesuai dengan yang sudah di rencanakan.
"Saya tidak punya pengaruh apapun, jadi pastinya tidak bisa memberi jaminan. Kamu seharusnya tidak mendatangi saya, bukankah Dona sahabatmu? Kenapa tidak meminta bantuan dia?"
Viona menelan saliva kasar, keberadaannya disini untuk menemani Dona atas permintaan orang tuanya. Mereka takut jika terjadi sesuatu pada Dona nantinya, pekerjaan yang didapat awalnya atas bantuan dari keluarga Dona, sekarang memutuskan untuk kembali dan meninggalkan Dona.
"Saya tidak mau merepotkan Dona dan keluarganya. Bukankah dengan Mas Rangga semua akan mudah? Siapa yang tidak tahu dengan Mas Rangga, tinggal minta mereka memasukkan saya ke bagian rencana program atau apapun itu." Viona menjawab ketika mendapatkan jawaban yang meyakinkan.
"Kamu tahu kalau keluarga Dona bisa melakukan banyak hal?" Rangga menatap sekilas pada Viona yang menganggukkan kepalanya "Saya tidak akan bisa banyak membantu untuk dunia kamu. Kamu tahu kalau saya belum lama masuk di dunia ini, jadi belum banyak yang..."
"Image anda sebagai pria baik-baik dan penyayang keluarga. Saya rasa dengan image itu akan membuat mas bisa mendapatkan simpatik dan dukungan dari banyak masyarakat."
"Apa ini rayuan?" Rangga memicingkan matanya mendengar kalimat Viona.
"Terserah mas menilai apa, itu penilaian saya pada mas." Viona mengedikkan bahunya "Setidaknya ketika karir saya jalan disana, saya bisa bolak balik bertemu dengan keluarga."
"Bukankah kamu punya manager? Apa managermu nggak bisa?" Rangga tampak penasaran.
"Dia hanya bekerja disini, koneksi disana tidak bisa dilakukannya." Viona memberikan alasan masuk akal, padahal bisa saja dirinya minta langsung di agency lamanya "Saya tidak memaksa, hanya saya meminta bantuan barangkali mas bisa lakukan!"
Viona berdiri meninggalkan Rangga yang hanya diam dan menatap punggungnya, pembicaraan mereka memang harus berakhir tanpa ada tukar nomer atau apapun. Viona memang membuat semua ini berjalan sebagaimana rencananya, setidaknya rencana pertama selesai yaitu berbicara dan menandakan keberadaannya dihadapan Rangga.
Keberadaannya di taman cukup lama, memikirkan kalimat Viona yang sebenarnya bisa diputuskan dengan mudah. Rangga sebagai politikus seharusnya bisa membaca arah yang diinginkan Viona, atau setidaknya curiga dengan apa yang dilakukan Viona yang secara tiba-tiba. Berdiri dari tempatnya, langkah kakinya menuju hotel dimana sang istri sedang menunggu untuk bersiap belanja.
"Akang dari mana aja?" Aya menatap Rangga yang masuk kedalam kamar hotel.
"Jalan-jalan aja. Sudah siap, sayang?" Rangga mendekati Aya mencium singkat pipinya.
"Anak-anak masih renang, kang. Ditinggal?" Rangga menganggukkan kepalanya "Aku bilang sama asisten dulu, kang. Kita balik besok atau nanti malam?"
"Habis kamu belanja langsung balik. Aku ada agenda besok pagi. Berangkat sekarang?"
Keluar bersama dari hotel menemani istri tercinta berbelanja, pikiran Rangga mengarah pada permintaan Viona, seharusnya memang tidak memikirkan permintaan tersebut. Dalam pikiran Rangga adalah jika menolong Viona, pastinya akan dekat dengan pemilik H&D Group. Perusahaan yang tidak mudah dimasukin oleh politik, mereka memang dekat dengan beberapa orang penting tapi tidak mau terlibat dalam masalah politik, beberapa mencoba dekat secara personal tetap akan gagal dan sekarang sahabat dari salah satu pemilik meminta bantuan.
"Akang, bagus mana?" suara Aya membuyarkan pikiran Rangga yang seketika menatap kearahnya.
Menghilangkan pemikiran tentang Viona, saat ini dihadapannya adalah Aya yang membutuhkan perhatian dan seharusnya memperhatikan istri cantiknya ini. Masalah Viona bisa dipikirkan saat nanti berada di Indonesia, dimana tidak banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Menemani istri berbelanja pastinya membosankan, Rangga memilih menunggu disalah satu cafe dan membiarkan Aya dengan kepuasan dirinya.
"Kalau sudah selesai kabarin aja. Akang nanti datangi." Rangga mencium pipi Aya yang pipinya seketika memerah.
"Akang langsung ke hotel juga nggak papa, barangkali mau beresin barang-barang."
"Lihat nanti, sayang."
Langkah kaki tegas saat meninggalkan Aya, seorang diri melangkah menuju salah satu cafe yang tidak jauh dari hotel. Setidaknya dari sini Rangga bisa melihat jalan, lebih tepatnya tahu kapan Aya datang. Rangga memegang tabletnya mencari informasi tentang Viona, banyak produk yang sudah memakai jasanya sebagai model dan Rangga mengakui jika Viona menarik.
Menarik dengan cara berbeda, dimana Viona lebih menggoda dibandingkan Aya. Rangga menggelengkan kepalanya saat membandingkan dua wanita yang seharusnya tidak dibandingkan, bagaimanapun Aya adalah istri sedangkan Viona bukan siapa-siapa. Menghela napas panjang agar pikiran negatif hilang, tidak banyak yang dilakukan Viona selain sebagai model baik itu model produk atau video klip.
"Menarik, tapi harusnya kedekatan dia dengan Dona bisa membuat jalannya semakin lebar. Kenapa tidak meminta bantuan Dona? Tampaknya berita tentang perusahaan dan keluarga itu memang benar, tantangan yang harus dihadapi agar bisa masuk kedalam. Apa dia bisa membuat aku masuk bagian dari keluarga itu agar bisa mendapatkan dukungan? Tampaknya memang harus dibuktikan." Rangga berbicara pelan sambil menatap tablet dan sesekali melihat jalanan "Sayang banget aku nggak punya nomer dia, apa aku hubungi managernya?"
Mengambil ponsel dan menghubungi orang kepercayaannya agar mendapatkan nomer Viona secara langsung, setidaknya satu keuntungan Rangga adalah orang kepercayaannya tidak banyak bertanya tentang maksudnya bertanya nomer Viona. Rangga akan membuat janji dengan Viona dan membuat kesepakatan, bukankah harusnya semua ada timbal balik dan Rangga tidak mau rugi jika menolong tanpa mendapatkan apapun.
Melangkahkan kakinya ke hotel saat melihat Aya datang dengan membawa beberapa tas belanjaan, tampaknya uangnya sudah berbentuk yang lain. Bukan masalah karena Rangga bisa mendapatkan uang lebih banyak, keyakinannya adalah selama istri bahagia maka rezeki akan datang dengan sendirinya.
"Akang dari cafe?" Aya menatap Rangga yang sudah berada disampingnya, anggukan kepala sebagai jawaban "Alvian tadi hubungi ijin dia sama Ranti makan nugget dan sosis, aku beli pakaian dan kebutuhan anak-anak juga."
"Akang nggak masalah, sayang. Kalian tata semuanya dengan baik, pesawatnya jam berapa?"
"Tiga jam lagi harus berangkat, pak." Rangga menganggukkan kepalanya mendengar jawaban, tepat membuka pintu ponselnya berbunyi dan seketika tersenyum lebar ketika membacanya.
"Baca apaan, kang? Senang banget."