09

941 Kata
............ Kecupan manis yang didaratkan oleh istrinya jadi sentuhan indah terakhir didapatkan oleh Danan kemarin malam, tak ada lanjutan romantisme tercipta. Batal pula rencana nakalnya untuk mengjajak sang istri berperang di atas kasur untuk yang pertama kali. Pekerjaan mendadak dari manajer di kantor tidak bisa Danan abaikan. Ia bahkan harus lembur sampai dini hari guna menyelesaikan semuanya. Jam tidur harus rela diundur, untung saja keesokan harinya libur. Danan bisa bangun lebih siang dan mengistirahatkan pikiran sejenak. "Ayaahh." "Papahh." "Uhuuk...uhuukk." Suara batuk dikeluarkan oleh Danan cukup keras. Ia tersedak tiba-tiba karena menelan nasi goreng yang belum belum terkunyah dengan baik. "Sayang, Ayahh." "Uhukk...Uhukk." Danan masih terbatuk. Meski, telah coba untuk diredam sembari mengatur napas. "Pelan-pelan makannya, Danan." "Siapa suruh tadi bangunnya jam 10? Kelaparan 'kan? Biasanya udah sarapan jam tujuh." Celotehan tidak tahan untuk Anandhiya tak lepaskan pada sang suami. "Makan buru-buru jadinya keselek deh ya kamu, Danan," imbuhnya dan menepuk-nepuk pelan punggung suaminya. Berniat membantu meredakan batuk pria itu. Sementara, Danan belum menanggapi. Meneguk segelas air yang istrinya. Setelah tersisa setengah, ia lalu berhenti minum. Kembali mengatur napasnya agar dapat menghirup oksigen dengan bagus seperti tadi. Sebelum peristiwa tersedak terjadi akibat ulah dari istrinya. "Udah mendingan? Minum lagi ayo sekarang." Hanya anggukan kepala singkat yang Danan pilih lakukan guna menjawab pertanyaan dari wanita itu. Dan, ia menurut saja. Meneguk air mineral yang masih dirinya sisakan barusan, lalu diminum hingga habis. "Na...," panggil Danan dalam nada kecil. "Anandhiya." Nama sang istri dialunkan olehnya dengan begitu lembut, namun ada penekanan. Ia juga tak memindahkan atensi dari mata sang istri, menatap lekat. Bukan terpesona akan iris indah wanita itu, tetapi tercipta pada dua matanya sorot yang sedikit kesal. Tentu saja berkaitan erat dengan tingkah sang istri. "Kenapa? Kamu pengin nambah nasi gorengnya lagi? Di dapur udah nggak ada. Mau aku bikinin?" tanya Anandhiya serta mencoba menebak-nebak yang mungkin diinginkan oleh suaminya. Siapa tahu pula, ia benar. "Nggak, Na. Aku nggak pengin nambah. Bahkan, aku udah hilang selera makan," jawab Danan cepat. Tak membiarkan sang istri mengeluarkan celotehan yang bisa panjang dan berakhir dalam durasi waktu lama. "Kenapa bisa? Udah kenyang?" Danan menggelengkan kepalanya. "Belum. Yang ada. Malahan malas makan gara-gara kamu, Na." Anandhiya menampakkan kebingungan nyatanya dalam pancaran mata tatkala memandang sang suami. Ia belum bisa memahami. "Kenapa gara-gara aku, Danan?" "Emang aku apain kamu?" Wanita itu pun lantas bertanya sambil mengarahkan badan ke arah sang suami yang duduk tepat di samping kanannya. "Bukan kamu, Na. Tapi, karena video anak-anak kecil yang kamu putar, Anandhiya," jawab Danan secara jujur. Lalu, mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke ponsel sang istri yang diletakkan di atas meja makan. Suara tawa Anandhiya terluncurkan. Merasa lucu akan alasan diutarakan suaminya. Sedikit geli juga. Dan, tak menyangka sebenarnya. Rasa penasaran turut muncul dalam benak wanita itu secara tiba-tiba. "Kenapa sama video yang aku putar? Anak-anak itu lagi belajar bilang 'Papa' dan 'Ayah', diajarkan sama Ibu mereka. Aku saja gemas nontonnya." Anandhiya pun mengutarakan pembelaan, sebab tak ada yang salah akan video yang tadi ia tonton lewat handphone. Danan menyeringai lebar. Sudah sangat menduga jika kalimat-kalimat pancingan yang telah direncanakan apik untuk diucapkan, sukses dibalas oleh istriya dengan jawaban yang diinginkan pula. Misi Danan tak gagal. "Oh, kamu pengin punya anak yang gemas sama lucu kayak di video 'kah, Na?" Godaan Danan lolos dan tangannya telah bergerilya bebas melingkar di pinggang ramping milik istrinya, tidak diperoleh penolakan. "Iya, aku pengin," jawab Anandhiya apa adanya. Ia mengangguk cukup semangat. "Emangnya kamu juga nggak pengin punya anak lucu, Danan? Terus ntar kamu dipanggil 'Papa' dengan yang gemas sama anak kita?" "Hahaha. Maulah yah aku, Na. Seru pasti kalau misalkan dipanggil kayak gitu," tanggap Danan santai. Ia pun tak kuasa menyembunyikan tawanya. "Gimana aku mau dipanggil 'Papa' kalau kita aja belum pernah produksi," tambah Danan. Celetukan sarat akan keinginannya diutarakan saja secara gambang. Kini, tawa Anandhiya yang terlolos cukup keras. Memandang mata teduh suaminya jadi salah satu favorit wanita itu sejak kemarin. Perlahan, perasaannya kembali tumbuh untuk sang suami, seperti saat SMA dulu. "Tadi malam, kamu bukannya yang pilih lembur daripada produksi anak?" Anandhiya jelas membalas dan tak ingin kalah atas sindiran halus sang suami. Danan terkekeh geli. "Tuntutan pekerjaan kayak biasanya, Na. Kalau nggak aku selesaiin. Papa kamu ntar pasti akan siap-siap pecat aku. Mau tanggung jawab?" "Nggak," jawab Anandhiya singkat. "Nggak apa-apa kamu sibuk dengan tugas kantor. Asal nggak lupa ajak aku bulan madu, Danan." "Hahah. Mau minta diajak bulan madu? Yakin ya kamu, Na? Nggak lagi bercanda 'kan?" Tingkatan dari detak jantung tak dapat ia hindari ketika menerima usapan yang lembut pada bagian lengan atas tangan kiri dari istrinya. Danan sedikit tidak percaya diri saat wanita itu menyenderkan kepala di bahunya. "Aku belum mandi, Na. Jangan sampai kamu jadi pingsan karena bau badanku ya." Danan berguyon secara sengaja guna menutupi rasa malunya sendiri. "Nggak apa-apa," jawab Anandhiya santai. "Aku juga nggak apa-apa seandainya harus kasih napas buatan kalau kamu pingsan, Na." Anandhiya otomatis kembali duduk tegak. Ia lalu memandang suaminya. "Seriusan? Selama dua bulan kita nikah, seingatku ya. Kamu belum pernah menciumku." Kikikan tawa Danan mengeras. "Emang belum." "Mau sekarang aja aku praktikin, Na?" "Up to you." Anandhiya menjawab enteng. Lalu, kelopak mata wanita itu menutup secara perlahan ketika sang suami memulai pagutan yang lembut di permukaan bibirnya untuk yang pertama kali. "ASTAGA! KALIAN!" Demi apa pun, Danan rasanya sungguh berat kala harus melepaskan bibir mereka. Ciumannya yang baru seperkian detik dilakukan bahkan belum memanas, tapi ia harus segera menyudahi karena kehadiran dan teriakan sang ibu yang baru tiba di rumahnya. "Masih pagi, jangan mesra-mesraan. Apalagi, ada Mama kalian di sini." "Kenapa, Ma? Nggak boleh apa aku cium mantu Mama?" Pertanyaan konyol diluncurkan Danan sebagai bentuk kekesalan atas protes dari ibunya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN