Tak Bisa

1068 Kata
Satria terhenyak melihat kedua mata anaknya itu. Seketika dia ingat akan mata seekor kucing kartun yang meminta ikan asin di sebuah televisi saat menonton bersama Arya. Mata penuh pengharapan. Hampir berlinang saat menginginkan sesuatu. Kepalanya mendadak berdenyut. Dia tak kuasa menolak keinginan sang anak. Satria dengan berat hati mengangguk agar anak itu mau tidur. Jam di dinding nyaris menunjuk ke angka dua belas dan anak itu harus sekolah keesokan harinya. “Baiklah, baiklah. Besok Daddy coba untuk meminta Kakak Cantikmu itu untuk bekerja di rumah ini,” ujarnya pada akhirnya. “Yes!!” sorak Arya. Kedua tangan kecilnya mengepal lalu menariknya dengan gaya yes. Tak lama, dia pun menguap lebar. “Antik sekali anak ini,” gumam Satria. Beberapa detik yang lalu mata anak itu masih nampak segar. Lalu setelah permintaannya disetujui, tiba-tiba dia terlihat sangat mengantuk. Aneh. “Nah, kamu bisa tidur sekarang, Sayang. Sudah malam,” ujar Satria menuntun anak itu untuk masuk ke kamarnya lalu naik ke tempat tidur single bed dengan warna biru mendominasi ruangan. Dengan bernyanyi-nyanyi, anak itu menurut segala perintah Satria. Satria menggendong anaknya untuk dibaringkan di atas tempat tidur dengan sayang. Pria itu menaikkan selimut bergambar roket kemudian mencium keningnya lekat lalu menuntunnya untuk berdoa. Arya terlelap dalam hitungan detik usai memanjatkan doa sebelum tidur. Satria menggelengkan kepalanya melihat sikap anak itu. Jengkel-jengkel menggemaskan. Dan sekarang dia pusing akan mengatakan apa pada gadis di kantin yang dia lihat tadi siang. *** Pagi itu usai mengantarkan Arya, Satria turun di parkiran. Dia menengok ke arah kantin. Maju-mundur ingin mengabulkan permintaan anaknya. Namun, demi janji, dia membulatkan tekad melangkah ke arah kantin. Harus. Ya, dia harus menepati janji agar memberi contoh yang baik untuk sang anak. Satria menghela napas panjang di depan pintu kantin. Dia belum pernah meminta pada seseorang untuk menjadi pegawainya. Mana ada seorang Satria mengemis orang untuk mempekerjakan dia? Yang ada selama ini, Satria seenaknya main pecat. Dia mengembuskan napas lalu tersedak napasnya sendiri saat seorang gadis keluar dari dalam dengan rambut diikat ke atas. Seperti anak SMP. “Eh, Ji Chang Wook, eh, Arya gede, eh maksud saya bapaknya Arya. Arya nggak di sini, mungkin sekolah. Nanti siang baru ke sini kayaknya,” jelas Caca tanpa ditanya, dengan panjang lebar. Merutuki mulut ngawurnya karena kebiasaan menyebut orang tua temannya dengan sebutan Entin gede. ‘Arya gede?? Berani sekali dia!’ batin Satria, ingin menggeram tapi ingat akan anaknya. Kembali Satria menarik napas. Di situ dia nyaris emosi. “Aku tau soal anakku. Tadi aku yang mengantarnya ke sekolah,” sahutnya menatap Caca dengan mendekik. “Oh, iya juga ya tentu saja Anda tau, kenapa saya jadi kasih tau Anda kalo Arya sekarang sekolah, ya?” tutur Caca menggaruk kepalanya hingga anak rambutnya naik ke atas beberapa helai. ‘Dasar aneh,’ umpat Satria dalam hatinya. “Aku ke sini bukan mencari anakku. Aku hanya mau mengatakan permintaan Arya. Ini Arya yang meminta, bukan aku.” Bermaksud mengatasnamakan anaknya demi gengsi, Satria mendahului dengan kalimat itu agar tak terlalu terlihat bahwa dirinya yang berkehendak. “Arya? Oh, saya tau. Arya minta jus atau nasi bento, Pak?” tawar Caca yang langsung berniat menyambar cup plastik. “Bukan!” Hampir saja Satria membentak Caca yang sok tahu itu. “Lho, kenapa? Apa Arya bosan dengan jus dan nasi bento? Mau apa? Soto? Senerek?” tawar Caca lagi. “Bukan!!!” Sekeliling berguncang karena teriakan Satria. Dia sendiri terengah-engah usai berteriak. Dadanya sudah menahan kesal karena gadis di depannya itu, sibuk dengan pola pikirnya sendiri. Orang-orang sekitar tertegun sambil menutup kedua telinga mereka. Sementara Caca terpaku menjatuhkan cup yang sudah dia pegang. Melongo mendengar teriakan Satria. “Iya, Bapak. Jangan emosi,” tutur Caca membungkuk, mengambil cup yang terjatuh sambil meringis. Dia hanya ingin ramah, itu saja. Namun, berakibat lelaki itu geram. Satria menarik napas panjangnya, lalu mengembuskannya perlahan. Itu seperti saat tadi dia melakukannya untuk mengendurkan otot-otot yang sempat tegang. “Begini,” ujarnya singkat melihat ke arah Caca yang menunggu kalimat yang akan meluncur dari mulutnya. “Apa kamu nggak suruh aku masuk dulu?” tanya Satria, mendengkus. “Oh! Mari, masuk dulu, Pak.” Seolah diingatkan, Caca menepuk jidatnya lalu berbalik, memberi jalan untuk pria galak itu dan menggeser salah satu kursi agar menjadi tempat duduk bagi Satria yang nampaknya sedang menahan dirinya. “Silakan duduk,” tutur Caca mempersilakan pria itu usai mengelap bersih permukaan kursi. Satria pun duduk dengan nyaman di kursi yang telah bersih itu lalu menatap ke arah gadis yang sedang berdiri dan menggulung-gulung serbet memandang ke arahnya. Seperti sedang dihukum. “Saya Satria, ayah Arya. Saya ke sini untuk meminta padamu, Kakak Can-, maksudku, siapa namamu?” tanya Satria, nyaris keceplosan menyebut nama julukan dari anaknya untuk gadis itu. “Natasya, dipanggil Caca,” sahut Caca singkat. “Kaca? Beling?” tanya Satria. ‘Ganteng-ganteng budeg, ini orang,’ batin Caca. “CACA, Pak!” eja Caca, memperjelas. “Oooh. Iya, Caca, saya ke sini untuk meminta, maksudku menyampaikan permintaan Arya untuk, gimana ya ngomongnya, menjadikan kamu sebagai pengasuh dia di rumah. Apa kamu mau?” tanya Satria tanpa berbasa-basi. Dia melirik ke jam tangan Rilex yang bernilai jutaan rupiah melingkar di pergelangan tangannya. Seperti terburu waktu. Kedua mata Caca terbelalak mendengar permintaan pria itu. Dengan dua alis bertaut, dia mengulang apa yang dikatakan Satria. “Pengasuh? Anda meminta saya untuk menjadi pengasuh Arya?” ulang Caca. “Bukan aku, tapi Arya yang minta,” tegas Satria lagi. “Iya, iya, Arya atau Anda sama saja, yang jelas saya diminta jadi pengasuh Arya,” sahut Caca. “Sial,” geram Satria. Gadis ngeyel itu berani membantahnya. Jika saja bukan karena Arya, dia sudah memecatnya, bahkan sebelum bekerja, dia akan beri pesangon agar tak lagi bekerja. “Terserah,” imbuh Satria. “Maaf, Pak. Bukan saya tak mau, tapi saya harus membantu Ibu saya di kantin ini. Karena ayah saya sudah meninggal, maka saya harus membantu Ibu saya.” Caca merasa sangat bersalah. Terbayang wajah Arya yang imut dan lucu itu. Namun apalah daya, keadaan yang mengharuskan dia untuk bekerja di kantin membantu ibunya. Satria mendesah. Dia merasa agak iba mendengar apa yang dikatakan oleh Caca. Maka dari itu dia tak bisa memaksakan permintaan anaknya. Satria melihat Caca menunduk, tampak bersalah. “Baiklah, nggak apa-apa. Nanti biar aku bicara sama Arya. Semoga anak itu mau menerima bahwa kamu tak bisa menjadi pengasuhnya,” ujar Satria. Pikirannya kembali berputar, bagaimana bicara dengan anak lelakinya, padahal dia sudah berjanji padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN