“Nanti Daddy bawa Kakak Cantik ke sini, kan? Arya tunggu, ya?” ujar Arya saat Satria selesai memakan potongan terakhir roti panggangnya.
Seret.
Seketika rasanya tenggorokan Satria susah menelan roti itu. Rasanya tersangkut di kerongkongan. Dia segera meraih segelas air putih di atas meja. Mendengar hal itu, Satria seperti diingatkan akan janjinya semalam.
Jadi, anak ini bukan berubah karena masanya, tapi dia hanya mengungkapkan kebahagiaannya hari ini.
“Arya tunggu aja dengan sabar, ya? Jangan nakal. Nurut sama Bik Sum di rumah.”
Hanya itu yang dikatakan oleh Satria.
“Arya tau, itu selalu Daddy katakan setiap Arya di rumah. Daddy, Arya itu tanya, Daddy nanti bawa Kakak Cantik, kan?” ucapnya nyaris merengek. Dia mulai menangkap kecurangan yang akan dilakukan oleh sang ayah.
Satria menarik napas panjang lalu menghelanya. Sepertinya rencananya harus dijalankan. Ya, dia akan meminta gadis itu untuk bekerja di rumahnya sekali lagi.
“Iya. Arya jangan kuatir. Daddy pasti bawa si Kaca itu ke rumah,” sahutnya lalu meneguk lagi air putih yang masih tersisa di dalam gelas.
“Kok si Kaca? Kakak Cantik, Daddy.”
Raut wajah Arya nampak berseri-seri meski dia meralat panggilan ayahnya terhadap Caca. Satria hanya mengangguk.
“Iya, KAKAK CANTIK.”
Dia mengulangnya dengan penuh penghayatan dan penekanan, membuat Arya tertawa ringan. Satria mencium kening Arya lalu berpamitan untuk pergi bekerja. Anak itu tampak menurut. Tak tega rasanya Satria meretakkan kepercayaan penuh yang tersirat di kedua mata bening si kecil.
“Meski yang selalu aku harapkan, tapi tawamu kali ini berat, Nak,” gumam Satria memijat pangkal hidungnya.
***
Suasana kantin pagi itu berjalan seperti biasa. Walapun weekend, tapi hari-hari berlalu seperti biasa. Hanya saja, ada pesanan nasi box untuk lima belas orang manager nanti siang. Sepertinya mereka mulai memakai catering Bu Alisha karena lumayan lezat.
“Selamat pagi!” sapa seorang gadis, mengejutkan Bu Alisha dan Caca yang sibuk menyiapkan menu.
“Eh, Entin. Sini masuk!” sahut Bu Alisha.
Gadis yang memakai kaus biru tua itu segera masuk dan mencuci tangannya di kitchen sink, lalu menyambar pekerjaan yang biasa dilakukannya.
“Ini sayur taruh di mika ini, Tante?” tanya Entin mengambil satu baskom sayur dan satu pak mika kecil yang sudah disediakan.
“Iya, bener. Pinter,” puji Bu Alisha membuat Entin tersipu-sipu.
Caca mencebik karenanya. “Ibu, anak sendiri nggak pernah dipuji, giliran itu si anak itik buruk rupa dipuji-puji,” omelnya.
“Cemburu,” celoteh Entin,menyenggol lengan Caca dengan lengannya. Hampir saja sayur yang dituang Caca tumpah. Dia melotot pada Entin.
“Alah, IP-mu nggak sampai tiga,” omel Caca.
“Eh, jangan marah. Nanti aku kapok bantuin,” ancam Entin.
Bu Alisha menggelengkan kepala melihat kedua anak yang sudah seperti kakak-adik itu.
“Tante, besok hari Minggu gimana? Apa perlu Entin bantu?” tawar gadis itu, mengingat sahabatnya akan mengikuti kuliah di hari Minggu. Dia tak ada kerjaan, jadi dia pikir membantu Tante Alisha akan membuang kebosanannya di rumah.
“Ya kalo kamu lagi nggak sibuk, boleh ke sini, tapi kalo kamu ada acara jangan dipaksakan ya, Tin. Besok Ecy kan libur, jadi bisa bantuin Tante Alisha. Gantian gitu sama Caca. Biar dia juga ngerti kerjaan,” jelas Bu Alisha. Ecy adalah adik Caca.
“Oh. Ya udah kalo gitu besok aku ke sini tapi siangan ya, Tan. Aku nggak ada kerjaan di rumah,” keluh Entin.
“Halah, kamu kapan ada kerjaan? Bengong aja kerjaan kamu, Tin.”
