Mendatangi Kantin

1117 Kata
“Mas Arya tadi nggak mau belajar, Tuan.” Dengan menunduk Bik Sum menjelaskan pada Satria tentang apa kelakuan anak kecilnya siang tadi. Satria kembali memijat pangkal hidungnya menghadapai satu anak itu. Sebagai seorang single parent, dia kehabisan akal untuk membujuk sang anak. “Dia mau apa sebenarnya, Bik?” tanya Satria. “Mau Kakak Cantik,” sahut Bik Sum singkat tapi membuat Satria meradang. “Bik, kalo Bibik tau siapa itu Kakak Cantiknya Arya, pasti Bibik nggak akan setuju. Dari mukanya aja kelihatan kalo dia seusia Mama, mungkin, atau malah seusia Bibik,” beber Satria memejamkan matanya dalam-dalam sembari memijat pelipis, dengan tangan satunya melingkar di perutnya sendiri. “Ya, Bibik tau, tapi Mas Arya bukan cari ibu pengganti, kan?” ujar Bik Sum, menohok Satria. “Iya juga, tapi kenapa dia bilang wanita setua itu ‘Kakak’?” gumam Satria. “Bik, kenapa Bibik nggak bujuk dia buat melupakan si ‘Kakak’nya itu, dia harus dekat dengan Mona, Bik. Aku sudah menahan untuk tak menyentuh Mona terlalu jauh demi menunggu ijin dari Arya. Bibik tau kan rasanya menduda begitu lama?” tanya Satria yang sudah habis akal. Kini, Bik Sum yang memijat keningnya. Tentu saja dia tak tahu rasanya menduda begitu lama. Juga bagaimana cara agar membujuk si tuan kecil untuk tak lagi mengingat-ingat ‘Kakak Cantik’nya. *** “Ca, nih modul kamu,” ujar Entin yang sengaja menyambangi Caca di kantin kantor PT. Wiratama. Dia masih meminjam buku tebal milik Caca. Karena Caca hanya masuk kuliah saat akhir pekan, maka Entin berinisiatif untuk mendatangi kantin, sekalian main ke tempat kerja ibu Caca. “Oke. Udah makan siang belum, Tin? Kalo mau, ambil aja tuh di meja. Ambil piring sama nasi trus pilih sendiri lauknya seperti biasa, ya?” tutur Caca sambil sibuk mencuci piring di tempat cuci piring. Entin merasa tak enak jika ingin makan seperti biasanya. Kondisi keluarga Caca sekarang berbeda dengan dulu saat sang ayah masih hidup. Meski lapar, dia berniat akan menahannya. Dia tak ingin mengurangi pendapatan ibu Caca dengan mengambil walau hanya satu piring nasi dan sayur. Karena jika dia ambil, sudah pasti Caca dan ibunya tak mau dibayar. “Udah kok, Ca.” Entin menghirup bau nikmat sayur kesukaannya, gulai kambing buatan ibu Caca. Entin hanya meringis menahan air liur yang nyaris menetes. “Yang bener?” tanya Caca menatap ke wajah mupeng Entin saat sang ibu membawa satu baskom gulai kambing. “Iya, Tin. Makan aja, biasanya kan kamu suka gulai kambing?” imbuh Bu Alisha. “Apa mau Tante ambilkan?” tawarnya. “Eh, nggak usah, Tante. Entin udah kenyang tadi makan di kantin kampus,” tolaknya halus. “Oh, ya udah.” Entin mulai membantu membersihkan meja-meja. Dia mengamati Caca yang tambah rajin membantu ibunya di kantin. Suasana kantin masih agak sepi, tapi banyak pesanan dari kantor untuk makan siang rapat. Lumayan, enam puluh porsi makan. Caca mengisi kotak-kotak mika dengan nasi yang dia cetak lalu mengisinya dengan sayur yang dipesan oleh manager. “Aku bantu ya, Ca?” tawar Entin yang langsung disambut oleh anggukan Caca. “Ya, kamu ke sini mau apa kalo nggak bantuin aku,” sahut Caca nyengir. “Sialaan,” timpal Entin, tertawa. Begitulah mereka, terkadang bercanda kelewatan tapi tak sampai masuk ke hati. Hanya tawa canda yang menghiasi hari-hari Caca dan Entin. Entin merasa rindu dengan tidak adanya Caca saat kuliah. Namun, dia sudah berjanji akan sering mengunjungi kantin ibu Caca. Entin telah selesai menutup kotak ke-lima puluh saat dia melihat seorang anak lelaki yang memandangnya di depan kantin dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh Entin. “Ca, siapa tuh?” tanya Entin, menyenggol lengan Caca. Caca sontak menoleh ke pintu, lalu senyum lebarnya terbentuk melihat anak yang membawa tas di punggungnya. Kali ini tas Tayo dengan model lain. Tanpa menjawab pertanyaan Entin, Caca mendekati Arya. “Halo, Arya. Sini, masuk, sini.” Arya, anak itu menurut dengan mudah. Dia masuk lalu duduk manis di kursi, menunggu Caca. Entin menatapnya gemas. Anak lelaki dengan lesung pipi itu malah menatap curiga pada Entin. “Kakak kenapa ya senyum-senyum? Kakak sehat?” tanya Arya yang disambut oleh gelak tawa Caca yang sudah membawa cup berisi jus alpukat kesukaan Arya. “Eh, ini anak,” omel Entin. Tangan Caca menunjuk ke bibirnya, tanda minta pada Entin agar diam dulu menghadapi anak itu. “Arya, Kak Entin itu senyum-senyum sama Arya, karena Arya imut. Jadi dia gemas sama Arya. Arya jangan marah, dong.” Ucapan Caca membuat Arya tersenyum. Namun, sebentar kemudian dia cemberut lagi. “Arya kenapa?” tanya Caca. “Tadi teman-teman bilang kalo Arya nggak punya Mommy. Mereka bilang kalo Arya lahir dari perut sapi,” gerutunya dengan kedua mata berkaca-kaca. Ingin rasanya terkekeh tapi melihat kedua mata anak itu berkaca-kaca, Caca menjadi iba. Dia meletakkan cup jus di atas meja lalu menggenggam erat kedua tangan Arya. “Arya nanti pasti punya Mommy. Minta sama Daddy pasti dibelikan,” ujar Caca menatap wajah imut anak di depannya itu. sengaja dia berjongkok agar bisa sejajar dengan Arya. “Beli di pasar,” celetuk Entin, membuat Caca dan Arya mendelik padanya. “Emangnya calon Mommy Arya itu ikan asin,” gerutu anak itu, menambah gemas Caca yang ingin mencubit kedua pipi mulusnya. “Nggak, Kakak Entin bercanda, Arya. Eh, Arya mau nasi bento lagi?” tawar Caca. Namun, anak itu menggelengkan kepala. Dia malah tambah sedih. “Lho, sedih lagi? Kenapa lagi, Arya?” tanya Caca dengan sabar. Tak dihiraukannya pandangan Entin yang kesal karena dia menyelesaikan sepuluh nasi kotak sendirian sekarang, gara-gara Caca sedang fokus pada anak kecil yang datang dengan galak itu. “Daddy sudah pesenin Arya nasi bento. Padahal rasanya nggak enak,” keluh Arya. “Tapi habis?” tanya Caca menahan senyum. Arya mengangguk. Betapa polosnya anak TK itu mengaku pada Caca bahwa nasi bentonya tak enak tapi dia menghabiskannya juga. Caca tergelak mendengarnya. “Kakak Cantik ngetawain Arya,” sungut anak kecil yang sedang bersedih itu. Mulut kecilnya mengerucut, menggemaskan. “Abisnya, Arya lucu sih,” sahut Caca mencolek hidung bangir Arya, diikuti gelak tawa Arya karena setelah itu Caca menggelitiki ketiak Arya. “Kakak Cantik, udah. Arya kegelian,” jeritnya. Bu Alisha tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya. Andai dia tak sedang meracik bumbu pedas, dia pasti juga ikut menggoda anak itu. “Arya!” Sebuah panggilan yang cukup keras menghentikan kegiatan keduanya. Kini, Caca dan Arya bagai patung menatap pada seorang pria yang memakai jas navy dengan celana panjang serupa, berdiri di depan pintu kantin dengan menatap mereka tajam. Namun, ada sedikit kebingungan di wajahnya saat melihat Caca. “Mampus, Ca,” gumam Entin mendengar suara itu. Walaupun Caca sendiri tak mengenal pria yang datang itu, tapi melihat mata tajamnya merupakan ancaman bagi Caca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN