“Ca, tadi dicariin Arya,” ujar Bu Alisha saat Caca datang hampir petang itu. Belum juga menyalami, Bu Alisha sudah menyambut Caca dengan berita tentang Arya.
“Arya? Oh iya!” Caca menepuk jidatnya. Anak kecil itu pasti mencarinya. Kenapa dia bisa lupa jika setiap pulang sekolah anak itu mencarinya?
“Trus, Ibu kasih apa sama Arya?” tanya Caca meletakkan tasnya di atas lemari.
“Nggak kasih apa-apa, Ca.”
Caca menatap ibunya dengan heran. Biasanya anak itu hanya mau minum jus, tapi kenapa sang ibu tak membuatkannya. Apa Arya bosan?
“Trus, Arya minta apa?” tanya Caca lagi.
“Dia minta kamu, Ca. Dia mau kamu jadi pengasuhnya. Ibu nggak tega lihat wajah cerianya, Ca. Waktu Ibu mau bilang bahwa kamu nggak bisa, Ibu tahan. Nggak tega,” lirih Bu Alisha, nyengir.
Caca melongo mendengarnya lalu terduduk di kursi. Bingung harus gimana. Ibu aja nggak tega, apalagi dia.
“Trus, trus, Arya mukanya gimana Bu?”
“Ya masih imut gitu lah, masa jadi brewokan abis Ibu nggak tega?” sahut Bu Alisha.
Caca mencebik. “Bukan gitu Bu. Itu Si Arya itu kecewa apa seneng gitu,” Caca menggerutu tak bersuara. Ibunya itu suka agak-agak. Dia kadang serius, kadang juga suka absurd.
“Ya kamu tadi nanya mukanya gimana? Arya tadi ceria banget malah. Taunya kamu besok udah kerja jadi pengasuhnya di rumah dia,” jelas Bu Alisha. “Makanya, Ibu nggak tega mau bikin dia kecewa,” sambung Bu Alisha.
“Iya, Bu. Caca tau, trus Caca kudu gimana, Bu?”
Lemas rasanya. Jika menerima kerjaan itu, dia tak tega dengan ibunya. Namun, jika menolak, dia tak tega dengan Arya.
“Ya kamu mau gimana? Ibu kan tergantung kamunya. Kalo kamu mau ya monggo, kalo nggak ya udah.”
Bu Alisha kembali meraih piring-piring basah yang tadi dia cuci lalu mengambil serbet dan mengeringkannya. Caca pun sontak berdiri lalu merebut pekerjaan itu.
“Aku sih pilih Ibu yang melahirkanku. Masa aku biarkan Ibu kerja sendiri. Kalo kuliah sih masih bisa weekend, Bu. Kalo Ibu, kan nggak bisa pas weekend doang,” ujar Caca meringis.
“Iya sih, Ibu juga keringetan tanpa kamu tadi. Pas bubaran istirahat karyawan, Ibu ngelayanin sendiri. Ngos-ngosan,” ujar Bu Alisha. Sekarang wanita itu mulai meracik sedikit bumbu untuk malam nanti. Biasanya karyawan yang pulang, berdatangan membeli sayur untuk dibawa pulang.
“Ya udah, trus aku gimana, Bu. Kalo Arya datang?” tanya Caca gelisah.
“Kamu sembunyi aja di kolong kalo Arya dateng. Nanti Ibu bilang kalo kamu udah nggak kerja di sini,” cetus Bu Alisha. Terbersit ide kanak-kanaknya.
Caca mengangguk saja. Bahkan dia tak menemukan satu kolong pun di kantin, tapi dia percaya ide Ibu selalu bagus. Dia nurut aja.
***
“Daddy. Besok, kan?” desak Arya malam itu saat Satria pulang dari berkencan.
“Halah, kamu nggak tidur lagi, Dear? Iya, Daddy kan udah bilang sama kamu. Kamu tidur, dong.”
Satria mengangkat tubuh kecil anaknya itu. dia mengelus punggung si kecil. Nampak sedikit kurus. Sebenarnya Satria prihatin dengan keadaan Arya. Dia baru mau makan jika membawa pulang nasi bento bikinan si Kaca itu. Sebelumnya, Arya hanya mau makan roti, snack ringan, dan s**u. Itupun kalau tak gerakan tutup mulut ala anak lima tahun. Sejak membawa pulang nasi bento dari si Kaca, anak itu mau makan nasi.
