..................
"Maaf untuk insiden tadi ya, Ma. Kami harusnya nggak kayak gitu." Anandhiya berucap dengan canggung dan juga sedikit tak nyaman dikarenakan aksi 'ketahuan berciuman' yang dipergoki ibu mertuanya.
Ibu Tika menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Cara sang menantu meminta maaf di mata beliau terlihat lucu. Terlebih lagi, Ibu Tika tak merasa marah. "Tenang saja, Nak. Tidak perlu minta maaf dengan Mama."
"Wajar-wajar saja kalian seperti itu. Mama dapat memaklumi karena kalian pengantin baru. Waktu masih muda, Mama dan Papa juga seperti kalian."
Tanpa disangka-sangka tawa Danan seketika jadi keluar lebih keras selepas mendengar jawaban lucu yang diluncurkan sang ibu. Dengan cepat pula Danan menelan air di dalam mulutnya guna menghindari tersedak.
"Baguss, Ma. Pengantin baru kayak kami emang lagi suka mesra-mesraan. Untung Mama udah mau ngerti gimana perasaanku." Celotehan diloloskan Danan dalam nada canda yang kental, juga dilengkapi tawa renyahnya.
"Lain kali kalau ingin bermesraan, ingatlah kunci pintu depan rumah. Biar nggak ada yang ngintip, Nak."
Kekehan tawa Danan jadi mengeras dikarenakan sindiran halus sang ibu. "Oke, Ma. Siap dilaksanakan."
"Lagian mana aku tahu kalau Mama akan datang ke sini. Nggak ada telepon aku dulu. Mungkin aku dapat jemput Mama. Hari ini aku libur." Danan menambahkan.
"Tidak perlu kamu jemput Mama. Datang ke sini Mama bisa sendiri naik mobil," jawab Ibu Tika santai.
"Lain kali juga kalau kalian mau bermesraan. Di kamar saja, Nak. Jangan di pagi hari." Beliau pun lanjut melontarkan saran yang terkesan guyonan belaka.
Demi apa pun, Danan tak bisa untuk mengurangi tawa sebab perkataan sang ibu yang sekian kali terdengar lucu di telinganya. "Di kamar udah bosan, Ma."
"Lagian yang tadi nggak sengaja. Salahin mantu Mama yang cantik buat aku terpesona." Kalimat bernada godaan diluncurkannya dengan begitu enteng.
Kemudian, seringaian nakal yang dibentuk cukup lebar oleh Danan seketika digantikan ekspresi kesakitan, akibat remasan diperoleh pada bagian lengan tangan kiri yang dilakukan sang istri, benar-benar diluar dugaannya.
"Sakittt, Naa! Suka banget nyiksa suami," sindir Danan terang-terangan. Kekesalannya muncul.
Anandhiya menampakkan delikan kedua matanya sebagai balasan. "Jangan suka ngomong alay juga."
"Bilang istri sendiri cantik, aku alay? Nggak suka apa dipuji sama suami?" balas Danan santai. Ia memang sengaja memancing agar argumen sang istri keluar.
"Biasa aja," jawab Anandhiya cuek. "Aku sering dibilang cantik. Bukan cuma sama kamu," tambahnya.
Ekspresi Danan jadi berubah. Rasa panas bahkan mulai tercipta di dalam dadanya. "Cowok mana aja yang berani bilang kamu cantik, Naa? Nggak tahu apa mereka kalau sekarang kamu udah nikah dan punya suami?"
Tawa Anandhiya lepas setelah menyaksikan raut wajah kesal suami. Dan secara refleks pula dirinya lantas menangkupkan tangan di masing-masing pipi pria itu. Ia tak bisa mengurangi suara tawa, malah kian kencang.
"Iyaa. Udah tahu kalau aku udah menikah. Sama punya suami yang lumayan cemburuan juga," celetuknya diiringi senyuman lebar. Kecantikan Anandhiya semakin terlihat bertambah saja kini. Tawanya belum hilang.
"Bagus kalau begitu," sahut Danan dengan kesan yang sedang acuh tak acuh. Kontras akan lengkungan di kedua sudut bibirnya yang ditarik ke atas.
"Haha. Maklumin putra Mama ini yah, Nak." Ibu Tika pun ikut menanggapi ucapan menantu beliau.
"Danan memang punya sifat pencemburu seperti Papanya. Diwariskan." Ibu Tika lanjut berbicara. Beliau ingin memberi tahu sang menantu tepatnya.
Anandhiya mengangguk, tanda bahwa sudah bisa memahami perkataan ibu mertua yang ia sayangi itu. Tak dapat dielak jika Anandhiya sudah menganggap ibu dari sang suami layaknya orangtua kandung sendiri.
"Iyah, Ma. Nggak apa-apa kalau Danan cemburu. Artinya dia sayang denganku." Untaian kalimat tersebut dilontarkan Anandhiya tanpa merasa malu. Berkata apa adanya dan jujur. Tidak akan gengsi mengakui.
Jelas saja, Danan menanggapi begitu positif serta senang jawaban istrinya. Kecupan sayang pun didaratkan oleh Danan kemudian di pucuk kepala wanita itu. Bukan terjadi secara refleks, namun sudah direncanakan.
"Baguslah udah paham kalau suaminya cinta. Ya, nggak perlu dikasih tahu lagi," ucap Danan dengan nada riangnya yang sengaja dibuat. Ingin menunjukkan bahwa ia tengah sangatlah merasa senang. Tak takut kentara.
Sekali lagi kecupan sayang dihadiahkan olehnya. Kali ini di kening sang istri. "Cuma aku seorang berhak bilang kamu cantik sungguhan ya, Na. Cowok lain kamu anggap mereka cuma pengin gombal. Harus abaikan."
"Oke, as you want, Danan." Anandhiya memilih mengiyakan saja agar tak timbul perdebatan baru. Sejak tadi pun atensinya tidak berpindah dari mata sang suami, memandang dalam tatapan yang juga kian intens.
"Sudahi dulu acara bermesraan kalian. Nanti lagi dilanjut saat Mama pulang." Ibu Tika berceloteh sembari berupaya menahan senyuman beliau agar tak melebar.
"Lebih baik kalian makan dulu masakan-masakan enak Mama. Harus dihabiskan. Mama khusus buat untuk kalian berdua, Nak," perintah Ibu Tika kemudian.
Kedua tangan beliau pun dengan gerakan cekatan mengeluarkan sekitar lima kotak plastik yang berukuran sedang dari tas. Dibuka lebih dahulu penutup semuanya. Barulah lantas diletakkan di atas meja makan.
"Walau kalian sudah sarapan. Makanan Ma—"
"Hueekk...hueekk."
Ibu Tika seketika terperanjat kaget karena secara tiba-tiba pula menantu beliau mual-mual. Ibu Tika tidak butuh waktu yang lama untuk menarik kesimpulan. Rasa bahagia pun melingkupi beliau kini karena sang menantu akan memberikan seorang cucu baru.
"Huek...huekk." Anandhiya tidak kuasa menahan mual yang tengah bergejolak di dalam perutnya kini. Tak bisa mencium aroma seafood yang ia benci.
"Kalau ingin muntah keluarkan saja, Nak. Mama dulu saat hamil muda sering sekali mengalami mual dan muntah. Masih wajar menurut Mama." Ibu Tika berbagi pengalaman beliau terdahulu kepada sang menantu.
"Nanti kalau mualnya sudah hilang. Habiskan air ini ya, Nak," pinta Ibu Tika dengan suara lembut sembari menyerahkan gelas yang sudah diisi penuh air mineral.
Bola mata Anandhiya membulat. Benar-benar tak menyangka akan perkataan ibu mertuanya. "Hamil, Ma? Aku nggak ha—"
"Hahaha. Dhiya nggak hamil, Ma. Dia itu punya keantian sama cumi-cumi. Lihat dan cium baunya pasti bakal langsung mual." Danan memotong kata yang sang istri hendak luncurkan. Ia juga tidak dapat menahan diri untuk tak tertawa terbahak-bahak.
"Cucu Mama masih dalam pembuatan. Ntar udah sukses pasti Mama yang akan kami kasih tahu pertama," imbuh Danan dengan celotehan kentalnya.
"Mama kira sudah hamil." Ibu Tika menanggapi sedikit kecewa dan tidak mampu beliau sembunyikan.
"Sabar dong, Ma. Proses membuat anak yang bibit unggul perlu waktu. Mama sama Papa pokoknya tinggal tunggu aja. Biarkan aku dan Dhiya yang menyiapkan semuanya. Ya, betul nggak begitu, Sayang? Siap bikin anak yang lucu-lucu dan manis denganku?"
Anandhiya melebarkan senyuman secara paksa, setelah mendapatkan rangkulan yang mesra dari Danan. Ditambah pula pria itu mendaratkan kecupan di keningnya. Ia tak bisa menunjukkan penolakan apa-apa.
Kemudian, sebagai balasan. Kepalanya pun dianggukan. Menunjukkan kesetujuan atas ucapan Danan. "Betul, Sayang. Mari kita terus berusaha secepatnya kasih anak ke orangtua kita," jawabnya dengan lembut.
..................