Satria menatap wajah Caca dengan mengerutkan dahi dengan kedua alis bertaut.
“Siapa lagi itu? Baru duduk di bangku taman kanak-kanak, kenapa anak itu sudah dikerubuti banyak perempuan?” gumam Satria menemukan lagi seorang gadis di dalam yang sedang berbicara dengan anaknya.
Mata Satria kembali menatap ke arah Caca yang sedang mengulurkan cup jus pada anaknya. Arya menerimanya dengan senang. Satria tak pernah menemukan wajah anaknya sesenang itu. Dia melihat jus yang sama saat dibawa pulang ke kantornya untuk kedua kalinya itu. Sejenak dia masih terpaku menatap wajah Caca yang meringis menatapnya dengan kikuk.
“Makasih, Kakak Cantik! Besok kita akan bertemu lagi,” teriak Arya, membawa cup itu keluar dan meraih jari telunjuk sang ayah lalu menariknya agar berjalan kembali ke kantor.
“Jadi Kakak Cantiknya yang itu,” gumam Satria.
Satria terpaksa mengikuti langkah Arya. Dia berjalan sambil sesekali menengok ke belakang, di mana Caca masih saja tersenyum kaku padanya.
“Ah, itu ayahnya Arya, mungkin ya?” desis Caca pada Entin.
“Mana sih, ganteng nggak? Yah, ketinggalan,” sahut Entin yang tidak nyambung dengan pertanyaan Caca. Dia hanya dengar teriakan lelaki itu. Namun, tak melihat rupa ayah Arya.
“Tin! Aku tuh mengira itu mungkin ayahnya Arya, bukan ganteng atau nggaknya!” protes Caca, mendengkus pada Entin yang cengar-cengir lalu melanjutkan untuk mengisi nasi di kotak terakhir.
***
“Kapan kamu menikahiku, Satria?” desak Mona saat mereka berkencan di sebuah restoran.
Terdengar suara desahan dari mulut Satria. Dia lelah sekali dengan pertanyaan Mona. Padahal anak lelaki kecilnya itu belum juga menyetujui. Untuk pergi dengan Mona saja dia menolak, apalagi saat dia bilang akan menikah dan hidup bersama dengan Mona, Arya pasti hanya akan memberontak. Padahal lagi, Satria ingin mencarikan ibu pengganti untuk Arya. Bagaimana jika wanita yang dia pilih tak disukai oleh anaknya?
Satria memijat pangkal hidungnya. Dia bingung sekali untuk menjawab Mona.
Satria ingat siang tadi Arya merengek padanya untuk membawa ‘Kakak Cantik’nya ke rumah untuk menjadi pengasuh. Dari mana dia mendapatkan ide seperti itu? Apakah gadis yang ada di kantin tadi benar-benar gadis yang baik? Yang mau ikhlas mengasuh anaknya atau hanya mau mengambil hati pria pewaris tunggal perusahaan sang ayah itu? Ya, banyak wanita mengincar untuk menjadi istri kedua seorang Satria Wiratama. Namun, baru Mona yang sesuai dengan kriteria Satria. Yang lain, mereka sudah meminta banyak harta benda sebelum jadi kekasih Satria. Bahkan menyodorkan tubuh mereka untuk dijadikan santapan Satria.
Pria itu merasa sangat jijik pada sikap para wanita yang dia yakini sudah tak lagi perawan itu. dia memilih untuk menyingkir hingga mendengar keluhan Arya tentang teman-teman sekolahnya yang selalu pulang dijemput oleh ibu mereka. Arya merasa iri, dia juga ingin memiliki seorang ibu. Namun, saat disodori seorang Mona, Arya tak mengacuhkannya.
“Aku masih butuh waktu untuk menjawab pertanyaanmu, Mona. Berikan aku waktu lagi. Aku menikah denganmu itu bukan hanya untukku, tapi juga untuk anak semata wayangku,” jelas Satria.
Ingin rasanya Mona menjambak anak kecil yang selalu melengos padanya itu jika bertemu nantinya, tapi dia menahan. Dia ingin terlihat manis dan baik di hadapan Satria.
“Oh, ya sudah, Satria. Aku akan setia menunggu jawabanmu,” tutur Mona dengan lembut, sambil memegang tangan Satria.
“Maafkan aku, karena harus lama memberimu jawaban, Mona.”
