“Daddy, kapan Kakak Cantik mulai kerja di sini?” desak Arya. Anak itu nampak bersemangat mengunyah jajanan dari ulang tahun temannya di sekolah tadi. Sambil sesekali menatap wajah ayahnya penuh harap.
Melihat wajah Arya yang sepertinya bisa sangat kecewa jika dia mengatakan hal yang sebenarnya, Satria merasa tak tega. Dia menelan salivanya dengan susah. Seketika tenggorokannya kering. Menghadapi semua orang tak ada takutnya, tapi menghadapi anak sendiri rasanya sangat takut. Dia takut sekali jika anak itu mengalami kekecewaan. Selama ini memang kasih sayang yang diberikan timpang. Satria tak mampu memberikan kasih sayang seorang ibu pada Arya. Juga Bik Sum yang Arya anggap nenek, pasti juga tak membuat Arya menerima kasih sayang seorang ibu.
“Arya, kalo Kakak Cantiknya diganti dengan Tante Mona? Gimana?” tanya Satria pelan-pelan agar anak itu mau mengerti.
Dia berlutut. Ingin rasanya bersujud di bawah kaki anak itu agar Arya luluh, tapi ini bukan Dinasty Ming. Pria itu memilih berlutut dan memegang kedua tangan Arya yang berlepotan remah snack. Kedua mata Arya melotot. Lapisan bening kaca menggenang di kedua matanya. Ah, melihat itu, Satria tak tega. Sungguh tak tega.
“Daddy bercanda, Sayang. Jangan menangis. Kakak Cantik akan segera bekerja di sini, oke? Kamu jangan begitu, dong! Senyum.”
Arya mengubah bentuk bibirnya menjadi senyum. Dia menghapus air mata, menggunakan punggung tangan lalu tersenyum lebar. Tak jadi menangis. Anak kecil itu memeluk ayahnya dengan erat.
“Makasih, Daddy! You’re the best!” serunya.
Satria menepuk jidat. Sumpah. Ini masalah baru. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Sebuah kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru. Akankah dia berbohong lagi? Sampai kapan?
Satria menikmati pelukan sang anak saat ini. Menyingkirkan pikiran yang ruwet seketika. Gadis itu menolak pekerjaan yang dia tawarkan, tapi anak ini mengira gadis itu akan menerima.
‘Oh, My God. Satria, kenapa kamu bodo banget. Biarkan anak itu tantrum. Hanya sesaat jika kamu katakan yang sebenarnya. Laporan menumpuk, menunggumu. Apa harus terganggu dengan urusan gadis itu?’ batinnya.
Satria tak kuasa, dia tak mau kehilangan keceriaan anaknya. Selama ini berbagai cara dia lakukan agar Arya bahagia, meski menjadi single parent tak mudah. Satria harus membahagiakan anak itu. Seraya memeluk tubuh kecil itu, Satria berpikir. Dia bertekad harus membuat gadis itu mau bekerja di rumahnya. Dengan apa, coba? Ah, Satria tahu.
“Daddy, Arya nggak bisa napas,” keluh anak itu.
Satria terhenyak,lalu melonggarkan pelukannya. Tampaknya dia terlalu erat memeluk sang anak. Senyum dilempar ke anak yang terlihat lega sekali, tapi heran, tak seperti biasanya, Arya malah tertawa-tawa.
‘Ini pasti karena aku bilang bahwa gadis itu akan segera bekerja di sini,’ batin Satria.
“Daddy aku senang sekali,” lirih Arya, membuat haru Satria. Dia menatap kedua netra bening sang anak. Benar-benar tak tega menyakiti hati kecil anak itu. Satria hanya mengangguk-angguk, tapi dia masih ragu jika gadis itu tak mau.
***
“Arya mau pengasuh?” tanya Mona saat mereka berkencan di sebuah tempat makan.
“Iya. Lebih baik aku menurutinya. Kasihan dia. Dia pasti butuh seseorang untuk menemani,” sahut Satria.
“Salah sendiri tak mau menyetujui pernikahanku,” gumam Mona pelan.
“Apa, Sayang?” tanya Satria yang mendengar desisan Mona.
“Eh, anu itu, gatal,” sahut Mona menggaruk kakinya yang tak gatal. Dia kira Satria tak akan mendengar gumamannya. Ternyata telinga pria itu agak tajam juga meski tak mendengar jelas apa yang digumamkan Mona.
