07

1031 Kata
.....................     "Ibubuu." Seruan senang diluncurkan oleh batita perempuan berusia 26 bulan dengan nama lengkap Putu Sachita Nanda itu sembari mengeratkan lingkaran tangan pada leher seorang perempuan yang dianggap ibunya.     "Ibuubuuu." Sachita berseru lebih keras dan riang karena mendapatkan elusan halus di bagian kepala.     "Kangen banget ibu sama Sachi. Miss you, Nak."     Ungkapan rasa rindu telah selesai ucapkan. Lalu, pelukan semakin kuat diberikan oleh Anandhiya kepada sosok kecil Sachita yang tengah digendongnya. Ia sudah hampir empat bulan tak bertemu dengan batita itu. Tidak heran kerinduan yang dalam dirasakannya.     "Miss you so much, Nak." Anandhiya sekali lagi berucap dengan nada lembut. "Sachi kangen nggak sama Ibu? Harus kangen ya, Nak." Anandhiya lantas memulai interaksi bersama batita perempuan manis itu yang sudah dianggap sebagai buah hati sendiri.     Sachita mengangguk semangat. "Ya, Angen Ibu," jawabnya dalam suara yang manja dan tatapan polos.     "Ibu mau ajak Sachi nginep di rumah Ibu? Sachi mau nggak, Nak?" tanya Anandhiya lembut.     Dan, tidak perlu waktu yang lama untuk batita itu menganggukkan kepala tanda mengiyakan. "Mauuhh."     Lebaran senyum Anandhiya pun bertambah. "Ok. Ibu akan ajak Sachi nginep di rumahnya Ibu sama Ayah Danan ya. Siapp, Nak?" Nada riang didominasi olehnya secara sengaja saat menanggapi jawaban batita itu.     "Siapp, Ibuubuuu." Sachita menyahut cepat. Raut wajahnya semakin terlihat ceria dan senang.     "Ckck. Ayah Danan? Sejak kapan? Dia bukanlah siapanya keponakanku. Aku yang lebih berhak."     "Dia tidak berhak dipanggil demikian oleh Sachi. Dia bukan siapa-siapa keponakanku," ingat Surya keras.     Sungguh, suasana hati Anandhiya kembali sukses dibuat memburuk hanya dengan mendengar suara Surya. Padahal tadi, kala bercanda bersama sosok kecil Sachita, ia bisa mengesampingkan sedikit kemuakkan disebabkan melihat wajah mantan tunangannya itu.     Tetapi kini, rasa kesal Anandhiya jadi bertambah kuat. Bahkan untuk bersitatap dengan Surya sama sekali tak ingin dilakukan. Ia terlalu jijik akan sorot mata penuh sayang yang masih dipamerkan pria itu padanya. Tidak akan pernah mempan, rasa cintanya sudah hilang.     "Aku nggak kasih izin ke kamu untuk ajak Sachi menginap di rumah kalian." Larangan dilontarkan Surya dengan nada dingin. "Apa kamu sudah mengerti?"     "Bisa kamu menjawabku sekali saja, Ana?" Bagi Surya kalimat yang dilontarkannya bukan akan dijadikan sebagai permintaan belaka, tetapi sebuah perintah.     Anandhiya tetap bungkam. Tidak  ingin menuruti apa yang mantan tunangannya katakan. Ia lantas memilih untuk membujuk Sachita saja. Membatalkan ajakannya barusan. Bagaimanapun dirinya harus bisa menghormati permintaan Surya. "Sachi sayangg," panggilnya lembut.     "Yaa, Ibu?" Sosok imut Sachi segera merespons. Memandang dengan pancaran matanya yang polos.     "Maaf yah, Sayang." Anandhiya mengambil jeda seperkian detik dahulu sembari membalas tatapan batita itu dalam sorot yang teduh. "Maaf, Ibu nggak jadi ngajak Sachi nginep di rumah Ibu ya, Sayang."     "Sachi bobok di sini sama Papa Surya ya? Besok pagi, Ibu akan datang lagi untuk nemenin Sachi main."     Sachita menggeleng secara cepat, tanda memberi tanggapan negatif akan ucapan yang baru didengar. Lalu, lanjut mengeluarkan rengekan. "Gagg mauuu," tolaknya menolak keras seraya mulai meloloskan tangisan.     Anandhiya segera saja menenangkan Sachita. Ia tak akan pernah merasa tega jika reaksi sepert ini sudah ditunjukkan batita perempuan imut itu. Terlebih, Sachita baru sembuh dan keluar dari rumah sakit empat hari lalu.     "Sachi nggak boleh nangis." Anandhiya berucap lembut, lalu merebahkan kepala Sachita di perpotongan leher dan bahu kananya. "Ibu akan menginap malam ini di sini. Akan nemenin Sachi bobok ya. Mau."     