Ucapan Satria terdengar tulus, tapi Mona masih geram dengan kelakuan Arya yang selalu menolaknya. Kapan mereka akan bersatu jika ada anak itu? Mona kehabisan akal untuk mendekati Arya. Dia tak bisa bersabar untuk anak itu.
‘Asal tak ada wanita lain, aku siap menunggumu, Satria!’ batin Mona.
“Nggak apa-apa, Satria. Kita harus memperhitungkan perasaan Arya juga. Tak mudah untuk menerima orang lain dalam hidupnya. Itu pasti, walaupun anak itu membutuhkan seorang ibu seperti teman-temannya,” ujar Mona memberikan ketenangan untuk Satria.
Pria itu tersenyum, semringah mendengar penuturan Mona. Dia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan Mona meski baru sebagai kekasih. Seorang wanita yang sangat pengertian padanya, juga pada anaknya.
***
“Ya, Daddy?” pinta Arya saat Satria telah sampai di rumah.
Jam sebelas malam dan anak itu belum tidur juga demi menunggu ayahnya. Kala mendengar deru mobil sang ayah datang, dia langsung turun dari tempat tidur lalu berlari keluar dari kamar dan menghadang pria itu di depan pintu dengan wajah sayu, menahan kantuknya.
“Ya? Apanya yang ya, Arya? Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah malam,” ujar Satria, mencoba menutupi bekas lipstik yang menempel di krah bajunya. Mona menciumnya terlalu giat hingga tak menyangka lipstiknya akan menempel di krah baju Satria.
“Mas Arya belum mau tidur, Tuan. Tadi sudah gosok gigi, sudah bersiap tidur jam sembilan malam, tapi Mas Arya belum tidur juga, Tuan,” sahut Bik Sum yang tergopoh datang dari kamar Arya.
Wanita paruh baya itu pun terpaksa menahan kantuk demi menunggui tuan kecilnya itu. Berkali-kali dia mengintip dari celah pintu kamar Arya, anak itu belum juga memejamkan mata. Sampai membacakan cerita dan Bik Sum terkantuk-kantuk hingga benar-benar tertidur di karpet kamar Arya.
“Bibik tidur saja dulu,” suruh Satria menyadari wanita itu butuh istirahat yang cukup. Wanita itu mengangguk lalu berbalik menuju ke kamarnya sendiri. Satria kembali membenahi krah untuk berjongkok di hadapan Arya.
Namun, suasana gelap menyelamatkannya dari pandangan mata Arya kecil tak menangkap bekas lipstik itu. Anak lelaki itu hanya ingin menanyakan tentang apa yang dia inginkan saat berada di kantor sang ayah tadi, tak lebih. Hingga dia harus menahan kantuknya demi mengulang keinginannya saat sang ayah tiba.
“Itu Daddy, aku mau Kakak Cantik kerja di sini, nemeni aku,” rengek Arya, menarik-narik tangan Satria agar pria itu menyetujui keinginannya.
“Dia itu anak siapa, masa Daddy suruh bawa dia ke rumah?” ujar Satria, masih dengan berjongkok.
“Kakak Cantik itu udah besar, nggak perlu cari siapa orang tuanya, Daddy. Apa Arya buatkan pilihan untuk Daddy?” tawarnya.
Ternyata berpikir selama empat jam menghasilkan ide di otaknya untuk memberikan pilihan pada sang ayah. Pria itu membelalakkan matanya.
“Apa pilihan Arya untuk Daddy?” tanya pria berumur tiga puluhan tahun itu penasaran dengan pilihan yang akan diberikan anaknya.
Anak itu nampak menghela napas. Sepertinya pilihannya sangat sulit. Dia sendiri harus menghadapi risiko pada pilihan yang akan dia katakan.
“Apa, Arya?” ulang Satria, memegang kedua lengan kecil sang anak.
“Daddy bisa memilih, kakak cantik kerja di sini atau Arya yang ikut Kakak Cantik?” ujarnya, dengan berat.
Satria menepuk dahinya mendengar pilihan yang ditawarkan oleh anak itu. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ya, bukan hanya Arya, tapi Satria bahkan sulit memilihnya.
“Nak, usiamu memang masih lima tahun tapi kenapa pertanyaanmu sulit, melebihi soal ujian masuk perguruan tinggi?” celetuk Satria.