“Daddy kan aku besok libur. Kakak Cantik harus di rumah ini ya? Aku nggak mau main sendirian,” keluh Arya, mengelus lengan sang ayah dan mengerucutkan bibirnya, tanda merajuk.
“Arya, Arya nggak boleh maksa gitu. Besok Daddy bilang sama Kaca eh, Kakak Cantik. Kalo Besok Arya libur. Nah, kita lihat dulu Kakak Cantik mau nggak datang besok. Sementara itu, Arya main dulu sama Bik Sum.”
Nampak anak itu mendengkus. Dia agaknya kecewa, tapi masih menyimpan harap dari perkataan sang ayah. Dia pun mengalah untuk mengangguk. Bik Sum pun sudah sibuk dengan kegiatan dapur. Arya berpikir akan bermain sendiri sambil menunggu sang Daddy pulang membawa Kakak Cantiknya.
“Baik, Daddy. Oke, aku mau go to bed sekarang,” ujarnya. Kedua tangan kecilnya melingkari leher sang ayah lalu memeluk pria yang menggendongnya itu ke kamar.
Satria meletakkan Arya dengan sayang ke atas tempat tidurnya. Sprei telah diganti. Banyak sekali pekerjaan Bik Sum di rumah. Namun, Satria tak sedikit pun rasa ingin mencari teman untuk wanita paruh baya itu. Wanita itu sudah cukup membuat rumahnya bersih. Menyediakan masakan untuknya dan Arya walau anak itu pun susah makan. Satria tak mau repot mengawasi beberapa asisten. Namun, karena Arya yang mau pengasuh, maka Satria harus berlapang d**a untuk itu.
Satria menarik selimut biru Arya lalu merapikan benda itu untuk menutupi d**a sampai kaki anaknya. Mencium kening Arya dengan sayang. Satria mengelus wajah Arya. Iba juga dengan anak sekecil itu tak memiliki ibu. Hati Satria trenyuh.
“Janji ya Daddy,” tutur Arya yang mulai mengantuk. Tangannya diangkat untuk menunjukkan kelingkingnya.
Satria tersenyum. Dia menautkan kelingkingnya di kelingking Arya.
“Iya, Daddy janji asal kamu nurut sama Daddy ya? Sekarang bobok dulu,” sahut Satria. Nampaknya anak itu sudah sangat mengantuk. Dia memejamkan mata, lalu jari kelingkingnya turun begitu saja, di atas selimut.
Senyum Satria terbit melihat anak manisnya itu. Sebuah kecupan sebagai hadiah malam mendarat di kening Arya dengan lembut. Tak ada lagi perlawanan anak itu karena telah terlelap di dalam dunia mimpinya yang dalam.
***
Keesokan harinya, Satria terkejut karena Arya sudah bersiap mandi dan duduk dengan sangat manis di ruang makan. Kedua mata Satria bergulir menatap Bik Sum. Wanita itu mengangkat bahunya. Satria heran, tak biasanya anak itu bangun pagi saat libur. Dia selalu bangun siang sebelumnya. Apalagi semalam tidur kemalaman. Heran sekali bisa bangun dan bersiap sarapan sepagi itu.
“Daddy, ini roti panggang untuk sarapan Daddy. Arya yang menyiapkan,” celotehnya.
Satria tersenyum, melihat roti panggang dengan selai kacang yang berlepotan di piring. Namun, begitu amazing dengan sikap anaknya pagi itu.
“Punya Arya mana?” tanya Satria.
“Arya baru mau bikin, Daddy.”
Dengan cekatan, Arya mengambil satu lembar roti panggang lalu mengolesinya dengan selai coklat. Dia memimpin doa, lalu makan dengan tenang di kursinya sendiri. Benar-benar luar biasa. Bik Sum meninggalkan dua lelaki beda usia itu agar mereka lebih akrab. Sepertinya Arya sudah bisa melayani ayahnya.
“Mungkin seperti itu Mas Arya bisa belajar membantu orang lain,” gumam Bik Sum, merasa Arya diajari untuk berlaku sosial di sekolahnya.