Dengan cemberut Arya turun dari mobil saat kendaraan itu sudah berhenti di parkiran. Namun, saat melihat kantin, raut wajah Arya berubah ceria. Dia langsung berlari ke kantin yang kemarin dia masuki. Dengan menyiapkan beberapa biji saga yang dia ambil dari bawah pohon di sekitar sekolahannya, Arya berdiri di depan lalu melongok ke dalam mencari seseorang.
“Hayo!”
Arya tersentak saat seseorang menyentuh kedua pundaknya dengan tangan. Anak kecil itu mendongak lalu tersenyum menatap perempuan yang memang dia cari.
“Kakak Cantik! Aku udah ngumpulin biji saga, banyak banget lho!” pekiknya bersemangat mengeluarkan biji-biji dari kantong kecilnya.
“Mana coba, dihitung.”
Caca menarik tangan Arya agar masuk dan tak menghalangi orang lain di depan kantin. Dia menyuruh Arya duduk di kursi yang masih kosong karena belum waktunya makan siang untuk pegawai kantor.
“Satu, dua, tiga, empat, enam-“
“Lho, habis empat berapa, Arya? Kok jadi lompat dua?” gelak Caca yang mendengarkan anak kecil itu menghitung dengan logat yang lucu.
“Eh iya, lupa Kak Cantik!” pekik Arya yang langsung lemas saat harus mengulang hitungannya lagi.
“Yuk, pelan-pelan Kakak bantu ya?” tawar Caca, membuat Arya bersemangat. Pada hitungan ke dua puluh mereka berhenti karena biji saga telah habis.
“Ini dua puluh biji saga mau Arya tukar apa? Jus kayak kemarin sama nasi kuning?” tanya Caca menatap pada kedua mata bening anak lelaki yang tampan itu.
Arya mengangguk dengan cepat. “Tapi dibungkus semua ya, Kak? Mau Arya bawa ke kantor Daddy,” sahutnya.
“Nggak mimik di sini sambil temeni Kakak?” tanya Caca.
“Sayangnya Arya nanti mau les, nggak bisa lama-lama,” ujarnya.
Caca tersenyum, baru kali ini dia mendapati anak usia lima tahun yang sadar akan kedisiplinan. Dia harus apa, kegiatan apa yang akan dilakukan dan menunda sesuatu untuk hal yang penting. Caca yakin anak itu pasti anak orang yang juga penting di kantor Wiratama.
Seorang lelaki berdiri di depan kantin lalu memanggil Arya, seperti kemarin.
“Sebentar, Om Odi. Arya baru nunggu nasi kuning sama jus alpukat,” ujarnya. Lupa sudah akan kesedihannya di sekolah tadi.
Arya membawa satu cup jus dan satu kotak nasi bento yang dihias oleh Caca dengan bentuk mobil. Dia sengaja membawa cetakan bento yang ada di rumah, karena ingat Arya. Caca iseng membawanya dan ternyata Arya benar-benar datang kembali ke kantin.
“Kakak Cantik, aku bawa ya?” teriak Arya membawa tasnya. Dengan cup jus di tangan dan kotak bekalnya di tas.
“Iya, hati-hati ya Arya.”
Caca berpesan dari dalam hingga Odi juga tak sempat melihat wajahnya. Odi membawa Arya pergi dari kantin lalu berjalan memasuki kantor ayah Arya.
***
“Wah mobil. Lihat, bagus kan, Daddy?”
Arya menunjukkan nasi bentonya pada Satria. Pria itu menatap nasi yang nampak luar biasa bagi anaknya. Maklum, meski di keluarga berada tapi Satria hanya mengandalkan Bik Sum untuk membekali Arya. Bik Sum yang sudah tua hanya bisa membuatkan roti panggang dan selai. Terkadang sosis bakar saja untuk Arya.
“Bagus. Siapa yang bikin? Kakak Cantik lagi?” tanya Satria.
“Iya dong, Daddy. Kakak Cantik juga keratif,” ujarnya.
“Kreatif,” ralat Satria.
Arya mengangguk-angguk lalu segera menyantap nasi itu dengan bersemangat. Dia tampak sangat menikmati nasinya. Satria menatapnya dengan kasihan. Namun, dia tak ingin Arya mendatangi kantin itu lagi.
“Arya, setelah makan, Daddy mau bicara sama kamu ya?” ujarnya hati-hati.
“Mau bicara apa, Daddy? Kok kayaknya sresius,” sahut Arya dengan mulut penuh.
“Serius,” ralat pria itu lagi. Ucapan-ucapan Arya memang terkadang belum benar. Dia masih harus didampingi. Satria membutuhkan waktu lama untuk merayu Arya agar merestui hubungannya dengan Mona.
“Ya, habiskan makanmu dulu. Daddy juga harus menyelesaikan kerjaan,” ujarnya.
“Iya, Daddy.”
***
“Arya, mulai besok akan Daddy pesankan nasi bento untuk bekalmu. Daddy akan cari di aplikasi online untuk memesankan nasi bento rutin kalo kamu mau,” kata Satria pelan-pelan pada anaknya di kantor.
“Nggak usah, Daddy. Kakak Cantik udah bikinkan nasi bento buat Arya di kantin. Jadi nggak perlu pesan,” tolaknya.
“Nggak. Mulai besok Arya harus segera pulang setelah sekolah. Nanti Daddy tambahi jam lesnya,” ujar Satria membuat Arya mendengkus.
“Daddy! Jadi, Arya nggak bisa ketemu sama Kakak Cantik? Daddy tega sama Arya!” rengek anak yang ternyata bisa menangkap maksud ayahnya.
“Eh, maksud Daddy-“
Arya nampak menahan tangisnya. Dia melempar tasnya lalu berjalan ke jendela. Terisak memandang keluar. Dia nampak sangat sedih. Arya membayangkan harus di rumah dan terkurung di dalam rumah hanya dengan Bik Sum. Sedangkan untuk pergi keluar, dia harus setuju jika bersama dengan Tante Sihir.
Terdengar isakan dari mulut anak kecil itu. Satria sudah habis akal. Dia memijat pelipisnya melihat anak lelakinya ngambeg. Terpaksa membiarkan anak itu. jika dirayu, dia akan tambah menangis dengan kencang.
***
Arya melipat tangan saat seorang guru les mendatanginya setelah sampai di rumah. Dia sudah kehilangan mood. Padahal saat berpamitan dengan Caca tadi, dia masih nampak bersemangat.
“Ayo, kita belajar membaca,” ajak wanita berkacamata itu.
“Nggak mau!”
Masih dengan melipat tangan, Arya menahan rasa kecewanya terhadap apa yang tadi dikatakan oleh sang ayah. Arya kecil merasa sangat sedih. Dia tak bisa belajar jika merasa kecewa. Moodnya harus dikembalikan dan gurunya tak bisa merayu Arya.
“Maaf, Arya. Bu Guru nggak tahu apa kemauan Arya,” ucapnya, agak kesal.
Sudah di sekolah diolok teman-temannya, sekarang sang ayah mengatakan hal yang membuat dia tak bisa menemui kakak cantiknya. Arya menangis meraung teringat hal itu. Guru lesnya tak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu memilih untuk berpamitan pada Bik Sum yang mengiyakan agar Arya lebih tenang dulu.
“Kenapa, Tuan Kecil?” tanya Bik Sum mengelus kepala anak lelaki yang bersedih di ruang belajarnya.
“Nenek Bibik. Arya tadi diolok teman-teman di sekolah. Katanya Arya nggak punya ibu, lalu tambah lagi Daddy mau nambah jam les Arya dan tak memperbolehkan Arya untuk datang ke kantor sepulang sekolah,” rengeknya.
“Daddy itu pasti pengen yang terbaik buat Tuan Kecil,” ujar Bik Sum, ikut memberesi peralatan belajar Arya.
“Nenek Bibik, masa kalo mau yang terbaik buat Arya, Daddy bawa Tante Sihir ke rumah? Pokoknya Arya mau ke kantor buat ketemu Kakak Cantik lagi!” teriak Arya, cemberut.
Bik Sum hanya mengelus d**a menghadapi dua lelaki beda generasi yang bertolak belakang pendapat itu. Wanita paruh baya itu membiarkan Arya menelungkup di meja belajar dan akhirnya tertidur karena kelelahan menangis.