Anandhiya sejak tadi berusaha keras untuk tidak mengeluarkan gelakan yang kencang. Penyebab utama tentu masih sang suami. Terutama, ekspresi cemberut pria yang tampak menggemaskan untuk dirinya. Ingin sekali, diberikan cubitan. Namun, tak akan direalisasikan malam ini. Mungkin lain hari. "Danan…," panggil Anandhiya dalam nada begitu lembut, walau intonasi dikeluarkan cukup keras. "Apa, Sayang?" Anandhiya segera menambah lebaran senyum dan diarahkan pada sang suami. "Kamu masih nggak bisa terima aku datang bulan sama aku kerjai tadi kamu, ya? Kamu lagi ngambek?" tanyanya dengan raut biasa saja. Meski, sangat ingin tertawa. "Nggak ngambek, Na. Cuma rada-rada kesal gitu kamu kasih harapan yang palsu ke aku, Sayang." "Sabar dulu ya, Suamiku yang mesum." Celotehan canda dikeluarkan Anandhi