Caca mengomel sambil menyiapkan kardus. Entin mencebik lalu memonyong-monyongkan bibirnya karena omelan Caca.
“Iya, sesempatnya kamu aja, Tin. Tante makasih banget lho udah dibantuin,” sahut Bu Alisha memotong pembicaraan.
“Iya, Tante. Nggak masalah.”
“Permisi. Kalian masih lama ngobrolnya?” celetuk seseorang dari pintu.
Ketiganya menoleh. Caca dan Entin terbelalak. Yang satu kaget karena heran kenapa pria itu datang lagi, sementara yang satu kaget karena pria yang berdiri di sana setampan Ji Chang Wook.
“Maha karya besar,” desis Entin yang tak berkedip menatap pria berkulit halus itu, dengan rambut berpomade yang rapi. Jas yang dia pakai pun tak sembarangan. Merk terkenal. Belum lagi parfumnya yang soft. Membuat setiap wanita klepek-klepek. Seperti Entin yang nyaris hilang kesadaran. Ingin rasanya dia pingsan, tapi takut memalukan.
“Eh, Arya gede, maksudku ayahnya Arya,” sambut Caca meringis.
Barulan Entin menengok cepat ke sumber suara. Kaget mendengar perkataan Caca.
“Jadi, ini Babang Ji?” celetuk Entin. Bisa juga dia bersuara setelah agak lama tertegun.
“Diem.”
Bukannya menjawab pertanyaan Entin, tapi Caca malah memutar bahu temannya itu lalu mendorongnya masuk agar tak berdiri di sana. Digantikan oleh sang ibu.
“Oh, Anda ayahnya Arya? Mari masuk. Maaf gadis-gadis dalam masa pubertas ini sedang melalui masa pencerahan mata,” ujar Bu Alisha, menarik satu kursi dan menyuruh Satria untuk duduk di kursi itu.
Caca melotot pada ibunya. “Ngomong apa Ibu ini? Pubertas, pubertas,” desis Caca.
Satria duduk dengan mencoba santai, padahal tiga perempuan itu sedang memandangnya ke arahnya. Entah pandangan aneh, kagum atau penasaran. Dia mendesah kasar. Langsung saja dia buyarkan pandangan ketiganya.
“Mohon maaf sebelumnya. Saya sudah ke sini sebelum ini dan saya menyampaikan keinginan Arya pada si Kaca, eh maksud saya Caca.”
“Oh, jadi yang waktu itu. Pak—“
“Satria, Bu.”
Pria itu melanjutkan ingatan wanita paruh baya itu soal namanya.
“Ya, Pak Satria. Saya Ibu Caca. Sekarang, ada apa gerangan kedatangan Anda kemari?” tanya Bu Alisha.
Satria menarik napas panjang lalu mulai menjelaskan duduk persoalan. Dia mungkin telah bertemu dengan Caca, tapi sekarang malah bertemu sekalian dengan ibu si Kaca. Tambahan lagi seorang gadis yang memandangnya seperti dia adalah daging panggang yang terlezat di dunia dan ingin melahapnya, duduk di sebelah Ibu Caca.
“Begini, Bu. Saya duda—“
“Saya janda, Pak.”
“Astaga, Ibu!” Caca bersungut karena celetukan ibunya. Bu Alisha langsung menutup mulutnya dengan wajah merona. Dia kembali menatap pria yang berdehem demi meminta perhatian penuh.
“Maaf.”
Satria menghela napas melihat betapa absurd orang-orang di depannya itu. Kemudian dia melanjutkan pembicaraan.
“Karena keadaan, anak saya itu, Arya, ingin seorang pengasuh untuk menemani kesehariannya di rumah dan juga mungkin saat dibutuhkan di sekolah. Sebenarnya ada satu asisten rumah tangga, tapi dia sudah tua... ya, seusia Ibu,” ujar Satria berhenti sejenak.
Bu Alisha melengos dibilang tua, sementara Caca dan Entin nyaris tersedak tawa menyimaknya.
“Dia mau seseorang yang bertugas mengasuh. Kemarin sudah saya katakan pada Kaca... maksud saya Caca.”
Bu Alisha menengok ke arah Caca yang menautkan kedua alisnya memandang balik pada sang ibu. Wanita itu malah bingung dengan keputusan yang dia ambil. Perkataan Caca kemarin tak mampu meluncur dari mulutnya untuk menolak keinginan Arya.
“Bu, Ibu yang tegas,” rengek Caca, memohon. Dia sendiri tak sampai ingin menolak.
Bu Alisha mengangguk-angguk. Dia kembali menghadap ke arah Satria.
“Pak, sepertinya anak saya tak mau—“