“Apa restoran sebagus ini memelihara nyamuk? Huh, harus kuberi bintang satu untuk kondisinya!” omel Satria ikut memperhatikan lantai yang putih bersih tanpa sedikit kotoran pun.
‘Biarkan saja dia kasih bintang satu. Nggak ngaruh juga buatku. Eh, jangan, harus jaga image,’ batin Mona selesai menggaruk kakinya yang tak digigit nyamuk.
“Jangan, Sayang. Nanti restoran ini akan ditutup. Kan kasihan juga para pegawainya. Mungkin mereka bekerja untuk menghidupi anak mereka. Cuma nyamuk, nggak jadi masalah, kok!” sahut Mona, memiringkan kepalanya lalu memainkan rambut. Nada suaranya seperti mengiba, menatap mesra pada Satria.
“Ah, Sayang. Kamu ini baik sekali. Nggak salah kalo aku pilih kamu jadi calon istri. Heran, kenapa Arya selalu tak mau jika bepergian denganmu? Mungkin anak itu perlu sedikit pendekatan lagi. Kamu yang sabar ya, Sayang. Suatu saat kita pasti akan bersama. Aku percaya kamu bisa jadi ibu sambung yang baik untuk anakku,” ujar Satria meraih jemari tangan Mona, lalu menggenggam tangannya erat.
“Iya. Aku sabar kok, Sayang.”
Dengan lembut, Mona menyahut ucapan maaf Satria.
Satria tersenyum. Selama ini, dia sangat dingin terhadap wanita. Kecuali Mona yang seorang model itu. Dia kenal dengan Mona di sebuah studio saat pemotretan iklan salah satu produk dari perusahaan Satria. Semula Satria tak menanggapi, tapi sepertinya semesta selalu mempertemukannya dengan Mona. Apalagi waktu itu, Mona selalu membawakan Arya makanan ringan. Namun, Arya selalu menolak. Makanan itu tak bagus untuk Arya. Banyak micin, kata anak itu.
Satria menatap wajah cantik di depannya. Dia sungguh berharap wanita itu bisa segera dinikahi. Bahagia rasanya jika memiliki keluarga utuh, walau hanya istri sambung. Sudah lima tahun dia berpisah dengan istri pertamanya.
‘Dia kenapa gelisah begitu,’ batin Satria karena Mona mengurai rambutnya lalu sedikit menurunkan tali dressnya saja.
“Kamu kepanasan, Mona?” tanya Satria.
“Duh, gerah, aku sudah pakai pakaian tipis ini, tapi entah kenapa gerah,” ujar Mona.
“Aku suruh pelayan turunkan suhu AC-nya? Atau gimana?” tanya Satria.
“Nggak usah,” sahut Mona, seperti kesal.
“Kamu yakin? Ya udah, lanjut makan,” ujar Satria melepaskan tangan Mona, lalu bergerak mengambil kembali garpu dan pisaunya.
Mona mendengkus. Sudah berbagai cara dia merayu Satria, tapi kencannya hanya itu-itu saja. Di restoran atau di tempat wisata. Belum pernah diajak ke hotel. Padahal Mona ingin mengikat pria itu dengan membawanya ke hotel sekamar berdua walau sekedar semalam. Lumayan jika bisa membuat video sembilan belas detik. Jika itu disebarkan ke media sosial, bukankah bahagianya jika dia dipaksa menikah dengan pria itu? Hartanya melimpah. Mona bisa melanglang buana kemana pun dia mau, kan?
Namun, malam ini dia kembali harus menelan potongan daging tanpa lemak yang lezat, tapi suasananya membosankan. Mona harus bertahan. Dia tersenyum memandang pria di depannya. Menekan garpu ke daging yang diiris, yang dia bayangkan tangan si Arya yang dia iris dan dia makan dengan tekanan mantap.
“Kamu lapar, Sayang? Aku pesankan lagi,” ujar Satria melihat cara makan Mona.
“Eh nggak, Sayang.”
“Nggak apa-apa,” ujar Satria.
“Anakmu itu lho,” lirih Mona.
“Apa, Mona?”
“Ini, aku takut gemuk, maksudku—” ringis Mona, takut kalau Satria mendengar desisannya tentang Arya.
“Kamu tetep cantik kalo gemuk. Aku yakin,” puji Satria.
Mona hanya tersipu mendengar perkataan pria itu. ‘Ah, andai saja Satria tak punya anak.'