"Bapak yakin ketemu sama Mbak Viona?"
"Den, kamu tahu saya bagaimana? Kalau sudah memutuskan artinya sudah saya pikirkan matang-matang. Lagian kapan lagi kita bisa dekat dengan keluarga H&D Group. Kamu tahu sendiri banyak dari mereka gagal mendekat apalagi masuk, Viona ini dekat banget sama cucunya..."
"Mbak Dona ini bermasalah, pak." Deni memotong Rangga yang memberikan tatapan lelah.
"Dia masih bagian dari H&D Group, Den. Belum dicoret atau dibuang, jadi? Apalagi? Kamu percaya saya?" Deni menganggukkan kepalanya "Saya butuh bantuan dan dukungan kamu, Den."
"Siap, pak!"
Keputusan sudah diambil, dipikirkan dengan sangat baik. Rangga tidak akan mundur untuk mendapatkan hal yang diinginkan, jika nantinya Viona tidak bisa membantu untuk masuk dalam H&D Group pastinya akan ditinggalkan. Semua harus memiliki hubungan timbal balik, apa yang dilakukannya tidak ada kaitannya dengan rasa suka atau cinta karena cintanya sudah dilabuhkan pada Aya.
"Saya hubungi Viona sendiri, Den. Belikan saya nomer lain, nomer yang khusus untuk Viona. Saya tidak mau Aya berpikir yang tidak-tidak, walaupun semua ini juga demi masa depan kami."
Tujuan kali ini tanpa melibatkan Aya, Rangga ingin melakukannya sendiri. Memberikan instruksi pada Deni atas apa yang harus dilakukan, semua ini harus berhasil. Rangga sudah meyakinkan jika harus berhasil, tidak boleh ada kata gagal jika gagal taruhannya adalah karir yang dijalani.
Satu hal yang disyukuri Rangga adalah orang kepercayaannya itu Deni. Deni sudah ikut dengannya dari awal belum menjabat apapun, kerjanya yang cepat dan bisa dipercaya. Pemilihan Deni juga persetujuan Aya, tapi setidaknya Deni masih berada di pihaknya dibandingkan pihak Aya.
"Bapak besok temani ibu bertemu warga." Rangga menganggukkan kepalanya "Malamnya ke Singapore bertemu dengan Viona."
Rangga menghentikan langkahnya "Secepat itu? Kita baru bicara beberapa jam yang lalu." Rangga menatap Deni penuh selidik.
"Sebenarnya minggu depan. Jadwal Mbak Viona padat, saya bilang akan membayar sesuai dengan tarif biasa dia dapat." Deni menundukkan kepalanya yang membuat Rangga menghela napas panjang "Saya bilang anggap saja ini bagian pekerjaan, uangnya sudah saya bayar setengah dan sisanya saat sudah bertemu. Mbak Viona setuju dan bilang bisa bertemu malam dan untuk pertemuannya sudah saya pesankan kamar."
Rangga menghela napas mendengar jawaban Deni, semua sudah diatur dengan baik tanpa perlu dirinya terlibat disana. Menepuk bahu Deni pelan sebelum melanjutkan langkahnya, kegiatannya sangat padat sepulang dari Singapore dan besok malam harus kembali kesana.
"Kamu akan bilang apa nanti sama Aya?" Rangga bertanya dengan nada pelan.
"Belum terpikirkan, pak." Deni menjawab sambil memikirkan jawaban aman "Kerjasama dengan perusahaan luar?" Deni bertanya dengan nada tidak yakin.
"Bertemu dengan perwakilan dari H&D Group," ucap Rangga seketika yang diangguki Deni "Kita harus satu jawaban, saya tidak mau Aya berpikir negatif."
"Siap, pak."
Harga yang dibayar tidak murah, seketika pikiran Rangga adalah pertemuan yang tidak sesuai dengan bayangan dan ekspektasi tinggi. Pembicaraan dengan Viona yang singkat membuatnya penasaran, ditambah kedekatannya dengan salah satu penerus H&D Group. Pertemuan ini setidaknya menghasilkan, jika tidak akan sia-sia dan membuang waktu.
Viona tersenyum lebar saat asisten Rangga menghubungi dan mengirim uang secara pribadi ke rekeningnya, semua demi pertemuan mereka berdua. Menatap Dona yang menikmati makanannya, kedekatan mereka tampaknya memberikan hasil dan memuluskan jalannya.
"Don, kalau aku suatu saat minta bantuan sama opa gimana?" Viona membuka suaranya.
"Bantuan apa?" Dona mengerutkan keningnya.
Viona terdiam mencoba untuk merangkai kalimat "Berhubungan dengan dunia politik."
Dona langsung menggelengkan kepalanya "Opa nggak akan bantu kalau hal itu, kamu bisa minta bantuan apapun tapi tidak dengan politik negara. Opa nggak mau terlibat didalamnya, lebih baik bekerja tanpa ada hubungan dengan politik negara. Kamu nggak lagi dekat sama orang politik, kan?" Dona memicingkan matanya seakan membaca kedua mata Viona.
"Baru kenal. Belum ada pembicaraan serius!"
"Mending sama Darwin daripada orang politik. Darwin pengusaha sukses disini..."
"Darwin mau maju jadi anggota dewan kalau kamu lupa." Viona memotong kalimat Dona dan mengingatkan apa yang dikerjakan Darwin.
"Setidaknya kalau kalah dia nggak rugi amat, dia maju juga karena pengen aja bukan sebagai prioritas. Hubungan kalian gimana? Ada kemajuan?" Dona menaik turunkan alisnya.
"Maju mundur cantik!"
Dona berdecih mendengar jawaban Viona "Kamu suka tarik ulur. Kamu ada agenda besok?"
"Besok? Full seharian. Kenapa?"
"Kemana?" Viona mengangkat bahunya tanda tidak mau memberitahukan apa yang dilakukannya.
"Aku pergi dulu. Kamu langsung pulang, nanti ayah sama bunda khawatir, apalagi nggak ada Vivi." Viona berdiri mencium pipi Dona sebelum meninggalkannya sendiri.
Viona tidak berbohong jika mengatakan jadwalnya padat, tapi biasanya hanya mengambil kerjaan di jam kerja. Apabila ada diluar jam kerja biasanya memiliki tarif sendiri, diluar jam kerja pada umumnya Viona akan melakukan olahraga disalah satu tempat fitnes atau di apartemen. Jadwal yang dibuat dengan Rangga membuat Viona harus bertemu dengan orang yang memintanya melakukan pekerjaan ini, walaupun sebenarnya Viona tahu apa yang harus dilakukan.
"Aku jelas nggak mungkin bisa masuk ke H&D Group. Pemiliknya tidak mau berhubungan dengan kehidupan politik negara, walaupun beberapa pekerjaannya ada yang berkaitan dengan negara." Viona menghela napas panjang.
"Minta tolong ayahnya Dona. Aku rasa dia punya jalan kesana, tidak perlu berhubungan langsung dengan pemilik asli. Ayahnya Dona memiliki pengaruh juga di perusahaan pusat, kamu minta tolong saja apa yang diinginkan Rangga."
Viona mengangguk paham, memang ini yang akan dilakukannya jika sudah bertemu dengan Rangga. Sekarang belum tahu apa yang akan dibicarakan sampai-sampai harus bertemu di hotel, Viona tidak yakin jika mereka berbicara di restoran hotel, tempat paling aman adalah kamar hotel.
"Kamu harus berhasil."
"Kenapa ingin sekali menjatuhkan Rangga? Apa karena dia politisi muda? Apa dia terlalu baik?" Viona menatap penasaran.
"Dalam dunia politik tidak ada yang baik. Alasan tentang kenapa Rangga, kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya melakukan pekerjaan dengan baik, buat dia sejatuh-jatuhnya sama kamu. Gunakan akal dalam melakukan pekerjaan ini, bukan hanya tubuh."
Meninggalkan tempat pertemuannya, tujuannya saat ini adalah studio. Waktunya melakukan pekerjaan, Viona akan berada di studio untuk waktu yang lama. Kedatangannya langsung disambut manager, memasuki ruang ganti dan langsung disiapkan untuk pengambilan gambar. Hembusan napas panjang dikeluarkan ketika semua selesai, berpamitan pada mereka semua dan tujuannya adalah apartemen untuk mempersiapkan semuanya.
Membuka lemari pakaiannya, setidaknya pertemuan ini memberikan bekas tidak terlupakan, tapi tidak juga membuat murahan. Viona ingin Rangga menyukainya karena kepintaran dan personality, bukan karena tubuh seksi, walaupun sebenarnya itu juga bonus. Mengambil salah satu dress sederhana yang dipakai bersama Dona saat mendatangi undangan pernikahan rekan bisnis perusahaannya, dress sederhana dan tapi memperlihatkan keseksiannya.
"Kalau gagal yang ada malu."