Senyuman Anandhiya lantas mengembang dikala merasakan Sachita mengangguk pelan. Rasa sayangnya pada batita itu sungguh besar. Bahkan, keinginan serius untuk mengangkat Sachita sebagai anak belum berubah. Apalagi, batita itu sudah tak memiliki orangtua lagi.     "Sachi berhenti nangisnya dong ya, Nak? Malam ini, Ibu di sini nemenin Sachi," hibur Anandhiya. Lantas, kecupan sayang didaratkan di masing-masing pipi batita itu yang kini sudah mengurangi rengekan.     "Yaah, Buuu," sahut Sachita dengan suara pelan. Namun, raut wajah ceria semakin tampak jelas.     Surya yang menyaksikan secara saksama setiap interaksi Anandhiya dan keponakan kesayangannya. Tak mampu dimungkiri rasa hangat menjalar di dadanya kini Surya selalu menyukai momen kebersamaan seperti ini.     "Makasih karena masih memperdulikan Sachita, Ana. Terima kasih." Surya berucap jujur. Atensinya tidak teralihkan dari wajah cantik sang mantan tunangan.     Surya masih bisa menerima jika ucapannya yang pertama tak dibalas. Namun, ketahanannya menghadapi kebungkaman wanita itu tidak dapat bertahan panjang. Ia ingin Anandhiya mengatakan sesuatu, walau singkat.     Hak untuk membuat wanita itu berbicara tak lagi ada. Hubungan mereka sudah berakhir. Jika ia diingatkan kembali, rasa nyeri langsung menyerang dadanya. Surya tidak pernah menyangka sesakit ini kehilangan seseorang yang paling ia cintai. Wanita itu bahkan membencinya.     "Aku akan menyelesaikan masalah yang tadi aku buat di kantor Papamu, Ana," janji Surya serius. "Aku akan menjelaskan pada Pak Hendi semuanya besok agar kamu tidak dimarahi. Maafkan aku, Ana."     Anandhiya menatap sinis Surya. "Kalau misalkan aku nggak mau memaafkanmu bagaimana?"     "Harga diriku sudah kamu rendahkan di hadapan Papaku. Nggak sadarkah kamu?" Anandhiya coba tidak meluapkan emosi, mengingat ada Sachita bersamanya di sini. Tak bagus jika tercipta pertengkaran.     "Aku cuma ingin kamu kembali padaku, Ana."     Anandhiya berdecih pelan. "Aku nggak ak—"     Wanita itu tak bisa untuk menyelesaikan kalimat pedasnya karena secara tiba-tiba Surya memeluknya. Tak akan berlaku untuk Anandhiya membiarkan sang mantan mendekapnya lama-lama, ia pun ingin mendorong.     Sayang, rencana tersebut harus ditundanya ketika mendengar isakan kecil diloloskan oleh Surya. "Kenapa kamu menangis? Apa kamu pikir aku akan luluh?" bisik Anandhiya di telinga mantan tunangannya dengan sinis.     Dan yang lantas dilakukan Surya adalah melepas pelukannya, lalu mundur ke belakang dua langkah tanpa menyudahi kontak mata mereka. "Aku cinta sama kamu, Ana. Aku tidak pernah berselingkuh dengan Nari."     "Aku sengaja mendekati Nari agar bisa meminta bantuannya. Agar aku bisa menyelamatmu, Ana!" Surya meninggikan intonasi suaranya secara refleks.     "Kamu kira siapa yang mendonorkan ginjal pada dirimu, Ana? Nari orangnya. Aku membujuknya. Kamu tahu aku harus memberikan ratusan juta kepada Nari!"     Anandhiya membulatkan bola mata. Tidak dapat percaya dengan ucapan Surya. "Ap...apa katamu?"     "Kamu sedang berbohong 'kan?"     Surya menggeleng lemah. Tatapannya menajam. Ia tak suka akan tuduhan Anandhiya. "Apa aku terlihat seperti berbohong? Aku coba menyelamatmu, Ana."     "Balasan apa yang aku dapat? Kamu malah batal menikah denganku dan memilih Danan." Kegetiran pun terdengar jelas dalam suara berat Surya.     "Seharusnya kamu tidak percaya begitu saja jika Nari bilang aku dan dia ada hubungan atau berselingkuh, Ana. Aku cuma mencintaimu seorang."     "Kalau kamu memang nggak selingkuh, kenapa waktu itu kamu malah mengakuinya, Surya? Bagaimana aku nggak berpikir sekarang kamu lagi berbohong?" .....................
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN