06

1073 Kata
.................    Na, kamu ngapain nemuin Pak Direktur?     Ada masalah apa? Kok ngga bilang ke aku?     Na, buat apa si Surya ikut masuk ke sana?     Aku jadi cemas di sini Na. Balas semua chatku. Jangan bikin aku tambah khawatir Naaa.     Danan hanya dapat membaca berulang kali empat pesan yang dikirimkannya kepada sang istri dalam kurun waktu selama satu jam. Belum ada balasan satu pun yang diterimanya, bahkan tanda-tanda dibaca juga sama sekali tidak tampak. JWajar jika kegelisahan Danan bertambah.     Bagaimana wanita itu pertama kali menginjakkan kaki di kantor tadi, sekitar jam sebelas siang. Lalu, lanjut naik ke lantai teratas gedung perusahaan untuk menemui direktur utama yang notabene ayah mertua kini. Satu pun tak ada dilewatkan oleh Danan, terus terpantau.     Hanya saja, ia tidak pernah tahu pembicaraan apa yang dibicarakan istrinya dan sang ayah mertua di dalam sana. Danan merasa belum memiliki kapasitas lebih guna ikut campur, terlebih masalah pekerjaan. Namun, hatinya malah berkata lain, kecurigaan pun tak bisa ditepis.     “Dan, bisa tolong bantu bawa rancangan gambar hotel yang diminta Pak Handy ke ruangan nggak? Masih ada kerjaan gue yang belum selesai soalnya. Nanti, satu jam lagi mesti dipresentasikan sama Pak Manager.”     Danan yang sudah terbebas dari lamunan karena perkataan rekan kerjanya barusan, jelas saja mengangguk segera mengiyakan. “Siap dibantu,” jawab pria itu dalam nada yang santai, lalu bangun dari kursi kerja.     “Ini rancangan buat hotel yang daerah Ubud yah? Udah rampung semua. Cepat amat, Bro.” Celotehan pun dengan sengaja dikeluarkan Danan untuk menghilangkan kegusaran yang masih betah menaunginya.     Vino mengangguk kecil. “Tuntutan dari mertua lo juga biar cepat rampung, Bro. Gue di rumah, hampir dua hari begadang sampai jam tiga pagi.”     “Ntar di depan mertua lo. Puji kinerja gue. Siapa tahu gue dapat bonus,” guyon Vino kemudian.     “Haha, minta sendiri. Gue nggak sedekat yang lo pikir. Meski Pak Direktur sekarang jadi ayah mertua gue, bukan berarti gue bisa minta apa-apa,” balas Danan jujur.     “Canda gue, Dan.” Vino meralat ucapannya tadi.     “Ngomong-ngomong lo kuat ya. Kalau misalkan gue ada di posisi lo, gue nggak akan izinin istri gue dekat mantannya lagi. Lo nggak cemburu, Dan?”     Anggukan singkat dilakukan oleh Danan. “Jelas.”     “Tapi, gue harus tahu dulu alasan Dhiya bertemu Surya. Nggak mungkin nggak ada tujuan.”     Setelah menyelesaikan ucapannya, Danan lantas mengambil lembaran-lembaran rancangan gambar untuk dibawakan kepada sang ayah mertua. “Maka dari itu, gue mesti ke ruangan Pak Direktur buat mastiin apa yang lagi dilakukan istri gue sama si Surya.”     “Kamu nggak usah ke sana. Aku udah di sini.”     Dengan gerakan yang begitu cepat, kepala Danan menoleh ke asal pemilik suara, yakni istrinya. “Apa yang terjadi, Na? Pesanku belum ada yang kamu balas..”     Anandhiya tidak segera ingin menjawab. Wanita itu hanya memilih memandang sosok sang suami hingga 30 detik lamanya. Lalu, atensi dari Anandhiya teralih ke rekan kerja sekaligus arsitek di perusahaan ayahnya.     “Vin, aku mau bicara berdua dengan Danan. Apa kamu akan marah kalau aku minta keluar sebentar?”     Vino buru-buru menggeleng sembari bangun dari kursi yang diduduki. “Nggak marah, Ya. Aku juga ingin keluar beli minuman,” jawabnya cepat dan tidak berhenti melangkah menuju ke pintu ruangan.     “Makasi, Vi,” ucap Anandhiya sopan. Senyuman tipis diperlihatkannya saat berpapasan dengan Vino.     “Yoo, Ya. Sama-sama.”     Sembari memerhatikan sang rekan kerja semakin berjalan mendekat ke pintu, Danan belum memindahkan atensi dari sosok istrinya. Dan ketika Vino sudah tak lagi di dalam ruangan, maka Danan segera menipiskan jarak dirinya bersama sang istri, maju sebanyak tujuh langkah.     “Dhiyaa, kenapa chat-ku nggak dibalas?” Danan tidak mampu menahan keingintahuan lebih lama.     Tatapan pria itu kian intens kala merasakan ada perubaham mimik wajah istrinya. “Kamu sama si Surya ketemu ‘kan? Apa yang kalian bahas?” tanya Danan lagi dengan tingkat rasa penasaran kian tinggi.     “Aku ada urusan bersama Surya. Kamu apa bisa memperbolehkan aku pergi, Danan?” Anandhiya malah tidak menjawab, melainkan meminta izin.     “Pergi dengan Surya? Untuk urusan apa, Na?”     Tatapan Danan jadi menajam. Kekesalan pria itu muncul secara tiba-tiba kala merasa sang istri kini tengah menyembunyikan sesuatu. “Kalau aku nggak ingin kasih kamu pergi sama Surya gimana, Na?”     “Apa kamu akan tetap pergi, Dhiya?”     Anandhiya mengangguk pelan. Walau, saat ini ia tengah dihantui rasa ketidaknyaman atas pandangan dari suaminya, Anandhiya tak mengakhiri kontak mata yang tengah mereka lakukan sejak beberapa detik lalu.     “Maaf, Danan. Aku harus tetap pergi. Aku punya tanggung jawab terhadap seorang anak.”     Anandhiya pun menjeda sejenak. Lalu, wanita itu lanjut berkata, “Aku nggak ingin ada anak yang menjadi korban atas perpisahanku dengan Surya. Kasihan dia.”     “Baik, aku izinkan kamu pergi, Na.” Tidak butuh waktu yang lama bagi Danan memberi keputusan.     “Masalah yang kamu hadapi bisa kasih tahu nanti di rumah, kalau kamu nggak mau cerita sekarang, Na.”     Tepat setelah ucapannya selesai, kekagetan lantas melanda Danan tatkala mendapatkan pelukan mendadak dari istrinya. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara isakan kecil dikeluarkan oleh wanita itu.     “Kenapa kamu nangis, Naa?” Danan tidak paham akan tingkah istrinya. Ia sungguh dibuat bingung.     “Aku gedeg sama Surya. Dia bikin drama baru di depan Papa. Dia bilang aku hamil anak dia.” Anandhiya tak sungkan bercerita sambil menempelkan kepalanya di d**a sang suami. Pelukan juga dieratkan olehnya.     “Padahal aku sama dia nggak pernah ngapain saat kami pacaran, Danan. Aku juga nggak mau sampai harus punya anak dengan dia. Pria suka selingkuh.”     “Mending aku punya anak dari kamu aja.”     Tawa Dana terluncur mendengar pengakuan sang istri. “Apa yang kamu bilang, Na? Mau punya anak dari aku aja ya? Nggak salah dengar ‘kan aku?”     “Nggak salah.” Anandhiya menjawab cepat. Dan, tak terdengar dalam suaranya yang dialunkan pelan.     Danan mengeraskan tawa. “Okelah, kalau gitu ya Anandhiya. Ntar malam langsung tancap gas aku.”     Selesai berkata, Danan melepaskan pelukan yang sudah sejak dua menit lalu mereka lakukan. Ia tak segan melemparkan tatapan jahil. “Boleh nggak, Na?”     “Terserah kamu. Itu hak kamu sebagai suami.”     Danan sungguh tak bisa untuk tidak tergelak kian keras karena jawaban dari sang istri. “Terus kesepakatan buat nggak punya anak selama kontrak nikah kita masih berlaku gimana, Na? Mau dibatalin?”     “Bisa kita batalkan. Aku ingin balas kelakuannya Surya yang sudah menginjak harga diriku di depan Papa tadi. Aku nggak bisa maafin dia.” .........................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN