“Anak Anda tidak bermasalah, Tuan Satria,” ujar seorang psikiater saat Satria mengundang dokter itu ke rumah untuk memeriksa Arya.
“Kamu yakin?” tanya Satria lagi melihat anak lelaki yang sekarang sedang memainkan mobil-mobilannya di lantai usai diperiksa.
“Iya. Saya yakin. Dia sangat pintar,” ujar si psikiater.
“Bukan itu, maksudku dia tak ada kelainan menyukai nenek-nenek atau sejenisnya, begitu?” bisik Satria pada pria berkacamata itu.
“Sesuai dengan keluhan Anda, Tuan kecil Arya bisa membedakan gambar wanita tua dengan wanita muda tadi saat saya memberikan gambar padanya. Dia bilang juga wanita muda lebih cantik dari pada wanita tua. Tak ada yang perlu dikuatirkan, Tuan.”
Pria itu tersenyum pada Satria dengan penuh keyakinan. Hal itu membuat Satria mengelus dagu, mungkin juga psikiater itu benar, tapi yang dia lihat di kantin itu adalah wanita tua paruh baya seusia ibunya.
"Oh baiklah, kamu boleh pulang,” ujar Satria setelah selesai berkonsultasi.
“Terima kasih, Tuan. Permisi.”
Satria menatap kepergian si psikiater dan berdecak. Dia pikir sang psikiater tak menyelesaikan masalah. Dia sendiri yang akan menasihati anaknya. Sebagai single parent, dia harus turun tangan sendiri untuk melakukan pendekatan pada anaknya. Ini tak mudah. Tak seperti jiwa seorang ibu yang lembut dan sabar bisa memberi pengertian pada sang anak, Satria tak bisa sabar. Yang biasa dia lakukan saat anaknya ngeyel, hanya pergi meninggalkannya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor dan menyerahkan Arya pada Bik Sum. Namun seiring berjalannya waktu, anak semata wayangnya itu tak mudah diberi pengertian.
“Nak, tadi disuruh apa saja sama Pak Dokter?” tanya Satria yang sudah memakai baju santai, duduk di dekat Arya, mengambil salah satu mainan lalu menggeser-geserkannya seperti yang Arya lakukan.
“Disuruh pilih yang cantik, Daddy.”
‘Duh, anak ini apa dokter itu sih yang puber?’ batin Satria. Dia berusaha mengatur emosinya agar sabar mengulik apa yang terjadi pada sang anak.
“Maksudnya? Pilih apa?” selidik Satria.
Arya sibuk mengelus karpet yang menggulung agar mobil mainannya bisa berjalan lancar. Namun, kali itu tak mengurangi konsentrasinya pada pertanyaan sang ayah.
“Ya, pilih beberapa gambar. Gambar orang perempuan semua. Rambutnya panjang-panjang, ada yang tua, ada yang seumuran Arya, ada yang adik bayi,” sahutnya dengan gamblang.
“Trus, Arya pilih yang mana?” tanya Satria penasaran.
“Yang kayak Kakak Cantik,” ujarnya tersenyum masih seraya memainkan mobilannya.
Satria menepuk jidatnya dengan pernyataan Arya. Wanita seumur neneknya dipanggil ‘Kakak’. Dia takut sekali anak itu memiliki kelainan, entah pada jiwanya atau pada matanya.
“Besok Arya mau ke tempat Kakak Cantik lagi pas pulang sekolah, Daddy,” pintanya bersemangat. Bahkan setelah mengatakan hal itu, dia beranjak dari mainnya lalu bergegas menyiapkan tas sekolahnya untuk dibawa esok hari. Mainan Arya masih berserakan di karpet.
Satria ingin mengetes Arya. Dia pun melipat tangannya lalu menyuruh anak itu membereskan mainan. Anaknya itu bergeming, masih sibuk menata pensil warna yang akan dia masukkan ke tas Tayo-nya.
“Besok nggak akan ketemu Kakak Cantik kalo kamu nggak beresin mainanmu ini,” ancam Satria.
Mendengar hal itu, seketika Arya meletakkan tasnya dan bergegas kembali ke karpet dan menaruh mainan-mainannya dengan rapi di rak-rak dan kotak penyimpanan mainan. Satria sangat takjub dengan sikap tiba-tiba anak itu. Hanya dengan mengatakan tentang si Kakak Cantik, anak itu menurut. Betapa mudahnya Arya memberesi mainan tanpa mengancam mainannya akan disapu. Satria menghela napas. Mungkin dia harus menerima anaknya telah terpikat oleh seorang wanita paruh baya.
***
“Arya, kamu nggak punya mama?” tanya seorang anak lelaki yang duduk di sampingnya.
Arya tak menjawab pertanyaan temannya itu. Dia seringkali melihat teman-temannya dijemput oleh ibu mereka, tapi dirinya belum pernah merasakan dijemput oleh seorang ibu. Sejak lahir Arya belum pernah melihat ibunya sendiri. Dia jadi kesal pada segala jenis kucing. Andai saja dulu ibunya tak digondol kucing, pasti sekarang dia sudah melingkarkan jarinya ke tangan ibunya seperti yang dilakukan oleh teman-temannya.
“Eh, Arya nggak punya mama!” teriak anak itu berlari di dalam kelas.
Semua anak memandang ke arah Arya. Mereka mengolok-olok Arya karena tak memiliki ibu, sampai kedua mata Arya diselimuti kaca yang sudah pasti pecah menggulirkan air mata ke kedua pipinya. Arya terisak di pojok ruangan mendengar semua temannya mengolok.
“Aku punya Mommy!” teriak Arya mengumpulkan seluruh keberaniannya, berdiri menghadapi semua teman yang berceloteh tentangnya.
Teman-temannya yang seusia, langsung diam begitu mendengar teriakan Arya. Mereka takut akan kemarahan Arya yang tiba-tiba. Arya, anak usia lima tahun itu sangat kesal saat semua orang membicarakan tentang dia yang tak memiliki ibu. Arya rindu, ya, dia rindu sosok seorang ibu. Bagaimana rasanya merasakan sentuhan halus tangan ibu, bagaimana dia berjalan dengan seorang ibu, dia belum pernah merasakannya. Jadi, saat dibilang tak punya ibu, anak-anak usia lima tahun itu tak mengerti betapa sakit hatinya Arya saat itu. Arya berlari keluar dan melewati lorong lorong sekolahannya untuk pergi ke ayunan. Dia duduk di ayunan sendirian, merenung.
“Kenapa, Arya?” tanya seorang guru wanita mengelus pundak anak yang cemberut itu.
“Miss, kenapa Arya nggak punya Mommy?” tanyanya pada wanita berambut pendek dengan kacamata persegi itu.
“Mungkin Mommy Arya baru pergi jauh, belum kembali,” ujar Miss Lina menaruh iba pada anak itu. dia pun duduk di sebelah Arya, mengikuti ayunan.
“Kata Daddy, Mommy Arya digondol kucing,” ucapnya.
Miss Lina ingin sekali tertawa, tapi melihat wajah serius anak itu, dia menahan tawanya.
“Bukan, Sayang. Mungkin Mommy sedang menggendong kucing pergi dari rumah.”
Wanita itu mencoba menenangkan anak yang sedang cemberut itu.
“Jadi, Mommy Arya lebih sayang sama kucing? Karena yang digendong itu bukan Arya tapi malah kucing?” ujarnya meminta penjelasan lebih banyak pada gurunya.
“Bukan begitu.”
Wanita itu mendesah, merutuki kenapa ayah Arya sampai mengatakan perihal ibu anak itu yang digondol kucing. Bukankah itu membuatnya harus berpikir keras memperbaiki pikiran anak itu tentang ibunya?
“Mungkin Mommy Arya mengembalikan kucing yang main ke rumah Arya. Jadi, dia nanti pulang kalo sudah selesai,” jelas Miss Lina.
“Ngembaliinnya ke luar angkasa ya, Miss Lina? Soalnya lama sekali, lima tahun belum juga pulang,” sahut Arya membuat Miss Lina menepuk dahinya.
***
“Pak Odi, tolong bilang ke Daddy Arya tentang kebenaran soal ibunya,” pinta Miss Lina saat Odi menjemput Arya sepulang sekolah setelah anak itu mau menuruti Miss Lina masuk ke kelas.
“Memangnya kenapa, Miss Lina?” tanya Odi.
“Arya bingung di mana ibunya. Jangan bilang hal yang mustahil untuk seorang anak berusia lima tahun. Itu akan mempengaruhi pikirannya,” ujar Miss Lina.
“Tentang Mommy-nya, Tuan Satria akan mencarikan Arya ibu baru. Semoga sebentar lagi dia mendapatkan ibu baru setelah ibu lamanya dibawa lari kucing garong,” ujar Odi.
Miss Lina terbelalak mendengar perkataan sopir Arya itu. Sekarang dia paham tentang kucing yang dimaksud oleh Daddy Arya. Namun, bagi Arya kucing tetaplah kucing berbulu yang suka makan ikan asin.
“Ooh, baiklah. Semoga segera mendapatkan ganti Mommy Arya ya, Pak Odi.”
Miss Lina berharap penuh, dia kebingungan sendiri jika melihat Arya sedih karena diolok teman-temannya. Miss Lina sangat sayang pada murid-muridnya. Satu saja sedih, dia tak sampai hati. Sedangkan anak-anak lain juga tak paham akan apa yang mereka ucapkan menyakiti hati Arya. Yang anak-anak itu tau hanyalah Arya tak pernah dijemput oleh ibunya. Jadi mereka bilang bahwa Arya tak punya mama.
“Ayo, Om Odi!” teriak Arya yang sudah duduk di dalam mobil.
Odi bergegas pamitan pada Miss Lina lalu masuk ke mobilnya. Miss Lina melambaikan tangan pada Arya yang juga melambaikan tangan pada gurunya itu. Sudut bibir Miss Lina terangkat sedikit melihat kepergian Arya.