MERASA KASIHAN

1166 Kata
“Kenapa itu, bapaknya Arya?” Penasaran, Bu Alisha menata piring di etalase sambil melirik ke anaknya yang nampak sedih setelah pria tadi pergi. “Arya, Bu. Dia minta aku jadi pengasuhnya,” ujar Caca. Bu Alisha mengerutkan dahi. Anaknya masih sangat muda, dia juga belum pernah mengasuh anak. Namun, Bu Alisha paham pikiran anak seusia Arya. Mungkin anak itu sangat menyukai Caca hingga dia berkeinginan untuk menjadikan Caca sebagai pengasuhnya. “Apa kamu bisa?” tanya Bu Alisha. “Aku kasihan sama Ibu. Siapa yang bantu Ibu di kantin? Sementara untuk menggaji karyawan kan nggak cukup pemasukan kita, Bu. Lagian uang sekolah adek dan uang kuliahku makin besar,” desah Caca sambil merapikan kursi dan mengelas meja. “Iya sih. Ya sudah, semoga Arya lupa dengan keinginannya,” pupus Bu Alisha. “Semoga, Bu.” *** Siang itu, Caca berpamitan pada sang Ibu untuk pergi ke kampus. Dia meninggalkan kantin sebelum mobil Satria yang membawa Arya sampai di parkiran. Dengan semringah, usai keluar dari mobil, anak itu berlari ke kantin seperti biasa. Namun, sesampainya di pintu kantin, Arya tak menemukan Caca. Hanya senyum Bu Alisha yang menyambutnya. “Kakak Cantik di mana?” tanyanya polos, kedua bola matanya mengitari ruangan itu, mencari sosok yang dia harapkan. Bu Alisha tersenyum, sebenarnya dia kasihan pada anak kecil itu. Dia pasti akan kecewa jika tahu bahwa Caca tak berada di kantin. “Kakak Cantik sedang pergi, Arya,” sahut Bu Alisha memegang lengan Arya. Benar saja, mulut anak itu mengerucut, kecewa sekali, nampak di raut wajahnya. Dia mendengkus. Namun, sejurus kemudian dia tampak bersemangat lagi. “Nenek, tadi daddy ke sini?” tanyanya dengan kedua mata berbinar. Bu Alisha nampak sedikit berpikir sambil menatap ke langit-langit, membuat Arya menunggu dengan kedua alis terangkat, terlihat menggemaskan. “Iya, Arya.” Arya terlihat lebih bersemangat. Dia langsung memberondong Bu Alisha dengan berbagai pertanyaan. “Apa daddy sudah bilang kalo Kakak Cantik bisa kerja di rumah Arya? Rumah Arya gede lho, Nenek! Kakak Cantik bisa milih mau tidur di mana, mau jejer Arya, atau jejer daddy.” “Eh, nggak boleh,” sahut Bu Alisha. “Eh iya, Nenek! Daddy kan sama kayak Arya, tidurnya sendiri,” ocehnya. Bu Alisha menepuk jidatnya. Dia mencoba menyadari bahwa dia sedang berbicara dengan anak usia lima tahun yang mungkin masih sangat polos karena belum diberi pendidikan dewasa oleh orang tuanya. “Arya, Kakak Cantik kan nggak boleh tidur sama lelaki yang bukan suaminya?” jelas Bu Alisha. “Kenapa?” tanya Arya, menatap kedua mata Bu Alisha, menuntut penjelasan. ‘Duh, pake nanya kenapa, lagi?’ batin Bu Alisha, pusing akan menjelaskan bagaimana pada Arya. “Karena, ya, karena belum menikah.” Bu Alisha kehabisan kata untuk menjelaskan. Pengunjung sudah datang, dia harus melayani pengunjung itu tanpa Caca. Benar-benar repot, memang. Namun, untuk membayar gaji karyawan dia pun sekarang harus berpikir dua kali. “Arya, tunggu di sini dulu ya? Nenek mau melayani pengunjung itu dulu. Mereka mau makan,” ujar Bu Alisha. Seolah mengerti, Arya pun berpamitan pada wanita paruh baya itu. “Arya ke kantor daddy saja kalo gitu. Berarti mulai besok Kakak Cantik sudah bekerja di rumah Arya ya, Nenek?” celotehnya. “Eh, Arya anu—“ “Sampai jumpa, Nenek!” Belum juga dijelaskan, Arya sudah berlari menyusul seorang lelaki, Pak Odi yang menunggunya di depan kantin. Bu Alisha menggelengkan kepala melihat anak yang sudah menggandeng tangan sopirnya dan melompat-lompat dengan sangat bahagia. *** “Hah? Jadi pengasuh?” tanya Entin yang sedang berbincang dengan Caca di taman kampus. Jarang-jarang mereka bertemu untuk berbincang. Caca ke kampus untuk mengurusi kartu registrasi semesterannya. Caca mengangguk. “Anak menyebalkan itu?” imbuh Entin. “Dia nggak menyebalkan, Tin. Inget kuliah kita tentang psikologi anak-anak. Dia itu hanya butuh perhatian. Kamu sih, nggak suka anak kecil, jadi nggak cocok harusnya masuk ke fakultas keguruan,” canda Caca. “Ih, nyebelin. Emang aku nggak boleh masuk ke fakultas teknik mesin sama bokap. Nggak mau anak gadisnya belepotan oli,” tukas Entin cemberut. Caca tergelak sejenak. Dia lalu kembali meniupkan udara dari mulutnya hingga anak rambutnya melambai ke atas. “Trus gimana ini?” tanya Caca lagi. “Ya udah, kamu kan udah bilang ke bapaknya Arya kalo kamu nggak bisa penuhin permintaan anaknya. Inget anak itu, aku jadi penasaran sama muka bokapnya. Apa nggak tambah nyebelin ya?” desis Entin, memegang dagu, membayangkan rupa ayah Arya. “Kamu bener, dia galaknya minta ampun,” sahut Caca. “Wah, udah deh, mampus kamu kalo mau,” kata Entin. “Tapi mukanya mirip banget sama Ji Chang Wook,” imbuh Caca, membuat kedua mata Entin terbelalak. “Wah? Yang bener?” Gadis berambut pendek itu memutar badannya sembilan puluh derajat menghadap ke arah sahabatnya, menuntut kebenaran dari apa yang dia katakan. Entin memegang kedua lengan Caca lalu mengguncangkannya. Dia menatap Caca dengan berbinar. “Yang bener kamu, Ca!” serunya sekali lagi. Guncangan itu membuat Caca menganggukkan kepala dengan cepat. Yakin sekali. Ya, memang pria itu nyaris mirip artis yang dia sebutkan. “Kalo aku jadi kamu, aku terima nikahnya, eh terima lamaran kerjanya di rumah dia. Cuma jadi pengasuh anaknya, kan? Anak tengil itu?” ujar Entin, teringat akan Arya. “Iya,” sahut Caca, meringis karena lengannya masih dicengkeram oleh Entin. “Bener, Ca. Terima aja kerjaan itu.” “Halah, kamu ini gimana. Semenit lalu bilangnya ogah, tapi semenit kemudian bilangnya mau. Dasar, plin-plan!” omel Caca melepaskan dua tangan Entin. “Ya karena itu, si Babang Ji!” Entin mengelus tengkuknya. “Norak!” umpat Caca. “Biarin, udah terima aja!” desak Entin. “Iya sih, tapi gimana kuliahku, Tin! Aku mikirnya banyak banget kalo suruh kerja di tempat lain. Apalagi nanti sebagai pengasuh, gajiku nggak banyak. Ya, mendingan aku bantu nyokap, kan? Bener, nggak?” tanya Caca lemas. “Iya juga sih. Kalo kuliah, kamu bisa bilang minta libur pas weekend. Namun, kalo soal gaji, Ya, susah ya? Apa aku aja yang mengajukan diri?” usul Entin, mengedipkan mata. “Kamu, kamu itu mau ngasuh anaknya apa bapaknya?” Caca menoyor Entin sampai nyaris terjungkal. “Ish, jahat kamu. Mentang-mentang aku nggak bisa keibuan. Aku bisa loh, tapi si Arya pasti nggak mau kalo aku bawain kemoceng tiap hari, hahaha!” gelak Entin. “Gila, kamu Tin. Pantesan Arya nggak suka banget sama kamu.” Mengucap nama Arya, entah kenapa ada rasa sedih yang menelusup di hati Caca. Dia duduk lalu menopang dagu dengan kedua tangan. Pandangannya menerawang jauh, membayangkan betapa kecewanya anak itu jika dia menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh bapaknya. “Aku tau rasanya, Ca. Pasti anak itu kecewa kalo kamu nggak mau ngasuh dia. Anak itu sepertinya sangat suka sama kamu. Jangan-jangan jusnya kamu ludahin, Ca.” “Enak aja, ngapain ngeludahin jus! Kurang kerjaan!” Caca mendorong lagi sahabatnya hingga benar-benar terjungkal dari duduknya. “Caca! Kamu ini bar-bar! Bukan keibuan! Awas aku sumpahin kamu diiket sama bapaknya Arya yang galak itu!” omel Entin mengibaskan celananya yang penuh dengan rumput kering, membuat Caca tergelak melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN